Aura benar benar tak menyangka jika Kaisar bisa menyusulnya disana. Tapi melihat saat ini Kaisar terang terangan berhubungan dengan nya dia yakin jika Kaisar tak main main.
Kaisar menjauhkan keningnya lalu menatap semua orang yang ada disana.
"Kalian tahu bukan siapa dia? Aku memperkenalkan nya secara resmi kalau dia adalah calon istriku. Ingat baik baik, hanya dia yang akan jadi pendamping ku!"
Reynald menghela napas, dia sudah tak bisa menahan Kaisar lebih lama lagi karena masalah ini. Orang orang Arka sudah menangkap mereka yang berusaha mencelakai Aura.
Mereka di seret pergi untuk di beri hukuman.
"Reynald, bagikan beberapa gift untuk mereka semua yang ada disini. Tandai semua yang datang, jika ada yang buka suara langsung habisi. Pastikan semua data mereka sudah ada di tangan mu."
Setelah memberi perintah pada Reynald, Kaisar membawa Aura pergi dari area itu. Melemparkan kunci mobil pada Reynald untuk membawa mobil yang di kendarai oleh Aura.
Di dalam mobil Kaisar, tak ada yang membuka suara sama sekali. Terutama Aura yang memilih untuk melihat keluar jendela. Padahal di luar gelap, hanya ada pohon yang berjejer.
Kaisar membawa Aura kembali ke apartemennya.
Saat sampai di parkiran apartemen pun, Aura memilih untuk keluar dari dalam mobil terlebih dahulu.
Kaisar yang melihat Aura masih merajuk hanya bisa menghela napas panjang. Dia mengambil makanan yang di masak oleh Maminya.
"Ternyata membujuk cewek yang lagi ngambek lebih susah dari pada menangin balapan di arena." keluh Kaisar.
Dia menyusul Aura dengan santai, meskipun hatinya juga bingung harus seperti apa. Tapi yang Kaisar paham, jika Aura bukan seperti cewek lain. Yang harus di rayu dan dibujuk terus menerus. Dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri.
Kaisar tiba di apartemennya, melihat sekeliling mencari keberadaan Aura. Tapi tak menemukan di ruang tengah.
Kaisar membawa langkah kakinya menuju kamar. Dia sempat panik jika Aura tak ada disana. Tapi ternyata Aura tengah tidur dengan posisi menelungkup.
Kaisar menghembuskan napasnya lega karena semarahnya Aura padanya, Aura tak pergi meninggalkannya.
"Baby, kita makan dulu. Mami udah bawain makanan tadi. Kamu belum sempat makan, mami khawatir takut kamu sakit."
Kaisar berusaha bersikap lembut dan tenang, sementara Aura masih bergeming dengan posisinya saat ini. Kaisar mengusap kepala Aura lembut, dia mencium kepala Aura sekilas.
"Kalau kamu mau tidur bentar nggak apa apa, nanti makanannya tinggal di hangatkan. Aku mau mandi lebih dulu."
Kaisar tak ingin memaksa Aura lagi, dia akan memberi waktu pada Aura untuk menenangkan dirinya sendiri saat ini.
Setelah mendengar suara air, Aura membalik badannya menjadi terlentang. Menatap langit langit kamar, dengan pikiran yang sudah kemana mana.
Aura melirik pintu kamar mandi yang masih tertutup lalu menghela napas panjang.
"Aku libatin dia terlalu jauh. Harusnya sekali tusuk aja mereka bertiga udah tewas. Tapi aku juga nggak mau masuk penjara gara gara ngelakuin hal bodoh."
Aura bangun, dia duduk di ranjang dengan pandangan kosong ke depan.
Wajah Melati masih dia ingat dengan jelas.
"Jadi dia wanita tua yang ku tolong dulu. Dan sekarang dia mikir kalau Meisya yang nolongin dia. Karena alasan itu, Kaisar di jodohin sama Meisya? Kolot banget jadi manusia!"
Kaisar yang mendengar gumaman Aura, tak langsung keluar dari dalam kamar mandi.
"Nolongin nenek? Jadi Aura yang nolongin? Tapi kenapa jadi Meisya?"
Kaisar berpikir sejenak, seperti nya dia harus mencari tahu tentang ini. Dia akan meminta bantuan Papinya untuk menyelidiki semuanya.
Terlihat Aura keluar dari kamar, barulah Kaisar keluar dari kamar mandi. Dia mengambil ponselnya menghubungi Arka. Kaisar menjelaskan semua yang dia dengar. Sama seperti Kaisar, Arka juga terdengar baru tahu tentang itu.
Pi, aku juga mau minta Reynald buat awasin keluarga Robinson. Kalau cuma masalah uang yang nggak seberapa, mereka nggak akan nyuruh pembunuh bayaran buat habisin Aura.
Arka mengiyakan apa yang di inginkan Kaisar. Tentu saja Natasya yang juga tahu hal itu syok.
Aura yang sudah tak punya orang tua sekarang harus berurusan dengan keluarga Meisya yang mengincar nyawanya. Beberapa kali nyawa Aura terancam karena pembunuh bayaran itu.
Setelah menghubungi papinya, Kaisar mencari keberadaan Aura. Ternyata Aura sedang menyiapkan makanan untuk mereka.
Greb.....
Kaisar memeluk tubuh Aura dari belakang. Kaisar juga mencium pipi Aura berkali kali. Aura yang awalnya biasa saja dan memasang wajah datarnya akhrinya terkikik geli karena ulah Kaisar.
"Kaisar lepas, ngapain sih cium cium."
Aura berusaha melepaskan diri dari Kaisar, tapi Kaisar terus membuat Aura semakin kegelian. Karena sudah tak tahan dengan rasa gelinya akhirnya meledak sudah tawa Aura.
"Hahaha ... Kaisar ...geli....lepasin aku."
"Ampun Kai, lepasin aku....hahaha....."
Kaisar melepaskan Aura saat melihat wajah Aura yang sudah merah karena kegelian. Napas Aura memburu karena ulah Kaisar.
Cup....
Satu ciuman mendarat lagi di bibir Aura.
Bugh ...
Satu pukulan mendarat di lengan Kaisar, tapi Kaisar tak marah sama sekali. Dia lega Aura sudah kembali tertawa di depannya. Wajah dingin dan datar itu hilang.
"Jangan marah lagi Baby, aku nggak bisa di diemin kayak gitu. Nanti aku meriang gimana?" rengek Kaisar.
Aura menatap bingung, "Kenapa harus meriang?"
Aura bertanya dengan nada polosnya. Kaisar yang gemas kembali mencium Aura yang membuat Aura kembali kesal.
"Ih, kenapa malah di cium sih. Satu ciuman sepuluh juta." ceplos Aura.
Cup
Cup
Kaisar mencium Aura beberapa kali, lalu tak lama dari itu ponsel Aura bergetar. Satu notifikasi masuk ke dalam rekeningnya. Saat dia membuka notifikasi itu, matanya sontak membelalak. Dia menatap Kaisar syok, seratus juta masuk ke dalam rekeningnya dan itu dari Kaisar.
"Kaisar, apa apaan ini? Kamu transfer banyak banget!"
Kaisar memeluk Aura, menghirup aroma Aura yang selalu menenangkan nya.
"Buat jajan kamu," jawab Kaisar.
Aura yang awalnya kesal membalas pelukan Kaisar erat. Dia menaruh kepalanya di d**a bidang Kaisar.
"Makasih tadi udah lindungi aku."
Kaisar semakin memeluk Aura erat, dia tak akan membiarkan sesuatu terjadi pada Aura.
"Mereka banyak yang incar aku sebelum kamu turun arena. Dengan banyak alasan, selain karena sering kalah juga terutama cewek mereka yang ganjen sama aku." celetuk Kaisar.
Aura terkekeh, dia tahu betul pesona Kaisar seperti apa di arena. Dia sendiri juga terpesona, tapi berujung dia yang harus menggoda Kaisar lebih dulu. Beruntungnya, Kaisar menyambut nya dengan suka cita.
Detik berikutnya, Kaisar baru ingat tentang Arka yang sudah menyiapkan dokter untuk Aura.
"Baby, aku mau bicara serius sama kamu."
Aura melepaskan pelukannya pada Kaisar.
Kaisar menarik tangan Aura untuk di ajaknya duduk. Tetap seperti kemauan Kaisar, duduk di pangkuan Kaisar.
"Mau ngomong apa?"
"Baby, apa yang aku katakan jangan kamu pikir karena jijik atau kasihan."
Aura masih belum bisa mencerna apa yang akan di katakan oleh Kaisar kepadanya.
"Kamu tahu kan, mami sama papi sudah tahu keadaan kamu. Hubungan kita, mereka sayang sama kamu sama kayak aku sayang sama kamu."
Aura tak menyela semua yang di katakan oleh Kaisar.
"Papi sudah mencarikan dokter terbaik untuk menyembuhkan semua bekas luka kamu. Bukan karena orang tua ku jijik dengan semua luka itu. Tapi mereka ingin kamu bangkit, percaya diri dengan apa yang kamu punya. Jangan biarkan semua luka itu menghambat mimpi kamu. Membuat kamu merasa malu dan minder dengan semua keadaan kamu."
Aura tak tahu dia harus menjawab apa, begitu sayang dan pedulinya keluarga Kaisar kepadanya.
"Baby, jangan diam aja. Kamu mau kan?"
"Tapi kalaupun kamu nggak mau nggak apa apa, aku tetap sama kamu. Aku nggak akan bahas bekas luka itu."
Aura tersenyum, meraih wajah Kaisar. Menciumnya lembut, Kaisar yang mendapatkan ciuman lebih dulu terkejut.
Beberapa detik berikutnya Aura melepaskan ciuman itu.
"Aku bersedia, bilang sama papi kamu aku bersedia operasi."
Mata Kaisar berbinar bahagia, dia memeluk Aura.
"Aku bilang sama papi nanti buat atur waktunya. Kamu tenang aja, semua yang di siapkan papi untuk kebaikan kamu juga baby. "
Aura mengangguk di dalam pelukan Kaisar.
Setelah itu, Kaisar mengajak Aura untuk segera makan. Dia tak ingin Aura sakit hanya karena telat makan.
#
Meisya yang masih tak bisa bertemu dengan Kaisar lagi terus uring uringan. Terlebih sekarang Aura juga mendapatkan pembelaan dari Natasya karena kejadian di kantor Kaisar tadi.
"Sejak kapan Tante Natasya dekat dengan Aura? Sepertinya mereka belum pernah bertemu sebelum bertemu di rumah ini."
"Apa Aura merencanakan sesuatu yang aku lewatkan?"
to be continued