Jalur sebaik-baiknya cinta dan jodoh adalah yang di pilihkan langsung oleh Tuhan untuk hamba-Nya. Tetapi, jika keluarga ikut andil dalam memilih. Haruskah menolak?
*****
Kenzi menggelengkan kepalanya pelan, saat Naira memasuki mobil dengan wajah bersemu bak kepiting rebus. tetapi Kenzi tidak terlalu menghiraukannya, dia lebih memilih untuk segera masuk ke dalam kantor karena sebentar lagi akan diadakan rapat penting bersama dengan para atasan serta team dan anggota-anggota yang sangat berpengaruh nanti nanti nya.
Kenzi mengernyitkan dahi bingung kala teman-teman sekaligus rekannya menatap dirinya begitu intens. Senyum miring terpatri dibibir rekan-rekannya dengan begitu jelas. Walaupun begitu, Kenzi menggedikkan bahunya acuh dan segera duduk di kursi yang tersedia disana.
Semua mata tertuju pada Kenzi, membuat dirinya berdecak kesal. "Kalian kenapa?" tanya Kenzi, memutar bola matanya jengah. Malas sebenarnya bertanya yang tidak penting seperti ini.
"Itu cewek, Ndan."
Kenzi mengernyitkan keningnya. "Cewek?"
"Iya, yang barusan sama Ndan." timpal Andi.
Kenzi tersenyum tipis lalu ber-oh ria. Dia tak ingin memperpanjang urusan wanita tadi. Menjelaskan pada mereka pun rasanya akan percuma saja, mereka tak akan mau mendengar kenyataan yang sebenarnya. Karena yang sekarang sedang mereka pikirkan sudah Kenzi tebak. Jika rekan-rekan nya menganggap Naira adalah kekasih nya. Sungguh lucu bukan?
Dari pada meladeni rekan-rekannya, Kenzi memutuskan untuk pergi ke ruangannya, menyiapkan bahasan apa saja yang nanti akan di presentasikan dihadapan atasannya. Karena sebentar lagi, rapat akan dimulai.
***
Rapat telah selesai, waktu juga sudah menunjukkan pukul lima sore, kini waktunya Kenzi untuk pulang dan mengistirahatkan tubuhnya yang terasa letih. Di dalam sana banyak perdebatan dan opini yang menggiring, membuat Kenzi jengah dengan pikiran para atasannya.
Untung saja, keputusan rapat sudah dapat diambil dengan cepat. Mereka akan ditugaskan untuk pergi ke Universitas, melakukan edukasi. Bukan hanya Perguruan Tinggi tetapi sekolah menengah pertama dan atas pun akan mereka datangi.
Maraknya peredaran obat terlarang dan p********n di kota dirinya tinggal saat ini menjadi kasus utama yang harus di atasi, akibatnya pasti sangat fatal jika dibiarkan begitu saja.
Kenzi memarkirkan mobilnya di pelataran rumah berwarna putih tiga lantai yang cukup mewah. Dia mengernyitkan kening saat ada mobil baru terparkir disana, mobil yang tak ia kenal sama sekali.
Tanpa menunggu basa-basi lagi, Kenzi segera berjalan dengan cepat ke arah rumahnya.
Kenzi bergeming, membulatkan matanya tak percaya. Dia melihat seorang wanita yang sedang duduk di sofa bersama Bunda dan seorang wanita yang Kenzi kenal adalah Naira; wanita itu adalah wanita yang sudah ia tolong dan sudah menolongnya.
"Dunia memang sempit." lirih Kenzi.
"Eh sudah pulang kamu?" tanya Fina-Bunda dari Kenzi.
Kenzi mengangguk. "Kenzi ke atas dulu ya bun."
Melati menggelengkan kepalanya, "Ada tamu loh ini, gak sopan banget kamu." ujar Melati.
Mau tak mau Kenzi memutar langkahnya dan melangkah, untuk menyalami Melati dan juga wanita yang ada di samping Naira, wanita paruh baya seperti ibu-Nya. Karena sebelumnya kan memang Kenzi pernah bertemu, saat mengantarkan Naira pulang ke rumah nya.
"Wah, ini toh anakmu, Mel?"
Melati mengangguk, mendapat pertanyaan seperti itu dari Popi-sahabatnya dari sejak masa bangku SMA sampai perkuliahan.
"Pak Kenzi." ujar Naira, dia tersenyum menampilkan gigi putih kelincinya yang entah kenapa sangat lucu sekali. Sial!
Kenzi hanya membalas dengan berdehem saja, setelah itu berpamitan untuk sampai ke kamarnya. Bukan tak sopan, tetapi Kenzi sangat lelah hari ini. Mengurus kasus serta rencana dan tugas yang akan ia emban di kemudian hari.
"Nai sudah kenal dengan Kenzi, ya?" tanya Melati.
Naira mengangguk antusias, "Iya Bun, Pak Kenzi itu yang pernah nolongin Naira."
Melati tadi meminta Naira untuk memanggil dirinya dengan sebutan Bunda. Ah lebih tepatnya memaksa.
Naira menceritakan awal pertemuannya dengan Kenzi, saat dirinya kehabisan bensin dijalan yang sepi, tiba-tiba ada Kenzi yang menyelamatkannya dan mengantarkan pulang sampai selamat. Naira bercerita dengan penuh semangat.
"Syukurlah, ada Kenzi dan teman-temannya yang menolong." Melati terkejut mendengar cerita mengerikan seperti itu dari Naira. Anak gadis, terjebak dijalan sepi sendirian, tak bisa melakukan apa-apa karena handphone juga mati. Sangat mengerikan bukan?
"Kalau gak ada mereka, duh gak bisa bayangin sih tante. Orang-orang sekarang banyak yang jahat soalnya." sambungnya, membuat Naira mengangguk.
"Itu Kenzi anakmu, kan? Yang dulu? Udah gede ya sekarang aku aja sampe pangling loh lihatnya" ujar Popi.
Melati terkekeh pelan. "Kamu sih gak main lagi, jadi gak tahu kan?"
"Bukan gak mau main, kamu nya aja diluar kota. Susah banget, untung pindah sekitaran sini jadi bisa ketemu terus." jawab Popi.
Mereka akhirnya larut dalam percakapan hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Popi pamit undur diri, namun ditahan oleh Fina.
"Jangan pulang dulu lah, Pi. Makan malam dulu disini, kita juga lama gak ketemu, kan?"
"Tapi Mel, aku gak enak loh." jawab Popi merasa sungkan.
Melati menggelengkan kepalanya. "Gak enak siapa sih, Popi. Suamiku lagi keluar kota. Ayok ah, kita masak bareng aja yuk, udah lama kita gak melakukan ini kan?" ujar Fina.
Mau tak mau Popi harus menuruti keinginan sahabat lamanya itu. Benar, dirinya juga merindukan sosok Fina, sosok yang benar-benar sahabatnya sedari dulu. Sahabat yang selalu ada di kala sedih dan bahagia.
Jika seseorang tidak meninggalkan dirimu saat jatuh, maka itu adalah sebaik-baiknya sahabat.
"Kamu ini memang dari dulu tak pernah berubah ya, Mel." Popi menggelengkan kepalanya pelan, lalu mengikuti Melati untuk berjalan kearah dapur, meninggalkan Naira yang sudah mengerucutkan bibirnya kesal.
"Nak, kamu disini aja ya. Jangan ikut masuk, lakukan apa aja yang kamu suka, oke sayang?" ujar Melati kepada Naira dan pergi begitu saja dengan Popi sembari asik becanda
"Aishh, Naira ditinggal sendirian." ujar Naira, dia berpikir pasti akan merasa bosan. Mamih nya akan sibuk dengan teman lamanya itu. Kalau tahu begini, dia tak akan ikut. Eh tunggu, tetapi kalau dirinya tadi tak ikut dia tak akan mengetahui jika Kenzi tinggal disini.
Tak berapa lama kemudian, Naira mempunyai ide. Ide cemerlang, namun cukup gila untuk dilakukan. Dia mengambil handphone, di dalam tas dan mengotak-atik nya. Naira tersenyum kala nomor yang ia tekan berdering, menandakan jika nomor seseorang itu sedang aktif.
"Hallo, dengan siapa ini?" tanya seseorang diseberang sana. Nadanya terdengar indah di telinga Naira, sampai-sampai dia tak sadar kalau seseorang diseberang sana itu terus mengucapkan kata hallo.
"Ah iya, maaf pak. Ini Naira." jawab Naira.
"Ada apa Naira? Kamu mau mengembalikan jaket saya?" jawab seseorang lagi diseberang sana.
Walau tak ada Kenzi di hadapannya, Naira menggeleng. "Bukan, Pak. A-anu jaket bapak masih dirumah, kan Naira gak tau kalau ini rumah bapak." jawab Naira.
"Lalu ada apa?"
Naira tersenyum kecil. "Naira bosan."
Tut--
Naira berdecak kesal, bisa-bisanya Kenzi mematikan sambungannya secara sepihak setelah dia berbicara seperti itu. Rupanya berdekatan dengan Kenzi hanyalah khayalan semata. Karena nyatanya, dia harus duduk di sofa, sampai karatan-ah tidak sampai nanti malam. Bosan teramat menerpa Naira, entah sudah ke berapa kalinya Naira berdecak dan mendengus. Sampai nanti Naira akan sendirian disini, dia menyesal ikut dengan mamih nya.
***
"Bosan, huh?" suara seorang pria, mengagetkan Naira yang tengah duduk sambil memain-mainkan jari tangannya. Sudah terhitung sekitar satu jam setelah menelepon Kenzi, dia hanya duduk-duduk saja di atas sofa sambil melihat televisi yang menyala dan membosankan.
Naira segera menoleh ke arah samping dimana Kenzi tengah mendudukkan dirinya di sofa.
Demi Tuhan. Kenzi memang tampan bahkan beribu-ribu tampannya dengan t-shirt polos hitam dan celana chargo selutut berwarna moka. Rambutnya sedikit basah, mungkin habis keramas. Terlihat jelas, wajahnya yang fresh.
Naira bergeming, dia masih menikmati pemandangan indah didepannya. Kapan lagi coba melihat pemandangan Tuhan seindah ini. Bahkan objek dihadapannya lebih indah dari pantai yang sering ia kunjungi, terlalu hiperbola memang. Tapi, itulah kenyataannya. Kenzi sangat tampan.
"Naira?" panggil Kenzi, namun tetap tak ada sahutan dari sang pemilik nama.
"Naira, masih ada kan?" nada suara Kenzi yang sedikit meninggi, membuat Naira tersentak kaget. Buru-buru Naira memasang wajah biasa saja dan tersenyum menampilkan deretan gigi kelincinya.
"Kok langsung dimatikan sih telepon dari Naira?" tanyanya, sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
"Lagi mau mandi, ganggu aja." jawab Kenzi. Lagi membuat Naira tersenyum kecil.
Kenzi berpindah duduk di atas karpet, menyalakan televisi dan segera memegang joy stick. Dia akan main game di play station. Pergerakan Kenzi, tak lepas dari penglihatan Naira.
"Kok pak Kenzi gak ajak-ajak Naira sih mainnya?" tanya Naira, dia juga ikut duduk di samping Kenzi yang sudah fokus dengan game-Nya.
"Kayak yang bisa aja kamu." jawab Kenzi.
Naira mendengus kesal. "Naira jago tahu, kalau hanya main seperti itu."
Kenzi tersenyum kecil. "Gak nanya."
Mendengar jawaban seperti itu dari Kenzi, membuat Naira membulatkan matanya. Bagaimana bisa, Kenzi berani berbicara seperti itu. Hei Kenzi tak tahu saja, kalau Naira sering bermain game online di handphone-Nya.
"Akrab banget sih kalian, jadi pengen bunda jodohkan." ujar Melati, dari arah belakang. Naira segera menoleh tetapi tidak dengan Kenzi, pria itu seakan tak terusik dengan perkataan dan keberadaan bunda nya.
"Boleh, Bun." jawab Naira, "Naira mau kok." sambungnya, di selingi dengan tawa.
Kenzi mendengus kesal. "Siapa juga yang mau sama bocah SMA seperti kamu."
Perkataan Kenzi, membuat Naira mengerucutkan bibirnya kesal. Perasaan dia tak terlalu kecil, hanya saja memiliki tubuh yang kurang tinggi. Sementara Melati, sudah tertawa, anaknya ini menganggap anak dari sahabatnya masih SMA ternyata.
"Naira bukan an-"
"Ayo cepat! Kita makan malam yuk, Naira Kenzi udah dulu ya mainnya."
Naira kembali mendengus, setiap kali dirinya akan membuka jati diri selalu ada saja orang yang menggagalkannya.
Kenzi mengangguk, tanpa mematikan play station nya dia segera beranjak dari duduk.
"Yuk, Nak." ajak Melati, Naira pun melakukan hal yang sama beranjak dari duduknya.
*
"Makan yang banyak, cil." ujar Kenzi, dia bahkan mengambilkan potongan daging yang besar didepannya dan diberikan pada piring Naira, yang makan dengan porsi kecil.
"Biar cepet gede." sambung Kenzi. Membuat Melati dan Popi terkekeh apalagi saat Naira mengerucutkan bibirnya kesal. Kakinya dibawah sana sudah bergerak aktif, menghentak-entak ke lantai tanpa menimbulkan bunyi.
"Kalian berdua ini lucu sekali, Kenzi iseng banget sih." ujar Popi, tetapi Kenzi malah mengedipkan bahunya acuh dan melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
"Kenzi, nanti anterin tante Popi sama Naira ya." pinta Fina, yang disetujui oleh Kenzi.
***
Pernahkah jatuh cinta dengan seseorang yang tidak membalas cintamu? Itu mungkin hal menyakitkan yang bisa terjadi pada siapapun. Termasuk Naira, jika benar cinta nya tak terbalas sekarang atau suatu saat nanti.
Cinta tidak mengharapkan imbalan apa pun. Cinta adalah sesuatu yang harus bisa kita berikan dengan bebas. Ini tidak akan mudah, tetapi itulah yang membuat cinta itu benar dan murni.
Hanya, jangan biarkan cinta yang bertepuk sebelah tangan memengaruhi harga diri dan membuat tidak bahagia dengan diri sendiri. Sebaliknya, jadikanlah orang itu inspirasi untuk selalu menjadi lebih baik dan bahagia dalam hidup.
Satu hal tentang cinta adalah, jika tidak bisa mencintai diri sendiri terlebih dahulu, maka tidak akan pernah tahu bagaimana mencintai orang lain dengan benar.