“Assalamu’alaikum.” Aku bergegas menuju pintu utama saat mendengar suara Mas Harris yang baru pulang dari kerja. “Sayang,” panggilnya. “Wa’alaimussalam, Mas.” Aku menyambutnya dengan senyum yang terbingkai di wajah. “Kamu lagi masak, ya?” tanya Mas Harris, matanya menatapku lekat. “Bau, ya?” Aku bertanya sembari mencium aroma tubuhku yang sedikit tercampur dengan aroma bawang. “Iya, bau wangi,” kata Mas Harris, tangannya tiba-tiba mengusap kepalaku lembut, membuatku tersipu karenanya. “Kamu kok tumben pulang cepet, Mas?” tanyaku kemudian. “Emangnya aku enggak boleh pulang cepet?” Mas Harris balik bertanya. “Bukannya enggak boleh, tapi belakangan ini kamu kan sering pulang telat terus,” tuturku. “Kamu juga bukannya lagi sibuk sama pameran tahun ini?” Aku melanjutkan. “Persiapan unt

