#Almeira Lantai empat benar-benar terasa mencekam siang ini. Kalau biasanya hanya sekadar sepi, sekarang menjadi sepi mengerikan. Pandanganku nggak terlepas sedikitpun dari pintu ruang ketua yayasan. Entah apa yang dibicarakan di dalam sana sampai waktu setengah sepertinya kurang. “Kira-kira di dalam sana mereka lagi ngobrolin apa, ya, Ka?” tanyaku pada Daka yang masih setia menungguku di sini. “Semoga ngomongin hal yang baik-baik,” jawabnya bijak. “Di dalam sana apa cuma ada Bokap gue doang, ya? Aih…penasaran banget gue. Rasanya kayak hampir mati ini, Daka.” Aku terus menggerutu. Daka hanya menjadi pendengar yang baik. Sesekali dia nyoba ngelawak kayak biasanya. Tapi lawakannya itu hanya masuk kanan keluar kiri di telingaku saat ini. Garing banget. Akhirnya yang ditunggu-tunggu

