Support

3689 Kata

“Kau hendak pergi?” tiba-tiba ketika aku hendak pergi bersama Naina, Nyonya Mary memegang tanganku. Mencegahku pergi setelah mengatakan pertanyaan bodoh itu. “Apa urusanmu?” jelas aku tidak suka akan sesuatu yang menghalangi langkahku, tapi Naina selaku sahabatku justru malah seolah mendorongku untuk bicara bersama wanita itu. “Kita harus bicara sekarang,” ujarnya lagi kali ini agak serius. Aku benar-benar merasa bahwa dia seolah memegang kendali atas keputusanku. Dan ya, pada akhirnya dengan dungunya aku mengikuti dirinya. dan kemudian kami bicara di sebuah ruang kantin yang kosong. Ini tengah malam. Tentu saja, orang bodoh mana selain mereka berdua yang akan menyambangi tempat seperti ini hanya untuk bicara? Jawabannya tidak ada. Kami berdua duduk berhadapan, sebelum memulai kata sa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN