Naira terbangun dengan wajah berseri, tak seperti biasanya yang lebih sering malas dan tak bersemangat sama sekali. Hari ini malah kebalikannya, Naira begitu senang dan bersemangat hanya karena satu nama yang langsung mengisi relung hati dan pikirannya selama satu malam ini ; Kenzi.
Polisi itu, polisi yang bernama Kenzi membuat hati Naira berdenyut hebat dan perasaannya menjadi gelisah sepanjang malam. Menggonjang-ganjing malam Naira, sampai dia tak sabar menunggu hari esok tiba.
Naira segera bergegas mandi pertanda dirinya akan memulai hari dengan indah, tak lupa sebelum sarapan ke bawah, dia melakukan rutinitas paginya yaitu membereskan tempat tidurnya sendiri. Tetapi, Naira masih Nama Kenzi masih terlintas di otak kecilnya. Menghantui pikirannya setiap dia ingin beraktifitas. Pesona pria itu begitu memikat membuat Naira tak sabar, mencari namanya di i********: dan bertemu dengannya untuk mengembalikan jaket semalam.
“Tumben sekali, sudah bangun tanpa harus dibangunkan dulu.” Popi berbicara sambil menghidangkan sandwich dihadapan Naira.
“Thanks, Mamih.” Jawab Naira, dengan senyum yang masih terpatri di bibirnya.
Popi mengernyit, melihat gelagat aneh sang anak pagi ini. Namun dia mengedikkan bahu dan segera memakan sandwich buatannya. Dia harus cepat-cepat pergi ke kantor untuk bekerja, menjadi ibu sekaligus ayah yang baik untuk Naira adalah hal yang Popi prioritaskan dari dulu. Untung saja suaminya-Ferdi yang telah meninggal. Meninggalkan satu perusahaan dibidang industri yang cukup besar, dan sampai saat ini perusahaan yang bernama Nai Corps masih ia kelola dengan baik untuk menghidupi dan mencukupi kebutuhan anaknya.
Naira sudah tak mempunyai Papah sejak dirinya menginjak kelas lima Sekolah Dasar. Papahnya meninggal karena insiden kecelakaan maut di Tol saat perjalanan pulang ke Jawa Tengah. Untung saja, waktu itu Naira masih kecil, jadi nama papahnya tak terlalu membekas direlung hatinya. Hingga saat ini Popi tak minat mempunyai suami. Dia lebih memilih untuk menunggu cucu dari anaknya-Naira. Popi tak ingin kejadian yang sama menimpa kembali, kejadian itu cukup membekas pada ingatannya sebut saja Popi trauma menjalin sebuah hubungan.
“Naira pergi dulu ya, Mih.” Ujar Naira, selesai meminum susunya dia segera beranjak, mencium pipi Popi sebelum benar-benar berangkat kuliah.
Popi hanya tersenyum karena melihat tingkah ceria anak semata wayangnya. Biasanya pagi-pagi sekali Naira akan menekuk wajahnya karena masih ingin kembali tidur, namun pagi ini Naira bangun dengan wajah yang lain, sangat ceria.
“Ah, Naira tidak mau kalau harus memakai motor lagi! Sialan gara-gara dia Naira harus ketakutan semalam.” Gerutu Naira.
“Tapi, motor ini juga yang semalam mempertemukan Naira sama pak Kenzi. Ah Naira jadi bingung, tapi Naira akan memakai mobil saja, malu kalau harus memakai motor yang kotor ke kampus.” Naira kembali berbicara sendiri.
Naira segera memasuki mobil, dan membawanya dengan kecepatan sedang. Setelah sampai dikampus dia akan menceritakan perihal kejadian semalam kepada tiga sahabatnya. Kebahagiaan dirinya harus dibagikan pada sahabat-sahabatnya. Siapa tahu mereka juga tahu siapa itu Kenzi, mengingat jika kantor polisi tak jauh dengan tempat dirinya menuntut ilmu. Naira saja tak tahu, kalau Kenzi dinas di kantor mana dia hanya menerka-nerka saja.
“Apa?! Lo serius? Tapi lo gak apa-apa kan semalam?” kantin mendadak heboh, karena suara Keisha yang terdengar cukup nyaring.
Mereka bertiga mendelik tak suka. Karena Keisha lah mereka menjadi tontonan seisi anak kantin.
“Ya ampun Kei, lo bisa gak sih bicara pelan-pelan!” kali ini Maya yang berbicara.
“Betul, kita nanti di kira lagi ngapain gitu sama yang lain.” Timpal Kindi.
Keisha menggaruk tengkuknya, dan tersenyum menampilkan gigi putih kelincinya.
“Sorry deh, gue terlalu excited tahu.” Jawab Keisha, lalu menyeruput jus avokado kesukaannya.
Naira menggeleng pelan dengan tingkah para sahabatnya. “Jadi gue harus gimana nih? Supaya bisa ketemu lagi sama pak pol ganteng itu.”
Mereka semua memutar bola mata ke atas, sebelum mengetuk-etuk jari telunjuk ke dagunya.
“Namanya siapa? Lo cari aja nama i********: nya, gimana?” Maya memberikan saran.
Naira tersenyum miring, lalu menjentikkan jarinya. “Tumben banget otak lo encer, May.”
Maya mengembuskan nafasnya pelan. “Gue udah pinter ya, Nai. Gak seperti lo kurang sebelah.”
Naira tak menggubris ucapan sahabatnya-Maya. Dia lebih memilih membuka handphone dan berselancar di aplikasi i********:. Untuk mencari nama Kenzi disana.
KenziAlfa. Itulah nama yang pertama berada di atas kolom pencarian setelah Naira mengetikkan nama Kenzi. Naira membuka profil dan membulatkan matanya sempurna.
“Ini.. ini yang gue maksud, guys.” Heboh Naira, dan segera memperlihatkan foto Kenzi memakai baju serba hitam dan topi, dengan background pegunungan. Foto itu adalah foto terbaru Kenzi yang di upload sekitar satu minggu yang lalu. Sepertinya Pak Kenzi bukan anak sosmed, tetapi followers nya bejibun.
Mata Maya, Keisha dan Kindi juga membulat dengan sempurna. Ternyata orang yang di ceritakan memiliki wajah tampan oleh Naira, benar adanya. Pria yang bernama Kenzi itu begitu tampan dan atlentis. Hanya melihat fotonya saja pun, membuat ketiga wanita itu melongo. Maya berdecak, dan tersenyum, dia menyukai pria dalam foto itu.
“Ini sih namanya pangeran. Ini bukan manusia, lo salah.” Ujar Keisha. “Benar Nai, ini bukan manusia.” Sambung Keisha.
“Ini tuh pangeran dari Negeri dongen tahu gak sih!” timpal Maya kembali, dia membuang nafasnya beberapa kali, dan kembali menyeruput jus Avokado nya.
Kindi menggerakkan giginya kesal. “Yang kalian puji itu sepupu gue!”
Semua mata menoleh ke arah Kindi. Naira tersenyum manis ke arah sahabatnya itu.
“Lo serius?” tanya Maya, matanya sudah membola.
Kindi mengangguk. “Gue serius lah, masa bohongan sih.”
“Ganteng banget sih, Kin.” Ujar Maya, matanya menatap penuh minat pada foto Kenzi.
Naira mendengkus, tadi saja teman-temannya itu menganggap dirinya halu. Sekarang setelah melihat, baru tahu rasa kan, bagaimana tampannya seorang Kenzi. Kindi sepupu dari Kenzi? Itu artinya Naira bisa minta bantuan pada Kindi untuk mendekatkan dirinya.
“Apa kata gue, dia itu ganteng.” Jawab Naira, menyombongkan diri dengan mengibas-ibas kan tangannya.
“Iya ganteng banget, gue jadi pengen jadi pacarnya.” Jawab Maya.
Naira berdecak, dan memukul pelan tangan Maya. “Enak aja, ini gebetan gue!” jawab Naira, menegaskan jika Kenzi adalah gebetannya. Namun Maya hanya memutar bola mata keatas, “Baru gebetan.” Ujarnya dalam hati.
Maya mendengkus. “Gue juga masih waras ya, gue udah punya cowok. Lo aja yang jomblo sendirian.”
“Sialan!” Naira mengerucutkan bibirnya kesal. Memang apa yang dikatakan oleh teman-temannya ada benarnya. Dia jomblo sendirian, sementara ketiga temannya sudah mempunyai pacar. Ada yang sudah bekerja dan ada juga yang masih duduk di bangku perkuliahan.
“Sekalinya dapat gebetan, bening begini! Lo yakin? Gimana kalau lo sakit hati nantinya? Ternyata cowok ini udah punya cewek?”
Skakmat! Perkataan temannya-Keisha, memang ada benarnya. Dia tak tahu kalau Kenzi sudah punya kekasih atau bahkan tunangan dan lebih parahnya menikah. Namun, Naira segera menepis pikiran itu. Dia akan tetap berjuang pada Kenzi, walau sulit. Kenzi adalah pria pertama dari banyaknya pria yang menyukainya yang tak Naira hiraukan, hanya bertemu satu malam saja, dan itu tak di sengaja sudah membuat hidup Kenzi uring-uringan. Dia bertekad apapun resikonya akan berjuang menghadapi Kenzi.
“Bengong aja lo, lagi sadar ya?” tanya Maya, sambil tertawa.
Lagi, Naira mendengkus kesal, tak hanya mendengkus dia pun berdecak.
“Tenang aja, setahu gue sih kak Kenzi lagi jomblo.” Jawab Kindi membuat senyum kembali terbit dibibir Naira.
“Bye.. gue mau pulang aja!” jawab Naira, dan segera beranjak. Mengambil handphone di atas bangku, kali ini Naira benar-benar pergi meninggalkan teman-temannya yang nampak kesal.
“Heh! Tungguin!” teriak mereka semua, namun tak digubris oleh Naira. Dia lebih memilih berjalan untuk sampai ke mobilnya. Tak sabar bertemu dengan kasur, lalu men stalk akun Kenzi, dan mengiriminya sebuah pesan. Tak sabar Naira bertemu Kenzi kembali. Dia akan meminta nomor w******p Kenzi dan memulai pendekatan.
Naira sedang mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Sudah lama dirinya tak membawa mobil, kaku rasanya. Biasanya dia akan terus membawa motor kemana-mana. Entahlah, Naira lebih suka membawa motor matic dari pada mobil. Menurutnya lebih bisa menikmati udara luar.
Dia memutar lagu Korea, lagu kesukaannya diradio mobil. Lagu itu mengalun bersamaan dengan suara indah Naira. Membelah jalanan yang cukup senggang.
Tiba-tiba saja, Naira menginjak rem secara mendadak. Dia membulatkan mata saat matanya menangkap objek yang ada di depannya ; Laki-laki yang dari semalam tak dapat Naira lupakan namanya walau hanya sebentar.
“Itu kan pak Kenzi."