Istri Sah dan Sang Mantan

1399 Kata

Aku tersenyum menyambut kedatangan suamiku. “Gimana acara pamerannya, Mas?” tanyaku. “Lancar,” jawab Mas Harris, singkat. Dia pasti kelelahan, dari raut wajahnya aku bisa melihat energinya seperti terkuras habis. “Aku siapin air hangat buat kamu mandi, ya,” ujarku. Mas Harris tak menolaknya, dia mengangguk, lalu duduk di sofa dengan raut penatnya. Setelah itu aku melangkah pergi, menyiapkan air hangat untuknya. Dua hari yang lalu, aku dan Mas Harris sudah pindah ke rumah kami sendiri. Rumah ini memang tidak sebesar rumah mertuaku, tapi tidak juga sekecil rumah Ibu. Rumah ini adalah salah satu tempat tinggal yang dimiliki Mas Harris sejak dia bujang. Bisa dibilang, rumah ini sudah ada sejak lama, tapi setelah menikah denganku, rumah ini berpindah nama menjadi milikku. Sangat munaf

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN