Setelah menunggu, ternyata benar lebih dari dua jam, baru mbak kunti keluar dari ruangan pak bos. Dan... oh ya.. jalannya juga ngengkes,.. persis seperti apa yang dikatakan Mega dan Siti tadi. Ya ampun, ternyata istilah harta tahta dan wanita itu memang benar adanya.
Mbak kunti hanya melengos melewati aku yang sedikit menahan tawa melihat gaya berjalannya yang seperti robot, tapi dia terlihat bahagia. Ya iyalah.. secara sudah puas kan dua jam, masa kurang..?
Kulirik jam tanganku, 10 menit lagi jam 12 siang, aku mengetuk pintu ruangan pak Andres untuk menanyakan menu makan siang yang mau dipesannya.
"masuk!" sahutan pak Andres terdengar. Aku mendorong pintu kemudian melangkah masuk.
Ya ampun, ini kantor apa kapal pecah?
"Saat aku meeting nanti, kamu panggil OB bereskan ruangan ini, Say, dan suruh mereka kunci rapat-rapat mulut mereka kalau masih ingin bekerja di sini" Titah pak Bos.
Lagi-lagi, perkataan Mega dan Siti terbukti benar. Akupun tak ingin membantah, sangat muak aku melihat ruangan ini. Bantal sofa tergeletak di lantai, bahkan beberapa tissue kotor berhamburan disana. Bahkan aroma ruangan ini, sungguh membuatku mual. Bayangan si kunti dan si bos sedang main kuda-kudaan ternyata bisa membuat mood-ku anjlok drastis.
"Bapak mau makan apa untuk siang ini?" tanyaku mencoba mengabaikan pemandangan di ruangan ini.
"Saya makan di luar, tak perlu kamu siapkan. Saya sekalian langsung pulang."
"hah? tapi ada beberapa berkas yang perlu bapak tanda tangani, pak. Saya sedang siapkan berkasnya."
"Besok saja!"
"Pak, penting ini..!"
"Ok, kalau kamu merasa penting, antarkan saja ke rumah saya!"
"Eh pak.. kok gitu?"
"Saya tidak ada waktu untuk berdebat, Masayu!" Ucapnya final sambil berdiri mengambil jas nya yang tersampir di kursi kebesarannya.
"Jangan pulang kalau ruangan ini belum rapi!" Lagi dan lagi pak bos memberi perintah diktatornya.
Heran, konsen banget sih sama kebersihan ruangannya. Padahal dia juga yang buat ruangan ini jadi jorok seperti ini. Kalau udah sange tu harusnya ke hotel aja, jangan main di ruangan kantor. Berasa kayak ruangan pribadi. Dasar bos gak tau diri. Penyalah gunaan kekuasaan itu namanya. Ganteng-ganteng tapi akhlak minus.
***
Malam ini terpaksa aku lembur. Bukan, bukan karena ruangan si bos belum selesai dibersihkan. Tapi memang karena kerjaan yang seabrek-abrek yang tertunda karena ribetnya si bos. Selain memastikan ruangannya dibersihkan, aku harus menyelesaikan berkas-berkas yang harus ditanda tangani pak bos. Tapi bukan aku yang antar berkasnya ke rumah dia, gak keburu. Jadi aku titip supirnya pak Bos aja, sembari aku juga menyelesaikan kerjaan lainnya yang aku perlukan untuk senin pagi.
Aku menguap sebentar kemudian mengoletkan badanku sekedar untuk merenggangkan otot. Ku lihat sudah hampir jam 10 malam, untung ini jumat malam, aku tidak perlu ke kantor besok. Namun aku harus segera pulang untuk nebeng mobil antar jemput kantor khusus untuk karyawan lembur. jam 10 malam itu adalah mobil terakhir yang beroperasi setiap malamnya.
Tepat jam 10 malam aku tiba di shuttle mobil antar jemput kantor dan naik ke dalamnya yang isinya hanya supir, aku dan 3 perempuan lainnya yang juga pulang lembur.
"Mbak Masayu, alamatnya di Perum Canyon ya?" Tanya sang supir memastikan. Maklum, baru pendatang baru seperti aku ini, kadang belum dikenal.
"Grand Canyon Permai bang.. turunin aja di depan pos satpam bang.. soalnya kalau sudah malam, tamu sudah tidak bisa masuk gerbang" Jelasku.
Aku memang baru pernah menggunakan fasilitas kantor seperti mobil antar jemput karyawan ini, karena aku jarang lembur. Jadi yah supirnya juga belum terlalu hafal dimana aku tinggal.
"Nanti mbak Masayu jalan kaki dari gerbang sampai rumah, mbak?" Tanya abang supir yang kayaknya kepo banget.
"Ya iya bang.. jalan kaki.. kan ga mungkin juga pakai sepeda onthel" Jawabku santai.
"Emang deket ya mbak? Nggak bahaya, mbak? pegel ga tuh kalau kejauhan?" Nah kan beneran si supir ini ke pe o be ge te, alias kepo banget.
"Ga jauh jauh amat bang.. kira kira 500an meter lah.." Responku seadanya sambil menahan kantuk yang sudah mulai datang menyerang.
Pukul 10.45 malam, aku orang ke tiga yang diturunkan bang supir malam ini. seperti yang sudah aku infokan tadi, mobil berhenti hanya di depan gerbang. Aku melapor dan satpam membukakan palang gerbang.
Aku berjalan santai, selain karena penerangan terbatas, aku juga pakai high heels hari ini. Tapi aku pikir hanya 500 meter, tidak masalah sepertinya asalkan aku tidak terburu-buru jalannya supaya tidak lecet.
Malam semakin mencekam, suara jangkrik terdengar dari gelapnya taman yang aku lewati. Krik krik krik..
"siapa itu?" aku tiba-tiba merasa seperti sedang diikuti. Aku sudah berjalan sekitar 200an meter dari gerbang satpam, tapi aku sudah berbelok ke jalan yang lebih sempit untuk menuju ke blok rumah pamanku. Perasaanku jadi tidak enak. Tahu begitu tadi aku minta tolong diantarkan satpam saja.
"Haaa.." tiba tiba dari rimbunan pohon di samping muncul seorang laki-laki yang membuatku takut karena matanya merah. sepertinya dia sedang mabuk. Perutnya buncit, berkumis, kulitnya coklat gosong, berbadan besar dan tinggi. Wajahnya tak begitu jelas terlihat karena lampu di taman memang tidak terlalu terang.
"Neng geulis mau kemana malam-malam? temenin abang dek!" Ujar lelaki itu semakin mendekat kepadaku.
Aku mundur ketakutan, harusnya bisa kali aku lari balik ke pos satpam ya? tidak terlalu jauh kan?
"mau apa kamu? jangan macam-macam!" Ancamku mencoba galak walaupun nyaliku benar-benar sudah ciut.
jujurly aku gak pernah menghadapi hal seperti ini, aku pikir hal seperti ini tidak mungkin ada di sini. Ini perumahan elite, sistem keamanannya terpusat, terus kenapa bisa ada orang mabuk bisa masuk dan mengganggu penghuni?
"Ah si neng mah.. jangan malu-malu atuh.. aa udah sange berat nih pengen kelon sama eneng" Merasa swnang karena keadaan sekitar yang mendukung niat jahatnya, lelaki mabuk itupun segera melompat berusaha menerkamku.
Aku kembali menghindar sambil menjerit dan berteriak minta tolong sekeras-kerasnya. Sialnya, saat ini aku berada di lokasi yang sepi, hanya ada taman dan pepohonan. bahkan rumah terdeket dari lokasi ini adalah blok rumah paman yang sekitar 300an meter lagi.
"Neng.. sini neng, jangan malu-malu neng. Perkutut aa langsung ngaceng lihat body neng yang semok neng.. sini.."
"Laki-laki kurang ajar!"
Sumpah ini menakutkan untukku, apalagi mendengar kata-kata joroknya tadi. Benar benar malam sial untukku. Oke, ga pakai lama, langsung aku berbalik badan dan berlari, tapi sialnya baru juga lima langkah, aku merasakan nyeri luar biasa di kulit kepalaku, rambutku ditarik paksa untuk mundur.
Aku berteriak, cuma bisa menjerit dan meronta-ronta, apalagi merasakan lelaki b******k itu mulai memeluk tubuhku dari belakang dan memaksa menciumku.
Aku semakin takut namun tetap merusaha mengelak. Aku jijik sekali dengan laki-laki biadab ini, dengan sekuat tenaga, aku menghempaskan tas-ku untuk menampar mukanya dan membuatku bisa terlepas dari cengkramannya.
Sayangnya itu hanya berlaku sejenak, karena laki-laki itu justru semakin murka dan makin bernafsu untuk menyerangku. Dia menarik tanganku kasar, kemudian mendorongku keras sehingga aku terjatuh di tanah taman yang gelap.
Mataku mulai berembun membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Seumur hidup aku menjaga diriku agar tidak ada yang sembarangan menyentuhku, namun sepertinya ini akhir keberuntunganku. Walapun dalam hati tak henti-hentinya aku memanjatkan doa berharap akan ada keajaiban.
Siapapun.. tolonglah!