“Selamat pagi Sir Barra,” sapaku pada dia. Dia melirik kearahku, seolah sedang meneliti penampilanku hari ini dihadapannya. Selepas pergi dari rumah sakit aku memang tidak terlalu memperhatikan penampilanku dan kurasa ini adalah sisa dari pertemuanku dengan Adrien di pagi buta sebelum aku menancapkan gas mobil untuk pertemuan yang telah Floch atur untukku. Melihat dia mulai berjalan mendekat maka aku secara otomatis mengulas senyum tipis kasual sebagai bentuk dari keramah tamahan. Tapi kurasa itu tidak cukup efektif lantaran pria itu sudah tahu bahwa ini bukanlah sifat asliku. Aku memang dasarnya bukan orang yang mudah tersenyum, kurasa sekarang aku terlihat payah didepannya. Sebab ulasan dari melengkungnyan sudut bibirku hanyalah tuntutan dari pekerjaanku saja. Tidak lebih. Dia agak ane

