6. TRIK LICIK TYAGA

1376 Kata
Tyaga sedang duduk di sofa empuk sebuah ruangan luas dengan aroma manis sebuah toko kue. Ya, sekarang ini dia berada di kantor milik sang oma sendirian, selayaknya cucu pemilik toko kue pada umumnya. Karena omanya sedang sibuk di dapur mencoba resep baru, katanya. Baiklah, memang sekarang tyaga ingin sendirian saja sambil menunggu omanya kembali. Setelah itu dia akan melancarkan rencananya. Tanpa terasa waktu sudah berlalu satu jam lamanya, hingga tyaga tertidur sambil menutup wajahnya dengan sebuah buku. “Hey, cucu kesayangan oma… ayo bangun…” panggil sang oma sambil menggoyangkan tubuh cucunya. Tyaga yang memang sulit dibangunkan ketika sudah terlelap itu hanya menggerakkan kepalanya, seakan sedang menolak semua gangguan yang ada disekitarnya. “Ayo, banguuuun….” panggil sang oma lagi. “Ish!!” gerutu tyaga tak suka. Plak!! “Aga, berani ya kamu sama oma!!” mendengar suara marah sang oma, tyaga langsung bangung dengan gelagapan. “Eh, oma…” kata tyaga sambil tersenyum canggung dan menggaruk tengkuknya. Lalu matanya melotot karena ada seorang gadis yang kemarin sempat membuatnya kesal sedang berdiri di belakang tubuh omanya. “Bi, maaf ya. Dia memang begitu, meskipun susah dibangunin tapi dia ini anak baik kok.” Kata wanita berumur yang masih terlihat cantik di usianya bernama lisa ini. “Ng-nggak papa, oma.” Jawab bianca dengan sedikit senyuman yang nampak di bibirnya. Hal itu tentu saja sampai di mata tyaga. ‘Ternyata bisa senyum juga dia.’ Lalu tyaga menggelengkan kepalanya saat sadar bahwa dia memperhatikan sedikit perubahan si ‘gadis taruhan’ yang seharusnya tidak terjadi. Setelah itu, dia menegakkan posisi duduknya dan mengambil buku yang tercecer di meja. “Kamu lagi ngerjain tugas ?” Tanya oma lisa. Tyaga hanya menganggukan kepala sambil mengecek lembar per lembar di tangannya, kemudian dia mencari di buku. Dan berakhir dengan mengetiknya di laptop. “Tugas apa ? Banyak ya ?” Tanya sang oma lagi. “Tuh, nanya gadis yang dibelakang oma tuh.” Jawab tyaga sambil menunjuk ke arah bianca menggunakan dagunya. Tapi lisa bingung dengan yang di maksud oleh sang cucu. Dia bahkan memutar tubuhnya dan melihat ke arah bianca. “Emang kamu tau, bi ?” Tanya oma lisa pada bianca. “Iya oma, kebetulan bianca yang jadi asisten dosen mata kuliah itu.” Jelas bianca dengan wajah datar yang diakhiri dengan sedikit senyuman tipis. “Oh…. Bagus dong, ga. Kamu bisa minta ajarin bianca buat ngerjain tugasnya.” Sebuah ide dari lisa adalah tujuan tyaga datang dan menunggu sang oma selama beberapa jam tadi. “Bisa kan, bi ?” Bianca hanya mengangkat wajahnya dan menatap wajah oma lisa dengan bingung. “Mm…. B-bisa oma.” Langsung saja senyuman merekah nenek tyaga ini menghiasi wajahnya. “Tapi oma, nanti kalo bianca bantuin nggak adil buat yang lainnya.” Jelas bianca lagi. Sejujurnya dia tidak ingin membantu, karena selama ini dia selalu berusaha sendiri. Sedangkan kali ini dia harus membantu seorang pria. Dan dia adalah mahasiswa satu tingkat di atasnya. Tyaga yang awalnya sudah sangat percaya diri akan mendapatkan bantuan dari bianca agar bisa melancarkan aksinya langsung merasa kesal mendengar jawaban gadis itu. Selama ini banyak sekali yang ingin bisa dekat dengan tyaga, tapi selalu dia tolak. Lah ini, malah si gadisnya yang menolak. Seolah - olah tak tertarik sama sekali dengan tyaga. “Tapi…. Bi. Coba pikiran lagi ya, sayang.” Bujuk oma lisa untuk terakhir kalinya. Setelah itu bianca keluar meninggalkan atasan dan cucunya. Tyaga terus memperhatikan bianca sampai benar - benar tak terlihat dari ruangan. “Sedih ya, bianca nya nggak mau bantuin ?” Tanya sang oma yang kini sudah duduk disebelah cucunya. Lisa mengusap sayang punggung tyaga, seakan dia masih kecil. Tapi tyaga tidak protes. Baginya ini adalah bentuk rasa sayang sang oma dan juga mamanya. “Nanti oma bantu bujuk bianca ya.” Kata lisa lagi. Tapi tyaga terdiam. Dia tak bereaksi apapun karena sedang memikirkan sesuatu. “Oma…” “Hmm…” “Gimana kalo oma pecat bianca aja ?” Plak!!! Sebuah pukulan panas mendarat di punggung tyaga karena tangan gembul sang oma. “Hush!!! Jangan ngawur ya kamu, aga. Gimana bisa oma pecat bianca, dia kerjanya bagus banget. Bahkan beberapa resep baru dia yang ciptain.” Omel lisa panjang lebar membuat tyaga kembali tersenyum miris karena punggungnya terasa panas dan bagaimana sang oma sangat menyayangi gadis itu. “Nggak beneran dipecat, oma. Cuma diancem aja biar dia mau jadi tutor aga selama semester ini.” “Ohhh…. Bilang dong, sayang. Oma pikir kamu nyuruh oma pecat bianca.” “Enggak oma, tyaga nggak bakal ikut campur urusan toko roti. Tapi tyaga bener - bener butuh tutor.” Jelas tyaga dengan wajahnya yang dibuat sesedih mungkin. “…” lisa terdiam sambil terlihat sedang berpikir untuk menyetujui ide sang cucu atau tidak. “Gimana, oma ?” Tanya tyaga lagi. “Nanti oma coba, ya. Tapi kalo sampe bianca lebih memilih keluar dari sini. Oma mau kamu gantiin dia !!” *** Keesokan harinya, tyaga sudah menyelesaikan kelasnya siang ini. Dia berjalan menuju kantin bersama dengan kedua sahabat tampannya. Awalnya sikap tyaga terlihat biasa saja, tapi saat sampai di kantin tiba - tibanya sikapnya berubah. Hingga membuat fareta dan vero tercengang melihat perubahan itu. “Lo mau kemana, ga ?” Tanya vero saat tyaga tidak berjalan ke meja dimana mereka akan duduk bersama. “Mau kesana.” Jawabnya sambil berjalan ke meja dimana tempat bianca sedang sibuk bersama bukunya. “Dia nggak lagi sakit kan ?” Kali ini vero bertanya pada fareta. Sahabatnya yang satu itu hanya bisa menjawab dengan mengangkat bahu tanda tak mengerti. Tok…. Tok… Terdengar suara meja diketuk oleh tangan seseorang. Dan hal itu awalnya tidak mendapatkan respon dari bianca. Tapi tyaga tidak akan menyerah melihat sikap acuh bianca, dia kembali mengetukkan punggung jarinya ke meja. Mau tak mau bianca akhirnya mengangkat kepalanya melihat ke atas dimana seseorang mengganggu dunianya. “Hai.” Sapa tyaga sambil tersenyum manis. “…” tak ada jawaban dari bianca, hanya ada tatapan datar darinya saat melihat sosok tyaga dihadapannya. “Jadi gimana ?” Tanya tyaga lagi setelah dia sadar tak akan mendapatkan jawaban bianca. “…” bianca masih terus diam, lalu tatapan matanya kembali ke buku ditangannya. “Lo bakal bantuin gue, kan ?” Tanya tyaga dengan nada suara antusiasnya. “…” dan lagi - lagi tak ada jawaban dari bianca. “Oma udah bilang kan sama lo ?” “…” kali ini pun bianca masih tak menjawab. Tapi dia menatap tyaga dan menutup bukunya. Dengan senyuman yang masih mengembang, tyaga bersabar menanti jawaban dari gadis yang bernilai dua mobil sport milik kedua sahabatnya. Dasar b******k !! “Oh, jadi kau pria yang ingin mencari jalan pintas lulus dari mata kuliah itu dengan menggunakan nenekmu ?” Sindir bianca. Itu adalah kalimat terpanjang yang dikatakan olehnya dalam satu hari ini. “Itu bagian dari usaha, bukan ?” “Usaha apa yang kau maksudkan ?” “Belajar bersama.” jawab tyaga dengan wajah santainya. “...” bianca hanya diam saja sambil kembali membuka bukunya kembali. Dia rasa pembicaraannya dengan tyaga sudah selesai. Bianca sangat tahu apa tujuan utama pria yang duduk di hadapannya itu. Tujuan tyaga terlihat sangat jelas di matanya. Karena merasa tak mendapatkan perhatian dari bianca, tyaga langsung berdiri dan meninggalkan “gadis taruhan” itu sendirian. Mungkin gadis itu masih butuh waktu untuk memikirkannya. Tyaga juga butuh rencana lain jika ternyata nantinya bianca menolak permintaannya. Saat kembali ke meja dimana kedua sahabatnya berada, tatapan fareta dan vero sangat terlihat jelas menuntut jawaban dari tyaga. “Apa ? Lo berdua mau nanya kan gue ngapain ke sana ?” langsung saja kedua sahabatnya itu mengangguk. Sejak tyaga duduk di hadapan bianca tadi, baru kali ini akhirnya fareta dan vero kembali melihat sahabatnya berbicara dengan seorang wanita lagi setelah sekian lama. “Bukannya lo pengen gue dapetin dia ?” “Iya sih.” jawab vero. “Ya…. gue lagi usaha dapetin dia.” “Caranya ?” “Ada lah pokoknya. Lo berdua nggak perlu tau, yang penting nanti hasilnya.” kata tyaga dengan senyum mengembangnya. Fareta dan vero hanya bisa saling memandang sambil mengangkat bahunya. Setelah itu, terlihat jelas senyum penuh arti dari wajah tyaga saat memandang bianca dari tempatnya. ‘Kita lihat siapa yang bakalan menang.’ ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN