Dewi menghela napasnya berat. Nafsu makannya seolah melayang saat dia harus duduk berhadapan dengan Harris. “Aku pikir kamu udah balik ke kantor,” cakap Dewi, nada suaranya terdengar ketus. Perkataannya itu sontak membuat semua orang yang ada di meja menoleh padanya, menatap Dewi heran. “Kalian berantem?” tebak Silla, dengan gamblang langsung bertanya seperti itu. “Berantem?” Dewi tersenyum miris. Andai saja dia dan Harris hanya sekadar bertengkar biasa, pasti hatinya tidak akan sesakit ini. “Anggap saja begitu,” ujarnya. “Berantem kenapa, Wi? Perasaan tadi pas di kamar Ibu kalian masih baik-baik aja,” komentar Bu Sari. Mendengar ibunya berkomentar, Dewi langsung mengukir senyumnya. “Bencanda kok, Bu,” ucap Dewi, sekilas dia menatap Harris sinis, lalu kembali menorehkan senyu

