Setelah Mas Harris mengobrol beberapa saat dengan Ibu, aku menariknya keluar dari ruang rawat saat Riyo datang. Aku membawa Mas Harris ke area tangga darurat. Di tempat yang sepi itu, aku ingin pembicaraanku dengannya tak ada yang mendengar. “Setelah hari ini, tolong jangan datang ke sini lagi, dan jangan pernah lagi temui ibuku,” tegasku. “Kalau bisa, jangan pernah muncul di hadapanku lagi, kecuali di ruang sidang perceraian kita.” Aku menatapnya tegas. “Kalau aku tetep muncul di hadapanmu, kamu mau apa? Lagian, aku enggak akan pernah mau kita cerai,” ujar Mas Harris, jawabannya itu seperti sebuah tantangan untukku. “Denger ya, Mas. Aku diem aja soal perselingkuhan kamu, bukan berarti aku bakal sembunyiin kebusakanmu itu. Kamu tunggu aja, cepat atau lambat, aku akan ungkap perselingku

