*Ella*
Aku sedang menikmati makanan manisku ini dan perlahan air mataku menetes, sampai kapan lagi aku menunggu agar lepas darinya.
Kami berdua sepakat waktu menikah dulu tidak saling menuntut untuk keinginan masing-masing dan menerima tanpa mengeluh problem rumah tangga kepada orang tua.
Dan akan bercerai jika ada bukti perselingkuhan diantara kami , walaupun gosip beredar luas dia berselingkuh namun tidak ada satu pun bukti dia mencium atau pun berpegangan tangan dengan wanita lain.
Hingga detektif yang kusewa pun tidak berhasil mendapatkan foto mereka. Begitu ketat penjagaannya hingga aku tak mampu menembusnya.
Apakah aku yang harus membuat skandal hingga aku bisa lepas secepatnya dari dia. 5 tahun menunggu aku lelah. Lamunanku berhenti karena bagian dekorasi hotel menemuiku.
"Ada apa?"
"Ada masalah sedikit Madam, ballroom hotel kita sepertinya kurang cukup untuk acara nanti malam dengan kapasitas 3000 pengunjung. "
"Masalahnya ada dimana?"
"Dekorasi dan menu yang banyak membuat ruangan menjadi penuh, jika Madam ingin lihat mari ikut saya. "
Aku pun berdiri dan berjalan mengikutinya, melihat kondisi ballroom terluas kami itu yang katanya tidak cukup, kemudian dia menjelaskan terinci dari ujung ke ujung rencana dekornya.
Aku mulai menggunakan kekuasaanku mengatur hotel ini. Kulihat Kepala Chef baru itu juga disini, ini tantangan baginya karena hari pertama dia bekerja harus melayani kepuasan ribuan tamu yang hadir malam ini.
Dia sanggup atau tidak, tetap masuk dalam penilaianku karena kualitas pelayanan nomor 1 pada hotelku .. dan orang yang berani bekerja denganku berarti siap dengan konsekuensinya, aku harap bagian HRD telah mengingatkannya.
Aku berjalan kesana kemari mengintruksi semua pekerja dalam ruangan ini. Terlalu fokus menata aku jadi tidak sadar bahwa daritadi aku menjadi pusat perhatian mereka,
aku sadar karena pakaianku ini terlihat ketat dibagian pinggul mungkin bagian belakangku terlihat menantang dihadapan kaum Adam yang hampir semua berada disini.
Belum lagi belahan dadaku terlihat karena shawl-ku tadi sengaja aku lepas karena merasa gerah dan lupa aku pasang kembali. Dadaku tidaklah besar tetapi menonjol keluar mungkin karena bra yang aku pakai ini memanipulasinya.
**
*Keaton*
Berada dalam satu ruangan yang besar meski jarak agak jauh aku bisa melihat bosku itu turun langsung mengatur dekorasi ruangan untuk malam ini.
Kuperhatikan seluruh pekerja begitu fokus kepadanya, kupikir karena dia tegas hingga semua karyawan berada di dekatnya dan mendengarkan semua intruksinya tetapi, saat aku lihat sedikit demi sedikit mereka mulai bekerja dan mulai menjauh darinya ternyata penampilan bosku itu membuat mataku tak berkedip memandangnya walau dari jarak jauh.
Leher jenjang dan mulus, rambut coklatnya yang tergerai. Kemeja hitam ketat yang terbuka lebar di bagian d**a hingga tonjolan itu nampak mencuat ke atas, aku tidak melihat keseksian itu tadi pagi karena tadi dia menggunakan shawl, belum lagi rok span mini ketat dan bagian belakang yang tebal dan tinggi seperti roti yang baru mengembang di dapur tadi. Pantas saja mereka senang berada di dekatnya.
Saat aku masih sibuk menghitung meja untuk menempatkan makanan nanti, dia berjalan ke arahku karena bunyi hentakkan sepatunya mendekatiku.
Kumohon jangan bicara padaku karena aku mungkin tidak fokus menatapnya,
"Keaton, " panggilnya.
Aku terdiam, pura-pura tidak mendengar,
"Keaton!" panggilnya lagi lebih keras.
"Ah, ya -- Madam, " ucapku langsung menatapnya tetapi tetap saja belahan di bawah itu nampak jelas.
"Berapa meja untuk menu utama jika 3000 orang?"
"10 meja, " ucapku singkat.
"Bisakah hanya 5 meja saja, "
"Bisa Madam berarti penambahan diperketat untuk tiap meja. "
"Oh, ya aku dengar mereka pesan sushi apa kau bisa membuatnya, setahuku kami belum pernah menyiapkan menu sushi dalam partai besar. "
Shit!!!
Aku mengumpat dalam hati karena bosku ini mendekatkan tubuhnya kepadaku untuk melihat beragam menu itu yang berada ditanganku. Dan aku harus melihat gundukkan mulus itu dan tanpa sengaja aku meneguk liurku kasar.
"Tidak masalah Madam, aku sudah biasa membuatnya tetapi kita buat berbagai macam rasa bisa campuran buah, ikan, sayur dan lainnya. Diperkirakan mereka dapat merasa semua jenis. "
"Baiklah, kuharap dalam acara ini kau sukses mengatur menunya, aku suka improvisasimu good luck. "
Dia pun tersenyum manis.
