"Jadi nggak salah keputusan kamu pisah dari Diandra, kan, Bian. Lihat saja kelakuannya bikin orang migrain saja." Leni, mamanya Fabian melirik ke arah anak tengahnya yang sibuk menyuapi makanan untuk Kafael.
Leni berkali-kali menarik napas dalam, dia baru saja datang dari Bandung bersama menantu karena besok ada kondangan ke anak teman lamanya di Cikarang.
"Mama nggak tahu lagi sama Diandra. Dia nggak ada jiwa keibuan sama sekali bisa-bisanya mengabaikan Kaafel dengan alasan sibuk kencan," lanjut Leni menumpahkan rasa kesalnya selagi tangan sibuk menata meja makan.
Sejak dulu, Leni tidak pernah menyukai Diandra dan hobi mendikte menantunya sampai berpisah dengan Fabian.
Anak dan ayah tersebut hanya melirik saja, tidak berkomentar apa-apa.
"Apasih yang Diandra bisa selain menggoda laki-laki? Ngurus anak nggak becus, lihat saja cucu Mama udah kurus, jadi istri juga gagal," komentar Leni terus menjelekkan Diandra sekalipun sudah bukan menantunya lagi.
Leni melirik sebal merasa tidak mendapat tanggapan apa-apa. "Bain, kamu dengar Mama ngomong?"
"Iya, dari tadi aku dengarkan, Ma," jawab Fabian agar emosi sang mama tidak berkobar-kobar. Dia sendiri masih fokus menyendok nasi dengan ukuran pas dan ikan salmon sebelum meminta anaknya membuka mulut.
"Bukan Mama nggak suka ada Kafael di sini, Mama malah senang banget. Cuma nggak suka cara Diandra." Leni menatap cucunya yang pendiam dan tidak pecicilan seperti anak tetangga. "Apa nggak sebaiknya Kafael tinggal sama kita aja?"
Fabian membuang napas panjang, dia sudah sering membahas dan sang mama terus saja mengulang sampai ribuan kali.
"Papa nakal ya diomeli nenek terus?" tanya Kafael polos selagi mendongak ke sang papa. "Apa Papa nggak pintar jadi nenek marah-marah?" tanya Kafael lagi dengan pelafalan R jauh dari kata sempurna.
Fabian tertawa, tangan kekarnya mengusap rambut sang anak.
"Mama juga marah kalau Ael nakal," lanjutnya dengan lucu seraya menoleh ke neneknya.
Leni menghela napas, menatap penuh sayang ke arah cucunya. "Papa kamu nggak nakal Ael, hanya Mama kamu saja. Makanya Ael di sini saja sama Papa, ya?"
"Ma ...." Fabian akan membantah sebelum melihat tatapan tajam sang mama seakan siap melempar apa saja di depan kalau dilawan.
Kafael menggeleng cepat. "Ael mau sama Mama."
"Di sini enak Ael, daripada sama Mama doang. Mama galak suka marah-marah kan?"
"Nenek juga galak!"
Fabian dan Imas, kakak iparnya menahan tawa mendengar sahutan bocah kecil berusia 3 tahun.
Kalau menghadapi Kafael yang dianggap masih terlalu kecil, Leni bisa menahan emosi karena sangat sayang pada cucunya.
"Sini, biar teteh yang gantian suapin Kafael. Kamu makan dulu tuh udah siap," ujar Imas lembut menggerakkan dagu ke arah meja yang penuh menu makanan lezat.
Fabian mengangguk setuju, dia juga lapar belum makan apa-apa sejak pulang kerja karena sibuk mengurus anaknya dulu. Dia tidak memiliki asisten rumah tangga dan melakukan semua serba sendiri. Kalau mamanya tidak datang, dia sudah memasak seadanya untuk dimakan sendiri.
Kadang Fabian merasa kesepian, mamanya berkali-kali mendesak menikah lagi dan mengatur kencan buta. Namun, Fabian belum tertarik menjalin rumah tangga dengan wanita manapun belajar dari kegagalan masa lalu.
"Kafael, ini buka mulutnya dulu, Sayang," pinta Imas dengan sabar saat bocah kecil tersebut menutup mulutnya rapat-rapat. Dia mengatakan sudah kenyang dan melirik orang yang menyuapi.
Kafael tipe anak yang susah akrab dengan orang lain, apalagi jarang bertemu. Kafael juga terbilang pendiam tidak seaktif anak lain yang seringkali membuat Diandra sedih.
Berbagai dugaan selalu muncul di kepala Diandra menganggap Kafael tidak bahagia atau dia memang payah menjadi ibu.
Fabian yang sudah mulai menyuap masakan sang mama ke mulutnya melirik Kafael. "Ael makan dulu."
"Udah kenyang, Pa."
Imas meringis merasa bersalah gagal membujuk Kafael yang baru makan sedikit. Leni tersenyum, memandang ke arah cucunya penuh cinta. "Ya udah Ael makan buah aja, ya."
Kafael langsung mengangguk senang. Dia suka semua buah-buahan persis Diandra, bahkan selagi mengandung tak pernah absen makan buah sehari empat kali.
"Ael mau buah apel apa pir?" tanya Imas dengan perhatian.
"Apel, apel," jawab Kafael senang.
Imas tersenyum, meraih buah apel yang sudah dicuci bersih dan tetap mengupas buahnya sebelum diberikan ke Kafael.
Topik obrolan segera beralih di sela-sela makan malam. Leni meminta pendapat Fabian soal perempuan entah ke berapa yang ditarget menjadi menantunya.
"Cantik nggak yang kemarin, Bian?"
Fabian membuat gerakan mengusap tengkuk merasa tak nyaman. Dia sudah menurut menemui anak teman sang mama entah yang ke berapa. Seperti biasa Fabian tidak merasa ada ketertarikan sama sekali.
Kesan pertama bertemu, orangnya lembut, sedikit pemalu, dan pendiam hanya bicara kalau Fabian membuka obrolan.
"Cantik," jawab Fabian selagi menyuap lagi brokoli ke mulutnya. Dia melirik ke anaknya yang sedang antusias mencomot potongan buah apel.
"Terus?"
"Ma, sudah cukup jodohin aku, fokusku cuma Kafael belum ada arah ke sana."
Leni berdecak tidak terima, lalu menatap anaknya gemas. "Apasih bagusnya Diandra sampai kamu kayak kena pelet sama dia, giliran sama perempuan yang baik-baik nggak mau."
Ribuan kali Fabian menjelaskan kalau Diandra wanita baik-baik, tidak akan mengubah penilaian sang mama. Jadi, lagi-lagi Fabian memilih diam daripada topik akan melebar ke mana-mana.
Kebetulan sekali Kaafel mengatakan ingin main dan jurus andalan Fabian agar bebas dari omelan sang mama. Dia harus berterima kasih pada jagoan kecilnya.
Fabian segera bangkit dari kursi menggendong anak laki-lakinya untuk mengajak main di ruang tengah.
"Lihat tuh ipar kamu, susah banget dibilangin," ujar Leni gemas setelah anaknya enyah dari meja makan.
Imas hanya tersenyum. "Mungkin belum menemukan yang cocok, Ma."
"Cocoknya kayak apa emang? Masa seleranya mirip Diandra nggak akan Mama. Punya menantu seperti Diandra sebentar saja rasanya kepala pusing," keluh Leni hanya ditanggapi ringisan oleh Imas. Perempuan itu tahu mama mertuanya tidak butuh pendapatnya cuma ingin didengar keluh kesahnya.
***
Azzam memandang wajah Diandra yang terlihat cantik dalam keadaan tertidur daripada saat bangun. Diandra akan mengeluarkan jurus merayu yang jujur membuat Azzam merasa risih.
Mereka sudah memasuki perumahan di Jababeka seperti yang disebutkan Diandra sebelum terlelap. Tidurnya sangat nyenyak sekali seakan-akan seharian dilanda lelah, Azzam mendadak tidak tega membangunkan.
"Di ...," panggilnya pelan. Masih belum ada balasan sampai Azzam mematikan mesin mobil setibanya di depan rumah yang dituju. Azzam menghela napas sebelum menyentuh pelan bahu perempuan itu.
"Udah sampai di rumah kamu, Di," ujar Azzam melihat Diandra membuka matanya sedikit lalu bergumam entah apa.
Diandra mengerjap sebelum mengalihkan pandangan ke sekitar. Warna rumah dan tanaman di depannya sangat dikenali Diandra karena pernah menempati dua tahun lebih.
"Oh, udah sampai, ya?" Alih-alih turun dari mobil, hal pertama yang Diandra lakukan adalah mengambil kaca di tas dan memeriksa riasannya. "Oke, masih cantik kan, Dok?" tanya Diandra dengan nada genit.
Azzam tidak menanggapi apa-apa sampai Diandra mendesis kesal.
"Dokter ini jual mahal banget, sekali-kali puji gitu saya cantik," ujar Diandra selagi menyisir rambut dengan jari-jari. Sebelum membuka pintu mobil, ia menoleh. "Dokter nggak mau ikut turun?"
"Lain kali," jawab Azzam singkat, berbeda sekali saat bercengkrama dengan Kafael yang terlihat menyenangkan.
"Saya juga sebentar doang ke sini ambil Kafael," beritahu Diandra sekalipun tidak ditanya. Dia terkikik kecil melihat ekspresi bingung di wajah tampan sang dokter. "Ini bukan rumah saya, makanya tunggu biar tahu tempat tinggal saya."
Buat apa? Nggak penting juga.
Azzam hanya mengedikkan bahu.
"Mending dokter keluar saja sekalian saya kenalkan."
"Sama siapa?"
"Mantan suami saya," jawab Diandra enteng tidak peduli ekspresi kaget di wajah Azzam yang buru-buru diubahnya.
Jadi, Diandra memintanya mengantar ke rumah mantan suami? Azzam semakin yakin kalau wanita genit di sebelahnya sulit ditebak.
Buru-buru Diandra memaksa Azzam ikut turun dengan alasan dia terlalu capek menggendong Kafael. Gunanya meminta sang dokter ikut mengambil anaknya untuk meringankan tugas membawa Kafael ke mobil, kadang anak itu sudah tidur pukul sembilan malam.
Namun, alih-alih Fabian yang mendapat kejutan akan dikenalkan dengan calon papa baru Kafael. Diandra yang dibuat kaget karena sosok yang membuka pintu menatapnya horor dengan aura menakutkan.
"Oh, jadi ini target kamu selanjutnya," ujar Leni mengamati lelaki yang berdiri di sebelah Diandra.
Azzam segera menyalami sopan sekalipun tahu ada tatapan tak suka padanya.
"Kafael biar tidur di sini, kamu balik saja besok. Lagian Mama lebih bisa jaga Kafael daripada kamu, ibunya sendiri."
Lagi, Diandra harus menelan ucapan pedas mama mertuanya. Dia membuang napas panjang, biarkan saja akan dianggap kurang ajar.
"Mama nggak berhak mengdikte soal aku merawat Kafael. Lagian hari ini bukan jadwal Kafael menginap di sini, mana Aa Fabian."
Azzam menyentuh pelan bahu Diandra untuk mengajak pulang daripada memicu pertengkaran.
"Dok, saya nggak akan balik tanpa Kafael!"
Leni berdecak. "Bukannya Mama malah kasih kesempatan kamu buat bebas pacaran, udah malam. Mama nggak mau ribut sama kamu."
Setelah mengatakan itu, Leni segera menutup pintunya membuat Diandra menggedor-gedor brutal.
"Di ...."
"Dokter tahu kalau anak saya masih ada di dalam," ucap Diandra gemas.
"Dan katanya ini rumah mantan suami kamu bukan tempat berbahaya, kan?"
Diandra mencebik sebal, lalu memandang Azzam dengan tatapan minta dikasihani. "Ya udah dokter besok antar saya jemput Kafael, ya, saya malas harus menghadapi Mama mertua sendirian. Kepala saya cenut-cenut."