Aku tercengang mendapati Mas Harris berdiri di depan mataku. Tadi seseorang mengetuk pintu kamar Ibu, kukira siapa, saat aku buka, ternyata Mas Harris, laki-laki yang sangat aku benci di dunia ini, setelah ayahku. “Ada perlu apa kamu datang ke sini?” tukasku, menatap Mas Harris sinis. “Aku dapat kabar tentang kondisi Ibu, makanya aku datang ke sini karena khawatir sama kamu,” tutur Mas Harris, matanya teduh memandangku. Tapi tatapannya itu tak lagi membuatku terenyuh seperti dulu. Dia bukan pria baik, ingat itu Dewi. “Kamu enggak perlu khawatir sama aku. Lagian aku enggak butuh perhatianmu. Memangnya kamu siapaku.” Aku mencibirnya dengan nada sinis, seolah hatiku benar-benar sudah membeku terhadapnya. Aku tidak tahu dari mana datangnya keberanianku ini. Padahal dulu aku tidak pernah

