Kandidat Calon Suami Baru
“Titip Kafael dulu ya, Aa, aku mau cari papa baru buat anakku,” ujar Diandra usai mengecup gemas pipi anak laki-lakinya yang berusaha 3 tahun.
Diandra Zevana, janda beranak satu asal Bandung tersebut selalu menganggap dirinya masih mampu menarik semua laki-laki. “Aa nggak keberatan, kan?”
“Hem.” Hanya itu tanggapan Fabian melihat kelakuan mantan istrinya yang semakin berambisi menemukan papa baru untuk Kafael. Dia bukannya cemburu, tetapi lelah menghadapi tingkah sang istri yang dari dulu selalu aneh.
Apa maksudnya perempuan itu menitipkan Kafael di saat tahu kalau dia sedang sibuk sama urusan di produksi, apalagi di perusahaan sedang ada masalah besar. Deffect cukup fatal lolos ke customer luar negeri.
Seharusnya Fabian masih lembur kalau saja Diandra tidak merengek di telepon hanya masalah sepele. Dia tidak pernah keberatan mengurus Kafael karena memang anaknya sendiri, tetapi kalau alasan Diandra akan kencan, rasanya Fabian tidak habis pikir kenapa tidak ditunda besok.
“Merawat anak bukan cuma tugas aku, kan? Ada kewajiban Aa juga.”
Fabian tidak bisa menolak, sekalipun sudah cerai dua tahun lalu keduanya memang sepakat membesarkan Kafael Antoni berdua.
“Iya,” ujar Fabian sambil mengamati dress merah marun cukup terbuka yang dikenakan sang istri.
Memang siapa lagi targetnya? Dia heran baru dua tahun berpisah Diandra sudah berkali-kali pacaran bersama pria lain dan menyeleksi ketat untuk menjadi suami, padahal dia sendiri belum ada pikiran ke arah sana kecuali desakan mamanya menemui wanita yang akan dijodohkan.
“Mama mau ke mana?” Kafael merengek, memeluk kaki sang mama seakan tidak rela ditinggalkan.
Diandra membungkuk, mengusap rambut lurus Kafael yang cukup tebal persis mantan suami. “Kafael doakan Mama, ya, biar bisa meluluhkan calon papa baru.”
Fabian mengernyit, lalu menggendong Kafael agar tidak mendengar celotehan mamanya yang sudah ke mana-mana. “Udah sana kalau mau pergi.”
Diandra terkikik. “Cemburu, ya? Kenapa? Apa calon yang dikenalkan sama Mama nggak bisa mengalahkan aku?”
Sejak dulu memang mama mertuanya selalu ikut campur bahkan sampai keduanya sudah pisah. Padahal mamanya tinggal di Bandung, sedangkan Fabian ada di Cikarang agar dekat dengan perusahaan tempatnya bekerja sebagai manajer produksi.
Sewaktu Kafael baru lahir mama mertuanya ikut tinggal di Cikarang dan membuat kehidupan Diandra mirip di neraka. Apa saja yang Diandra lakukan dianggap salah, setiap gerak-geriknya selalu diawasi bahkan bernapas saja susah.
Diandra tidak pernah bilang kalau membenci mertuanya, tapi harus mengakui kalau perempuan paruh baya tersebut yang bercita-cita memiliki menantu lemah lembut dan penurut menjadi alasan Diandra selalu bertengkar dengan Fabian.
“Ngaku aja, deh. Beneran cemburu, kan?”
"Terserah kamu, Di, sudah bukan urusanku juga.”
Diandra mendengkus, sekalipun benar ucapan Fabian tidak ada urusan lagi antara mereka kecuali soal Kafael. Diandra tidak mau ambil pusing lalu kembali tersenyum lebar melihat anaknya.
“Mama lama?” bocah kecil itu sudah menggigit roti yang diberikan papanya.
“Tergantung, Sayang. Kafael suka nggak sama dokter Azzam?”
Azzam Hafizan adalah dokter spesialis anak yang sering merawat Kafael kalau terpaksa rawat inap di rumah sakit. Kafael terhitung sering sakit karena Diandra kurang paham cara mengurus anak atau Kafael yang sulit diatur makanannya.
Sejak pertama bertemu Azzam yang sangat sayang pada anak-anak, Diandra sudah menarget Azzam sebagai kandidat selanjutnya.
Kafael mengangguk senang. “Mau, Ma. Kapan doktel Azzam jadi Papa Ael?”
“Sebentar lagi,” kekeh Diandra sambil melirik ke arah mantan suaminya. “Aa jangan sibuk main ponsel kalau jaga Kafael, aku pergi dulu.”
Diandra meraih tas yang tadi dilempar sembarang ke sofa, dia berjalan ke arah pintu usai mencium berkali-kali pipi sang anak sampai menghirup aroma kayu cendana dari parfum lelaki yang sedang menggendong anaknya.
Beruntung saja mereka sudah tidak ada perasaan apa-apa. Jadi aman, tidak perlu ada debaran aneh karena bagi Diandra cinta pada Fabian sudah hilang semenjak dia mantap bercerai dan meminta hak asuh Kafael, sebagai satu-satunya yang dia miliki.
Diandra mencari taksi menuju ke apartemen Azzam. Jangan tanya bagaimana Diandra bisa tahu tempat tinggal dokter ganteng yang selalu menjadi idola ibu-ibu setiap memeriksa anaknya ke rumah sakit. Diandra punya seribu cara agar merayu asisten laki-laki Azzam supaya mau memberikan alamat, kalau perlu satpam rumah sakit.
Dia memang segila itu demi mendapatkan calon paling berkualitas untuk papa baru Kafael. Tidak boleh asal sembarang comot agar masa lalu bersama Fabian tidak terulang.
Alasan Diandra menetapkan Azzam sebagai kandidat paling cocok di antara puluhan lelaki yang rela mengemis cintanya. Azzam merupakan dokter penuh pesona yang bukan hanya ganteng, finansial terjamin, tetapi sangat lembut pada anak-anak. Azzam selalu bisa membuat Kafael yang jarang akrab pada orang baru, merasa nyaman mengobrol dengan Azzam.
Semua demi Kafael, segala sesuatu dalam hidup Diandra sekarang selalu memprioritaskan Kafael. Sekalipun masih ada rasa bersalah sudah memisahkan anaknya dari papa kandung sendiri sejak usia satu tahun.
***
“Kamu ngapain di sini?”
Azzam kaget begitu membuka pintu apartemen melihat perempuan cantik sedang tersenyum menggoda.
Diandra menerobos masuk sebelum dipersilahkan dan mengamati apartemen Azzam yang tidak terlalu rapi.
“Katanya dokter mau ajak makan malam gimana? Jangan pura-pura lupa, ya,” goda Diandra dengan centil. Dia sengaja mengedip genit saat berhadapan dengan Azzam, yang entah kapan bisa melihat pesonanya. Kadang Diandra heran terbuat dari apa hati si dokter tampan sampai sangat sulit didekati.
Diandra juga sudah tanya-tanya suster rumah sakit yang mengatakan kalau Azzam tidak pernah terlihat punya pacar. Meskipun banyak kakak pasien yang tebar pesona, sang dokter tidak pernah tertarik pada kaum hawa.
“Oh.” Azzam menggaruk pangkal hidung, mau mengusir juga percuma karena kemarin Diandra justru datang ke rumah sakit menerobos masuk tanpa peduli banyak pasien antre.
Azzam terpaksa mengiyakan makan malam agar perempuan itu cepat pergi, antrean masih cukup panjang dan meladeni Diandra kemarin hanya buang-buang waktu.
Diandra menghela napas melihat penampakan ruang tamu sang dokter, ada bungkus makanan cepat saji di meja. Benar-benar tidak pembersih dan Diandra merasa pusing kalau ingat dia juga bukan tipe perempuan rajin beberes.
Kalau sama dokter rumah aku kayak sarang burung nggak ya, eh tapi duitnya banyak bisa bayar pembantu lah.
“Katanya seorang dokter tapi makan sembarang, nggak sehat tahu, Dok,” celetuk Diandra mengambil bungkus makanan untuk membuang ke tempat seharusnya.
Azzam hanya garuk-garuk tengkuk, selama ini perempuan yang mendekati tidak ada yang seberani Diandra. Mereka baru kenal empat bulan, sejak Kafael muntah-muntah gara-gara makan jajanan sudah kelewat kadaluwarsa. Minggu berikutnya Kafael datang lagi dengan demam tinggi, dan hampir setiap bulan menjadi pasiennya.
“Aku emang payah jadi Mama, Dok. Aku udah butuh suami baru,” keluh Diandra saat itu dengan raut cemas melihat anaknya lemas di ranjang.
Diandra suka ceroboh kalau ada kesibukan kurang perhatian pada anaknya.
Azzam yang mendengar cerita Diandra yang single parents dan harus bekerja sebagai model untuk biaya sang anak, hanya bisa menatap kasihan.
“Saya nggak suka Dok kalau dikasihani. Kecuali dokter mau jadi Papa baru Kafael.”
Azzam kira waktu itu Diandra hanya bercanda, ternyata perempuan itu serius mengejarnya sampai bisa tahu nomor telepon, alamat apartemen, sampai siapa saja keluarganya. Benar-benar mengerikan seorang Diandra, dia sebenarnya model atau detektif.
Diandra melambaikan tangan di depan wajah Azzam menariknya ke alam nyata.
“Dok, kenapa malah melamun, ini kita makan di mana? Apa aku masak aja daripada dokter makan begini nggak sehat.”
Azzam mengedikkan bahu cuek. “Emang kamu bisa masak?”
“Bisa, emang mau dimasakkan apa, Dok?”
Kesukaan Diandra membuat cake bahkan bercita-cita memiliki toko kue, sebelum mendapat tawaran menjadi model. Dia hanya menyalurkan hobi di dapur rumah suaminya dulu membuat cake kesukaan Fabian. Tapi kalau masak, Diandra tidak terlalu suka hanya bisa beberapa menu.
“Kita keluar saja,” ujar Azzam terpaksa menuruti makan malam berdua. Dia masih laki-laki normal takut kalau terdorong melakukan hal aneh melihat Diandra seolah nyaman saja mengenakan baju terbuka dan pendek di atas lutut.
Diandra mengernyit. “Nggak percayaan banget kalau saya bisa masak sih, Dok.”
"Bukan gitu.”
“Terus.” Diandra bersedekap menuntut jawaban, lalu mengikuti arah pandang Azzam ke pintu yang tertutup.
Dua kali Diandra datang ke apartemen Azzam, pertama bersama Kafael yang merengek meminta ditemani nonton Doraemon. Kedua sekarang dan sendirian. Lalu Diandra tertawa.
“Kalau lelaki lain udah ngajak ke kamar, ini dokter kayaknya nggak tertarik ya sama perempuan. Tapi, apa dokter mulai takut terpesona sama saya?”
“Saya tidak mau memancing fitnah, kamu tunggu di sini, saya ganti baju dulu.”
“Padahal dokter gitu aja udah ganteng, nggak perlu ganti.”
Kenapa juga Azzam harus menuruti Diandra, padahal dia bisa saja menolak seraya mengusir perempuan itu dari apartemennya. Tapi, ya sudah sekali-kali makan malam dengan perempuan selain suster di rumah sakit tidak masalah.
Azzam bergegas ke kamar mengabaikan ocehan Diandra yang terus mencoba merayunya. Dia membuka lemari memilih sweter hangat dan celana untuk dipakai.
Warna biru kesukaan Annisa, bahkan Azzam masih terbawa kebiasaan lama membeli apa pun serba biru seperti saat bersama Annisa. Azzam menggeleng, sudah empat tahun perempuan itu memilih pergi dan tidak seharusnya Azzam ingat masa lalu.
Dia segera keluar, setelah menyemprot sedikit parfum yang membuat dirinya bingung. Untuk apa mempersiapkan penampilan seolah dia akan dinner dengan pasangan?
Keduanya memilih ke restoran bernuansa Eropa dengan cahaya remang-remang, semua kemauan Diandra dan Azzam cenderung mengikuti tahu kalau perempuan suka ribet memilih makanan malam. Kalau Azzam sendiri masak mie instan saja sudah cukup.
“Makanan di sini enak, Dok,” komentar Diandra saat memilih kursi di dekat pintu masuk.
“Kamu pernah ke sini?” tanya Azzam tidak terlalu penasaran, hanya iseng saja.
Diandra mengangguk. “Sering pas sama mantan suami dulu.”
Seketika Azzam tertegun, dia sempat kaget yang awalnya hanya sekadar iseng bertanya. Kenapa juga Diandra mengajak ke restoran tempat dia mengenang mantan suami, apa maksud perempuan di depannya?
Dan Azzam seharusnya tidak masalah. Toh, dia belum memiliki perasaan apa-apa atau mungkin tidak akan pernah menyukai Diandra. Iya, pasti Azzam hanya kaget saja dengan sikap Diandra yang sulit ditebak.
“Kalau mau mengenang mantan suami kenapa nggak sama orangnya saja?" sindir Azzam.
Diandra terkekeh geli. “Dokter agak sewot kenapa? Udah suka sama saya, ya, Dok?”
“Kamu jangan terlalu berharap nanti sakit hati.”
“Ya nggak apa-apa, siapa tahu bukan saya yang sakit hati, tapi malah Dokter yang cinta sama saya.” Diandra mengedipkan sebelah matanya genit membuat Azzam geleng-geleng heran dengan tingkat kepedean perempuan itu.