Sudah beberapa hari Yasmin disekap oleh Arthur di villa Taman Dayu. Ia mulai frustasi karena tak bisa keluar dari villa itu. Penjagaan di sekitar villa tersebut cukup ketat. Yasmin diibaratkan sebagai ‘harta karun' yang tak boleh lepas dari genggaman seorang CEO bengis seperti Arthur Atmaja. CCTV telah siap dipasang di semua ruangan selain kamar mandi dan kamar ganti. Bahan di kamar Yasmin pun terpasang CCTV yang sengaja dipasang oleh Arthur demi bisa memantau wanita yang menjadi tawanannya tersebut.
Selama 3 hari ini, Arthur hanya menyaksikan tingkah laku Yasmin via CCTV di ruang kerjanya. Dari tangkapan CCTV, terlihat jika wanita cantik itu benar-benar frustasi. Tampak gelisah dan dilanda kegalauan. Berulang kali berusaha keluar dari tempat itu, namun gagal. Arthur hanya mendengkus saat melihat gerak-gerik wanita simpanan Haikal itu yang emosi hingga menangis di kamarnya. Yasmin tampak rapuh dan tersiksa di sana.
Bagus, ini yang kuinginkan terjadi padamu, Yasmin. Kau harus menderita dan tersiksa sesuai keinginan Alicia. Aku akan membalas semua rasa sakit yang dirasakan oleh Alicia padamu. Kau harus tersiksa di sini.
Arthur yang dingin dan angkuh itu hanya membatin. Meski ia menginginkan Yasmin tersiksa, namun ada mengganggu pikiran pria itu yakni Yasmin yang saat disentuh ternyata masih perawan. Ia memutar otak tentang ini. Masih tak menyangka jika wanita yang berhasil ditidurinya adalah seorang gadis yang masih belum tersentuh oleh pria lain di ranjang. Sosok wanita simpanan yang langka dan baru ditemuinya kali ini.
Tak ingin memikirkan hal itu lagi, Arthur melirik ke arah jam dinding. Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB yang artinya sudah malam. Setelah 3 hari ini tak pernah mengunjungi kamar Yasmin lagi di villa itu, saat ini yang diinginkan oleh Arthur adalah mengunjungi sebuah kamar utama dari villa yang pernah menjadi saksi jika di tempat itu pernah terjadi ‘malam pertama' antara Yasmin dan Arthur. Selain dijadikan sebagai tempat penyiksaan, juga merupakan tempat peraduan fisik dan batin keduanya. Berakhir dengan penyatuan tubuh sampai membuat wanita itu pingsan seketika.
Malam ini Arthur mengendap-endap memasuki kamar Yasmin yang terkunci. Yasmin berada di dalam kamar, langsung terperanjat saat menyaksikan sosok pria dingin itu masuk ke sana.
“Arthur, apa yang kau lakukan di sini??? Mau apa kau ke sini???” tanya Yasmin frustasi dan ketakutan.
Arthur hanya bergeming. Lantas melangkah maju untuk mendekati wanita cantik itu. Yasmin yang tahu didekati oleh Arthur, semakin ketakutan. Rasa trauma itu mendadak hadir. Tubuhnya bergetar hebat setiap kali mengetahui CEO dingin itu berjalan ke arahnya. Yasmin mundur teratur lalu membuang muka dari pria itu. Tak sanggup menatap kedua bola mata Arthur yang membara layaknya bola api pada Yasmin.
“KUMOHON, JANGAN MENDEKAT!!!” pekik Yasmin yang pada akhirnya tubuh wanita itu menempel pada dinding dan tak mampu mundur lagi. Yasmin tetap tak berani menatap muka Arthur sampai pria itu menangkup wajahnya lalu ditolehkan ke depan hingga mampu menatap Arthur.
“Apa kau takut padaku, wanita simpanan Haikal? Kau takut kusiksa seperti kemarin? Jawab!” seru Arthur dengan tatapan tajam.
Yasmin bergidik mendengar seruan dari pria tampan namun dingin itu.
“Tentu saja, kau sudah menyekapku seperti. Siapa yang tidak takut? Tak juga sudah menodaiku secara paksa, kau seperti ... binatang!!!” sergah Yasmin seraya mengejek.
Arthur yang tak terima dengan ejekan Yasmin latas menarik kuat rambut wanita itu hingga ia merintih kesakitan.
“Kumohon lepaskan aku! Sakitttt!!!!” rintih Yasmin sembari mengernyit kening dalam.
“Jaga ucapanmu, wanita penggodaa! Atau kau ingin kusiksa seperti kemarin. Kau ingin aku mengulangi perbuatanku kemarin padamu. Kau mau begitu?” tantang Arthur yang hanya dibalas dengan desahan kecewa dari mulut Yasmin.
Yasmin hanya membisu hingga pria itu tak main-main dengan ucapannya. Lantas membuktikan kalimat yang terlontar dari mulutnya itu dengan merobek paksa gaun tidur yang dikenakan wanita itu hingga belahan d**a milik wanita itu terlihat oleh netra cokelat hazel milik Arthur. Seketika Yasmin syok dan menjerit.
“Aku mohon, jangan! Jangan sampai menyentuhku lagi! Tolong lepaskan aku dari sini! Please, aku takkan mengganggu rumah tangga Mas Haikal. Aku akan pergi jauh, tapi kumohon lepaskan aku,” rengek Yasmin sambil menangis tersedu-sedu. Air matanya mengalir deras di pipi halus wanita berdarah keturunan timur tengah itu.
“Kau yakin akan pergi dari kehidupan Haikal dan Alicia untuk selamanya?” tanya Arthur sengit pada wanita yang terisak serta tertekan.
Yasmin mengangguk. “Iya, aku akan mengajukan mutasi kerja atau resign jika Mas Haikal masih tetap sekantor denganku. Aku janji, tapi tolong lepaskan aku dari sini,” pinta wanita cantik itu memelas.
Arthur berdeham. “Hmm ... aku tak percaya padamu. Terutama Haikal pasti akan tetap mencarimu. Kau akan tetap di sini sampai waktunya tiba. Tunggu saja!” tukas Arthur yang setelah mengucapkan kalimat itu, ia pergi meninggalkan Yasmin begitu saja.
CEO tampan, dingin, dan arogan itu lekas keluar dari kamar yang digunakan untuk menyekap Yasmin tanpa mau menyentuh wanita itu lagi. Hanya menggertak Yasmin saja agar ia tak macam-macam dengannya. Usai kepergian Arthur, Yasmin mendesah lega. Lantas wanita itu bergeser menuju meja rias yang terdapat cermin panjang yang bisa memperlihatkan tubuhnya dari ujung kepala hingga kaki.
Yasmin mampu menyaksikan dirinya yang tampak mengenaskan dengan rambut berantakan akibat sempat ditarik oleh Arthur tadi. Begitu juga dengan gaun tidur yang ia kenakan itu robek di bagian d**a hingga mampu memperlihatkan buah d**a yang padat serta kencang milik Yasmin. Lantas ia bergumam sendiri.
“Ya Tuhan, sampai kapan aku akan disandera di sini? Aku ingin pulang. Aku tak tahan harus menjadi tawanan pria keji itu. Malam ini kukira ia akan menyentuhku lagi. Apalagi saat ia sudah merobek gaunku, kupikir dia akan menyiksaku lagi. Tapi ternyata aku salah. Aku sedikit lega.”
Yasmin pun mendesah pasrah di tempat itu. Selanjutnya, ia segera mengganti baju yang dikenakannya dengan gaun tidur yang lain. Yasmin terlihat memilukan di sana. Apalagi ia juga tak berselera untuk makan sampai terlihat lebih kurus. Setelah berganti pakaian, wanita itu memutuskan untuk segera tidur. Ingin melupakan sejenak masalah yang menimpanya.
Arthur masih bisa memantau tingkah laku Yasmin melalui monitor CCTV yang ada di ruang kerjanya. Di tempat itu pula ia bisa menyaksikan Yasmin yang tengah terlelap layaknya putri tidur cantik di ranjang bergaya kolonial. Bak seorang putri raja yang menanti sang pangeran untuk datang. Hati dan pikiran Arthur sempat tergoyahkan oleh kecantikan dan kepribadian Yasmin, namun langsung disangkal.
Jika aku melihat gerak-geriknya seperti ini terus, bisa-bisa jiwa sebagai laki-laki normal itu muncul. Bisa-bisa aku menyentuh wanita simpanan Haikal itu lagi. Nggak boleh. Aku nggak boleh sampai jatuh ke pelukan wanita penggodaa seperti dia. Aku harus ingat tujuan awalku menyandera wanita itu di sini adalah untuk membalaskan dendam Alicia. Itu saja dan bukan yang lain. Batin Arthur yang kemudian mematikan layar monitor CCTV.
Tak lama kemudian, Arthur menyalakan korek api untuk hendak mengisap cerutu dari Amerika Latin favoritnya. Di malam yang cukup dingin ini, pria itu lekas menyalakan perapian yang ada di ruang kerjanya. Ia merokok di samping perapian sambil mengoperasikan iPad guna mengecek email-email yang masuk terkait perusahaan. Memilih untuk lembur bekerja di sana saja daripada harus memikirkan Yasmin.
Sementara itu beralih pada kantor cabang Bank Swiss yang terletak di Bukit Darmo Boulevard, Surabaya Barat, tampak Haikal yang masih lembur di ruangannya. Pria itu yang kelelahan bekerja sampai ketiduran hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 21.45 WIB yang artinya sudah sangat malam untuk berada di kantor. Di tempat itu yang tersisa hanya Haikal saja yang lembur bersama security kantor. Ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja hanya bergetar-getar saja dengan panggilan telepon dari Alicia yang terlewatkan hingga puluhan kali telepon. Sengaja Haikal mematikan nada dering ponsel saat tengah bekerja.
“Haikal! Kenapa susah sekali dihubungi??? Ini sudah terlalu malam untuk lembur,” gerutu Alicia kesal.. “Apa aku jemput ke kantornya saja sekarang? Aku nggak bisa diabaikan seperti ini terus. Aku harus berangkat ke sana sekarang.”
Alicia pun lekas meraih handbag Dior miliknya untuk ditenteng. Lantas wanita berwatak keras dan bersifat dominan itu segera memesan taksi online untuk menuju kantor Haikal yang letaknya hanya 5-10 menit saja dari Apartemen Waterplace. Sesampainya di depan kantor sang suami, Alicia bergerak menuju pos satpam.
“Mas, suami saya, Pak Haikal apa masih lembur di dalam?” tanya Alicia.
“Oh iya, Bu. Pak Haikal masih di dalam ruangan beliau. Masih lembur sepertinya. Daritadi tak keluar sama sekali,” jawab sang security.
Alicia menghembuskan napas lega. Lega karena ternyata sang suami benar-benar lembur dan tidak mencari-cari keberadaan Yasmin seperti kemarin.
“Begitu ya, Mas. Mungkin pekerjaan suamiku masih banyak. Coba aku susul ke dalam ruangannya ya,” celetuk Alicia yang diangguki oleh bagian keamanan kantor itu.
“Iya, Bu. Silakan.”
Alicia pun bergegas beranjak dari sana untuk berjalan menuju ruang kerja sang Branch Manager. Saat tengah berjalan ke ruangan itu, Alicia sempat membatin.
Haikal ini lembur sampai malam begini apa gara-gara menunggu Take Over bank lain ya? Tapi kalau menunggu Take Over pasti ada staff kantor lain yang mengurusi kredit bermasalah. Pasti bukan itu karena dia cuma sendiri. Mungkin target marketing dari direksi.
Sesampainya di depan ruangan kerja Haikal, seketika langkah Alicia terhenti ketika menyaksikan Haikal yang menjerit setelah terbangun dari tidurnya.
“Yasmin! Tidakkkk!!! Jangan tinggalkan aku, Yasmin!” jerit Haikal yang spontan membuat istrinya naik darah hingga mendelik.
Bukan target marketing sebagai seorang Pimpinan Cabang yang membuat pria itu sampai lembur menjelang tengah malam seperti ini. Ini semua dikarenakan oleh seorang Yasmin yang masih dipikirkan oleh pria beristri itu. Alicia langsung mengepalkan kedua tangan saat sebelum memegang gagang pintu untuk masuk ke dalam ruangan itu.
Alicia yang tersulut emosi dengan tingkah laku keji suaminya yang masih memikirkan wanita lain membuat wanita itu hendak memberi perhitungan pada Haikal. Apa yang akan terjadi pada Haikal dan Alicia selanjutnya?