Feelings 44

1938 Kata

#Danendra  Selesai makan malam Nyokap meminta gue ke ruang tengah. Meski gue tahu pasti mau ngobrolin soal hasil nilai raport gue yang meresahkan, tapi justru bukan hal itu yang bikin gue cemas. Handphone-nya Aira nggak aktif sejak tadi siang. Padahal dia janji kalau sudah selesai ngobrol sama ayahnya soal keputusan sekolah atas beasiswanya, akan segera menghubungi gue. Sekarang sudah sore Aira belum juga menghubungi gue. Bahkan handphone-nya masih belum juga bisa dihubungi.  Kesabaran gue mulai habis. Tanpa pikir panjang gue akhirnya memutuskan untuk menemui Aira di rumahnya. Minimal saat berhadapan dengan Nyokap pikiran gue udah tenang, nggak kepikiran Aira lagi. Hanya mengenakan kaus oblong dan celana selutut gue bergegas keluar dari kamar.  “Mas Daka mau ke mana?” tanya Bibik sambil

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN