Suasana rumah mendiang Bu Sari mulai sepi, beberapa tetangga sudah pamit pulang usai membantu memakamkan almarhumah. Dewi duduk termenung di sudut ruang tamu, matanya kosong menatap lurus ke depan. Sejak pagi tadi dia terus melamun usai semalaman menangis di dekat kamar jenazah. Lamunannya terlihat begitu panjang, hingga manik mata cokelatnya itu tampak tak berjiwa. Riyo yang melihatnya hanya bisa mendesah pelan. Kakaknya itu bahkan sejak pagi tadi sama sekali belum menyentuh makanan apa pun, setetes air pun tak juga diteguknya. “Kakak kamu masih enggak mau makan sama minum?” Steven mendekati Riyo yang tengah berdiri tak jauh dari Dewi. “Barusan aku udah coba minta dia untuk makan atau seenggaknya minum dikit aja, tapi dia sama sekali enggak respons,” ujar Riyo sembari menghela n

