Air mata mengiringi nasehat – nasehat yang diberikan pada sang adik ipar yang sedang kalut ini. Ingatan tentang bagaimana dia memperlakukan Ana membuat Air mata Bu Rina tak mampu dibendung lagi. “ Ajenk, mbak dulu salah dalam melangkah, mbak nggak mau dianggap ibu tiri yang membedakan anak kandung dan tiri , mbak justru mengabaikan Ana. Dan melihat Ana memilih lebih dekat dan terbuka dengan neneknya itu sangat menyakitkan “ melihat kakak iparnya yang berderai air mata , angan Ajenkpun melayang jauh membayangkan itu terjadi juga pada anaknya. Anak dalam kandungannya ini tetaplah anaknya, hasil perbuatannya sendiri , buah cintanya dengan sang suami. Tak adil jika dia harus mementingkan anak pertamanya dan mengabaikan calon anak keduanya. Sedikit demi sedikit hati Ajenk mulai terbuka dan

