04 - Mengenalmu Lebih Dekat

1175 Kata
"Say.. tolong carikan rumah mode yang bagus untuk saya ya. Saya perlu jas baru untuk pembukaan cabang baru bulan depan." Pak Andres memberi instruksi padaku namun matanya tetap menatap layar komputer. Aku berdiri dihadapannya dengan memegang beberapa map sambil menunggu arahan berikutnya dari pak bos. Beteweh, tadi dia panggil apa? say? say gimana maksudnya? Sialan nih bos emang suka bikin baper "Kok diem aja?" Tanyanya mulai penasaran karena tak mendengar jawabanku. Ia mulai menaikkan wajahnya untuk memandangku. "Tadi bapak ngomong sama saya" Aku bertanya dengan ragu-ragu. "Ya iyalah. menurutmu sama siapa lagi Say?" "Nah itu pak.. siapa itu 'Say' nya bapak? bukan saya kan? jadi ya gak saya jawab pak" Jelasku. "Ya ampuuun.. jadi itu?" Pak Andres mendengus mulai kesal. "Kepala kamu itu isinya apa sih Say? Say ya Masayu.. Ma Sa Yu.. nama kamu! paham?" "Lah makanya jangan panggil begitu pak.. panggil Masayu aja.." Aku masih ingin mendebatnya. Enak aja panggil aku sembarangan. "Dari pada saya panggil 'Sayu'? atau 'Mas'?" Masih juga dibantah sama pak bos. "Ya elah pak.. semerdekanya bapak aja dah ah.." Aku menyerah. Mari kita menghentikan perdebatan tak berguna ini. "Kalau sudah tidak ada lagi yang akan dibahas, saya permisi pak" pamitku undur diri dan bersiap untuk membalikkan badan. "Eh bentar dulu Say, saya belum selesai!" tahannya sebelum aku benar benar melangkah meninggalkan ruangannya. "Kamu juga perlu hadir di pembukaan cabang itu!" Titahnya. "Hah? Ngapain pak?" Aku terheran-heran, buat apa aku harus hadir disana. "Pe.. Rin.. Tah..! Jangan tanya kenapa." Pak Andres sepertinya sedang tak ingin dibantah. "Jadi tolong pakaian kamu juga disesuaikan ya.. Jangan bikin malu!" "Tapi pak.. " "Selesai.. silakan keluar!" Belum juga aku sempat membantah, sudah diusir sebegitunya. Ampun DJ.. Karena merasa mood-nya lagi buruk, aku tak mau uji nyali dengan memperkeruh suasana. Akhirnya aku keluar dari ruangannya dengan kesal dan mulut berkomat-kamit seolah sedang merutuki bos satu itu. Baru juga keluar dari pintu ruangan pak bos, lima meter didepanku, aku melihat seorang perempuan cantik dengan baju seksi ketat datang berjalan ke arahku. Ah bukan, maksudnya ke arah pintu ruangan pak Andres. Segera aku tersenyum standard menyambutnya. "Ada yang bisa saya bantu bu?" tanyaku beruasaha ramah sesuai standard SOP nya sekretaris. Dia tidak menjawab, malah memandangku dari atas sampai bawah, kemudian dari bawah sampai atas. seperti sedang memeriksa penampilanku. "Minggir! saya tidak perlu bantuanmu!" Jawabnya ketus. Ya salam.. sombong banget nih mak lampir. Baju doang yang terlihat berkelas, tapi kelakuan minus akhlak. Tapi terlihat dari wajahnya memang sombong kok. Apalagi pakai baju merah ngejreng gitu, lipstiknya sama merahnya kayak bajunya, pakai high heels 10 cm, ya walaupun high heels nya sudah setinggi itu, tingginya tetap tidak melewatiku. Tingginya kalau aku taksir, sekitar 155 cm. "Ibu mau bertemu dengan siapa?" Tanyaku masih berusaha ramah. "No-na! Aku bukan ibumu. Panggil aku 'Nona'!" lagi lagi masih dengan sombongnya menjawab pertanyaanku sambil mengangkat dagunya tinggi tinggi. Semoga lehernya gak kecengklak! *tertawa joker "Maaf, nona mau bertemu dengan siapa?" Aku masih memilih cool. Jangan ragukan kesabaranku. Kalau tidak, mana mungkin aku terpilih jadi sekretaris utama. "Andres! Minggir saya mau bertemu Andres" jawabnya sambil berusaha mendorong tubuhku menjauh dari depan pintu. Sayangnya usaha dia sia-sia belaka. Tenaganya tidak ada, kayak orang ga makan tiga hari, mana bisa mendorong tubuhku begitu saja? "Nona sudah ada janji?" Tanyaku tanpa merasa terintimidasi dengan kelaluan minus perempuan ini. "Heh, bodoh! Kamu gak tau siapa saya? saya ini tunangannya! ngapain juga pakai buat janji segala?" Ah lagi lagi dia berkata kasar. Dia merasa pintar kali yah, sampai mengatai orang lain bodoh? memangnya dia pernah jadi guru atau dosenku gitu, sampai melabeli aku bodoh? Tapi sekali lagi, aku pantang terintimidasi dengan kata-kata kasarnya itu. "Oh.. kalau begitu nona tunangan silakan duduk dulu, saya akan cek jadwal pak Andres, apakah bisa diganggu atau tidak" Jawabku final tanpa melihat dia lagi. Biarpun setelah itu aku mendengarnya bersungut sungut mengataiku tidak sopan, tapi ya bodo amat lah! Dia saja tidak sopan denganku! Abaikan si songong itu, aku kembali masuk ke dalam ruangan pak Bos dan melaporkan kalau si kunti tunangannya itu menunggu di luar. Pak Bos mengijinkan orang yang katanya tunangan itu untuk masuk. Walaupun sangat terlihat dari matanya kalau dia setengah hati menerima kehadiran tamunya. "Silakan masuk nona" Aku mempersilakan perempuan itu masuk dan kembali menutup pintu ruangan pak Bos. Apa tadi katanya? akan melaporkanku kepada pak Andres? Hahaha si kunti nih kebanyakan nge-halu. ya lapor aja atuh..! *** "Yang itu tadi, memang simpanannya pak Bos, mbak. Bukan tunangannya. Ngaku-ngaku aja dia itu. Dia udah sering datang ke sini." Mega, sekretaris binaanku, berbicara dengan wajah julid ketika aku tiba di pantry untuk mengisi tumbler-ku yang sudah kosong. "Masih pagi untuk nge-ghibah, Mega!" tegurku dengan santai sambil menuju dispenser dan mengisi air di tumbler-ku. "Ih mbak Masayu gak asik ah buat bergosip. Mbak tu jangan kudet, harus update!" Mega manyun karena teguranku. Tapi tak lama kemudian manyunnya itu berubah menjadi senyum karena ada yang menyambut kalimatnya tadi. "Padahal pak Andres itu duda keren loh.. Hot deddah.. bisa dijadiin sugar deddah ya gak, Meg?" Ternyata Siti, anak admin di bagian kesekretariatan yang memang dekat dengan Mega. Eh apa tadi? Duda keren? "Ho oh, Sit.. apalagi sudah 3 tahun berlalu semenjak kematian istrinya, eh sugar deddah itu masih betah menjomblo aja." Nah kan Mega bertemu dengan yang se-frekwensi, jadi seru ghibahnya. Ooo jadi Pak Andres itu duda yang ditinggal mati istrinya. "Sayang, si nona kunti itu selalu mengganggu, padahal gak dikawin-kawinin juga hihihi" Siti mulai berbisik sambil cekikikan "Eh.. kawin udah kali.. dinikahinnya aja yang enggak hahaha" "Si Jamal, OB lantai bawah, beberapa kali mergokkin mereka keluar dari hotel di jalan merdeka itu." "Ah masa? Jamal ngapain juga di hotel? Ada videonya gak?" "Geblek ah lu, kalau video, siapa yang berani nyebarin? Lagian nanya satu-satu donk." "Ehm.. jangan fitnah gaes. Didengar orang lain, bisa abis kalian." Ujarku melerai dua orang ini yang semangat sekali bergosip. "Ah mbak Masayu, makanya bos sendiri tu dikenalin lebih dekat mbak, jangan cuma kulitnya aja! Biar kayak Secretary Kim" Jawab Siti mencontohkan tokoh Secretary Kim yang ada di sebuah drama korea. "Secretaris kayak gitu hanya ada di dalam drama." Jawabku enteng. "Eh tapi bener mbak, nanti lihat saja, 2 jam lagi baru si kunti keluar dari ruangan pak bos dengan jalan agak ngengkes.Trus ruangan pak bos pasti berantakan banget. Ya gak, Sit?" Wah Mega makin memperparah gosip. Setelah Mega berucap demikian, Siti menyambutnya dengan tawa. "Iya.. sekretaris sebelum mbak Masayu aja sampai nggak tahan kalau suruh beresin ruangan pak bos. Siap-siap aja mbak jadi korban berikutnya hehehe" Mega dan Siti masih melanjutkan gosip mereka, sementara aku tenggelam dalam lamunanku sendiri. Aku penasaran ingin membuktikan sendiri perkataan Mega dan Siti. Tapi benarkah seperti itu? Dua minggu aku bekerja di sini, memang baru pernah lihat si kunti datang. Kalau benar seperti cerita Mega dan Siti, aku merasa sedih jadinya, karena sempat geer dikasih perhatian lebih, ternyata, pak bos sama saja seperti lelaki b******k lainnya. Aku pikir, masa jomblo-ku akan segera berakhir, ternyata makin nelangsa. Namun sebenarnya aku merasa bagus juga Pak bos seperti itu, supaya bertambah lagi alasanku untuk menjaga jarak dengannya. Rasa tidak enak karena aura pak Andres masih saja menghantuiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN