Aku semakin takut namun tetap merusaha mengelak. Aku jijik sekali dengan laki-laki biadab ini, dengan sekuat tenaga, aku menghempaskan tas-ku untuk menampar mukanya dan membuatku bisa terlepas dari cengkramannya.
Sayangnya itu hanya berlaku sejenak, karena laki-laki itu justru semakin murka dan makin bernafsu untuk menyerangku. Dia menarik tanganku kasar, kemudian mendorongku keras sehingga aku terjatuh di tanah taman yang gelap.
"b******k! Lepasin! Tolonggg!!" Teriakku masih belum mau menyerah.
Sementara lelaki kurang ajar itu mulai menggerayangiku, badannya yang besar tak bisa kulawan dengan tenagaku yang tak seberapa ini. Kurasakan air mata mulai muncul di sudut mataku, aku mulai putus asa bahkan ketakutan mulai membuatku lemah.
Bugh! Bugh!
Pandanganku yang mulai kabur dengan air mata membuatku tak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi, yang pasti sudah tidak ada tangan yang menggerayangiku lagi. Segera kuhapus air mata yang menggenang untuk dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi.
Begitu bebas dari air mata, aku melihat laki-laki kurang ajar yang menggangguku tadi sudah jadi samsak tinju. Dia sudah tampak kelelahan dipukul berkali-kali oleh seorang pemuda gondrong, dan entah kenapa karena emosi, aku membuka high heels kiri ku, memegangnya di tangan, dan berjalan dengan pincang karena kaki kananku masih menggunakan high heels, mendekati laki-laki yang sudah tersungkur dengan wajah biru imbas pukulan yang bahkan masih diterimanya dari pemuda gondrong itu.
"Tunggu! Jangan lanjutkan! Giliranku!" Kataku menghentikan aksi pemuda gondrong yang membabi buta membuat lebam muka dan tubuh lelaki b******k itu.
Pemuda gondrong yang aku taksir tingginya sekitar 20an cm lebih dari aku, mulai menghentikan pukulannya, dan dengan nafas tersengal menoleh memandangku seolah bertanya kenapa aku menghentikannya.
"Aku perlu membalasnya sendiri!" ujarku kepada pemuda gondrong itu.
Aku tak bisa melihat utuh wajahnya karena ia menggunakan masker hitam. Namun tetap saja aku menanti persetujuannya.
"Lakukanlah! Aku akan menelepon security" Jawabnya acuh, memberiku jalan, kemudian merogoh sebuah benda pipih dari sakunya.
Aku mengangguk kemudian mendekati tubuh besar yang sudah kepayahan itu..
"Neng.. tolongin aa, neng.." rintih lelaki b******k ini memelas minta tolong. Tapi apa peduliku, aku jijik dengannya. Tadi dia berniat jahat padaku, sekarang memohon bantuanku? Ciih..!
Tanpa menunggu lama, aku hantamkan high heels yang kupegang tadi ke pipinya sekuat yang aku bisa.. aku yakin ujung runcing high heels ku, cukup membuat tulang pipinya retak, atau minimal ya berdarah lah ya..
"Aaahh.. ampun.. ampun neng.." Rintihnya lagi sambil memegangi wajahnya yang sudah membiru.
Tapi aku merasa belum puas, bayangan dia yang menjamahku seenaknya, membuat aku marah. Entah kenapa aku jadi barbar begini. Ingatan tentang ketakutan yang diciptakan orang ini membuat akal sehatku menghilang entah kemana. Aku memandang ke bagian celananya.. dan..
"oh.. ini kah perkututmu yang kamu bilang sudah tegang? sepertinya perlu aku bikin tidur selamanya, penjahat kelamin!" teriakku marah. Dengan kaki kananku yang masih menggunakan high heels, aku menginjak selangkangannya sekeras-kerasnya dengan air mata yang mulai meleleh deras membasahi pipi ku.
"Aaaahhhh.." lolongan panjang kesakitan keluar dari mulutnya, dan tak lama setelah itu, sebuah tangan menarik lenganku membuatku seolah kembali ke alam nyata.
"sudah cukup! dia bisa mati kalau kamu lanjutkan!" Kata pemuda gondrong itu.
Tepat saat itu seorang satpam dan dua orang polisi datang menghampiri sambil menangkap pelaku.
"Ya ampun mbak.. mbak baik-baik saja?" Tanya si satpam yang tadi membukakan palang gerbang untukku.
"Sayangnya tadi cuma saya yang jaga, mbak.. nggak bisa nganterin mbak sampai rumah" Lanjut si satpam lagi.
Aku terisak menyadari tadi betapa kemarahan menguasaiku. Hampir saja aku tak dapat mengontrol diri, bayangan kelam itu datang lagi dan membuat diriku menjadi beringas.
"Maaf mas mbak.. mungkin bisa ikut kami ke pos untuk kami mintai keterangannya?" Tanya seorang pria berseragam coklat penegak keadilan yang menghampiri kami begitu pelaku ditangkap.