“Thank you”
Aghhhh!!! Ada apa denganku, senyuman kecil itu seakan manis bagiku. Memperlihatkan betapa sensualnya bibir mungil itu merekah. Otak kotorku bekerja seakan memerintahku untuk segera melumat bibir manis yang sensual itu serta meremas gundukkan kenyal itu yang terpampang jelas dimataku. Adikku di bawah telah tegak dan siap untuk menghujamnya.
Shit!
Dia bosku, apa yang aku pikirkan ini!
Ya Tuhan, pulang ini aku harus melampiaskan pada Lucy. Lucy kekasihku yang baru 3 bulan lalu aku menjalin kasih dengannya. Aku bercerai 3 tahun lalu, aku tidak bisa sendirian terus karena aku butuh pelampiasan untuk memuaskan nafsuku.
Sebagai Chef aku lelah berfikir untuk menu-menu baru yang memuaskan lidah para pecinta makanan.
Aku bukannya penggila hal itu tetapi aku butuh seseorang yang bisa memuaskanku dan aku puaskan hingga semangat hidupku terus bertahan. Aku bisa saja bercinta berjam-jam tanpa lelah dan itu membuat tubuhku segar saat bangun pagi dan ide baru bermunculan dipikiranku.
Seolah kebutuhan biologis itu adalah obat mujarab yang mampu menciptakan rasa baru/transformasi makanan baru setiap hari. Namun tidak semua wanita mampu menjadi partner karena mereka merasa lelah bercinta denganku yang tak kunjung puas seperti mantan istriku.
Aku bercerai dengannya karena dia tidak punya waktu untuk memuaskanku dan selalu merasa capek karena dia juga seorang chef handal. Masing-masing orang punya kebutuhan kalori yang berbeda-beda demikian juga kebutuhan biologis.
Jika aku butuh banyak waktu untuk melakukan itu namun ada orang yang hanya berapa menit juga sudah puas, maaf saja kalau seperti itu, kuanggap hanya makanan pembuka. Sekarang aku harus menyiapkan semua kebutuhan untuk malam nanti.
"Chole, masak nasi 10 kg dan jangan lupa rumput laut panggang sekitar 2 kg. "
"Baik, Chef. "
"Ana, kau bersih ikan salmon dan juga udang yang akan dibuat tempura setelah itu marinate semuanya. "
"Siap, Chef. "
"Tania, kau bagian pastry dan pastikan untuk menu penutup. "
"Baik, Chef. "
Dan bla ... bla ... bla
Ada 2 menu utama yang akan disajikan dan sushi sebagai hidangan pembuka sesuai dengan permintaan orang yang memesannya dan cremeschnitte dari pastry sebagai makanan penutup.
***
*Ella*
Aku pulang lebih awal setelah melihat ballroom hotel , biasanya aku pulang pukul 3 sore tetapi karena berita itu mood-ku memburuk dan aku ingin melampiaskan kekesalanku pada samsak tinju di ruangan gym-ku.
Aku benar-benar kesal melihat 2 koran itu ... 5 tahun kurasa penantianku sebagai istri sia-sia. Menangisi orang yang tidak peduli kepadaku dan mungkin ini tahun terakhir kami bersama.
Malam ini ada acara penting di hotel, sebenarnya aku tidak ingin datang karena kekesalanku ini. Ingin sekali aku melemparkan koran itu ke wajah suamiku, manamparnya berkali-kali bahkan mungkin meninju wajahnya yang sok tampan itu.
Tetapi tentu tidak bisa karena kami tidak pernah bertemu atau pun berbicara setelah pernikahan terjadi. Dia datang saat aku sudah tertidur atau saat aku bekerja dan saat aku pulang kerja dia sudah tidak ada
.
Setelah puas aku melampiaskan kekesalanku pada samsak yang tak berdosa itu, aku pergi ke ruang spa pribadiku untuk dipijat dengan para pegawai khusus yang aku sewa dari salon favoritku dan setelah itu aku berendam air hangat.
Aku harus tampil segar malam ini bahkan aku ingin tampil cantik malam ini, aku akan menjadi bukan aku.
Aku ingin seluruh orang melihatku, pesonaku dan seluruh keindahan yang aku miliki. Aku akan membuat pria yang menyandang suamiku itu menyesal telah mengabaikan aku bahkan akan melepaskan aku sebentar lagi.
Gaun merah dengan belahan sebelah kiri hingga pinggang, punggungku bebas terbuka hingga bawah pembatas bokongku dan tali gaun itu melingkar di leherku, belahan d**a yang lebar, untungnya dadaku tidak terlalu besar jika tidak menggunakan bra maka tidak terlalu keluar dari balutan gaun namun terlihat jelas dari samping.
Dengan sepatu high heels hitam dan rambut yang aku sanggul ke atas, aku siap berpesta.
Pesta ini menghadirkan para pengusaha kelas atas di kota ini dan aku mewakili suamiku sekaligus sebagai General Manager hotel tempat diselenggarakannya acara tersebut.
Aku tidak bermaksud untuk mencari atau merayu para tamu yang datang tetapi tujuanku hanya satu yakni agar aku terekspos kamera dan berita tentang penampilanku ini akan menyeruak dalam berita nasional maupun media massa. Aku harap sampai ke luar negeri hingga dia bisa melihat penampilanku. Bukan hanya dia saja yang bisa tampil di headline news tetapi kali ini harus aku yang kau lihat, wahai suamiku.