Bab 17

1307 Kata
Natasya memperhatikan semua luka itu dengan seksama. Tangannya gemetar saat menyentuh beberapa bekas luka yang masih tersisa. Apa yang terjadi sama hidupnya? Apa Kaisar tahu tentang ini? Aura hanya diam di tempatnya, setelah beberapa menit berlalu Natasya meminta Aura untuk menutup kembali bajunya. Setelah itu Natasya keluar dari ruangan Kaisar lalu menatap tajam ke arah Meisya yang sedang di pegang anak buah Kaisar. Plak ... Plak.... Dua tamparan keras mendarat di pipi Meisya, sampai Meisya terjatuh lagi di lantai. Meisya tak bisa menghindar, pipinya terasa panas karena tamparan Natasya kepadanya. "Tante, kenapa Tante tampar aku?" Natasya geram pada Meisya dan keluarganya. Bisa bisanya mereka menyiksa Aura sampai seperti itu. Natasya beralih pada Kaisar yang membuat Kaisar bersikap waspada. "Kaisar, batalkan pertunangan mu dengan wanita itu. Mami nggak mau punya menantu kayak dia!" Kaisar mengangguk kaku, lalu melirik ke arah Aura yang mengangkat kedua bahunya tak mengerti. Meisya menggeleng semakin keras mendengar itu. Meisya merangkak ke arah Natasya, tapi Natasya menjauh. Natasya meraih tangan Aura dan membawanya pergi dari sana. Tapi sebelum benar benar meninggalkan ruangan Kaisar, Natasya berhenti di ambang pintu. "Mami nggak mau lihat dia dan keluarganya ada di sekitar kita. Untuk masalah nenek, mami yang akan urus sama papi kamu." Tanpa menunggu jawaban dari Kaisat, Natasya pergi dari sana dengan membawa Aura bersamanya. Kaisar hanya melongo melihat Aura pergi begitu saja dengan maminya. Reynald menahan tawa melihat wajah keruh Kaisar. "Kaisar, tolong...aku nggak mau pisah sama kamu. Pernikahan kita udah di rencanakan. Kamu nggak bisa perlakukan aku kayak gini." Meisya berusaha memohon pada Kaisar tapi Kaisar tak menggubrisnya. "Dari awal aku sama kamu juga cuma karena nenek. Selebihnya aku nggak akan ngikutin apa mau nenek. Kalau di pikir pikir selama ini sudah banyak juga yang aku kasih sama kamu dan juga orang tuamu. Jadi aku rasa balas budi itu udah cukup. Reynald akan kirim beberapa barang sebagai kompensasi pembatalan ini. Jangan ganggu hidup ku lagi setelah ini!" Kaisar memberi kode pada Reynald dan anak buahnya untuk membawa Meisya pergi dari sana. Meisya berteriak keras dan terus berusaha melepaskan diri dari anak buah Kaisar. Dia di seret keluar dari perusahaan, menjadi bahan tontonan semua orang. "Kaisar, kamu nggak bisa kayak gini sama aku. Kamu akan menyesal nanti karena di tipu oleh wanita itu!!" Meisya yang terus berteriak sampai dia di lempar keluar dari perusahaan Kaisar. Semua akses masuk di tutup dan di blokir untuk Meisya. Dia berusaha masuk kembali untuk mencari Kaisar, tapi banyak pengawal berjaga ketat di sepanjang perusahaan milik Kaisar. "Kaisar, aku nggak mau pertunangan kita batal. Kamu cuma punya aku Kaisar!!" Beberapa karyawan Kaisar yang melihat itu tentu saja menatap aneh dan jijik pada Meisya. Pasalnya selama ini Kaisar tak pernah mempublish tentang hubungan mereka. Dan berakhir lah Meisya yang di anggap aneh karena mengaku sebagai tunangan Kaisar. "Kayaknya dia mulai gila!" "Bener, nggak sekali dua kali kan ada cewek ngaku ngaku jadi tunangan tuan muda Kaisar." Para karyawan berbisik mengejek Meisya. Mereka sudah terbiasa melihat para wanita yang tergila gila dengan Kaisar sampai berbuat nekat seperti itu. Yang lebih membuat penasaran adalah wanita yang tadi di bawa pergi oleh Natasya. "Yang bersama nyonya Natasya tadi pasti kekasih tuan muda yang asli." "Iya, soalnya nggak biasanya nyonya besar mau deket deket sama orang baru. Iya kan?" Semua karyawan menggosipkan Aura yang tadi di bawa pergi oleh Natasya. Meisya yang sudah kehabisan tenaga akhirnya menyerah. Dia akhirnya pergi dari sana dengan perasaan marah juga terhina. "Kaisar, aku nggak akan lepasin kamu. Dan juga Aura, aku jelas lihat kalau tadi itu kamu. Berani sekali kamu bermain trik murah seperti ini!!!" Meisya menelfon seseorang untuk di ajaknya bertemu. Hari ini dia butuh pelampiasan pikirannya yang tengah kacau. # Sementara itu, Aura yang di bawa pergi oleh Natasya bingung. Dia melihat sekeliling yang dia lewati. Sejak tadi perjalanan mereka melewati beberapa taman dan jalanan panjang sampai akhirnya tiba di sebuah bangunan mewah tapi terlihat klasik dan juga menarik bagi Aura. "Ayo turun." ajak Natasya. Aura keluar dari dalam mobil dengan ragu. Melihat ke arah sekitarnya yang terasa indah untuk Aura. Banyak bunga dan tanaman yang menyejukkan. Taman yang di tata sedemikian rupa oleh tukang kebun yang di pekerjakan. "Kamu suka semua bunga itu?" tanya Natasya. Aura mengangguk, lalu tersenyum tipis pada Natasya. "Kalau kamu suka, kamu tinggal bilang pada Kaisar. Dia pasti akan membuatkan nya untukmu." celetuk Natasya. "Hah, maksudnya gimana Tante?" Aura menatap Natasya bingung, tapi kemudian Natasya mengalihkan pikiran Aura dengan menariknya masuk ke dalam kediaman Natasya. Aura pasrah, sejak tadi Natasya menarik tangannya dan tak mau melepaskan. "Duduk disini, Tante panggil papinya Kaisar dulu." Tanpa menunggu jawaban Aura, Natasya sudah lebih dahulu pergi dari sana. Berlari ke lantai atas seperti orang tak sabaran. Aura duduk diam di ruang tamu, melihat sekeliling ruangan itu. Lalu matanya tertuju pada sebuah foto besar yang tergantung di dinding. Terlihat disana Kaisar yang masih muda berdiri di tengah orang tuanya. Tanpa disadari Aura tersenyum melihat itu. Berbeda dengan Kaisar saat ini, yang selalu menampilkan wajah datar dan dinginnya. Saat Aura akan beranjak melihat beberapa foto yang lain, tubuhnya di tarik kuat. Matanya membola ketika sebuah benda kenyal menempel pada bibirnya. Kaisar menciumnya dalam, memaksanya untuk membalas ciuman yang tiba tiba itu. Aura yang awalnya ingin mendorong tubuh Kaisar, akhirnya menyerah dengan ciuman itu. Mereka lupa diri saat ini, begitu pula dengan Aura yang selalu terbuai dengan ciuman dan sentuhan Kaisar. Natasya juga Arka yang baru saja turun dari lantai atas melotot saat melihat Kaisar yang sudah menghimpit tubuh Aura di dinding. Buk..... Sebuah bantal melayang mengenai kepala Kaisar. "Aw ... ssh ..." Kaisar melepas ciumannya pada Aura, ingin marah karena ada yang berani melempar bantal ke kepalanya. Tapi saat dia menoleh ke arah asal bantal itu, matanya membelalak. Di depannya sudah ada Arka juga Natasya yang melihat nya dengan penuh tanda tanya. Aura yang ingat posisi dia dimana, menutup matanya lalu masuk ke dalam pelukan Kaisar. "Mami, Papi, bisa nggak wajahnya biasa aja. Dia takut lihat kalian. Kalau kalian galak galak, aku bawa kabur aja menantunya!" Aura yang mendengar celetukan Kaisar semakin kalang kabut. Dia mencubit pinggang Kaisar kuat. "Bawa kabur aja, nanti mami potong itu burung perkutut kamu!" Natasya menatap Kaisar kesal, bisa bisanya Kaisar langsung pulang dan menyerang Aura seperti itu. Arka memberi kode pada Kaisar untuk mengajak Aura duduk kembali. Aura awalnya tak mau karena dia malu terpergok seperti itu oleh kedua orang tua Kaisar. Apa kata mereka nanti jika melihatnya bersama Kaisar setelah kejadian di kantor tadi pagi. "Baby, Mami sama Papi nggak bakal gigit kamu. Tenang aja." Aura duduk dengan kepala menunduk. Dia mengigit bibir dalamnya karena merasa tak nyaman dan bersalah. "Mam....." tegur Kaisar. Natasya terkikik geli, dia benar benar baru tahu jika Aura bisa memasang wajah takutnya seperti itu. Natasya mendekati Aura, memeluk pundak gadis itu. Aura yang sejak tadi menunduk langsung mengangkat wajahnya melihat Natasya dengan pandangan bingung. "Kamu nggak usah takut, anak nakal mami itu terkadang emang nyebelin." Aura masih tak mengerti, lalu dia melihat Arka juga sudah berubah wajahnya menjadi tenang dan lembut. "Maksud Tante?" "Dari awal kami bertemu kamu di rumah Robinson, kami tahu jika anak bandel itu tertarik pada kamu bukan pada Meisya. Tapi yang bikin kami syok ternyata hubungan kalian sudah sejauh ini. Dan itu nggak masalah, kami lebih senang jika kamu yang bersama dengan Kaisar bukan Meisya." Aura menoleh ke arah Kaisar, lalu melihat Kaisar yang mengangguk sebagai tanggapan perkataan Natasya. "Tante nggak marah sama aku?" Natasya menggeleng, dia mengusap kepala Aura lembut. "Untuk apa Tante harus marah, Kaisar sudah dewasa. Dia berhak menentukan keputusan hidupnya sendiri." Aura menatap dalam mata Natasya, hanya ketenangan, kasih sayang yang muncul di sorot mata Natasya. Tak ada kemarahan disana begitu juga dengan Arka. "Hanya saja, kalian belum bisa terus terang di depan umum untuk hubungan kalian." Aura terdiam, dia masih takut dengan situasi yang terjadi saat ini. Terlebih mereka ketahuan dengan cara yang tak biasa. to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN