17. Ijinkan Aku

1290 Kata
Setelah selesai makan, aku membereskan semuanya. Ayu menawarkan untuk membantuku, tapi aku tolak karena aku lah yang membawanya ke sini, maka harus kulayani dengan baik. Sebenarnya aku sudah berniat untuk membuka hatiku bersahabat dengan seseorang tepat ketika Ayu menelepon meminta untuk menjemputnya. Aku pikir mungkin aku bisa menjadi teman baik dengan Ayu. Tapi begitu aku menyadari kalau dia ternyata bawahan kakakku, aku menjadi ragu, akankah Ayu menerima aku yang seperti ini? Sambil membersihkan peralatan makan kami di westafel, pikiranku penuh dengan pertimbangan. Ayu adalah orang yang baru aku kenal, aku bahkan baru menerima profile dan latar belakang Ayu kemarin dari Raid. Haruskah aku membagi ceritaku ini dengan Ayu? Atau menundanya dulu sampai aku benar-benar yakin? "Mas Buana kenapa melamun? Ga dilanjutin cuci piring-nya?" Suara Ayu menyentakku dan menarik diriku dari lamunan. Aku menatap Ayu sekilas, kemudian melanjutkan mencuci piring. "Mas Buana.. bagaimana kalau malam ini Ayu nginap disini saja?" "Eh.. gimana?" Pertanyaan Ayu ini mind blowing banget deh.. "Aku nginep sini aja, biar mas Buana nggak usah repot-repot nganterin aku" Jelas Ayu. Aku menggeleng. Bagaimana bisa Ayu mengajukan hal konyol seperti ini? "Kamu harus pulang Ayu" Jawabku. "Kenapa?" Pandangan Ayu sedikitpun tak berpindah dari menatapku. "Karena aku juga harus pulang." Gumamku pelan, tapi aku yakin Ayu mendengarnya. "Mas.. sini deh Ayu ceritain.." Ayu segera menarik tanganku yang baru saja selesai me-lap tanganku. Aku mengikuti langkahnya membawaku ke sofa satu-satunya di apartemenku ini. Ayu menyuruhku duduk disamping-nya. "Ayu mau cerita.." Aku terdiam namun tetap menyimak apa perkataan Ayu selanjutnya. "Makasih ya Mas Buana udah nolongin tadi mau jemput Ayu." Aku mengangguk. "Tapi Ayu nggak ingin pulang, mas. Kalau boleh Ayu nginep disini aja sampai Paman sama tante balik ke rumah. Sampai hari Sabtu lah kira-kira mas Buana.." "Ehm.. ini masih Senin, Ay.." "Ayu tahu mas.. Tapi Ayu mau menghindar dari bos Ayu itu.. " "Maksud kamu, Andres?" "Iyalah.. siapa lagi?" "Memangnya kenapa dia?" Ayu-pun menceritakan alasan ia memilih menginap di apartemenku. Dia takut besok pagi Andres muncul di depan rumah pamannya untuk menjemputnya. Setidaknya ketika pamannya kembali, ia bisa meminta tumpangan pulang pergi ke pamannya, dan itu bisa ia jadikan alasan untuk menghindari Andres. Tapi selama pamannya masih di luar kota, Ayu kesulitan mencari alasan. "Aku saja yang antar jemput kamu, Ay.." penawaranku membuat Ayu terkejut. "Wah.. beneran, mas?" Ayu menatapku dengan penuh harap. "Iya beneran.." Jawabku sambil mengangguk. "Wah.. makasih mas.. makasih banget.." Ayu saking senangnya ia tiba-tiba menghambur memelukku. Aku yang tidak siap mendapat serangan pelukan dari Ayu, melonjak terkejut, tubuhku oleng dan kemudian jatuh bersandar di sofa, dengan Ayu berada di atasku, menindih tubuhku. Posisi kami benar-benar dekat dan sangat intim sekarang, mata kamipun saling memandang mengalirkan debar-debar hebat di d**a kami masing-masing. "Ayu.. lebih baik kamu segera menyingkir dari atasku kalau tidak mau menyesal nanti.." Ucapku dengan suara serak. Ayu ini bukan gadis tak menarik, ia sangat cantik dan seksi. Hanya laki-laki tidak normal yang tak menyukainya. Aku sebenarnya bisa memahami kenapa Andres juga tertarik dengan Ayu, tapi aku dapat merasakan kalau Ayu terganggu dengan pendekatan Andres. "Menyesal kenapa mas?" Ayu bertanya tapi dengan nada yang benar-benar menggoda. "Ayu.. kamu lagi ngetest aku? Imanku nggak sekuat itu Ay.." Erang-ku mencoba membuat Ayu paham kalau posisi seperti ini membuatku tersiksa. Tiga tahun aku tak pernah dekat dengan wanita manapun. Kali ini, ketika ada yang manja seperti Ayu ini, aku kehilangan pikiranku harus bertindak bagaimana. "Ayu.. kamu harus sadar Ay.." Cobaku membujuk Ayu.. "Sadarlah Ay.. kalau kamu itu berat.." Ucapku melanjutkan perkataanku tadi. Wajah Ayu seketika cemberut. Wah aku salah apa? "Mas Buan!! ih.. ngeselin banget sih!" Ayu ngambek! Ia bangkit dari atasku dan mulai menggerutu sambil menghentakkan kakinya. Aku tertawa terbahak melihat kelakuannya. Ternyata dia alergi kalau dibilang berat. Padahal aku cuma bercanda tadi. Ayu kembali duduk disampingku sambil memukul pundakku berkali-kali. "Mas! ih.. ralat ga? Ayu marah nih.." Rajuk Ayu. Aku masih tertawa sampai aku lihat mukanya sudah merah hendak menangis, aku tangkap tangannya yang memukul pundakku tadi, kemudian menggenggamnya. "Ayu.." Panggilku selembut mungkin. Ayu membuang mukanya tak mau melihat ke arahku. Aku mati kutu. "Dari tadi kan Ayu sudah cerita, sekarang giliranku yang bercerita, boleh kah?" harapku dengan hati-hati. Aku tak merespon beberapa detik, tapi kemudian mengangguk tanpa menatapku. "Lihat aku donk Ayu.." Rayuku menyadari ia belum sepenuhnya bebas ngambek. Ayu menoleh lalu mulai menatap wajahku, membuat aku bercerita segalanya. Tentang aku yang dulu, tentang kepergian Ibunda, Putri dan istri Andres. Tentang ayah dan juga tentang persainganku dengan Andres. Itu saja. Ayu mendengarkan ceritaku dengan mata berkaca-kaca, menatapku lembut sambil memegang tanganku. "Aku ingin kembali seperti dulu, Ayu.. memiliki semangat hidup dan cita-cita. Tiga tahun aku hidup dengan amarah, dengan penyesalan. Tapi aku tidak punya alasan kenapa aku harus bangkit, kenapa harus semangat seperti dulu" Jelasku setelah menutup ceritaku tadi. "Ayu harap, Mas Buana balik lagi ceria dan semangat seperti dulu. Ayu temenin mas Buana untuk bangkit lagi yah?" Respon Ayu pertama kali. Aku diam dan tak merespon pertanyaan Ayu. Haruskah aku menanyakan hal ini? Ragu kembali menyeruak di dalam d**a, apakah Ayu tulus padaku? Bagaimana aku mengetahui perasaannya? "Ayu.. boleh aku minta sesuatu?" Ayu mengangguk. "Ayu.. ijinkan aku menjadikanmu alasanku untuk bangkit lagi. Bolehkah?" Aku meminta ijinnya. Sungguh aku begitu takut ditolak. Ini bukan pernyataan cinta, tapi ya esensinya hampir sama, jadi menurutku wajar aku takut akan penolakan. "Ada 2 syaratnya mas.." Jawab Ayu yang membuatku menaikkan sebelah alisku seolah menanyakan apa syaratnya. "Yang pertama, karena tadi mas sudah janji mau antar jemput Ayu, maka mas Buana sudah ga boleh mabuk-mabukan lagi ya? Ga boleh begadang, wajib bagun pagi biar nganterin Ayu-nya ga telat. Untuk ini, mas Buana setuju?" "Setuju" Tanpa pikir panjang aku menyetujuinya. "Yang ke-dua. Kalau mau menjadikan Ayu sebagai alasan Mas Buana bangkit lagi, Mas Buana harus sayang sama Ayu.. kalau nggak sayang, maka sia-sia saja, alasan yang mas perlukan itu akan sekedar menjadi pajangan" Jelas Ayu berapi-api, tapi aku ragu. "Tapi Ayu.. aku sendiri belum tahu bagaimana perasaanku yang sebenar.." Belum lagi aku selesaikan kalimatku, aku audah dibuat kaget dengan tingkah ayu yang tiba-tiba duduk di pangkuanku sambil mengalungkan tangannya di leherku. Sekali lagi Ayu memang penggoda iman. Entah apa maksudnya, namun aku berdebar sangat keras bisa melihat wajahnya dalam posisi romantis seperti ini. "Ayu.. turun.. jangan.." Aku benar-benar berusaha untuk waras. Entah kenapa Ayu selalu mengalihkan duniaku. Padahal beberapa perempuan yang dulu pernah dikirim Andres untuk menjatuhkanku, dapat aku hindari dengan mudah. Seseksi apapun mereka, aku dapat mengontrol diriku dengan baik.. "Mas.. " Ayu berbisik lirih. Aku menelan ludah saking gugupnya. "Lebih baik mas Buana jangan bilang aku berat kalau mas nggak mau menyesal!" Bisik Ayu dengan nada ancaman. Sebenarnya jika tidak sedang bertahan mengendalikan diri, mungkin pipi Ayu sudah aku cubit, dia menggemaskan. Memangnya apa sih yang bisa dia buat untuk membuatku menyesal? "Ayu.. turun.. kamu.. berat.." Aku tak peduli ancamannya. Penasaran dengan apa yang akan dia perbuat. Dan dalam seper-sekian detik kemudian, aku terpaku diam, merasakan sesuatu yang kenyal menempel di bibirku. Itu bibir Ayu.. Ayu menciumku? Astaga wanita ini! Dia benar-benar tidak takut ya sama ancamanku? Tapi Ayu hanya menempelkan bibirnya, tidak ada lumatan, namun dia sukses membuatku ketagihan bibirnya. Aku ingin balas menciumnya, namun Ayu tiba-tiba turun dari pangkuanku kemudian menjauh. "Ehm.. syarat kedua bisa dipenuhi kan?" Tanya Ayu serius. Aku menelan ludah, gugup. "Aku akan belajar menyayangimu." Terpaksa aku mengatakannya dengan gugup. "Menyayangi sebagai apa?" Pancing Ayu lagi. Ya Tuhan,.. Ayu ini benar-benar barbar ya? "Maunya kamu apa" Aku tidak tahu apa pilihan jawabannya. "Kekasih?" Jawabnya ragu "Baiklah" Jawabku tanpa berpikir, namun membuat Ayu membelalakkan matanya, kemudian kembali memelukku sambil bersorak nyaring. Ayu begitu bahagia seperti anak kecil yang mendapatkan banyak sekali permen. "Jadi tanggal jadian kita hari ini ya mas?" Ayu memastikan lagi dan aku hanya mengangguk. "Akhirnya Ayu nggak jomblo lagi.. yes yes!" Ujar Ayu spontan yang langsung ia lanjutkan dengan gelak tawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN