19 - Manja

1316 Kata
Sambil menunggu Ayu mandi, aku mulai berpikir langkah apa selanjutnya. Aku tidak tahu haruskah aku melibatkan Ayu dalam hal ini. Di satu sisi, aku tak ingin dia khawatir, tapi aku juga membutuhkan perannya. Haruskah aku menceritakan dengan detail semuanya, lalu Ayu yang memutuskan? atau apakah ini akan menjadi perjuanganku saja? Target terdekatku saat ini adalah kembali ke startup-ku lagi untuk mendapatkan dukungan ayah. Bukan karena harta, tapi ayah memiliki relasi yang baik dengan para pertinggi lembaga di negeri ini. Aku memerlukan akses yang tanpa batas untuk membongkar semua seluk beluk ini. Sembari berjalan, aku akan memikirkan langkah berikutnya. Aku mengambil laptopku dan memeriksa kembali perkembangan perusahaan ini, memeriksa struktur organisasi, melihat celah apa yang bisa kumanfaatkan. Cup! Sebuah kecupan mendarat di pipiku. Aku terkejut dan menoleh ke belakang. "Ayu! Bikin kaget aja!" Tegurku. Ayu tertawa melihat wajahku yang terkejut. "Serius amat sih mas.. sampai aku datang aja mas nggak tahu?" Kata Ayu sambil cengar-cengir yang langsung menuju ke arahku kemudian duduk di sampingku. "Ngerjain apa mas?" Tanya ayu sambil melirik ke notebook karena penasaran. "Lagi menyusun rencana ke depannya" Jawabku sambil menggeser notebook agar aku dan Ayu bisa sama-sama melihat. Ayu melihat dan mencerna sebisanya "Mas, ini tentang GemaWoo, startup yang dulu kamu bangun kan?" Ayu terkejut. Aku mengangguk, kemudian menjelaskan jika aku akan kembali handle langsung perusahaan ini. "Kok bisa mas? Kan perusahaan ini sudah bukan milik kamu?" Ayu heran. "Masih punyaku Ayu, coba pikirin, dari mana aku punya uang untuk beli mobil mewah tadi? Apa ayahku? Oh tidak..!" Ayu terkesima, nampak seperti tidak percaya. "Berarti kamu bukan looser seperti yang ayah dan kakak kamu pikirkan kan mas?" Aku mengangguk sambil tersenyum kecil dan memandang Ayu yang tampak sumringah. Begitu melihat anggukkan-ku, Ayu langsung memelukku. Aku membiasakan diri dengan Ayu yang ekspresif. Yang spontan suka peluk atau cium dadakan. Tapi aku tahu ini tidak baik jika dijadikan kebiasaan. Aku juga punya hasrat yang lebih baik jangan dipancing daripada nanti melanggar batas. Tapi Ayu suka sekali memberiku cobaan ini. Bel berbunyi membuat Ayu mengurai pelukkannya dariku. Ayu berjalan membuka pintu, terlihat dari balik pintu bang ojol berjaket orange memberikan sebuah tas. Kami makan malam bersama sebelum kami pulang. "Ayu,.. kamu nggak keberatan kita seperti ini? Selalu di apartemen berdua, pulang malam, bagaimana nanti tanggapan paman dan tante-mu?" Tanyaku di sela-sela makan malam. "Menurut mas Buana bagaimana?" Ayu malah bertanya balik. "Hmm kan aku yang bertanya duluan" Gerutuku. Ayu tersenyum tak menjawab. Ia justru mengalihkan pembicaraan. "Eh mas.. kemarin malam aku wa mas, kenapa nggak dibalas sih?" "Oh iya.. aku lupa bilang, kamu simpan nomorku yang 1 ini. Kalau sedang di rumah, aku pakai nomor ini. Kalau di luar rumah, baru aku pakai nomor yang kamu simpan kemarin." Ujarku sambil membagikan nomorku yang lain. "Kenapa begitu, mas" Ayu bertanya sambil menyimpan nomorku lainnya. "Nomorku yang ini ada pelacak dan penyadapnya, Ay.." "Hah? serius mas?" Aku mengangguk. "Siapa yang menyadap mas?" Raut wajah Ayu yang penasaran tak bisa ia sembunyikan. "Entahlah Ay.. aku belum bisa memastikan." "Tapi sudah ada dugaan mas?" "Yeah.. begitulah" "Siapa mas?" Aku menatap Ayu serius, haruskah aku memaparkan kecurigaanku? "Jangan ragu mas. Ayu percaya kok sama mas Buana." "Saat ini aku mencurigai Andres dan Ayah" Jawabanku ini membuat Ayu membulatkan matanya. "Oemji..bisa begitu?" "Bahkan kelakuan kamu di rumah hari minggu kemarin, Andres tahu." "Ooh.. pantesan kemarin dia rese banget nanya-nanya tinggal dimana. Ternyata ini maksudnya.." Kata Ayu sambil mengangguk seolah akhirnya memahami sesuatu. Aku hanya mengangkat bahuku saja sambil tetap melanjutkan makanku. "Mas.." Panggil Ayu sambil menghadapkan tubuhnya padaku. Aku hanya menggumam sebagai jawaban. "Kapan mulai kerja di GemaWoo lagi?" Tanya Ayu "Besok.. setelah nganterin kamu, aku langsung ke sana." "Ooh.. jadi berangkatnya lebih pagi?" "Nggak juga.. kita tetap pakai motor saja gak apa-apa kan, Ay?" "Ya gak apa-apa mas. Ayu mah ngikut aja yang penting bareng mas Buana." "Cieeh.. yang nggak mau pisaaah.." Ledekku ke Arum yang langsung memukul pundakku pelan. *** Demikianlah kami menjalani hari beberapa hari ini. Pagi hari aku menggunakan motor ninjaku mengantar Ayu ke kantor, kemudian aku ke apartemen berganti kendaraan dengan mobil, lalu menuju ke GemaWoo. Pulang kantor aku menjemput Ayu ke apartemenku, bersama beberapa waktu, kemudian mengantarnya kembali pulang dengan motor. Selama beberapa hari ini juga, aku tak pernah berbicara dengan Andres walaupun kami berpapasan setiap pagi. Ia cukup terkejut mengetahui aku kembali aktif di Gemawoo. Bahkan ayah yang sudah kembali dari perjalanan luar-nya dua hari lalu pun memandangku dengan penuh sukacita dan tak percaya bahwa aku masih pemilik GemaWoo. Akhirnya Ayah dan Andres-pun tahu jika Gainer Banderas adalah orangku. Mereka tak habis pikir bagaimana aku bisa menggaet seorang Banderas untuk bekerja sama denganku. Ayah bahkan sudah menawari Gainer gaji ratusan ribu dollar tiap bulannya, agar Gainer bergabung dengan Mahendra Corp, namun Gainer selalu menolak. "Katakan.. bagaimana caramu menggaet Gainer untuk bertahan mewakilimu di GemaWoo? Bahkan GemaWoo tidak memberikan sepersepuluh keuntungan dari Mahendra Corp." Ayah mencoba menggali rahasia-ku ketika kami sedang sarapan pagi bertiga. "Rahasia Yah.. Hal ini biar kami saja yang tahu." Ujarku. Andres hanya mendengus dan membuang muka. Aku tahu ia sangat kesal ketika Ayah mulai memujiku. "Yah.. malam ini aku tidak pulang ya. Seperti biasa aku akan menetap di apartemenku sendiri" Ujar Andres mengalihkan pembicaraan kami. Ayah hanya mengangguk Ia tak banyak protes karena memang sudah kebiasaan Andres tak pernah pulang jumat malam sampai minggu sore. Setelah selesai sarapan bersama, kami