Tyaga kembali ke meja dan sayangnya bianca sudah kembali sendirian.
“Ternyata banyak juga ya yang mau kenalan sama lo ?” Terdengar nada mengejek dari kata - kata tyaga. Lalu dia mengamati bianca yang sedang duduk saat dirinya masih berdiri. Tak ada yang spesial sama sekali. Bianca terlihat jauh dari kata menarik. Walaupun memang wajahnya yang sangat biasa tanpa polesan makeup sama sekali, tapi wajah bianca tetap cantik dengan kesederhanaan itu.
Hanya saja itu tidak berlaku bagi tyaga.
Dan untungnya bianca tidak terlalu menanggapi kata - kata tyaga dengan tetap diam dan menjawab dengan mengangkat bahunya cuek.
“Mana buku lo ?” Tanya bianca saat tyaga sudah duduk di depannya dan justru terlihat sangat sibuk dengan ponsel miliknya.
“Hmm…” dengan wajah cuek tyaga masih meneruskan kegiatannya bermain ponsel.
“Lo beneran mau belajar nggak sih ?” Terdengar nada kesal dari bianca.
“Kita bisa belajar besok.”
“Nggak!!! Nggak ada!! Mulai hari ini harus belajar!”
“…” tyaga hanya tersenyum mendengar bianca yang kesal dengannya.
‘Tenang, ini baru langkah awal."
“Kalo lo nggak mau belajar hari ini, mendingan gue kerja aja!!” Bianca sudah berdiri saat mengatakan hal itu. Gadis itu benar - benar kesal karena pria di depannya ini justru membuang waktunya untuk bekerja. Jika tahu akan begini, bianca lebih memilih pergi bekerja daripada mengikuti permintaan oma lisa.
Lihatlah cucu kesayangan oma lisa ini benar - benar tidak menghargai orang sama sekali. Bahkan dilihat dari sisi manapun tyaga memang terlihat tidak tertarik belajar.
Mereka berbeda, benar - benar berbeda.
Jika tyaga bisa membuang uang dan bersantai seperti ini, tidak untuk bianca. Baginya dua puluh empat jam ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Dia harus melakukan banyak hal. Dan selama waktu itu harus ada sesuatu yang bermanfaat.
“Emang lo mau kerja dimana ?” Tanya tyaga dengan suara meremehkan.
“Di toko roti lah, buat apa gue nemenin orang kek lo!!”
“Lo kan udah dipecat!!” Saat mengatakan hal itu, wajah tyaga benar - benar membuat bianca ingin naik darah. Dia benci dengan spesies manusia seperti tyaga ini.
“Siapa bilang ?”
“Maksud lo ?”
“Gue cuma dikasih waktu sama oma buat nemenin lo belajar selama sebulan !!” Setelah mendengar kata - kata bianca akhirnya tyaga meletakkan ponselnya dan memandang wajah serius bianca.
Benar! Gadis itu serius !
Tak ada kebohongan yang tyaga temukan di wajahnya.
“Tunggu disini.” Kata tyaga sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan bianca sendirian.
Sepertinya tyaga sedang melakukan panggilan. Dan bianca tebak pasti pria itu sedang protes pada omanya. Karakter seperti tyaga mudah ditebak.
Bianca menunggu tyaga cukup lama.
Lalu, tiba - tiba ponselnya bergetar.
*Bi, maafkan oma. Maaf sekali. Karena kali ini oma harus benar - benar memecatmu. Jangan marah pada oma ya, sayang. Setelah nilai tyaga bagus kau boleh kembali ke toko roti oma lagi dan bekerja. Maafkan oma, bi. Semoga kamu memahami posisi oma.*
“Sial!! Tyaga ini benar - benar b******k!” Makinya pelan setelah membaca pesan oma lisa.
Dan berselang lama, pria b******k yang baru saja di maki oleh bianca kembali dengan wajah secerah langit hari ini. Sungguh, sejujurnya bianca ingin memaki pria itu. Tapi dia ingat kemarahannya pun tak akan mengubah apapun yang sudah terjadi. Sama seperti kejadian di masa lalu.
“Lo kenapa ?” Tanya tyaga tanpa rasa bersalah.
“…” bianca hanya membalas dengan tatapan datar seperti biasa. Dia tak menunjukkan sisi emosionalnya di hadapan tyaga.
Tidak, walaupun tyaga sudah mengacau tapi bianca tak akan membiarkannya menang.
“Muka lo kenapa sih ?” Tyaga masih berusaha mengorek kemarahan terpendam bianca. Pria itu yakin gadis dihadapannya ini sedang menahan amarah.
“…” bianca masih terus diam.
Untuk beberapa menit suasana di antara mereka berdua masih saling diam. Tidak, bukan mereka lebih tepatnya hanya bianca yang diam. Sedangkan tyaga tengah sibuk dengan minuman dan cemilannya.
“Kita jadi belajar apa ?” Tanya tyaga lagi dengan nada suara yang terdengar sangat ceria di telinga bianca.
“Tugas yang gue kasih kemarin.” Kata bianca dengan wajah yang masih datar sambil membuka kertas tugas.
Tapi tyaga seakan tak peduli dengan kata - kata bianca. Bahkan dia masih terus makan dengan nyamannya.
“Udah, makan dulu aja bi. Lo nggak usah marah - marah gitu.”
Bianca hanya memandangi wajah tengil nan menyebalkan tyaga dengan sikap tenangnya.
“Mau ?” Kali ini tyaga menyodorkan sepotong sandwich ke arah bianca.
“Nggak, makasih.”
“Mau gue suapin aja ?” Bianca tidak mempedulikannya candaan tyaga. Sepertinya dia mulai terbiasa mendapatkan perlakuan kekanakan seperti itu dari tyaga.
“Yaudah kalo lo nggak mau, gue makan aja sendiri.” Katanya sambil menggigit sandwich dengan sangat lahap tepat di hadapan bianca.
“Udah ?”
“Udah apa ?”
“Udah puas main - mainnya ?” Lalu terdengar tawa tyaga karena berhasil membuat bianca kesal.
Setelah itu tanpa sadar dia mengacak - acak rambut bianca tanpa sadar. Untungnya reaksi bianca biasa saja. Karena setelah itu tyaga sendiri yang menjadi salah tingkah.
“Kalo lo nggak serius mau belajar, gue pulang aja!!” Ancam bianca pada akhirnya.
“Yakin ? Lo udah nggak ada pilihan lain. Bahkan kerja di toko roti juga eng…. Ups, jadi nggak enak bahasnya.” Pada akhirnya bianca hanya bisa memutar matanya kesal.
Akhirnya bianca benar - benar berdiri. Dia harus pergi meninggalkan pria yang sudah membuang waktu berharganya. Seharusnya sejak awal dia tolak saja permintaan oma lisa. Cucunya ini memang culas, bahkan dia rela menutup pintu rejeki bianca hanya demi kepentingannya sendiri.
“Mau kemana, bi ?” Tyaga menahan pergelangan tangan bianca.
“Pulang.” Bianca menjawab sambil menghempaskan tangan tyaga dengan kasar.
Setelah itu bianca benar - benar pergi meninggalkan tyaga sendirian di cafe itu, bukan sekedar ancaman.
Bukannya merasa bersalah, tyaga malah tertawa mengingat wajah bianca yang kesal tadi. Menurutnya ini menghibur sekali. Sudah lama rasanya dia tidak merasakan perasaan seperti hari ini.
Sedangkan bianca sudah duduk di salah satu angkutan umum untuk kembali pulang. Dia menahan semua kemarahan itu dalam kondisi lapar. Tapi dia tak punya pilihan lain selain menahannya.
‘Semua gara - gara si sialan satu itu. Bodoh lo bi, bisa - bisanya kehilangan pekerjaan gara - gara pria seperti itu.’ Maki bianca dalam hati.
Sepanjang perjalanan pulang, bianca yang memang duduk di kursi ujung belakang berulang kali menghembuskan nafas beratnya. Hatinya dipenuhi amarah tertahankan. Baru kali ini dia terlalu gegabah dan mengikuti perasaannya daripada logika. Dan berujung dengan penyesalan.
Bagaimana tidak dalam satu bulan ini dia kehilangan dua pekerjaan paruh waktunya sekaligus. Bianca melamunkan semuanya sampai tak sadar angkutan umum itu sudah berhenti di halte dekat rumahnya. Untung saja saat angkutan itu berhenti dia melihat ke sekitar, jadi dia buru - buru turun sebelum sopir melanjutkan perjalanan.
Panas yang terik, perut yang lapar, dan hati yang dipenuhi penyesalan sudah cukup menghancurkan hari bianca. Dia berjalan dengan lemas kembali ke rumah. Biasanya jam segini dia masih ditempat kerja. Tapi hari ini untuk pertama kalinya dia sudah berjalan pulang.
Untungnya ada minimarket dekat rumah yang menjual es krim, bianca memilih makan sekotak es krim untuk mengembalikan semangatnya yang hancur hari ini. Dia makan sambil berjalan pulang.
Hingga gadis itu tak sadar sejak tadi ada seseorang yang mengikutinya. Seseorang yang berusaha menjaganya dari kejauhan.
“Kau masih sama, bi. Semoga saja tidak dengan luka itu.”
***