Tak bisa lagi Elina bendung air matanya, kini mata karamel itu basah dengan air mata yang terus keluar dan membasahi kedua pipinya. Sakit rasanya mendengar cerita sang papa menjalar hingga ke ulu hati. Tak ada kata yang mampu Elina ucapkan lidahnya terlalu kelu, kakinya mulai lemas, ingin dia menyangkal semuanya namun akal pikirannya mengatakan bahwa semua itu benar. “Kenapa ... kenapa tidak pernah bercerita pada Elina? Kenapa pah?!” tanya Elina dengan nafas yang mulai tidak teratur lagi. “Bukan papa tidak mau Elina, tapi papa juga memiliki alasan sendiri mengapa kami tidak menceritakan padamu,” ucap Nathan sembari meraih tangan Elina namun di tepis oleh sang anak. “Apakah papa tahu betapa hancurnya aku ketika aku mendapatkan hasil DNA itu? Sakit pah, sakit rasanya hingga menyesakkan d*

