16 - Drama Pulang Kantor

1347 Kata
Sore ini aku pulang kerja dengan sedikit hambatan karena si bos memaksa untuk pulang dengannya. Aku bingung harus bagaimana untuk menghindarinya. Tak mungkin menghubungi Paman Arkan karena beliau dan tante Rahmi masih di luar kota. Akhirnya aku memberanikan diri menghubungi Buana, siapa tahu dia mau membantuku. menghubungi paman Arkan untuk menjemputku. Aku meninggalkan kursiku sekedar untuk menjauh agar ketika menelepon Buana tidak terganggu oleh bising sekitar. Beberapa kali bunyi panggilan, namun tak diangkat juga. Sedikit kecewa karena mendapatkan respon yang lambat dari Buana, membuatku mendesah dan berpikir kenapa harus melibatkannya dalam kesulitanku. Sifatnya yang masa bodo, pasti akan mengabaikan panggilanku. Aku memutuskan untuk mengulang lagi panggilan ini. Namun sekali lagi, tanpa jawaban. Sedih rasanya diabaikan begini. Tapi sebenarnya aku sudah menduga akan seperti ini respon dari Buana. Aku kembali ke mejaku dengan lesu namun terus mencari cara untuk menghindari Pak Andres. Haruskah aku membeli kendaraan pribadi? Mungkin hanya itu satu-satunya cara untuk menghindari pemaksaan antar jemput. Sedang asik merenung, notifikasi pesan masuk muncul di gawaiku dan membuatku hampir melonjak karena gembira. Buana : Ada apa? ish gemes deh, kirim pesan singkat begini, namun setidaknya, ia mau mengabariku. Langsung aku meneleponnya sambil berjalan menjauh dari kursi. Dan suara itupun mulai terdengar. "Kenapa?" Dibalik suara dinginnya aku bisa merasakan ada kehangatan di sana. "Mas Buan.. lagi ngapain?" Tanyaku berbasa-basi sekilas. "Lagi nelpon. Udah, langsung ke intinya aja, mau minta tolong apa?" Beneran langsung ke intinya ini mah. "Ish.. mas Buan nih ga asik.. tapi mas Buan tau dari mana kalau Ayu mau minta bantuan? apakah kita sudah punya telepati?" "Bawel, ngomong aja langsung atau gue tutup nih?" "Ish.. Mas Buana gitu banget sih? ya udah.. tapi bantuin ya?" "Ya apa dulu?" "Jam 17.30 nanti jemput Ayu bisa kan Mas? Please tolongin Ayu menghindari someone" "Urusan lo kenapa gue yang repot?" "Kan minta tolong, mas.." "Kalau minta tolong aja manggilnya mas-mas, biasanya juga lu-gua." "Mas, jangan mengalihkan pembicaraan, mending se.." "Ya udah tunggu aja" Klik. Lah, aku belum selesai bicara langsung dipotong sama Buana, dan nyebelinnya lagi, call-nya langsung dimatiin. Dasar ga sopan. Ah tapi setidaknya dia mau membantuku, itu sudah cukup. Pukul 17.00 aku mulai bersiap menyelesaikan pekerjaanku. Tak lama kemudian Siti dan Mega datang melapor apa yang mereka bisa selesaikan dalam satu hari ini. Di tengah kami bertiga sedang berbicara, Pak Andres keluar dari ruangan dan menuju ke arah kami. "Ayu, ayo pulang bareng!" Ajaknya lagi. Aduh, padahal sudah berkali-kali ku tolak. "Terimakasih, pak. Tapi saya sudah dijemput." Tolakku sekali lagi. "Dijemput ojol?" Tanya-nya sambil tersenyum mengejek. Aku balas senyum kalem. "Udah dicancel aja ojolnya" Jawabnya memberi keputusan. Aku mendelik mendengar ucapannya. "Ini teman saya pak!" Aku mengabaikan keberadaannya dan melanjutkan merapikan barang. Pak Andres tidak beranjak dari tempat berdirinya dan terus memperhatikanku melakukan aktifitas. Kulirik jam tanganku, 17.25 sudah saatnya aku menuju lobby. "Saya jalan duluan pak" pamitku langsung melangkah pergi tanpa menoleh ketika Pak Andres memintaku menunggu. Di lobby, aku melihat belum ada sosok Buana, sehingga aku masih berdiri menunggu sambil bersedekap. "Mana temanmu, Say? Kamu berbohong ya untuk menghindari saya?" Ujar Pak Andres yang langsung tiba-tiba ada di sampingku. Aku diam saja tak menjawab, percuma mendebat untuk hal ini. Tiba-tiba sebuah mobil lux berhenti di depan lobby, seorang supir turun untuk membukakan pintu pada Pak Andres. "Sudahlah Say, pulang bareng saya saja. Jangan berpura-pura terus!" Nada Pak Arkan kali ini terdengar memaksa, kalau gak ingat dia adalah bos-ku, sudah aku semprot orang ini. Belum sempat aku membalas perkataan Pak Andres, sebuah motor ninja sport hitam berhenti tepat di depan lobby. Aku langsung mengenali sosok Buana yang berada dibalik jaket hitam dan helm fullface-nya. "Saya duluan pak teman saya sudah datang." Jawabku sambil menunjukkan sosok Buana. "Buana?" Terdengar gumaman dari mulut pak Andres. Aku melihatnya sekilas, wajahnya sudah merah padam. Namun sudahlah, aku tak paham kenapa. Segera aku menghampir Buana kemudian langsung mengambil helm yang telah diangsurkannya. Aku melihat mata Buana memandang Pak Andres dengan pandangan yang tak bisa kuartikan. Aku mengabaikannya dan segera naik ke boncengan Buana. "Pegangan" Kata Buana yang langsung kuangguki. Kemudian aku mencondongkan badanku ke punggung Buana dan memulai 'memeluknya'. "Kenapa meluk?" Tanya Buana sambil menolek ke belakang. "Ini pegangan versi aku" Jawabku sengaja berbisik lirih. Buana tak menyahut lagi, langsung menggeber motornya meninggalkan lobby dengan Pak Andres yang berdiri terpaku. *** Ternyata Buana tak mengantarku pulang, ia malah membawaku datang lagi ke apartemen-nya. Aku tak protes, karena di rumah cuma ada bi Parti, aku rasa, pulang agak larut-pun tak masalah. "Kamu mau mandi dulu? aku bisa order g*food kalau kamu mau makan di sini." Wah.. ada angin apa Buana mulai ber-aku-kamu nih? Aku masih diam tak menyahut, kayak bingung mau jawab apa. "Sorry Ayu, aku bawa kamu ke sini, harusnya aku langsung antar kamu pulang ya.." Buana langsung mengatakan penyesalannya mungkin mengira aku diam karena marah. "Ayo aku antar pulang aja kalau gitu" Buana segera berbalik dan hendak menuju ke pintu untuk segera keluar. Entah kenapa aku merasa hatiku seperti mencelos begitu saja melihat reaksinya yang sepertinya begitu takut akan penolakan. Langsung aku menarik tangannya untuk membatalkan kepergiannya. "Mas.." Panggilku sambil memaksanya berbalik menghadapku. "Aku nggak apa-apa kok mas. Aku vuma bingung aja tadi, mau mandi tapi nggak punya persiapan apa-apa" Jelasku perlahan sambil terus melihat perubahan air muka-nya. Dia terlihat lega mendengar perkataanku, kemudian dengan segera menyahut: "Ada handuk baru, masih disegel dan bersih. Untuk baju, tadi setelah kamu menelepon, aku sudah meminta asisten yang membersihkan apartemen ini untuk menyiapkan 1 set pakaian bersih. Sabun, shampoo, pasta gigi aku pilih random aja, semoga kamu nggak keberatan." Luar biasa, ini kalimat panjang ke-dua yang diucapkan Buana. Entah bagaimana hatiku bersorak karena senang dia telah mempersiapkan semuanya. Berarti ia memang menghendaki-ku berada di apartemennya. Buana pergi sebentar, kemudian kembali dengan barang-barang yang ia sebutkan tadi. Aku segera mengambilnya dan menuju ke kamar mandi. Aku selesai bersiap ketika terdengar bunyi bel, aku mendengar Buana berbicara sedikit dengan seseorang, kemudian hening. Segera aku menghampirinya. "Ada yang datang?" Tanyaku. Buana tidak menjawab hanya menunjukkan satu tas berisi makanan. Aku mengangguk mengerti kemudian mengambil tas itu dari tangan Buana dan mulai menyiapkannya untuk makan malam kami. "Jadi kamu kenal Kak Andres?" tanya Buana setelah kami selesai makan, dan masih duduk bersama di meja bar. "Iya.. dia bos Ayu" Jawab-ku sambil menuangkan air di gelas Buana yang sudah terlihat kosong. "Oh.. jadi kamu asistennya, gitu?" Tumben Buana kepo? "Ayu ini sekretaris utama, kalau disebut asisten sepertinya tidak tepat juga, karena Ayu mengurus segala yang berkaitan dengan corporate. Bukan hanya pak Andres" Jelasku. Buana hanya mengangguk-angguk. "Pak Andres itu kakak mas kan?" pertanyaanku sepertinya membuat Buana sedikit terkejut karena melihatnya memandangku sambil mengangkat sebelah alisnya. "Kamu tahu?" Tanya Buana. "Tahu donk.. makanya kalau punya tetangga tuh diperhatikan.." Cih.. Buana mencibir membuatku ingin tertawa saja melihatnya. "Aku kan bukan pak RT yang perlu memperhatikan warga-nya" gumamnya pelan. "Iya.. jangan terlalu perhatian ke tetangga lainnya, cukup perhatiannya ke Ayu saja." Nah.. ini beneran aku ingin menggodanya saja. "Males.." Jawabnnya terdengar menjengkelkan di telingaku. "Yaelah mas.. Ayu kan cuma bercanda." Kali ini aku cemberut karena jawabannya itu. tapi Buana malah tersenyum. "Aku juga bercanda kok" Ujar Buana dengan mimik wajah sulit ditebak. Aku melongo.. itu dia lagi melucu? garing banget! "Ayu.." Panggil Buana pelan. Aku mengedipkan mata kembali fokus dengan Buana. "Kamu yakin akan baik-baik saja kalau dia melihatku menjemputmu seperti tadi?" Buana terlihat serius dengan pertanyaannya ini. "Memangnya ada apa?" Aku bingung. Kenapa aku harus tidak baik-baik saja? justru seharusnya aku akan baik-baik saja karena bisa menghindari dari paksaan Pak Andres untuk mengantar dan menjemputku setiap hari, bukan? Buana menghela nafas seakan berat untuk berbicara. Akupun tak ingin memaksanya untuk bercerita. Mungkin dia butuh waktu untuk mempercayai seseorang sebelum bercerita segalanya. "Aku khawatir ia akan menyulitkanmu Ayu. Aku tidak memiliki predikat yang baik di matanya. Baginya aku ugal-ugalan, pemabuk, looser, bodoh, semua yang buruk ada padaku." Terang Buana uang membuat aku paham sepertinya dia sedang tidak percaya diri. "Mas Buan tenang saja, walaupun Ayu adalah bawahannya, tapi Ayu tidak mudah ditindas loh..!" Lagi-lagi Buana hanya tersenyum dengan penjelasanku. Aku merasa, adalah baik jika aku memberikannya support lebih agar ia percaya diri. Jujur, aku seperti mendapatkan sebuah visi untuk masa depanku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN