Perkenalan

1895 Kata
5 tahun yang lalu Jika kebaikkan adalah hal yang mulia dan seseorang akan senang setelah melakukannya, tetapi tidak dengan wanita ini. Dia merasa kebaikkan yang dia lakukan malah menjadi musibah untuknya. Dia awalnya seorang gadis periang, ramah dan penuh canda tawa tetapi saat menikah dirinya berubah 180 derajat menjadi dingin, cuek, angkuh, pendiam dan jarang tersenyum seolah duka selalu menyelimuti hari-harinya. 3 bulan sebelum pernikahannya, dia pernah menyelamatkan seorang nenek di kursi roda yang hampir terjatuh karena kursi rodanya terjun bebas dari atas dan orang yang memegangnya lepas kendali hingga kursi itu meluncur cepat dan Ella nama wanita ini yang menolong nenek tersebut. Ella senang dapat menolong dan nenek tersebut sangat berterima kasih kepada Ella dan berjanji akan memberinya hadiah. Ella menolak tetapi nenek itu memaksa dan akhirnya Ella setuju untuk mengikuti nenek itu ke rumahnya. Ella terkagum-kagum melihat kemewahan istana nenek tersebut karena tidak pantas disebut rumah maka layak disebut istana yang besar dan megah. Dan ternyata beliau seseorang yang berasal dari golongan bangsawan di Negaranya dan yang lebih terkejutnya lagi hadiah yang diberikan si nenek bukanlah barang atau harta sejenisnya tetapi perjodohan dengan cucu si nenek. Pria itu sangat tampan tetapi sikapnya angkuh dan cuek dihadapan Ella. Ella menolak secara halus permintaan si nenek karena segan dan pernikahan tanpa cinta menurutnya tidak akan berhasil. Tetapi si nenek tidak menyerah dia mencari tahu asal usul keluarga Ella dan ternyata Ella mempunyai darah bangsawan dari ayahnya yang keturunan Jerman dan dia juga menyandang status Putri dalam keluarga besarnya. Si nenek bahagia karena telah menemukan pasangan yang cocok untuk cucunya, dari pada nanti cucunya menikah dengan seorang model murahan yang selalu menunjukkan tubuhnya di majalah-majalah pria dewasa dan tidak masuk kriteria sebagai keluarga mereka. Ella berontak dan menangis saat orang tuanya menyetujui proposal keluarga si nenek untuk segera melaksanakan pernikahan. Dan sesuai dengan perkiraan Ella bahwa pernikahan tanpa cinta tidak akan berjalan, meskipun dia selalu berdoa agar suaminya bisa memberi cinta padanya. ** Ella Sekarang dia pergi lagi keluar negeri mungkin 2 minggu, padahal baru 3 hari lalu dia pulang dari Paris. Aku menikah dengannya sudah 5 tahun dan selama itu pula dia selalu menghindariku dengan rapat dan perjalanan tugas ke luar negeri. Aku tahu dia tidak mencintaiku tetapi sedikit pun ... apa dia tidak tertarik dengan tubuhku. Diluar sana pria selalu menatapku, memuja dengan apa yang Tuhan ciptakan padaku, tetapi kenapa dia begitu enggan untuk menyentuhku. Walaupun memang ada yang dia lakukan padaku minimal 1 bulan sekali dan itu pun kalau dia mabuk bahkan aku tidak sempat merasa nikmatnya bercinta itu seperti apa. Dan diakhir kenikmatannya dia selalu menyebutkan nama wanita lain, seperti tadi malam hingga berkali-kali tidak seperti biasanya hanya sekali tetapi tetap nama wanita itu yang disebutnya ... miris bukan. Saat ini aku sedang menuju hotel milik suamiku tepatnya warisan keluarga yang dikembangkannya dan berhasil menjadi hotel terbaik dan memiliki 5 cabang di negara ini dan aku yang menjadi General Manager disini. Aku dikawal dengan 10 bodyguard yang selalu mengawasiku dan menjagaku. Maklum karena suamiku termasuk orang penting di negara ini dan juga tergolong masih keluarga bangsawan dan tingkah laku kami selalu diawasi, tidak boleh membuat malu keluarga besar. "Selamat pagi madam,, " sapa pegawaiku yang berada di pintu masuk aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Sekilas aku tatap sekeliling hotel, mereka ada yang memandangku kasihan dan ada yang menundukkan kepalanya dengan hormat, mereka adalah tamu-tamu langganan hotelku. Pandangan seperti itu bagiku sudah biasa karena pasti ada berita yang mencuat ke publik yang belum aku ketahui. Aku masuk ke dalam ruangan kerjaku yang dibukakan oleh asisten pribadiku. Naomi gadis keturunan China yang pintar dan gesit, aku suka caranya bekerja yang ulet. Aku duduk di kursi kebesaranku sambil menatap surat-surat penting diatas mejaku saat ini dan Naomi juga memberi tahu tentang kekurangan hotel atau keluhan para pelanggan