3. Bertemu kembali

1610 Kata
"Itu kan pak Kenzi." ujar Naira, sedikit berteriak karena terkejut saat dia melihat objek yang tak asing tepat di depan matanya. Pria itu memakai pakaian serba hitam serta topi yang senada, membuat Kenzi beribu-ribu lebih tampan dan keren dari biasanya. Ah bahkan ternyata saat dilihat pada siang hari pun, ketampanan pria itu semakin terlihat. "Kok pak Kenzi ada di pinggir jalan, sedang otak-atik motor lagi. Hmm Naira samperin ah siapa tahu sedang butuh pertolongan." ujarnya bermonolog. Naira menjalankan kembali mobilnya dengan perlahan, sampai tibalah dia tepat di pinggir Kenzi, berada di samping motornya yang terparkir dipinggir jalan yang cukup sepi. Kenzi masih tak terusik dari kegiatannya yang tengah berjongkok di samping motor bertuliskan Polisi. Naira berinisiatif untuk bertanya dan segera turun dari mobilnya, dia langsung berdiri di belakang Kenzi yang masih tak menyadari kehadirannya. "Hallo, Pak." sapa Naira dengan riang. Kenzi yang merasa tak asing dengan suara itu segera berdiri, dia melirik ke arah belakang, dan terlihatlah Naira, wanita yang semalam ia tolong, sedang tersenyum manis padanya. "Ngapain kamu disini?" tanya Kenzi. Naira menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Kok malah tanya Naira, harusnya Naira yang bertanya. Itu bapak kenapa motornya?" tanya Naira, sambil menunjuk ke arah motor dengan dagunya. Kenzi melihat Naira dari atas sampai bawah, pakaian wanita itu bebas, tidak memakai seragam. Kenzi jadi berdecak, saat melihat Naira datang mengendarai mobil, tak habis pikir dengan anak SMA zaman sekarang, masih dibawah umur saja sudah bergaya memakai mobil sendiri kemana-mana. Padahal risiko terkena bahaya sangat tinggi. "Kamu gak sekolah ya, Dek?" tanya Kenzi, tangannya sudah bercampur warna dengan oli motor. Naira segera menggeleng. "Enggak, Pak." jawab Naira. Kenzi berdecak, "Kenapa bolos? Itu gak baik, tahu. Harusnya kamu sekolah, buat orang tuamu bangga, bukan hanya tau nya main dan main, bergaya pakai duit orang tua lagi." cerocos Kenzi, membuat Naira membulatkan matanya. Apa yang salah, Naira memang berkata benar, dirinya sudah tak sekolah karena baru saja pulang kuliah. "Siapa juga yang masih se-" "Saya gak mau dengerin kamu ngoceh." potong Kenzi, dari semalam dirinya tak pernah dipersilahkan berbicara. "Yaudah terserah bapak. Butuh pertolongan gak nih? Hitung-hitung ucapan terimakasih Naira buat yang semalam." ujar Naira. Kenzi bergeming, berpikir sejenak. Benar dirinya butuh pertolongan untuk sampai ke kantor tempatnya bekerja. "Benar nih nawarin bantuan?" tanya Kenzi penuh selidik. Dia seperti seorang polisi yang sedang mengintrogasi maling, kalau menatap nya dengan tatapan seperti itu. Naira berdecak. "Serius dong, masa nawarin nya bohongan." jawab Naira, dia menghentak-entak kan kakinya ke tanah, membuat Kenzi tersenyum tipis, bahkan Naira saja tak melihat senyuman Kenzi saking tipis nya. "Saya kira ada niat terselubung." Naira berpikir sejenak, telunjuknya ia taruh di dagu. "Sekarang enggak, gak tau kalau nanti." jawab Naira sambil terkekeh pelan. "Yaudah, antarkan saya ke kantor, bisa?" tanya Kenzi. "Motor Bapak bagaimana?" "Tenang, ini motor kantor. Gak akan ada orang yang berani ngambil." jawabnya, motor itu saja sudah Kenzi kunci. Susah jika diambil atau dicuri orang lain kalau tak mempunyai kuncinya, lagipula hanya orang bodoh yang berani mencuri motor polisi bukan? "Yaudah pak ayo, Naira antar kan sampai kesana." jawab Naira, nadanya terdengar begitu bersemangat. Ada dua opsi yang membuat Naira bersemangat. Pertama dia bisa membalas kebaikan Kenzi saat tadi malam karena telah menolong dirinya yang sedang ketakutan dan kebingungan. Kedua, Naira bisa berdekatan dengan Kenzi yang notabene sekarang sudah masuk kedalam daftar gebetannya. "Saya aja yang nyetir, sini." ujar Kenzi, menadahkan tangan untuk meminta kunci mobil pada Naira, setelah dirinya sudah membersihkan bekas oli di tangannya lewat air mineral yang selalu ia bawa kemana-mana. Naira memberikan kunci mobil pada Kenzi, lalu mengitari mobilnya untuk sampai pada jok disebelah pengemudi. Kenzi juga sudah masuk kedalam mobil, mobil bermerk Brio ini sangat nyaman. Kenzi mulai menjalankan mobil, dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil hanya keheningan yang menyelimuti, tak ada percakapan sama sekali, namun suasana hening berubah saat Naira melontarkan pertanyaan. "Jaket bapak, masih dirumah saya, gak apa-apa kan?" tanya Naira. Pandangan mata Kenzi masih fokus kearah depan, dia menjawab hanya dengan gerakan kepala saja; mengangguk. Hal itu membuat Naura mendengus kesal. "Nanti Naira kasihkan sama bapak." ujar Naira kembali. Tetapi, masih tak ada jawaban. "Bapak mau diantarkan kemana?" sekali lagi, Naira bertanya. Kalau sampai pria tampan yang berada disampingnya ini tak menjawab, akan Naira pastikan habis telinganya. "Kantor." jawab Kenzi singkat. Naira mendengus kembali. Menatap sinis Kenzi yang sialnya terlihat sangat tampan dengan beberapa tetes keringat di pelipisnya. Kenapa di Dunia ini masih banyak orang yang seperti Kenzi, berseragam, tampan, tinggi dan posturnya begitu atletis. Meskipun sikapnya begitu dingin, tetapi tak membuat Naira berniat mundur untuk memperjuangkan cintanya. Cinta? Apakah bisa rasa Naira yang baru tumbuh semalam itu disebut cinta? Apakah itu bisa dipastikan cinta atau hanya obsesi semata? Ya, Naira sempat berpikiran seperti itu. Berpikiran jika rasa ini hanya sekedar obsesi. Namun, ia selalu meyakini bahwa rasa yang hinggap di hati dari semalam adalah ketertarikan dan cinta. Cinta yang berasal dari mata, dan langsung turun ke hati. Tak terasa mobil sudah berhenti tepat di parkiran kantor polisi. Sudah bisa Naira tebak, jika Kenzi bekerja disini. Dia melihat ke sekeliling yang tak terlalu ramai orang, polisi pun hanya beberapa orang saja. "Naira, lihat apa?" tanya Kenzi, membuyarkan lamunan Naira. Naira menggeleng dan segera melirik kearah Kenzi. "Bapak kerja disini, ya?" tanya Naira. Kenzi mengangguk. "Makasih tumpangannya." jawab Kenzi, dia berniat akan keluar tetapi tangannya ada yang menahan. "Eh pak maaf." ujar Naira, lalu melepaskan tangannya yang mencekal pergelangan tangan Kenzi. "Boleh minta nomornya, gak?" tanya Naira begitu lancar. Kenzi mengerutkan keningnya. "Untuk apa?" tanya Kenzi, membuat Naira gelagapan. "Apa ini niat terselubungnya gadis itu?" Kenzi menerka-nerka dalam hati. "Umm.. anu pak, kan nanti biar gampang mengembalikan jaketnya." jawab Naira. Jawaban masuk akal dari Naira itu membuat Kenzi urung membuka pintu mobil. Kenzi merogoh handphone disaku celananya, dan memberikannya handphone berlogo apple itu pada Naira. "Mana nomor kamu. Ketikan saja disini." Dengan semangat empat lima, Naira menerima handphone Kenzi dan mengetikkan beberapa digit angka disana. Setelah selesai dia mengembalikannya. Tanpa berpamitan, Kenzi melenggang keluar, membuat Naira berdecak kesal. Namun tanpa Naira sadari, pintu mobil sampingnya sudah ada yang membuka. Naira membulatkan mata, saat Kenzi lah yang membukakan pintu mobil untuknya. Wajah kesalnya berubah, menampilkan wajah manis dan polos andalan Naira. Naira keluar dari mobil, dan berhadap-hadapan dengan Kenzi. Kenzi membawa tangan Naira untuk ia genggam, membawanya mengitari mobil. Setelah sampai pada pintu kemudi, Kenzi kembali membukakan pintu untuk Naira. Kenzi tersenyum manis sambil mengacak-acak rambut Naira gemas "Terimakasih, ya." Demi Tuhan. Naira ingin pingsan ditempat, karena tak kuat mendapatkan perlakuan yang terlampau manis dari Kenzi. Daripada dirinya beneran pingsan, lebih baik dia segera masuk kedalam mobil, dan segera menutup pintu. Tanpa menunggu lama lagi, dia segera menghidupkan mobilnya, membunyikan klakson sebelum benar-benar pergi. "Jantung gue Tuhan." Tangannya gemetaran dan dingin, Naira tak menyangka akan diperlakukan manis seperti itu oleh seseorang yang berwujud seperti Kenzi "Kalau seperti ini. Naira tambah cinta nih sama pak Kenzi." Naira tersenyum penuh arti, dia berusaha untuk berkendara dengan santai. Bagaimanapun juga, dia tak boleh celaka hanya karena senyuman dan usapan dari Kenzi yang terkesan manis itu. "Gila, benar-benar gila. Kenapa efeknya sehebat ini, ya?" gerutu Naira. * Cinta pada pandangan pertama. Memang tak semua orang bisa merasakannya. Itulah mengapa, cinta pada pandangan pertama sangat berkesan bagi mereka yang mampu mengalaminya. Naira seketika sulit berkata-kata ketika merasakan apa yang disebut cinta pada pandangan pertama itu. Meski ada yang menyebut, cinta pada pandangan pertama lebih didasarkan pada penampilan luar atau fisik semata, bagi Naira yang mengalaminya, suatu saat itu akan meninggalkan jejak yang tak terkira dalam hati. Saat mengalaminya, Naira seperti 'tersengat listrik'. Tiba-tiba saja seseorang yang luar biasa masuk ke hidup Naira dan wanita itu tiba-tiba menjadi lebih hidup dari sebelumnya. Naira tahu, tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya dan Naira tak ingin itu berakhir. Karena Naira nyaman dengan peran yang di kirimkan Tuhan untuk nya sekarang, meskipun zona nyaman itu suatu saat nanti akan terganti. Rasanya, Naira ingin mengungkapkan itu semua, mengekspresikan perasaan nya namun sulit untuk berbicara langsung pada Kenzi. "Aku tahu bahwa kita baru saja bertemu, tetapi bagiku, itu adalah momen paling ajaib yang dapat kuingat. Andai pertemuan itu berlanjut, mari kita ciptakan hal ajaib lain nya bersama ku." Dalam hidup ini ada satu momen dimana saat kita melakukan sesuatu akan memberikan kesan terbaik dan tak terlupakan, yaitu saat kita melakukan sesuatu untuk pertama kalinya. Misalnya pertama kali aku jatuh cinta pada Kenzi sebut saja cinta pertama, bertemu dengannya untuk pertama kalinya, jalan bersamanya untuk pertama kalinya, dan semua hal baru dalam hidup kita pasti memberikan kesan terbaik. Meskipun sesuatu itu hasilnya kurang baik, atau di luar keinginan kita, namun masih ada kebanggaan dan kepuasan tersendiri setelah melakukannya. Ini terjadi karena kita sudah menemukan jawaban tentang pertanyaan-pertanyaan ‘apakah kita bisa melakukan hal tersebut?’ Terlepas dari hasilnya, kita pada akhirnya tahu bahwa kita bisa melakukannya. Terkadang banyak orang yang takut untuk mencoba hal-hal baru, mereka yang terlalu fokus pada zona nyaman dan tidak mau melangkah ke zona lain dan memulainya kembali dari awal. Padahal inilah penyebab mengapa kita mudah merasa hidup ini tidak ada perkembangannya sama sekali. Jangan pernah salahkan perasaan, karena terkadang kitalah yang memilihnya. Untuk itu, jangan pernah takut mencoba sesuatu yang baru, bahkan untuk pertama kalinya. Jangan pedulikan hasilnya, tapi pedulilah pengalaman yang akan kita dapatkan nantinya. Berikut adalah kata kata pertama kalinya. Begitu juga dengan kisah yang baru saja aku mulai, aku tak akan memperdulikan bagaimana hasil akhir nya, aku hanya ingin menjalani sebaik-baik nya, sampai nanti Tuhan berkata. Kamu memang pantas bersanding dengan dia, Kenzi. Dan Naira akan bersabar menunggu hari itu tiba. Tuhan bisa segala nya, bahkan membolak-balikkan hati pun sangat bisa dengan muda. Tak perlu risau, dengan kehidupan, karena sesungguhnya kehidupan ini sudah ada yang mengatur nya jauh-jauh hari sebelum kita di lahirkan ke dunia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN