Di tempat lain, Andres dan Rea sedang duduk bersama di captain seat sebuah mobil mewah yang menuju salah satu villa di kawasan Puncak. Andres telah menyetujui keinginan Clara untuk menyewanya jangka panjang. Nominal yang ditawarkan wanita itu cukup fantastis membuat Andres langsung menyetujuinya tanpa pikir panjang. Andres membutuhkan dukungan Clara saat ini, apalagi setelah ia tahu kalau Buana telah aktif kembali di startup-nya.
"Kemana kamu setelah ini?" Tanya Andres pada Rea yang sedang bermain smartphone-nya.
"Having fun juga donk. Ada yang minta diservis" Jawab Rea. Kemudian ia mendekatkan kepalanya ke arah Andres.
"Service Clara yang oke, dia bisa jadi tambang emasmu." Bisik Rea pelan. Ia tak mau percakapan mereka ini terdengar oleh supir Clara yang menjemput mereka. Andres hanya menggumam. Itu memang bagian dari rencananya.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di depan sebuah villa mewah dan asri. Mereka disambut oleh beberapa pelayan yang mempersilakan nereka duduk santai di sofa. Mereka diinformasikan bahwa sebentar lagi Clara akan datang. Sambil menunggu Clara, mereka telah disuguhkan dengan welcome drink dan beberapa cemilan.
Tak menunggu terlalu lama. Clara datang dengan senyumnya yang lebar.
"Ah.. Rea, Andres.. akhirnya kalian berdua bisa juga datang ke villa-ku.
Santai-santai aja yah.. Nikmati pemandangannya. Segala kebutuhan kalian akan dilayani full oleh orang-orangku." Ucap Clara.
"Terimakasih undangannya Maam.. Benar-benar villa yang luar biasa. Maam memang sangat hebat" Puji Rea sambil tersenyum. Sementara Andres langsung berjalan mendekati Clara dan memeluknya.
"Miss you, Cla.." Bisik Andres dengan mesra.
Clara melepas pelukan dan agak menjauhkan kepalanya untuk menatap Andres.
"Benarkah?" Tanya Clara sambil mengangkat alis sebelahnya.
"Buktikan sendiri!" Tantang Andres yang kemudian segera melumat bibir Clara dengan ganas. Clara yang tak siap nampak sedikit kewalahan mengimbangi Andres, namun hal itu tak berlangsung lama, karena setelah itu hanya terdengan bunyi decapan dan hisapan dari mulut keduanya.
Rea tersenyum melihat pemandangan itu, ia sangat berharap misi Andres berhasil karena ia pasti akan mendapatkan komisi yang besar.
"Maam.. silakan kalian berdua bersenang-senang. Aku harus menemui client-ku dulu. Bye.." Rea pamit walaupun perkataannya tak dipedulikan oleh dua insan yang sedang bersilat lidah itu.
"Kamu mau makan dulu?" Tanya Clara setelah menghentikan perang lidah mereka.
"Aku mau makan kamu aja!" Kata Andres yang langsung menggendong Clara.
"Tunjukkan di mana kamarnya." Pinta Andres. Ia berjalan sesuai arahan Clara.
Tiba di kamar, Andres membaringkan Clara di tempat tidur, kemudian kembali menciumi sang wanita tanpa ampun.
"Mandi dulu, An.. biar lebih segar.." Clara meminta di tengah ciuman mereka.
"Mandi bersama?" Tanya Andres. Clara pun mengangguk senang.
Kamar mandi di kamar utama villa ini ternyata bukan kaleng-kaleng. Lantai dan dindingnya marmer mewah, bathup-nya dibuat dari batu onyx yang nilainya sekitar ratusan juta rupiah. Andres terpukau dengan kemewahannya.
"Kamu mau mandi dengan baju lengkap?" Tanya Clara sambil menyalakan lilin aroma therapy, dan menaburkan garam mandi pada bathup yang mulai diisi dengan air panas.
"Oh.. aku hampir lupa" Jawab Andres sambil memamerkan deretan giginya yang rapi.
"Aku akan membantumu" Kata Clara kemudian, sambil mendekat ke arah Andres dan mulai membuka kemeja Andres disertai dengan sentuhan dan elusan-elusan di d**a Andres.
Andres mengerang dan mulai memejamkan matanya, menghirup aroma menenangkan dari lilin yang telah dinyalakan. Tanpa ia sadari, bajunya telah dilucuti hingga ia sudah berdiri tanpa sehelai benang menutup tubuhnya.
"Masuklah ke bathup" Desah Clara.
Andres membuka matanya, dan menemukan Clara pun tanpa menggunakan apapun untuk menutupi tubuhnya.
Andres masuk ke dalam bathup, kemudian disusul oleh Clara yang langsung bersandar di d**a Andres. Tentu saja Andres tidak tinggal diam, ia tahu inilah saatnya untuk memuaskan Clara, agar Clara ada di pihaknya. Dengan lembut Andres mulai memijat pundak dan leher Clara dengan lembut.
"Pundak dan otot lehermu sangat kaku. Rileks.." Bujuk Andres. Clara tak menjawab, ia hanya memejamkan matanya, menikmati pijatan Andres.
"Kamu sangat mahir, Andres." Puji Clara karena pijatan Andres membuatnya nyaman.
Andres memijat pundak Clara beberapa saat, setelahnya jarinya beralih menuju ke bagian depan, dimana dua gumpalan kenyal berada. Clara masih memejamkan matanya ketika jemari Andres bergerak menyentuh puncak dadanya, kemudian meremasnya. Berkali-kali, Andres dengan sengaja melakukannya, hinga akhirnya pekikan keras tertahan keluar dari mulut Clara yang kemudian menjadi lemas.
"Kamu sangat sensitif, Cla.." Bisik Andres sensual di telinga Clara.
Clara masih terdiam, ketika Andres mulai lanjut menyabuni tubuh mereka.
"An.." Panggil Clara lirih.
"Ya sayang.. " Rayu Andres sambil mengecupi telinga kiri Clara.
"Apakah Rea memberitahumu tentang apa yang aku inginkan kali ini?" Tanya Clara.
Andres mengangkat bahunya. Ia mungkin melewatkan sesuatu.
"Aku ingin kamu menjadi submisif" Ungkap Clara tanpa ragu.
Andres sedikit bergidik. Selama ini ia selalu yang menjadi dominan. Sedikitpun tak pernah terbayangkan olehnya ia akan tunduk di bawah seorang feminim.
"Rea sialan! kenapa ia tak pernah mengatakan ini padaku!" umpat Andres dalam hatinya.
Sungguh ia sangat ragu untuk menjadi submisif.
"Sampai batasan apa, sayang?" Tanya Andres mencoba menepis kehawatirannya.
"Ooh.. tenanglah. Aku bukan penganut sadisme ataupun masokis." Ucapan Clara sedikit menenangkan Andres.
"Aku tidak akan melukaimu secara fisik, An.. kamu tahu? aku sangat memuja tubuhmu. Aku hanya ingin menjadi dominan.. dan sedikit bondage.." Jelas Clara.
Andres bergetar. Haruskah ia melalui ini?
"Entahlah, sayang.. aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya." Jawab Andres dengan ragu.
"Kamu dapat menggunakan 'kata aman', An.. Dan seperti yang kujanjikan, aku tak akan melukaimu." Kata Clara sambil membalikkan wajahnya agar dapat menatap wajah Andres.
Akhirnya Andres mengangguk ragu, ia tak punya pilihan lain selain menerima penawaran Clara.
Clara tersenyum senang. Ia buru-buru meminta Andres untuk melanjutkan mandi. Demikianlah dominan Clara dimulai.
Setelah selesai bersabun dan membilas, mereka berdua masih bersama berendam di dalam bathup. Namun Clara sudah tidak duduk bersandar di Andres lagi, melainkan mereka saat ini bersandar berhadapan. Clara-pun memulai aksi-nya dengan cara yang membuat harga diri Andres seakan tertampar dan tidak berarti. Clara menggunakan kedua kakinya untuk menjamah milik Andres berulang kali. Andres merasa sangat tidak dihormati. Mungkin bagi sebagian kecil orang, itu adalah hal lumrah dalam bercinta, tapi tidak untuk Andres, baginya, miliknya itu seharusnya dijamah dengan tangan, atau mulut. Bukan dengan kaki.
"Aku harus menahan ini untuk melampaui-mu, Buana. Aku pastikan kamu akan membayar sangat mahal untuk kejadian ini" Yeah.. itu hanya bisa diucapkan Andres di dalam hatinya saja.
Dengan terpaksa, Andres berpura-pura menikmati perlakukan Clara. Banyak permintaan Clara yang ia lakukan dengan terpaksa, tapi sungguh membuat Clara merasa puas. Benar bahwa Clara tidak melukainya secara fisik, tapi secara psikis, sangat melukai hatinya.
Selesai dari 'siksaan' di bathup, Clara meminta mereka kembali ke kamar. Clara mulai mengambil borgol dan menguncinya di tangan Andres yang dikaitkan dengan besi di kepala tempat tidurnya.
"Ini tidak akan menyakiti-mu, An.. selama kamu tidak memberontak!" Bisik Clara sambil menjilat-jilat leher Andres yang hanya bisa pasrah.
Malam itu, Andres terpaksa memilih untuk menikmati permainan Clara. Ia menyerah dengan harga dirinya. Menjadi b***k Clara di ranjang. Melakukan hal-hal yang tak pernah dibayangkannya. Semuanya hanya untuk mengalahkan Buana.