Suara ketukan pintu dari luar kamar rawat Mas Harris terdengar. Aku sontak menoleh. Tak lama kemudian, pintu kamar rawat itu dibuka oleh seorang laki-laki dengan jas dokternya. Kak Steven, pria itu mengurai senyum ramahnya. Aku lantas bangkit dari dudukku sembari mengangkat piring berisi buah apel yang baru selesai aku kupas, lalu meletakkannya ke atas meja. “Kak Steven.” Aku menyapanya dengan sopan. “Apa aku ganggu kalian?” tanyanya. “Enggak kok,” jawab Mas Harris, senyumnya terukir tipis. “Maaf aku baru jenguk kamu, aku baru tahu dari Silla kalau kamu sakit dan dirawat di sini,” cakap Kak Steven. “Santai aja, lagian aku bukannya sakit keras, cuma sakit biasa,” kata Mas Harris. “Syukurlah kalau gitu,” ujar Kak Steven menanggapi. “Oh, ya, Dewi,” imbuhnya. Kini dia beralih