yang harus dituntaskan. "Ada chef baru yang akan menggantikan posisi Executive chef Feron madam, " ucap Naomi santun. "Oh, ya suruh dia menghadapku jika dia sudah datang, " ucapku sambil menandatangani beberapa berkas. "Baik madam, " Dia menundukkan kepala dan melangkah pergi. "Tunggu, ” cegahku dan dia berhenti kemudian berbalik menatapku. “2 hari koran tidak masuk ke dalam ... kau lupa atau aku yang tidak sempat membaca? " Dia tergugup dan terbata, "Oh, itu ... itu ada madam tetapi saya pikir anda tidak perlu melihatnya. " Tanganku pun berhenti mencoret kertas diatas mejaku ini. Tiba-tiba Jantungku berdebar keras serasa hampir copot karena aku menduga pasti berita itu lagi ... lagi dan lagi. Selama 5 tahun aku harus melihat dan mendengar ocehan semua orang, sampai kapan ini berakhir. Aku menatapnya, dia tak berani menatapku, "Bawa kemari korannya, " perintahku tegas kepada Naomi yang dibalasnya dengan anggukkan. Semenit kemudian dia membawa koran tersebut, dari jauh aku sudah dapat melihat wajah lelaki yang statusnya suamiku itu terpampang jelas disana. Naomi meletakkan koran itu tepat dihadapanku lalu aku menyuruhnya pergi. Headline koran tersebut : LOUIS HOWIE JACKWELL diam-diam membawa kekasihnya ke Paris walaupun mereka tidak terlihat bersama saat pergi tetapi saat makan malam terlihat keduanya keluar dari restoran yang sama. Aku hanya menyunggingkan bibirku ke atas sedikit dan pada Headline koran kedua : LOUIS HOWIE JACKWELL akan segera menceraikan istrinya demi kekasihnya SARAH BAVERLY model Victoria Secret itu. Aku melemparkan koran tersebut ke sembarang arah, "Ini yang kutunggu ... semoga secepatnya, aku sudah muak! " Aku menengadahkan kepalaku ke atas, serasa penat beban pikiranku ini. Ingin semua segera berakhir karena harga diriku telah direndahkannya selama bertahun-tahun. Tok Tok Tok "Masuk," perintahku saat ketukkan pintu itu terdengar. Aku menatap ke arah pintu, melihat siapa yang mendatangiku. Ternyata seorang pria tampan muda berjalan tegap menatap lurus kearahku. Tatto dilengannya membuat kesan macho pada pria ini. Dia memakai kemeja body fit hingga melihatkan otot lengannya yang pas dikemeja itu dengan lengan kemeja yang digulung ke atas setengah, aku sempat terpana melihatnya dan dia tersenyum padaku, aku pun tersadar. "Maaf anda siapa?" tanyaku heran dan menyembunyikan rasa terpukauku. "Saya Keaton Rollings, chef baru yang akan menempati posisi kosong disini, " ucapnya sambil menundukkan kepala, sopan. "Oh, iya -- silahkan duduk, " ucapku sambil mengarahkan tangan menyuruhnya duduk. Aku mencari-cari data dirinya dalam tumpukkan map diatas mejaku ini. Akhirnya kutemukan yang diatasnya telah di acc oleh bagian HRD. Aku buka map tersebut dan k****a perlahan CV-nya. Cukup berprestasi dan berpengalaman. Aku mulai menanyakan hal-hal dalam kehidupannya karena latar belakang karyawan tentang keluarga dan kesulitannya itu penting untuk aku ketahui jika suatu saat nanti ada masalah yang muncul saat bekerja. "Keaton Rollings umur 28 tahun anda sudah menikah, " tanyaku. "Sudah mam, " jawabnya singkat. "Sudah punya anak dan istri kerjanya apa?" "Hmm, istri sudah bercerai dan anak bersama saya. " Cerai? Berarti dia seorang duda tampan yang masih muda. "Oh maaf, kau tahu kan kalau kami butuh chef yang all the time selalu ada saat dibutuhkan dan hotel ini selalu ramai pengunjung tepatnya pada restorannya baik lunch maupun dinner. " Dia mengangguk seolah tahu apa saja yang akan dia emban di hotel ini. “Iya saya tahu dan saya siap bekerja all the time. " Iris cokelat itu menandakan keseriusan pada pekerjaan ini. Sedikit ada keraguan dibenakku karena seorang pria yang mempunyai anak tanpa istri apakah bisa bekerja penuh waktu. "Kalau begitu anakmu siapa yang mengurus?" "Anak saya berumur 10 tahun dia sudah besar dan mandiri. " Wow, sangat mengejutkan anaknya ternyata sudah besar, aku kalah jauh. Aku seorang wanita bersuami tetapi seperti seorang janda tanpa anak. "Ohhhh, akupikir usiamu masih muda dan anakmu masih kecil tetapi ternyata sudah sebesar itu." "Iya, menikah muda Mam," "Baiklah kau bisa langsung bekerja sekarang. Masalah tentang pengalamanmu itu mungkin sudah diseleksi personalia jadi tidak diragukan lagi, selamat bergabung, " ucapku sambil mengulurkan tangan kepadanya dan dia pun menjabat tanganku. Aku sedikit terkejut karena tanganku serasa tersengat aliran listrik. Genggaman tangannya begitu kuat dan kokoh juga hangat. Naluri wanita dewasaku tersentak, aku butuh belaian, aku butuh sentuhan tangan hangat ini untuk merambat ditubuhku tetapi, malangnya nasibku -- itu adalah khayalan. Khayalan wanita naif sepertiku. Setelah dia melangkah pergi, aku langsung menelpon Naomi. "Aku ingin makanan manis sekarang !" bentakku tanpa sadar Keaton masih berada di dalam dan berjalan menuju ke arah pintu, sontak dia terkejut dan berhenti menoleh ke arahku. "Ah, maaf bukan kau -- " ucapku sambil melihatkan gagang telpon dan dia mengangguk lalu pergi. Makanan manis selalu meredakan emosiku disaat aku harus melihat berita-berita itu untuk melupakan rasa pahit dalam hati yang kurasa selama bertahun-tahun. ** Naomi langsung menelpon F& B Manager (Food and Beverage) untuk menyediakan makanan manis yang diinginkan Madam Radella dan orang tersebut pun bergegas menuju dapur untuk melihat apa yang tersedia disana. "Lea, apakah ada stok tiramissu atau pun panacotta untuk Madam. " "Hmm, hanya red velvet cake, tapi biasanya Madam biasanya suka makanan yang basah tidak kering seperti cake, " gumam gadis manis berkacamata ini. Disela-sela obrolan mereka Keaton masuk dan memperkenalkan dirinya pada penghuni dapur. "Selamat pagi perkenalkan saya kepala chef baru disini ... mohon kerjasamanya," ucapnya sambil menunduk dan tersenyum. Semuanya pun menunduk kepadanya. Sedangkan kepala HRD yang membawa Keaton menuju dapur, keheranan ketika melihat Manager F&B berada disana dengan wajah bingung dia pun mendekati pria itu. "Kenapa wajahmu, seperti orang yang lagi akan berhadapan dengan Madam. " "Yah, kau tepat sekali Naomi menelponku dia sedang meminta makanan manis dan stok kita terbatas, " keluhnya dengan tarikan napas yang panjang. "Seharusnya kau siapkan itu 2 hari yang lalu, apa kau tidak membaca koran -- kau ini tidak tanggap." Perihal Ella dan suaminya bukan rahasia umum lagi bahkan semua karyawannya mengetahui itu dan kebiasaannya yang selalu memakan makanan manis untuk mengobati sakit hatinya. *** *Keaton* Aku hanya mendengarkan kicauan mereka, apakah hal seperti itu penting hingga seorang manager harus campur tangan. Aku mulai mengecek kelengkapan dapur dan mengenal siapa-siapa saja anak buahku yang bertanggung jawab sebagai Saos Chef, Cold Kitchen, Hot Kitchen, Butcher, Pastry, Demi Chef Commis 1 dan 2 serta Cook Helper. Ini masih pagi sekitar pukul 10 dan mereka telah membersihkan segala kelengkapan bekas sarapan pagi, aku pun mendekati mereka dan melihat beberapa menu yang telah terprogram disana. Bertanya kepada beberapa orang untuk mengetahui makanan apa yang favorit dan best seller . Setelah banyak bertanya kepada beberapa orang tadi aku berjalan mendekati seorang gadis manis yang lagi sibuk membuat sesuatu namun sepertinya sedikit ragu. "Apa yang kau buat? " "Ingin buat pie buah tetapi sepertinya anggurnya asam, jadi panacotta saja. " "Kalau asam beri gula yang banyak. " "Madam tahu kalau anggur manis alami atau dengan gula tambahan, dia tidak suka asam." "Ohh, ini untuk dia?" "Ya Chef, permintaannya paling lama ½ jam kalau belum siap beliau pasti marah dan bisa dipecat. " "Semudah itu dia memecat karyawannya. " "Ya Chef, Excecutive Chef terdahulu juga begitu, gagal dalam memenuhi kebutuhan pelanggan dan langsung dipecat. Jika ada pelanggan yang langsung komplen ke beliau karena tidak puas maka bersiaplah untuk dipecatnya. " "Ohhhh, pantasan hotel ini selalu konsisten ternyata pemimpinnya sangat keras walaupun seorang wanita. " "Ya Chef, makanya kami disini bekerja maksimal, hotel dan restorannya ramai pengunjung apalagi restorannya sampai jam 12 malam. Kadang capek juga Chef meski gaji besar. " "Itulah tantangan dalam bekerja, kalau sudah terbiasa dan kau mencintai pekerjaanmu maka capek itu hanya bumbu penyedap sebagai koki. Teruskan pekerjaanmu, nanti dia marah. " "Siap Chef. " Ternyata kepala HRD itu benar bukan ancaman seperti dugaanku, bahwa bosku ini adalah seorang yang perfectsionis dalam pelayanan dan pemecatan adalah hukuman tanpa maaf darinya sepertinya aku harus ekstra dalam menghadapinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN