Bab 19

1318 Kata
Kaisar melihat mata Aura yang menyimpan dendam yang sangat besar. Tapi dia juga tak bisa tinggal diam melihat Aura dalam bahaya. Kaisar membawa Aura duduk di ranjang miliknya. Sedangkan dia duduk berjongkok di depan Aura. "Baby, aku nggak tahu sebenernya apa yang terjadi dengan mu di masa lalu sampai kamu mempunyai dendam begitu dalam dengan mereka. Dan aku nggak akan maksa kamu buat cerita sama aku. Tapi aku tetap bakal ikut campur apalagi aku pernah lihat kamu terluka seperti itu. Di tambah papi sama mami juga sudah mengetahui apa yang terjadi dengan mu. Mendengar semua perkataan mu tadi, aku tahu masih ada hal lain yang kamu sembunyikan dariku. Dan itu berhubungan dengan dendam yang kamu miliki saat ini." Mata Aura melihat Kaisar dengan seksama. Aura tak bisa percaya penuh pada siapapun, sekalipun itu juga pada Jasmine. Selama ini dia bertahan hidup hanya karena mengandalkan dirinya sendiri. Hatinya berkedut nyeri melihat tatapan Kaisar kepadanya. "Kamu kasihan sama aku?" Kaisar terdiam, entah perasaan apa yang dia rasakan saat ini. Melihat keterdiaman Kaisar, Aura memilih untuk bangkit berdiri. Kaisar yang melihat itu juga langsung berdiri. Aura ingin pergi dari sana. Dia paling benci jika ada orang yang mengasihaninya. Dia bisa bertahan sejauh ini tanpa rasa kasihan dari siapapun. Melihat Aura ingin pergi dari kamarnya, Kaisar panik. Dia menahan tangan Aura. "Mau kemana?" Aura menepis tangan Kaisar, tanpa berbalik dia mengatakan apa yang dia rasakan saat ini. "Aku benci di kasihani. Jika kamu membantuku sampai sejauh ini hanya karena kasihan kepadaku, lebih baik jangan di teruskan!" Mata Kaisar membeliak, sebelum dia bisa mencegah Aura pergi, Aura sudah lebih dulu berjalan cepat keluar dari kamar Kaisar. Dia meninggalkan rumah Kaisar dengan perasaan tak karuan. Kaisar yang tersadar saat mendengar suara mobil menjauh dari rumahnya, keluar dari kamarnya dengan tergesa gesa. Natasya yang melihat Kaisar berlari keluar segera berteriak memanggil nama putranya itu. "Kaisar, mau kemana kamu??" Arka yang juga mendengar suara mobil meninggalkan rumah itu segera keluar dari ruang kerjanya. "Mi, ada apa?" Natasya menggeleng, dia menatap cemas ke arah luar. Dimana Kaisar tergesa gesa pergi dari rumah mereka. "Apa terjadi sesuatu?" Natasya lagi lagi menggeleng, tapi detik berikutnya dia melihat Kaisar berjalan gontai masuk ke dalam rumah sendirian. "Kaisar ada apa? Dimana Aura?" Kaisar duduk lesu di depan orang tuanya. Dia memijat kepalanya pelan karena Aura salah mengartikan kediamannya. "Aura pergi mi, dia berpikir kalau aku kasihan sama dia. Awalnya aku kasihan lihat semua luka dan semua informasi yang aku dapatkan. Tapi saat aku lihat dia bisa berdiri dengan kakinya dan bisa melawan mereka dengan caranya, semua rasa kasihan itu jadi rasa kagum. Aku cuma nggak mau dia sampai terluka lagi." Kaisar juga menceritakan semuanya dari awal bagaimana Aura bisa salah paham dengan nya. Arka mengangguk mengerti, begitu juga dengan Natasya. Terlebih tadi ada Melati datang ke rumah itu, pasti Aura akan berpikir yang lainnya. Arka menepuk pundak Kaisar pelan. "Makan dulu, nanti mami bawakan kamu makanan buat di kasih Aura. Nggak mungkin dia pergi jauh." Kaisar melihat papinya yang begitu yakin jika Aura tak akan pergi jauh pun mengerutkan keningnya. Arka ingin sekali menjitak putranya yang seketika seperti orang bodoh. "Apa kamu nggak bisa berpikir dengan jernih? Buat apa kamu belajar IT Kaisar, kalau menemukan wanita mu saja harus papi yang turun tangan?" Detik berikutnya Kaisar bangkit dari duduknya dan berlari kembali ke kamarnya. Arka yang melihat itu hanya menggeleng pelan, begitu juga dengan Natasya. "Papi banget kalau udah jatuh cinta, otaknya kadang pindah kemana mana." celetuk Natasya. Belum sempat Arka menyahut, Natasya sudah nyelonong pergi kembali ke dapur. "Astaga, bisa bisanya disamakan. Tapi emang iya, Kaisar kelihatan kecintaan banget. Padahal baru bertemu," gumam Arka. Arka menatap lantai dua dengan pikiran yang kemana mana. Lalu menghela napas panjang. Jalan yang di lalui Kaisar dan Aura pasti tak akan mulus. Terlebih Kaisar harus berhadapan langsung dengan Melati neneknya. "Kaisar, selalu bijak lah dalam melihat semua hal. Tapi apapun itu, papi selalu ada bersama mu!" # Kaisar membuka laptop miliknya, melacak keberadaan Aura yang baru saja kabur dari rumahnya. Dengan cepat dia menelusuri semua CCTV juga mobilnya yang di bawa oleh Aura. Hampir beberapa saat berlalu, Kaisar akhirnya menemukan keberadaan mobilnya beserta Aura. Matanya membola karena melihat Aura ada di arena balap membawa mobilnya. "Sial, aku pikir dia pulang ke apartemen. Tapi dia ke arena balap." Kaisar mengambil ponselnya menghubungi Reynald. Dia meminta Reynald untuk menyusul Aura ke arena terlebih dahulu. Terpaksa Kaisar mengeluarkan mobilnya yang lain. Mobil yang sudah lama tak di pakainya. Sebelum benar benar pergi, Kaisar menghampiri Natasya yang sudah menyiapkan makanan untuknya juga Aura. "Bawa pulang, bicarakan semua baik baik!" Kaisar mengangguk, dia memeluk sang mami juga berpamitan dengan papinya. "Kamu yakin bawa mobil itu?" "Terpaksa Pi, mobil Kaisar di bawa Aura ke arena balap. Jika ada yang berpikir itu Kaisar, mungkin musuh Kaisar yang lain akan membuat masalah dengan Aura." Arka mengerti, dia mengijinkan Kaisar pergi. Tapi dengan syarat anak buah Arka juga mengikutinya dari jauh. "Bawa mereka, jangan sampai Aura terluka lagi. Papi udah buat janji dengan dokter untuk menyembuhkan luka itu." Mata Kaisar berbinar, dia memeluk Arka erat. "Mi, Pi terima kasih banyak." Setelah mengatakan itu, Kaisar pergi dengan cepat. Mobil balap khusus miliknya. Kaisar menghubungi Reynald agar terus memantau apa yang di lakukan oleh Aura disana. # Tepat seperti dugaan Kaisar, saat Reynald tiba disana, balapan sudah di mulai. Semua orang mengira jika yang membawa mobil itu adalah Kaisar. Tapi mereka sadar jika teknik mengemudinya bukan Kaisar. Tak lama setelah itu, Kaisar yang membawa mobil sendiri memasuki arena balap membuat semua orang semakin bingung. "Tunggu, itu mobil legend milik Kaisar. Kalau itu Kaisar, siapa yang bawa mobil Kaisar yang tadi?" Kaisar berusaha mengejar Aura karena mobil di belakang Aura sedang mengincar Aura. Banyak orang menahan napasnya karena melihat mobil legend Kaisar berusaha menerobos masuk mengejar Aura. Reynald was was takut jika terjadi sesuatu pada mereka berdua. "Astaga, mereka berdua ngapain sih!" Reynald mengambil laptop miliknya, menyambungkan dengan semua CCTV yang ada di sepanjang jalanan. Terlihat mobil yang di kendarai Aura berkali kali ingin di tabrak dari belakang tapi Aura berhasil menghindar. Kaisar yang melihat itu meradang, dia menambah kecepatan untuk membalas mereka yang berusaha membuat Aura celaka. Brak.. Mobil yang sempat ingin menyerempet Aura menabrak pembatas jalan karena di senggol mobil Kaisar. Kaisar menyeringai melihat itu. Sedangkan pengendara mobil itu keluar dari dalam mobil dalam keadaan terluka meskipun tak parah. Aura sempat melirik ke spion. Dia melihat mobil milik Kaisar mengejarnya dengan kecepatan penuh. "Kaisar....." gumam Aura. Entah kenapa dengan mengikuti balapan seperti ini, hatinya yang sempat tak nyaman tadi berhasil di kendalikan dengan baik. Tapi tak menyangka jika ada banyak orang yang ingin mencelakai Kaisar. Aura menambah kecepatannya agar Kaisar tak bisa mengejarnya. Tapi Aura kali ini salah, mobil yang di kendarai Kaisar melewatinya begitu saja. Mata Aura membola, dia menyipitkan matanya memperhatikan mobil Kaisar. "Mobil itu?" Aura merasa familiar dengan mobil itu tapi dia belum bisa mengingatnya. Aura menambah kecepatannya untuk menyusul Kaisar tapi ternyata tak bisa secepat mobil yang di kendarai Kaisar. Akhirnya Kaisar lah yang menjadi pemenangnya. Dan Aura berada di posisi kedua. Kaisar membuka mobilnya lalu keluar dari sana. Banyak orang yang ingin mendekatinya tapi Kaisar berjalan cepat ke arah mobil Aura. Dia membuka mobil Aura menarik Aura dari dalam mobil. Semua orang membelalakkan matanya saat melihat Aura yang keluar dari dalam mobil. Belum hilang rasa terkejut mereka, apa yang di lakukan Kaisar membuat semua orang menahan napas. Kaisar menarik tengkuk Aura lalu menciumnya di depan banyak orang. "Gila Kaisar!" gumam Reynald sambil menggeleng. Tapi tak ada satupun orang yang mengambil gambar Kaisar dan Aura sesuai aturan di arena. Jadi keberadaan Kaisar dan Aura aman. Meskipun begitu, mereka semua tahu, Kaisar tak pernah serius dengan Meisya dari awal. Dan saat ini Kaisar bisa mencium Aura berarti memang Aura yang sudah menguasai Kaisar. Aura memukul d**a Kaisar pelan, lalu Kaisar melepaskan ciuman mereka. Napas mereka memburu. Kaisar menyatukan kening mereka berdua di depan semua orang. "Baby, maafkan aku." to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN