Setelah siang tadi harus menghadapi tyaga. Sekarang giliran sang oma yang harus bianca hadapi. Sejujurnya sulit bagi bianca menolaknya, karena oma lisa mengingatkannya dengan sang nenek. Biar bagaimanapun kehidupan menerjangnya, bianca tetap menyayangi keluarganya. Terlebih sang nenek.
Siapapun pasti pernah mengecewakan bianca. Tapi hal itu tidak pernah dia dapatkan dari neneknya. Jika begini, dia jadi merindukan nenek kesayangannya itu. Apa daya, keadaan membuatnya tak bisa melakukan hal itu. Termasuk menunjukkan rasa rindu.
Karena bagi bianca hal itu menunjukkan sisi terlemahnya. Dia tak ingin ada yang mengetahui sisi terlemahnya itu.
“Bi, apa kau benar - benar tidak bisa membantu aga ?” tanya lisa dengan wajah yang terlihat serius dari biasanya. Entah apa yan tyaga katakan, tapi perubahan sikap lisa ini membuat bianca semakin merasa tak nyaman.
“Ta-tapi, oma…”
“Ayolah, bi. Kau tau kan bagaimana tyaga jika sudah memiliki sebuah keinginan ?” mau tak mau bianca mengangguk dengan enggan. Karena sedikit banyak dia tahu bagaimana sikap tyaga dari cerita lisa.
“...” bianca hanya bisa diam.
“Kau tau kan, dia bahkan sudah memberikan ide yang membuat oma naik darah. Masa, anak nakal itu meminta oma memecatmu agar mau mengajarinya.” mendengar cerita lisa seketika membuat mata bianca membola sempurna.
“Sesusah itu ya mata kuliahnya ?” tanya lisa lagi.
“Sebenernya, itu hanya butuh menghafalkan teori dasarnya aja sih oma. Setelah itu nanti bisa aplikasikan semua hitungannya dengan mudah.” jelas bianca mau tak mau. Dia memang sudah sangat dekat dengan lisa hingga bisa berbicara sangat santai seperti ini. Tapi ini hanya terjadi saat mereka sedang berdua saja. Jika sudah berada diantara karyawan lainnya, bianca akan bersikap sebagaimana mestinya.
“Nah, itu kayaknya tyaga kesulitan deh bi. Oma mohon, ya sayang ?” pinta lisa lagi.
“Tapi, oma… nanti kerjaan bianca disini gimana ?”
“Kamu tenang aja, bi. Oma kasih kamu waktu cuti satu bulan. Nanti kalo nilai tyaga waktu uts bagus, kamu bisa balik kerja lagi disini.”
“...” bianca terlihat memikirkan semua kata - kata lisa.
“Tenang aja, bi. Oma bakalan tetep gaji kamu selama kamu temenin aga belajar.”
“....”
“Oma kasih dobel, bi. Hadiah buat kamu yang selalu berusaha untuk bekerja. Mau ya ?” bujuk lisa lagi.
“....” bianca masih terlihat berpikir. Sebenarnya mengajar juga bukanlah pekerjaan yang sulit, itu juga salah satu keahlian bianca. Lagi pula dia juga baru saja kehilangan satu pekerjaan paruh waktunya.
“Hanya satu bulan kan, oma ?” tanya bianca, dia harus memastikan lagi bahwa dia punya waktu satu bulan untuk mencari pekerjaan paruh waktu lainnya untuk menggantikan pekerjaannya di bar.
“Iya, cuma satu bulan.”
“Baiklah, bianca terima.” mendengar jawaban bianca, lisa langsung tersenyum lebar sambil menggenggam kedua tangan bianca yang berada di atas meja.
“Terima kasih, sayang. Kau memang yang paling bisa oma andalkan.” hanya ada senyuman tipis di bibir bianca mendengar pujian itu.
Pujian yang dulu pernah dia dengar dari seseorang.
Pujian yang dia dengar sebelum kehidupan mempermainkannya.
Tanpa sadar, bianca melamun.
“Baiklah, kalo begitu bianca pamit ya oma.” Pamit bianca.
“Bi ?”
“Iya, oma.”
“Jangan sampai aga tau ya permintaan oma ini.”
“I-iya, oma.”
Setelah itu bianca langsung keluar dari ruangan lisa tanpa bertanya alasan tyaga tidak boleh mengetahuinya. Senyuman langsung terlihat jelas di wajah wanita berumur itu.
‘Baiklah, kita buat satu bulan kalian bermakna.’
***
Keesokan harinya, bianca duduk di kursi dekat pos satpam depan fakultasnya. Dia sedang menunggu seseorang.
“Nunggu siapa, neng ?” sapa pak satpam yang bernama dudung itu.
“Nunggu temen, pak.”
“Oh, kirain neng bianca udah punya pacar sekarang.” Goda dudung.
“E-eng…”
“Kalo anaknya mau sih, pak.” Tiba - tiba terdengar suara seseorang yang ikut nimbrung dalam pembicaraan bianca dengan pak dudung.
“Eh, mas tyaga…”
“Gimana pak kabarnya, baik ?” Tanya tyaga basa - basi.
“Baik, mas. Ini temennya yang ditungguin ya neng ?” Kali ini pak dudung berbicara dengan bianca.
“Iya.”
“Oh, cuma temen aja. Sayang banget, neng.”
“Iya, sayang banget ya pak.” Tyaga ikut menimpali.
“Sayang kalo nggak jadian.” Lanjut dudung. Setelah itu terdengar nada tertawa tyaga dan dudung secara bersamaan seakan mereka sedang berdua saja hingga tak sadar bahwa bianca dengan wajah datarnya menatap kedekatan itu.
“Eh, yaudah ayo.” Tiba - tiba tyaga sadar sudah banyak tertawa di depan bianca.
“…” bianca hanya diam tapi tetap berdiri seakan mengikuti perkataan tyaga.
“Saya pamit dulu, pak.” Pamit bianca dengan sangat sopan pada dudung.
“Iya, neng.”
“Saya duluan, pak.” Kali ini tyaga yang berpamitan.
“Iya, mas. Dijagain ini neng cantiknya.” Canda dudung yang mendapatkan tepukan akrab dari tyaga di lengannya.
Setelah itu tyaga dan bianca jalan berdua. Ralat, bukan jalan berdua seperti pada umumnya. Tapi bianca berjalan lebih lambat dari pria di depannya itu.
“Lo ngapain di belakang gue ?” Tanya tyaga saat berbalik dan menemukan bianca dibelakangnya.
“Ya, jalan lah.”
“Gue tau. Tapi kenapa dibelakang gue ?”
“Ya kenapa emangnya ?”
“…” sesaat tyaga diam sambil memandangi bianca dari atas ke bawah hingga membuat gadis cantik dengan penampilan sederhana itu risih.
“Yaudah terserah lo aja.” Kata tyaga pada akhirnya membuat bianca merasa aneh dengan perubahan sikap pria itu.
Akhirnya mereka sampai juga di depan mobil milik tyaga. Lalu dia masuk begitu saja meninggalkan bianca yang masih terdiam membeku. Dia bukan sedang takjub dengan mobil tyaga, tapi dia hanya bingung harus duduk dimana.
Melihat bianca yang masih berdiri di samping kiri depan mobilnya membuat tyaga berdecak kesal.
“Dasar cewek udik, nggak pernah apa liat mobil mewah ?” Katanya sangat lirih hingga hanya tyaga sendiri yang bisa mendengarnya.
“Lo ngapain sih ?” Tanya tyaga saat dia akhirnya kembali turun dan berbicara sambil menunjuk bianca.
“Apa ?”
“Lo mau berdiri aja disitu ?” Bianca menggeleng.
“Terus ?”
“…” bianca diam, dia ragu ingin menyampaikan pertanyaan itu.
“Mau gue bukain pintunya ?” Bianca kaget saat mendengar pertanyaan yang menurutnya lebih seperti tuduhan itu.
“Enggak. Nggak perlu.” Jawab bianca dengan tegas. Tapi sebelum tangannya sampai di handle pintu secara tiba - tiba dengan gerakan cepat tyaga membukanya untuk bianca.
Bianca bertanya - tanya mendapat perlakuan seperti itu.
“Gue bisa buka sendiri.” Katanya.
“Gue tau !! Gue juga ogah bukain pintu buat lo. Tapi buat kali ini lo harus mau gue bukain pintu. Sekarang masuk. Dan lo harus senyum!!!” Perintah tyaga dengan suara pelan tapi penuh penekanan.
“Ngapain gue harus ngikutin omongan lo ?”
“Udah ikut aja!”
“Nggak ada !!”
“Buruan!!!”
“…” dengan sangat terpaksa bianca tersenyum. Dia bukan takut dengan ancaman tyaga, tapi saat dia sempat menolehkan kepalanya tadi dia melihat gadis yang menjadi salah satu penggemar tyaga garis keras.
“Makasih.” Kata bianca saat dia sudah duduk di kursi sebelum tyaga menutup pintunya.
Kata itu seketika membuat tyaga merasa aneh. Kenapa perlakuan kecil seperti ini membuat orang kaku seperti bianca mengatakan terima kasih padanya. Padahal selama ini tidak ada yang bersikap seperti00 itu padanya.
Para gadis yang mendekati tyaga hanya ingin merasa berbangga diri dan unggul karena bisa berbicara akrab dengannya. Mereka merasa spesial. Dan menilai gadis lainnya lebih rendah darinya.
Itu baru berbicara saja. Bagaimana jika tyaga melakukan hal seperti itu pada mereka ?
Mungkin gadis itu akan semakin sombong. Dan yang jelas tak akan ada kata terima kasih yang keluar.
Dan untungnya selama ini tyaga tak pernah tergoda atau melirik mereka sama sekali. Kecuali satu gadis bernama angeline.
Tyaga masih menghargai angeline karena keluarga mereka dekat. Tapi tyaga selalu bisa menjauhinya dengan berbagai cara. Termasuk dengan melakukan hal barusan.
Dia yakin pasti angeline sekarang sudah jingkrak - jingkrak karena merasa kalah dengan bianca.
Setelah sadar bahwa sedikit sikap bianca membuatnya sedikit tergugah, tyaga menggelengkan kepalanya.
‘Inget tujuan lo, ga. Inget dia cuma cewek miskin yang bernilai dua mobil sport fareta dan vero.’
Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya ditemani keheningan. Tyaga dan bianca tidak memiliki hubungan apapun sebelumnya, bahkan berteman saja tidak. Jadi tak ada bahan pembicaraan diantara mereka.
Lagipula dengan karakter bianca yang kaku dan pendiam sudah pasti tidak akan suka dengan basa - basi.
“Mau belajar dimana ?” Tanya bianca pada akhirnya memecah keheningan. Jujur sejak tadi dia ragu. Tapi dia benar - benar tak bisa percaya pada tyaga walaupun omanya sendiri yang meminta.
“Di cafe.” Jawab tyaga. Sesuai tebakan bianca bahwa orang seperti pria disampingnya ini pasti lebih suka belajar di cafe daripada perpustakaan.
Jawaban tyaga tadi sudah cukup membungkam bianca.
Beberapa menit perjalanan mereka sampai di salah satu cafe yang terkenal mewah dan digemari mahasiswa seperti mereka.
“Turun!!” Perintah tyaga saat bianca masih memandang bangunan di hadapannya ini dengan teliti. Tapi di mata tyaga sikap gadis disampingnya ini terkesan sangat udik.
“…” bianca diam dan tetap turun sambil terus menatap bangunan itu.
“Kenapa ? Lo nggak pernah kesini ?”
“Enggak.”
“Udah gue duga.”
“…” tapi bianca kembali diam dan tak ambil pusing dengan kata - kata cemooh tyaga barusan.
Mereka masuk dan memilih meja untuk dua orang. Tyaga langsung memesan minuman dan cemilan untuknya. Sedangkan bianca hanya duduk dengan tenang.
“Lo nggak pesen ?” Bianca menggeleng.
“Lo yakin nggak pesen ?”
“Yakin.”
“Gue bayarin.”
“Nggak usah. Gue juga punya uang.”
“Terus kenapa nggak pesen ?”
“Ya gue nggak mau. Masalah ?” Setelah perdebatan kecil itu selesai tyaga tak mempedulikan bianca lagi. Dia ke meja kasir untuk membayar pesanannya.
Lalu, tiba - tiba dari kejauhan tyaga melihat ada seorang pria mendatangi meja mereka.
Pria itu berbicara pada bianca. Walaupun bianca seperti tak memperdulikannya, tapi pria itu terus mengajaknya bicara.
‘Kok gue kayak pernah tau ya… tapi siapa ?’
***