Aku berjalan mendekati ibu mertuaku yang tengah duduk di ruang tamu. Kemudian, aku ikut duduk di depannya sembari meletakkan teh hangat yang tadi kubuatkan untuknya. “Silakan diminum, Ma,” ujarku, sopan. Mama Hanum tampak melengos, seolah masih menyimpan kesal padaku. “Mas Harris masih kerja, Ma. Kalau Mama mau ketemu sama Mas Harris, Mama bisa dateng sore nanti,” tuturku. “Kamu pikir mama enggak tahu kalau suami kamu itu lagi kerja. Mama dateng ke sini bukan untuk ketemu sama Harris, tapi sama kamu,” tukas Mama Hanum. Aku diam mendengar amukannya. “Ibumu mana? Besannya dateng kok enggak disambut,” cakap Mama Hanum. “Ibu lagi enggak ada di rumah, Ma,” jawabku. “Lagi pergi ke pasar,” terangku padanya. Mama Hanum terdengar membuang napasnya kasar, lalu beliau terlihat mengibaskan tan