mulai terpisah menuju kantor masing-masing. Hubunganku dengan Ayu juga terbilang cukup lancar. Ayu yang selalu tampil apa adanya dan tak pernah jaga image membuatku semakin betah berlama-lama dengannya. Seperti sore ini di apartemen, ketika Ayu dengan manjanya minta gendong. "Mas gendong.." Kata Ayu sambil merentangkan tangannya minta digendong. "Ga mau! berat!" Jawabku dengan cuek. "Mas Buan! Seneng banget sih bilang Ayu berat padahal berat Ayu ideal loh!" Bantah Ayu. Aku cuma tertawa, mendekat ke arah Ayu dan menggendongnya. Ayu segera melingkarkan kakinya di sekeliling pinggangku, seperti anak Koala. "Berat nggak?" Bisik Ayu tepat di telinga kiriku. Aku menggeleng, berusaha mengabaikan rada geli karena hembusan nafas Ayu. "Ayu.. boleh minta sesuatu nggak?" "Apa tuh?" Aku berjalan menuju sofa dan duduk dengan Ayu masih di atasku. "Ayu mau nggak jadi Sekretaris-ku aja di GemaWoo?" Ayu melongo. Sejenak ia tampak berpikir. "Cieeh.. mas cemburu ya?" Goda Ayu. Apa iya aku cemburu? Kalau melihat Ayu sikap Ayu yang manja seperti ini, kadang aku tidak ikhlas kalau ia sepanjang hari berada di dekat Andres. Apakah ia juga bersikap manja seperti ini pada Andres? Atau pada orang lain? "Mas.. ih. ngelamun!" Ayu mengembalikanku dari lamunanku. "Bukan cemburu Ayu.. cuma memang sekarang aku perlu orang untuk membantuku me-manage waktuku." Elakku. "Ingat mas, Ayu ini bukan sekretaris pribadi!" "Aku ingat Ayu. Cuma kalau jadi 'Sekretaris Kim' khusus buat aku, masa nggak boleh?" "Eh. Jadi mas udah nonton 'Sekretaris Kim'?" Ayu malah fokus ke drakor itu. Aku hanya mengangguk. Ayu tersenyum. "Kalau begitu, Ayu pikir-pikir dulu deh!" "Nggak mau lepas banget dari Andres ya?" Mulai deh julidku muncul. "Eh apaan sih mas? kok disangkutin ke situ?" Bantah Ayu. Ia terlihat menjadi kesal dan mencoba turun dari pangkuanku. Aku memeluknya erat agar dia tak turun dari pangkuanku. Namun Ayu meronta dan memaksa turun. "Jangan gerak-gerak, Ay.. bahaya!" Ucapku mengingatkannya. Ayu terdiam. Sepertinya ia paham ke mana arah maksudku. "Mas Buan ngapain ngomong kayak tadi?" Tanya Ayu jutek. Aku bingung mau menjawab apa. "Hanya merasa.. insecure" Jawabku akhirnya. "Aku jadi bertanya-tanya, apakah sikap manja-mu ini juga kamu tunjukkan di kantor?" Jelasku dengan pelan. Wajah Ayu tampak melunak. Ia langsung menangkupkan wajahku dengan kedua tangannya. "Ayu bersikap seperti ini, cuma ke orang-orang yang Ayu sayang. Saat ini, selain keluarga Ayu, mas Buana adalah satu-satunya yang Ayu sayang." Penjelasannya membuatku lega. Kami saling menatap begitu lama, mencari dan memahami kesungguhan hati kami masing-masing. Aku dapat menemukan ketulusan di matanya. Hingga aku yang memulainya, menarik wajahnya mendekat dan mulai menempelkan bibirku padanya. Ayu menerimaku, ketika aku menciumnya dalam. Perasaanku menjadi lega karena kekhawatiranku untuknya lenyap ketika iapun membalas lumatanku. Mungkin, menyayangi dan mencintainya akan menjadi mudah kulakukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN