Aku mengernyit heran menatap Silla yang tampak bersiteru dengan seorang perempuan yang tak kukenal. Yang membuatku semakin heran, perempuan itu sangat asing di mataku. Aku tidak pernah melihatnya selama ini. Apa dia pegawai baru di perusahaannya Mas Harris? “Bu Dewi,” sapa salah satu pegawai Mas Harris yang kunkenal sebagai sekretaris di kantor. Dia Bima. Aku yang memberitahu Bima tentang kondisi Mas Harris saat ini. Dan aku yakin dialah yang mengajak beberapa pegawai untuk datang menjenguk Mas Harris. Tapi tak kusangka yang datang cukup banyak, ada sekitar lima belas orang, termasuk perempuan yang barusan kulihat ditarik pergi oleh Silla. “Pak Harris ada di dalam, tapi sepertinya kalian tidak bisa masuk semua, atau mungkin kalian bisa masuk secara bergantian,” cakapku. “Bagaimana kal