Aku mendesah lelah, tubuh ini benar-benar penat, ingin rasanha segera pulang. Namun memberikan keterangan adalah hal yang tak bisa aku hindari saat ini. Tak ada yang bisa aku lakukan selain mengangguk dan ikut memberikan keterangan.
***
Aku terhipnotis melihat wajah pemuda di sampingku ini. Akhirnya dia membuka maskernya dihadapan para penegak keadilan ini. Dan ya aku terpukau sampai seolah tak ingin mengalihkan pandanganku dari nya. Wajahnya itu cowok banget, bukan kaya oppa oppa di drama korea, tapi kayak bule yang macho banget itu. Tapi dia bukan bule. Nah gimana tuh menggambarkannya?
Hmm.. kalian tahu River Phoenix? Aktor ganteng yang meninggal di usia 23 tahun karena over dosis heroin dan kokain? Nah mirip lah seperti itu. Ah.. tapi dia meninggal saat aku belum lahir, jadi kalian mungkin juga tidak tahu siapa dia, tapi bolehlah kalian tanya si mbah siapa itu River Phoenix.
Oh.. atau kalian bayangkan saja wajahnya Jhonny Depp waktu usianya masih 20 tahun-an. Nah.. mirip seperti itu juga.. ya bisa kalian bayangkan sendiri lah ya bagaimana kegantengannya yang hakiki, yang cowok banget!
"Udah mupeng nya?" Tanya si ganteng sambil berbisik tepat di samping kiriku.
Yaelah, mupeng? istilah jadul masih dipake pula.
"Siapa yang mupeng?" Tanyaku sambil bersungut kecil dan memundurkan diriku. Nafasnya itu tadi dekat banget dengan telingaku. Bikin merinding.
"Lo lah.. siapa lagi?" jawabnya santai, sudah tidak berbisik lagi. Ia mulai menjaga jarak denganku.
"Eh.. gak usah ge er deh! Gue cuma kaget aja lihat muka lo.. kayak kenal!" Jawabku spontan. Gimana gak kenal, kayak Jhonny Depp gitu wakakak.
"Gak usah sok kenal! Gue gak berminat sama lo!" Jawabnya sambil berdiri untuk bersiap-siap pulang.
Lah nyolot! Siapa juga yang berminat sama mahkluk Tuhan paling ganteng ini? eh.. ya walaupun kalau dia ramah, aku juga gak nolak sih hahaha..
Tapi melihat gelagatnya seperti itu, sepertinya impossible. Ya sudah, aku jutek juga ah..! Ga bisa lebih dari jutek, karena biar bagaimanapun dia penyelamatku tadi.
"Sama! Gue juga ga berminat sama orang songong kayak lo!" Jawabku langsung menyambar tas dan berdiri berjalan keluar hendak pulang.
Pemeriksaan sudah selesai, ah aku rindu kasur.. badan sudah letih maksimal nih. Jam 01.18 mau dapat dimana kendaraan malam-malam begini? mau minta tolong dijemput paman, tak enak mengganggu beliau sedang berisitirahat. Tadi jam 9 malam aku sudah mengabari tante Rahmi kalau akan lembur. Jadi pasti mereka tidak menungguku pulang.
Aku menghela nafas panjang. Mau pesan taksi online, tapi takut diculik. Secara ini sudah lewat tengah malam. Apa aku berdiam disini saja dulu sampai pagi ya?
"Ayo pulang bareng gue!" Wah suara si ganteng tiba-tiba menawariku pulang bareng. Duh kapan lagi pulang bareng cowok ganteng yekan?
Tapi disudut hati yang lain, ada ragu, aku juga khawatir akan terjadi hal buruk lagi, secara aku kan gak kenal pemuda ganteng ini.
Aku memperhatikan si ganteng ini berjalan ke motornya. Motor yang sejak tadi bersama dia tapi aku baru menyadarinya. Seperti kenal dengan motor itu. Kupandangi pemuda itu, ia mengenakan jaket kulit hitam, kemudian menggunakan masker hitamnya, dan helm full face nya. Dia..
"Kalau gak mau ya sudah. Gue balik duluan" Tiba-tiba dia berkata demikian sambil menaiki motornya.
"Eh tunggu! Aku mau!" Putusku akhirnya.
Iya sepertinya dia ini pria pemabuk tetangga sebelah rumah itu deh. Tapi tadi dia gak mabuk kan?
Aku buru-buru menaiki bocengannya. Takut ditinggal.
"Diantar kemana?" Tanya nya.
"Ke rumahmu." Jawabku sambil masih berpikir apakah aman bersama pemabuk ini.
"Hah?" Tanyanya terheran-heran.
"Eh maksudku, ke sebelah rumahmu!"
Jawabku segera meralat ucapanku, sebelum pemabuk ganteng ini mengusirku dari boncengannya.