Dengan sekuat tenaga seseorang datang dan menarik pria yang berusaha melecehkan bianca. Lalu, pukulan brutal diberikan dengan penuh emosi hingga kedua teman pria itu melepaskan bianca dan membantu temannya. Tapi hal itu tak bisa mengalahkan kemarahan seseorang yang datang karena melihat hal menjijikan di depan matanya. Bagaimana bisa ada seorang wanita yang harus melawan ketiga pria sekaligus ? Sangat tidak imbang.
Pukulan demi pukulan membuat ketiga preman itu babak belur dan membuat mereka akhirnya memutuskan untuk pergi. Sedangkan kondisi bianca sedang duduk berjongkok sambil mengeratkan pakaiannya yang sudah tak beraturan.
“Bi, lo nggak papa kan ?” tanya tyaga dengan nafas terengah - engahnya setelah berhasil membuat ketiga pria yang mencoba melecehkan bianca pergi.
Ya, tyaga yang datang dan menolong bianca. Sebenarnya tadi dia tak berniat ikut campur, karena mengingat dulu saat di bar bianca terlihat bisa melindungi dirinya sendiri. Maka dari itu tyaga memutuskan untuk mengawasi dari jauh. Tapi kenyataannya hal yang buruk justru terjadi. Tyaga langsung turun dari mobilnya dan menghampiri bianca.
Dan sekarang lihatlah sorot ketakutan terlihat jelas di mata bianca.
“Bi…” tyaga memanggil lagi dan berusaha mendekatinya.
“....” bianca hanya diam.
Tyaga akhirnya membantu bianca berdiri. lalu dia merapatkan jaket miliknya untuk menutupi kondisi kemeja bianca yang sudah tak berbentuk lagi.
“Gue anter pulang.” tangan bianca yang masih gemetar hebat itu akhirnya di genggam erat oleh tyaga untuk berjalan mengikutinya.
“....” tapi bianca terus diam dan hanya mengikutinya saja. Pikirannya sedang kacau, dia masih shock setelah kejadian yang baru saja menimpanya. Dan lagi - lagi dia mendapatkan pertolongan dari tyaga.
Akhirnya mereka berdua duduk di mobil dengan keadaan sunyi, tak ada yang memulai pembicaraan diantara keduanya. Hingga akhirnya tyaga memberikan sebotol air mineral ke arah bianca.
“Minum, bi.” katanya dengan penuh nada perintah.
Bianca hanya menerima air minum itu tanpa membukanya. Tubuhnya masih terasa lemas tak berdaya, bahkan untuk membuka tutup botol air minum itu saja dia tak sanggup.
Dan sepertinya tyaga menyadari akan hal itu. Dia mengambil kembali botol minum itu, membuka penutupnya, lalu menyerahkan kembali ke arah bianca.
“Minum.”
Mau tak mau bianca menerima dan meneguk air itu. Dia merasa lebih baik setelah minum tadi, tapi masih saja tak ada niatan untuk mengatakan apapun.
Waktu cukup lama berlalu, bianca dan juga tyaga tetap berada ditempat yang sama dengan situasi yang sama pula. Mereka masih didalam mobil dalam keadaan hening.
Tyaga juga tidak tahu harus berbuat apa. Atau mau mengantarkan bianca kemana. Lagipula ini adalah pertama kali dalam hidupnya memperdulikan orang lain hingga repot - repot menyalurkan kemampuan bela dirinya.
Sedangkan bianca juga terus diam sambil menundukkan kepala, dia melihat ke arah kuku tangannya dengan tatapan kosong.
"Dimana rumah lo ?" Tanya tyaga lagi setelah lama saling diam.
"B-bisakah lo anter gue ke halte terdekat ?" Bukannya menjawab, bianca malah menanyakan hal lain pada tyaga.
Terdengar suara decakan kesal dari arah tyaga. Dia memejamkan matanya untuk menahan sikap keras kepala bianca yang sepertinya tak ada obat.
"Bisa nggak lo jawab pertanyaan gue dulu ? Dan bisa nggak lo nggak keras kepala mau pulang sendiri setelah kejadian barusan ?" Tyaga masih menahan nada bicaranya sebaik mungkin. Dia tak bisa berbicara seperti biasa pada gadis disampingnya itu setelah melihat kondisinya.
"G-gue…. Biar gue pulang sendiri aja."
"CK!!! Lo bisa nggak sih bi hargai niat baik gue ?! Lo kira gue mau baik kayak gini sama semua orang ?"
Dan BOOM!!
Akhirnya emosi tyaga kembali meledak.
Di Hatinya penuh dengan kepahitan. Selama ini semua gadis berlomba - lomba mendekatinya. Dan gadis di sampingnya ini dengan begitu tak tahu dirinya masih saja menolak niat baiknya.
Niat baik yang tak beralasan.
Sikap peduli yang tak pernah keluar untuk orang lain.
Tyaga tak sadar bahwa dirinya sedikit berubah dari biasanya.
“Tapi….”
“Apa lagi ?” tyaga masih berusaha menahan diri.
“Tiap kali gue deket sama lo… selalu aja ada masalah yang terjadi.” kata bianca jujur.
“...” tyaga pun hanya diam dan tertegun setelah mendengarnya. Lalu dia mengambil nafas panjang sebelum akhirnya mulai menjalankan mobilnya lagi.
Bianca ingin kembali bicara, tapi melihat cara menyetir tyaga yang ugal - ugalan akhirnya dia kembali bungkam.
Bianca hanya ingin pasrah saja awalnya. Tapi lagi - lagi semuanya berubah.
CITT!!
Terdengar suara ban yang bergesekan dengan aspal dan mobil pun berhenti mendadak hingga hampir saja bianca jatuh terjerembab ke depan dan membentur dashboard.
“TURUN!!” kata tyaga dengan suara tegas dan angkuh.
“...” bianca hanya bisa diam sambil melihat di sekelilingnya.
“GUE BILANG TURUN!!!” ulang tyaga lagi dengan suara yang semakin tegas.
Dengan secepat yang dia bisa, bianca langsung membuka knop pintu dan segera keluar. Untung saja ini adalah halte yang sebelumnya tadi dia sampaikan pada tyaga. Setelah menutup pintu, belum sempat bianca mundur tapi mobil tyaga langsung melesat begitu saja meninggalkan dirinya.
Bianca tidak kaget, dia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Lagipula yang membuatnya lebih takut adalah sikap tyaga yang tiba - tiba baik padanya. Sulit baginya percaya begitu saja pada orang lain.
Lama sekali bianca melamunkan semua kejadian yang terjadi hari ini. Untungnya suara teriakan sopir angkutan membuyarkan lamunannya. Langsung saja bianca memilih duduk di dekat pintu. Dia tak ingin berada di tempat duduk yang terjepit diantara orang lain, selain karena rambut dan bajunya yang lengket karena tadi minuman milik angeline mendarat indah di atas kepalanya. Hal lain adalah bianca masih merasa takut. Walaupun tubuhnya sudah lebih tenang, tapi rasanya kejadian itu masih terngiang.
Rambut bianca yang tadinya tergerai kini sudah dikuncir, hingga hanya anak rambutnya saja yang tertiup angin. Sepanjang jalan bianca masih terus terdiam dan melamun. Dia tak sadar bahwa sejak tadi tyaga masih mengikutinya.
Ternyata pria itu tadi menunggu ditempat tak jauh dari letak halte berada.
Beberapa menit berlalu, tyaga pun menghentikan mobilnya tepat dibelakang angkutan umum. Tak sempat dia mencari tempat untuk berhenti, sebelum mobil lain memprotesnya dengan terus menekan bel. Akhirnya dia berhenti disana saja. Semoga saja bianca tak melihatnya.
Setelah melihat bianca turun dan berjalan menuju ke arah jalan tak jauh dari halte. Dengan sangat pelan tyaga terus mengikuti bianca sambil menjaga jarak. Dia tak ingin gadis taruhannya itu menyadari kehadirannya.
‘Dasar ceroboh, bisa - bisanya nggak sadar!’
***
Bianca pun sampai dirumah setelah harinya yang melelahkan ini. Dia buru - buru mandi dan membersihkan dirinya dari jejak - jejak pria yang hampir melecehkannya tadi. Beberapa bagian tubuhnya ada yang memar. Lalu dia melihat jaket tyaga yang masih menggantung di kursi. Dengan segera bianca meletakkan jaket itu di keranjang baju kotor, kebetulan sekali keranjangnya sudah penuh jadi ini memang saatnya mencuci pakaian.
Tiba - tiba…
Tok…. Tok….
Terdengar ketukan pintu depan. Bianca merasa aneh ketika ada yang datang dan bertamu kerumahnya. Dia jarang sekali menerima tamu, nyaris tak pernah malah. Selain tak memiliki teman, bianca juga jarang bersosialisasi dengan tetangga sekitar. Mungkin dia hanya menyapa sebagai bentuk kesopanan santunannya saja.
Sebelum membuka pintu, bianca sempat mengintip dari kaca jendela. Dan nyatanya tak ada siapapun di depan sana. Dia ragu apakah harus keluar atau tidak. Tapi diluar terlihat dua kardus pizza berukuran besar.
Kedua alis bianca mengerut sempurna. Dia bingung. Sekaligus penasaran.
Apa ini pesanan yang salah alamat ?
Atau memang untuk dirinya ?
Atau jangan - jangan ada yang ingin meracuninya ?
Seketika bulu kuduk bianca langsung merinding. Tapi tiba - tiba dia melihat seekor kucing yang mulai berjalan mendekat ke arah kardus di depan pintunya itu. Dia khawatir jika itu memang bukan untuknya atau memang salah alamat, setidaknya kondisi makanannya masih utuh.
Akhirnya bianca pun keluar dengan segera saat melihat kucing dengan bulu berwarna belang putih dan hitam itu semakin mengendus pizzanya.
"Eh, hus…. Hus…" usir bianca dengan kibasan tangan. Tapi nyatanya bukannya pergi, si kucing malah mendekat ke arah bianca.
Sontak bianca berteriak.
"AHHHH!!!!"
"HUSSS!!!! SANA PERGI DULU!!!" Usir bianca pada si kucing yang malah mengeong dibawah, karena sekarang ini bianca sudah berjongkok di atas kursi terasnya. Untung saja sebelum itu dia langsung mengangkat kerdus pizzanya.
Seperti memahami jika bianca takut padanya, si kucing pun akhirnya duduk sambil terus memperhatikan respon wajah bianca. Memang sejak dulu bianca tak memiliki ketertarikannya pada hewan, apapun itu. Selama ini dia tertarik pada tanaman. Dan itupun beberapa jenis bunga saja. Lalu, yang paling banyak dikoleksi adalah kaktus.
Mungkin hampir di sudut rumah bianca yang dulu ada pot - pot kecil kaktus. Entah kenapa dia sangat tertarik. Rasanya kaktus itu sangat mirip dengannya. Awalnya kaktus ditemukan di tempat - tempat beriklim hangat, sama seperti asal usul bianca.
Sekarang semua berubah, sama seperti yang terjadi dalam hidup bianca. Tapi dia masih tetap menyukai kaktus. Bahkan kini semakin mirip dengan filosofinya.
Memikirkan itu membuat bianca merindukan masa lalunya yang indah. Lalu tanpa sadar dia mulai duduk dengan nyaman di kursinya dan melupakan si kucing. Bianca melihat secarik kertas berwarna kuning dengan tulisan "Makanlah!". Sangat singkat, padat, dan jelas. Tapi disana tertulis pesanan untuk bianca.
"Dari siapa nih ?" Gumam bianca sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Tapi suasananya sepi seperti biasa, tak ada seorang pun disana.
"Meong…" terdengar suara kucing mengeong, lalu bianca baru sadar bahwa kucing itu mendekat ke arahnya.
"Kamu lapar juga, ya ?" Tanya bianca yang kini kembali melipat kakinya ke atas kursi. Setelah itu dia membuka kardus pizza itu dan mengambil satu potong untuk si kucing. Dengan sangat cepat kucing itu mengendus dan mulai memakannya.
Entah kenapa bianca merasa sangat senang, walaupun dia tetap tak menyukai hewan yang berada di bawahnya ini. Tapi setidaknya dia berbagi kebahagiaan dan rejeki.
"Makan yang banyak, terus pergi ya. Aku nggak bisa ngerawat kamu disini." Kata bianca pada si kucing. Dan si kucing hanya menatap ke arah bianca sebentar sebelum melanjutkan makannya.
Dari kejauhan seseorang memandangi bianca dengan wajah teduh. "Ini baru awal, bi."
***