9. ULAH ANGELINE

1778 Kata
Jika kemarin bianca sangat sial karena kehilangan pekerjaannya di toko roi karena tyaga, hari ini gadis itu semakin sial karena harus menghadapi pihak kampus. Entah apa yang terjadi, tiba - tiba saja beasiswanya berada dalam kondisi hampir diberhentikan. Ingin rasanya bianca berteriak dan mengajukan protes. Selama ini dia tidak pernah membuat masalah apapun, bahkan nilainya pun selalu bagus. Lalu, untuk alasan apakah yang mendasari mereka mengatakan ingin menghentikan beasiswa ini. Bianca merasa tidak mendapatkan keadilan disini. Bagaimana bisa Tuhan mengujinya seperti ini. Dalam waktu berdekatan satu per satu pekerjaannya hilang. sekarang biaya pendidikan yang diberikan atas usaha dan kecerdasannya juga berada diambang kehancuran. Entah apa lagi yang akan terjadi. Setelah satu jam lamanya bianca membicarakan dengan pihak kampus, dia keluar dengan wajah lesunya. Kali ini dia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa nya dan juga kelemahan dirinya. Karena memang bianca tak memiliki teman dekat satu pun, dia berjalan menuju ke arah kantin dengan wajah kehilangan harapannya. Dia tak peduli orang lain akan membicarakannya dengan penampilan seperti ini. Dan baru saja dia sampai dan duduk di meja yang biasa dia duduki, bianca meletakkan tas berisikan laptop di meja. Tiba - tiba…. BYUUURR!!!!! Kulit kepala bianca terasa dingin hingga membasahi pakaiannya. Tapi ini bukan karena keringat, melainkan seseorang yang sudah dengan sengaja menumpahkan jus jeruk tepat di kepala bianca. “Upss…. sorry…” terdengar suara seorang gadis yang bianca kenali wajahnya karena kejadian kemarin. “….” bianca dengan wajah tenangnya tidak bereaksi apapun, tapi tadi tangannya langsung reflek menjauhkan tas laptop dari dirinya. Tidak masalah jika hanya rambut dan pakaiannya yang basah. Asalkan bukan laptop yang menjadi saksi perjuangan bianca selama ini. “Gimana ? Udah terasa segar kan ?” tanya gadis bernama angeline yang merupakan fans tyaga garis keras itu. “….” Bianca masih terus diam, dia tahu apa alasan angeline melakukan ini kepadanya. Pasti karena kejadian kemarin. “Kok lo diem aja sih ? Kepala lo keluar asep tuh.” kata angeline yang terdengar menyindir diiringi tawa dari teman - temannya. Sepertinya hal seperti ini sudah sering terjadi, buktinya dari sekian banyak orang di kantin tak ada satupun yang ingin membantu bianca. Entah karena mereka tak ingin ikut campur atau tak merasa bahwa bianca adalah teman mereka. Saat masih asik tertawa melihat kondisi bianca. angeline lalu berbisik. “Jangan pernah mencoba mengambil sesuatu yang tidak mungkin lo dapetin.” Tapi lagi - lagi bianca tak peduli. Dia tidak tersinggung ataupun marah karena semua yang angeline katakan tidaklah benar. Bianca lalu berdiri dengan wajah dingin, kemudian angeline dan teman - temannya langsung terdiam. Sontak angeline bersama teman - temannya mundur dan menjauh dari bianca. Mereka pikir bianca akan membalas karena wajahnya yang sedari tadi tenang sudah berubah menakutkan. Kenyataannya bianca memutari meja dan berjalan menjauh begitu saja. Dia pergi meninggalkan angeline dan teman - temannya begitu saja. “TUNGGU!!!” panggil angeline sebelum bianca berjalan semakin jauh. Dia menyusul bianca lalu kembali berbisik. “Beasiswa itu akan benar - benar lepas dari genggaman lo kalo gue masih liat lo dan tyaga bersama.” bisiknya dengan suara yang penuh penegasan. Setelah itu, angeline kembali berjalan dengan sengaja menabrak bahu bianca dengan keras. Ini benar - benar memalukan bagi bianca, bahkan dirinya sudah menjadi bahan tontonan di kantin. Tapi tak ada satu pun yang ingin menolongnya. Mereka yang ada disana hanya bisa melihat, sebagian lagi juga hanya bisa berbisik - bisik. Bianca menghembuskan nafasnya berat, lalu dia menunduk dan ingin segera pergi dari sana. Tapi tiba - tiba ada sesuatu menutup bahunya. Sesuatu yang terasa seperti pelukan seseorang. “Angel!!!” panggil seseorang yang berada tepat di samping bianca. Mendengar hal itu otomatis bianca menolehkan kepalanya ke samping dan menemukan seorang tyaga dengan wajah angkuhnya sedang menatap sosok angeline yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri. Angeline yang mengenali suara tyaga tentu saja langsung berhenti dan membalikkan badan. Tapi betapa mengejutkan pemandangan yang sedang dia lihat barusan. Seorang tyaga memakaikan jaket miliknya ke tubuh gadis yang baru saja dia guyur jus jeruk miliknya. Bahkan matanya itu membulat sempurna saat melihat kenyataan bahwa tak hanya jaket tyaga saja yang menggantung di bahu gadis itu, tapi juga tangannya. “Tunggu disini.” kata tyaga pada bianca yang masih diam membeku karena terkejut. Sesaat kemudian, tyaga berjalan ke arah angeline. Pria itu berdiri tepat di hadapannya dengan wajah yang sangat angkuh. Angeline yakin ini bukan tampang angkuh seperti biasanya, dia yakin pria itu sedang marah padanya. “Ga…” baru sepatah kata keluar dari mulut angeline, tangan tyaga sudah terangkat dan memberikan kode bahwa dia tak ingin mendengar penjelasan apapun. “Gue udah liat semuanya. Lo mau jelasin apa lagi ?” tanya tyaga dengan nada suara dinginnya. Mendengar hal itu wajah angeline langsung berubah pucat. Selama ini tyaga tidak pernah peduli jika dirinya melakukan apapun pada gadis yang berusaha mendekatinya. Tapi sekarang reaksi tyaga sangat menakutkan. Siapa sebenarnya bianca ini ? “Tapi, ga…. Gue bener - bener bisa jelasin semuanya.” “Gue nggak butuh penjelasan apapun. Lo bener - bener lupa batasan, ngel.” kata tyaga dengan tegas. “....” Angeline hanya bisa diam sambil menundukan kepalanya. Sedangkan tyaga sudah membalikkan tubuhnya menjadi memunggungi angeline. Dia terlihat akan kembali berjalan ke sisi bianca. Tapi, sebelum itu… “Ngel…” panggil tyaga. “I-iya, ga ?” “Jangan pernah ganggu kekasih gue lagi !!” “Haa ? A-apa ?” “JANGAN GANGGU KEKASIH GUE !!” tyaga mengulang kalimatnya dengan tegas. “Kekasih ?” “Ya, bianca kekasih gue!!” kata tyaga untuk terakhir kali lalu pergi meninggalkan kerumunan itu dengan posisi bianca yang berada dalam pelukannya. Setelah kepergian tyaga si pria idaman para gadis itu pergi bersama bianca kekasihnya yang merupakan gadis penyendiri dengan kecantikan dan kepintaran yang luar biasa membuat semua orang mulai berbisik - bisik. Tentu saja disini yang dipermalukan bukanlah bianca. Justru angeline yang menanggung malu karena sikap tegas tyaga padanya didepan banyak orang. Angeline terus menunduk dengan perasaan yang dipenuhi amarah dan rasa cemburu, dia menghentakkan kakinya. Lalu berlari meninggalkan kantin dengan menabrak siapa saja yang menghalangi jalannya. Dari kejauhan dia melihat tyaga sedang merapikan rambut basah bianca dengan penuh kasih sayang. Bahkan hal seperti ini pun belum pernah angeline lihat sebelumnya. Cuaca yang panas dengan kondisi hati yang panas karena api cemburu akhirnya membuatnya berubah menjadi orang lain. ‘Lo liat aja, gue nggak akan biarin gadis miskin itu menang begitu aja !!’ janji angeline dalam hati. Sedangkan kenyataan sebenarnya yang terjadi diantara tyaga dengan bianca adalah pembicaraan satu arah saja. Sejak membawa bianca pergi dari kantin tadi, gadis itu terus saja diam. Bahkan beberapa kali tyaga mengejeknya dengan sebutan lemah pun tak membuatnya bergeming. “Lo kenapa ? Bukannya bilang makasih sama gue, malah diem aja. Jarang - jarang nih gue mau bantuin orang lain.” kata tyaga sambil mengambil bulir jus jeruk yang ada di atas kepala bianca. “....” bianca masih terus diam. “Rumah lo dimana ? Biar gue anterin.” “....” lagi - lagi bianca hanya diam. Karena tak kunjung mendapatkan balasan dari bianca, tyaga mulai tidak sabar lagi. Bukan berarti dia sudah menyelamatkan si gadis taruhan ini lalu bisa diperlakukan seenaknya. Hal seperti ini juga bukan sesuatu yang murah, selalu ada harga yang harus dibayar. Karena memang itulah keinginan tyaga. Lain kali dia harus berterima kasih atas ide angeline yang ternyata berguna juga untuknya. “Heh, bi, gue lagi ngomong sama lo !!!” tyaga kembali bernada menyebalkan seperti sebelum - sebelumnya. “Ini jaket lo gue balikin.” akhirnya bianca mengeluarkan suaranya walaupun terdengar sangat lemah dan kecil hingga hampir seperti sebuah bisikan. Tapi tyaga justru bingung dan tetap menerima jaket miliknya. Biasanya bianca akan mendebat atau mengatakan semua dengan jujur. Entah apa yang terjadi hari ini pada gadis itu hingga berubah menjadi pendiam seperti ini. “Gue balik dulu.” pamit bianca. “Eh, tunggu dulu..” tyaga menahan pergelangan tangan bianca. “Bawa jaket ini. Balikin kalo udah lo cuci.” lanjut tyaga sambil menyerahkan kembali jaketnya pada bianca. Tanpa ada jawaban apapun, bianca membawa jaket itu dengan wajah lesu. Dia berbalik dan berjalan menjauh dari posisi tyaga. Sepertinya bianca tak bisa menahan lagi air matanya, dia harus segera pergi menjauh dan kembali menyendiri. Bianca duduk di halte sambil menunduk, perlahan setetes air matanya jatuh membasahi pipinya. Dari kejauhan ada seseorang yang melihat sisi terlemahnya. Entah kenapa hal ini justru membuat hatinya tergerak. Lalu, keanehan membuat bianca sadar. Dia duduk hampir satu jam lamanya, tapi tak ada satu pun angkutan umum yang melewati halte kampusnya. Semakin melengkapi kesialan bianca hari ini sepertinya. Dia melihat jam di pergelangan tangannya, lalu menghembuskan nafasnya kasar. “Kayaknya angkot pun nggak bersahabat sama gue hari ini.” katanya lirih sambil berjalan mencari angkutan umum untuk membawanya pulang. Baru beberapa meter berjalan tiba - tiba bianca dihadang oleh beberapa pria dengan pakaian serba hitam. Pria itu menampilkan smirknya yang tak sadar membuat bianca bergidik ngeri dan melangkah mundur. “Hai, cantik… Kok bajunya basah gitu, pasti lo kedinginan ya ? Sini biar gue kasih pelukan hangat.” kata salah seorang pria dari tiga pria. Sedangkan yang lain berjalan ke belakang bianca. Akhirnya bianca terkepung. Dia melihat jaket tyaga yang menggantung di lengannya, lalu langsung memakai jaket itu. Kebetulan dia memang tadi menggunakan kemeja berwarna putih jadi saat basah tentu saja akan menampilkan apa yang ada didalamnya. Bianca merapatkan jaket tyaga dan memeluk tas berisikan laptop miliknya dengan erat. Seakan - akan itu adalah barang yang sangat berharga untuknya. Belum sempat dipertahankan dengan semaksimal mungkin, salah seorang pria yang berdiri dibelakang bianca langsung menarik tas laptop itu dan menghempaskannya ke tanah. BRAK!! Bianca sangat terkejut hingga tak percaya dengan hal yang baru saja dilihatnnya. Dia begitu marah dan langsung menerjang pria itu dengan pukulannya. Dia meluapkan semua emosi karena kejadian seharian ini sangat menguji kesabaran dan ketabahannya. Tapi bianca tetapnya hanya seorang gadis biasa, bagaimana pun dia sanggup menghadapi kerasnya hidup ini tak akan sama jika dibandingkan tenaga ketiga preman itu. Salah seorang diantaranya memeluk perut bianca dari belakang hingga dia bisa menendang ke segala arah. “TOLONG!!!!!” teriak bianca pada akhirnya. Untuk kali ini dia benar - benar membutuhkan bantuan orang lain. Tapi tak ada seorang pun yang melintas di jalan itu, sungguh kebetulan sekali. Ketiga pria itu menarik bianca mundur untuk masuk ke sebuah jalan kecil. Selama itu dia berusaha memberontak dan berteriak dengan sangat keras. Satu pria mendekat membekap mulut bianca, satu lagi tetap memeluk erat perut bianca dari belakang, sedang satu lagi yang sejak tadi terlihat sangat gelap mata melihat kecantikan dan tubuh bianca langsung berusaha membuka kancing kemeja atasnya. Bianca terus memberontak dengan air mata yang bercucuran. “b******k!!! MAU NGAPAIN LO SEMUA ?!!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN