Bab 18

1319 Kata
Natasya melihat Aura seperti orang bingung apalagi saat ini dia terjebak di rumah orang tua Kaisar dengan cara yang tak biasa. "Aura, kamu nggak usah takut. Kami nggak bakal nuduh kamu godain Kaisar. Dari awal kami bertemu, kami sudah bisa menebak endingnya seperti ini. Hanya saja, kami hanya sedikit syok dengan kelakuan Kaisar yang tiba tiba cium kamu sampai kayak gitu. Asal kamu tahu, dia bahkan alergi bersentuhan dengan wanita lain." Kaisar diam saat maminya mengatakan semua rahasianya pada Aura. Arka sendiri tak habis pikir dengan apa yang di lakukan Kaisar barusan. Padahal Aura hanya di bawa sebentar oleh Natasya pulang ke rumah tapi Kaisar sudah seperti orang kesetanan saat bertemu dengan nya. "Jadi kamu udah batalin semuanya Kai?" Kaisar mengangguk, wajah Kaisar berubah menjadi serius ketika Arka mengajaknya bicara. Sedangkan Aura mendengarkan apa yang ingin mereka bahas. Kaisar lalu melirik Aura yang ada di sebelahnya. "Aku nggak bisa nikah sama Meisya, sejak dari awal nenek kenalin aku dan paksa aku nikah sama dia. Kalau bukan karena nuruti omongannya mungkin aku nggak akan terlihat sama cewek gila modelan dia." Arka berdehem, dari awal pun Arka tahu watak Kaisar seperti apa. Keras dan tak bisa di bantah. Tapi dia melakukan hal yang benar bukan yang bertentangan dengan keinginan Arka juga Natasya. Aura melirik ke arah Arka yang terlihat tenang dan tak terganggu dengan keberadaan nya disana. "Jadi nenekmu sudah setuju?" Kaisar mengedikkan bahunya acuh, dia tak perduli dengan pendapat Melati. Selama ini Melati terlalu ikut campur urusannya. Harusnya dari awal dia tak pernah mengiyakan apa yang di inginkan Melati jika sekarang dia harus terjebak dengan wanita itu. Kaisar menarik bahu Aura agar masuk ke dalam pelukannya. Aura yang kaget reflek memukul Kaisar. Plak..... "Ngapain sih?" omel Aura. "Mami papi, kalaupun aku mau nikah, aku cuma mau sama Aura. Selain itu nggak mau, dan untuk saat ini biarin aku dan Aura yang selesaikan semuanya." Arka menyipitkan matanya curiga ke arah Kaisar. "Jangan bilang kalau kejadian kemarin di restoran juga di kantor hari ini memang ulah kalian?" tebak Arka. Kaisar menggaruk pelipisnya, sementara Aura sudah menundukkan kepalanya. Sedangkan Natasya melongo, dia kira kejadian yang dia lihat di kantor Kaisar memang karena ulah Meisya. "Jadi jelaskan sama kami, apa yang sebenarnya kalian rencanakan?" Aura dan Kaisar saling lirik, mereka bingung harus mulai dari mana. Tapi karena sudah seperti ini mereka tetap akan jujur pada Arka dan Natasya. Aura bingung, tapi Kaisar menenangkannya. Dia menggenggam tangan Aura agar Aura tak mengkhawatirkan apapun tentang kedua orang tuanya. Kaisar lalu mulai menjelaskan semuanya pada Akra dan Natasya. Bagaimana awalnya mereka bisa bersama. Lalu merencanakan semuanya sampai hari ini. Natasya menahan napasnya, apalagi saat tahu jika Aura sempat terluka. "Amara tak cerita apapun sama papi." Arka akhirnya mengerti kenapa Amara beberapa waktu lalu sibuk menyiapkan beberapa obat obatan. Arka kira itu obat milik Kaisar tapi ternyata bukan. " Jadi luka yang Tante lihat?" Natasya tak bisa melanjutkan perkataannya, dia lalu memeluk Aura. Entah apa yang sudah di lewati Aura selama ini. Arka juga mengerti kenapa Kaisar dari awal tertarik dengan Aura. Wanita itu tak sesederhana kelihatannya. Bertarung, balapan, bukannya kehidupan itu sama dengan hidup Kaisar? Hanya saja, sampai ingin di habisi? Arka masih tak bisa mengerti, bagaimana Aura bisa bertahan selama ini. "Jadi apa yang ingin kamu lakukan setelah ini? Meisya pasti tak akan tinggal diam. Juga nenekmu, dia nggak akan semudah itu melepaskan hubungan mu dengan Meisya." "Biarkan saja seperti ini om, apalagi dia melihat kalau aku di bawa oleh Tante Natasya. Dia pasti akan berusaha mencari cara agar tak terlihat lebih buruk di mata Tante Natasya." Arka merasa jika apa yang di katakan Aura masih banyak rahasia yang di sembunyikannya. Bukan berarti Kaisar juga tak bisa di percaya, tapi Arka melihat ada sebuah dendam besar di mata Aura. Apa yang terjadi dengan anak ini sebenarnya? Sepertinya dia benar benar ingin menghancurkan keluarga Robinson. batin Arka. Di balik senyum Aura tersimpan rasa sakit yang lebih besar dari pada itu. "Baiklah lebih baik kamu bawa Aura naik ke kamarmu, istirahat dulu. Mami siapkan makanan untuk kita." Saat Natasya ingin beranjak dari duduknya, pelayan masuk ke ruangan tengah dengan tergesa gesa. "Nyonya maaf, di depan ada nyonya besar. " Mata Natasya melotot, Kaisar dengan cepat menarik tangan Aura dan di bawa nya pergi naik ke lantai atas. Arka mengkode istrinya agar tetap tenang. "Bersikaplah biasa saja, dan bilang pada pelayan yang lain jangan menjawab apapun soal tuan muda." Pelayan itu mengerti, dia lalu kembali keluar dan membawa Melati masuk ke dalam. Melati sudah memasang wajah masamnya. Dia melihat ke sekeliling untuk mencari seseorang. "Tumben mama datang jam segini?" tanya Arka tanpa basa basi. "Dimana wanita itu?" Arka melirik ke arah Natasya untuk menahan diri. Tak ada jawaban dari Arka juga Natasya. Dan itu membuat Melati geram. "Kalian tak ada yang mau menjawab?" "Wanita siapa yang mama maksud?" Natasya kembali duduk di sebelah Arka memeluk suaminya di depan Melati. Natasya menatap berani ke arah Melati, karena selama ini Melati juga tak pernah bisa menerima Natasya sebagai menantunya. "Natasya, jangan membuatku semakin marah. Kamu membawa adiknya Meisya pergi dan membuat Meisya di usir dari kantor Kaisar. Apa sebenarnya yang kamu inginkan?" Natasya mengangguk, dia lalu tersenyum lebar. "Jadi wanita itu mengadu pada mama? Tapi dia juga tak bercerita jika dia menghancurkan perusahaan Kaisar dan membuat Kaisar merugi kembali?" Melati menggenggam tongkat miliknya dengan erat. Wajahnya sudah merah padam karena Natasya berani mengembalikan semua perkataannya. "Natasya, jangan mengatakan hal yang tak perlu di katakan. Kaisar punya banyak uang hanya untuk beli barang barang yang baru. Kenapa kamu mempermasalahkan nya?" Natasya tersenyum kembali, tapi detik berikutnya tatapannya sudah berubah dingin. "Mama mau bela Meisya yang sudah merugikan Kaisar begitu banyak? Dan hari ini kalau aku nggak datang, dia akan mengacaukan perusahaan Kaisar kembali. Belum lagi dia berteriak di kantor itu seperti orang gila. Apa kata orang kalau tahu Kaisar punya calon istri yang buruk seperti itu? Dan untuk Aura, aku sudah mengantarkan nya kembali ke tempat tinggalnya. Dia tak ada disini, jadi buat apa Mama nyari kesini?" Melati tak bisa langsung membalas semua perkataan Natasya, dia lalu beralih pada Arka dengan wajah marah. "Mama nggak perlu seperti ini, Meisya belum sah jadi menantuku. Dan apa yang di katakan Natasya benar, Kaisar rugi sekian milyar juga bukan jumlah yang sedikit. Bagi kamu pebisnis uang segitu banyak bisa untuk proyek besar. Jadi sebelum Meisya berbuat ulah, suruh dia berpikir untuk mengganti kerugian itu." Mata Melati melotot mendengar jawaban dari Arka Arka membela istrinya sedemikian rupa sampai harus bertengkar dengannya. Dari situ, Melati semakin tak menyukai Natasya. Semakin kesini Arka semakin terlihat di kendalikan oleh Natasya. "Baik, jika kalian membela Aura. Aku akan mengurus gadis itu, jika dia terbukti menggoda Kaisar, aku nggak akan tinggal diam!" Setelah mengatakan itu, Melati pergi dari sana. Beruntung Kaisar sudah menyembunyikan mobilnya sejak dia tiba di kediaman maminya. Aura melihat kepergian Melati dari kamar Kaisar. Matanya tajam menatap Melati yang terus memaksa Kaisar menikah dengan Meisya. Kaisar sedang berada di kamar mandi untuk membersihkan badannya. Aura mengambil ponselnya, dia menghubungi seseorang. "Carikan aku info seseorang!" Kaisar yang keluar akan keluar dari kamar mandi mengurungkan niatnya saat mendengar Aura sedang menghubungi seseorang. "Siapa yang dia hubungi?" gumam Kaisar. Terdengar telfon itu selesai, Kaisar berpura pura tak mendengar apa yang di bicarakan Aura. Dia tak ingin membuat Aura menjaga jarak kembali dengan nya. Greb.... Kaisar memeluk Aura dari belakang, dia bahkan belum mengenakan pakaiannya. "Kenapa?" Aura sempat terkejut tapi kemudian ekspresi nya berubah kembali seperti biasa. "Sepertinya nenekmu akan lebih susah untuk di tangani." Kaisar tak menyangka jawaban Aura akan terus terang seperti itu. Dia bahkan melihat wajah Aura masih serius padahal Melati sudah pergi dari sana beberapa menit yang lalu. Kaisar memutar tubuh Aura agar dia bisa melihat wajah wanitanya itu. "Aku yang akan urus nenek, kamu fokus aja sama apa yang ingin kamu lakukan." Aura menggeleng sebagai jawaban, dia sudah berjalan sejauh ini. Dia tak akan setengah setengah lagi. "Dia tetap akan jadi urusan ku Kaisar!" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN