Keesokan harinya, seperti biasa bianca masih datang pagi karena ada kelas di jam pertama. Wajah bianca nampak pucat dan tak bersemangat seperti biasanya, bahkan sapaan yang diberikan pada pak dudung pun hanya sekedar senyuman simpul. Dan lagi hari ini bianca juga harus mengajar di salah satu mata kuliah, sebagai pengganti seperti biasanya.
Hampir semua orang yang berpapasan atau melihat bianca dari kejauhan selalu berbisik - bisik. Sebenarnya dia tak terlalu ambil pusing untuk masalah itu, hanya saja terkadang hal seperti itu justru sangatlah mengganggunya. Terutama saat dia mengisi perkuliahan tadi, hampir seisi kelas berbisik - bisik entah mengenai hal apa. Mungkin karena kejadian kemarin atau mungkin ulah angeline lainnya.
Dan pada akhirnya perkuliahan itu hanya bertahan tiga puluh menit dengan d******i pembagian tugas seperti biasanya. Bianca sudah tak mau ambil pusing untuk masalah itu, yang jelas dia sudah melaksanakan tugasnya dengan baik.
Saat sedang berjalan dari kamar mandi menuju ke kantin, banyak sekali para gadis yang menatapnya dengan tatapan permusuhan. Bahkan ada yang dengan terang - terangan sengaja menabrakkan dirinya ke bahu bianca.
Untungnya mental bianca sudah sekuat baja, jiwanya pun sudah seluas lautan, jadi ini bukanlah apa - apa. Berulang kali kata - kata itu selalu terngiang di otaknya bagai mantra yang selalu membuat bianca tetap bersikap tenang.
Setelah duduk di tempat biasanya, tiba - tiba angeline bersama teman - temannya datang.
“Kok lo sendirian ? Mana tyaga ? Katanya kalian udah jadian ?” tanya angeline dengan suara yang sengaja dikeraskan agar semua orang mendengar sindiran untuk bianca.
“...” bianca terus diam sambil membaca bukunya, seolah - olah tak pernah ada angeline disana.
“Lo tuli ya ?! Gue lagi ngomong sama lo !!!” kata angeline dengan nada penuh kekesalan.
“....”
BRAKK!!!
“HEH!! GUE LAGI NGOMONG SAMA LO, JANGAN PURA - PURA NGGAK DENGER DEH!! MAU GUE SIRAM LAGI KEPALA LO PAKE JUS JERUK ?” teriakan angeline semakin menjadi, bahkan gadis itu sudah menggebrak meja agar bianca menyadari kehadirannya.
“...”
“Atau gue mau bikin lo…” kata - kata ancaman penuh penekanan angeline tak terselesaikan. Karena tiba - tiba tyaga terlihat datang tepat disampingnya.
“Bikin dia kenapa ?” tanya tyaga dengan wajah yang terlihat serius dengan senyuman yang terlihat mengerikan bagi angeline.
“Enggak…. Nggak papa kok, ga. Ya kan bi ?” tiba - tiba saja sikap angeline berubah saat tyaga hadir diantara mereka.
“Kenapa ? Lo tadi bukannya mau bikin kepala bianca dingin pake jus jeruk ?”
“Eh, itu…. Maksudnya buat diminum, ga. Bukan buat itu… lo tau sendiri lah, ga.”
“Enggak, gue nggak ngerti. Kalo emang lo mau bikin kepala bianca dingin, sekarang mana jus jeruknya ?” mendengar pertanyaan tyaga, angeline langsung menampilkan wajah bingungnya.
“Maksud lo mau beliin bianca minuman, kan ?” tanya tyaga lagi dengan wajah polos.
“Eh, iya… itu maksudnya.” setelah mengatakan itu angeline berbalik dengan wajah kesal, lalu dia menyuruh salah satu temannya untuk membelikan jus jeruk. Sungguh jika tyaga tak datang sekarang mungkin angeline akan menyiram kepala bianca menggunakan jus jeruk lagi.
Setelah beberapa saat, akhirnya angeline kembali sambil membawa nampan berisikan jus jeruk. Ralat, bukan angeline melainkan salah satu temannya. Tapi dengan tak tahu dirinya angeline berlagak seakan dia melakukannya sendiri.
“Bi, nih ada jus jeruk buat lo. Spesial! Ayo dicobain.” kata angeline dengan suara lembut dan ramah yang dibuat - buat.
“...” sejak tadi bianca masih terus memilih diam dan tak memperdulikan drama yang dilakukan angeline. Bahkan tyaga pun tak berusaha mengajaknya berbicara sama sekali. Mereka saling diam. Bianca bersama bukunya dan tyaga bersama ponsel miliknya.
“Bi…” panggil angeline lagi. Gadis itu sungguh - sunguh melembutkan suaranya untuk mendapatkan perhatian tyaga kembali.
“Lo minum dulu coba ?” kata tyaga dengan wajah datarnya.
“Gue ? Kenapa ?”
“Ya… gue takut aja lo racunin bianca.” mendengar kalimat yang terucap dari mulut tyaga membuat angeline melotot seketika.
“Ayo, diminum…” kata tyaga lagi. Angeline pun melihat ke arah teman - temannya dengan tatapan penuh tanya. Dan sialnya teman - temannya pun mengangguk dengan ragu dan tersenyum miris.
“Iya, nih gue minum.” kata angeline lalu mengambil gelas dan memasukkan sedotan ke dalam mulutnya. Wajah angeline terlihat biasa saja tapi semakin menyeruput minuman itu wajahnya pun mulai berubah. Tyaga pun diam - diam menyembunyikan tawanya.
“Bi…” panggil tyaga sambil menarik tangan gadis itu agar menoleh ke arahnya.
“...” walaupun tetap diam, tapi bianca mau tak mau menolehkan kepalanya karena ditarik.
“Tuh liat.” tyaga menunjuk ke arah angeline menggunakan dagunya, lalu tertawa.
“...”
“Seger banget kayaknya ya, ngel ?”
“Hehe… ya… gitu, ga.” jawab angeline terbata.
“Yaudah kalo gitu kita pamit dulu, ya.” kata tyaga sambil menarik tangan bianca untuk pergi dari kantin.
“Loh, ga…. Mau kemana ?”
“Mau kencan!!” jawab tyaga dengan suara lantang sambil tersenyum.
Hal itu tentu saja membuat angeline menghentakkan kakinya tak terima, bisa - bisanya dia lengah dan berakhir dengan tyaga yang berhasil mengerjainya demi seorang bianca. Selain bianca yang menjadi alasan utama, minuman tadi itu bukanlah jus jeruk manis. Temannya itu sengaja memasukkan garam ke minuman itu.
“b******k! Gara - gara lo nih!” angeline semakin marah dan memaki teman - temannya sebelum akhirnya pergi meninggalkan kantin.
Sedangkan bianca yang terus berjalan disamping tyaga hanya bisa diam, saat menyadari tangannya masih berada dalam genggaman tyaga tiba - tiba bianca menghentikan langkahnya.
“Kenapa ?” tanya tyaga dengan wajah bingung.
“...” bukannya menjawab, bianca hanya melepaskan tangannya dari genggaman tyaga.
Menyadari hal itu, tyaga pun akhirnya memilih memasukkan tangannya ke saku jaketnya.
“Lo mau dikerjain terus sama angeline ?”
“Nggak.”
“Terus kenapa lo diem aja ?”
“Karena gue lebih nggak mau beasiswa gue dicabut.”
“Oh…. urusan itu.”
“...”
“Gue bisa bantu.” lanjut tyaga.
“Maksud lo ?”
“Gue bisa urus beasiswa lo biar nggak jadi di cabut.” tyaga memperjelas maksud kata - katanya.
“Imbalannya ?”
“Ternyata lo langsung paham maksud gue, ya ?”
“...”
“Oke…. oke… imbalannya…. Lo jadi kekasih gue.” mendengar persyaratan tyaga membuat bianca memejamkan matanya.
“...”
“Anggap aja part-time.”
“Mana ada part-time jadi kekasih ?”
“Ada, kerja sama gue. Selain itu lo juga harus jadi tutor gue selama sebulan ini. Bener kan ?”
“...” bianca memutar matanya.
“Jadi kerjaan lo tinggal jadi asisten dosen doang, kan ? Gue yakin kerjaan yang lainnya udah nggak ada.”
“Terus ?”
“Ini kesempatan bagus, bi. Lo kasih gue tutor rutin dan pura - pura jadi kekasih gue. Tanpa harus jelasin pasti mereka berpikir gitu.”
“Apa jaminannya ?”
“Hmm, biar gue pikir dulu.”
“Gue aja yang pikirin.”
“Kenapa ?”
“Soalnya gue nggak mau ambil resiko.” setelah mengatakan hal itu bianca pergi meninggalkan tyaga sendiri.
Belum terlalu jauh jarak antara bianca dan tyaga, tiba - tiba…
“BI, AWAS!!!!” teriak tyaga sambil menarik bianca mendekat ke arahnya.
“Apa ?”
“Kucing tuh, bi.” kata tyaga sambil menunjuk ke arah kucing didekat kaki bianca.
Tapi reaksi yang ditunjukkan oleh bianca sangat tenang, walaupun bulu kuduknya sudah berdiri tegak. Sayangnya dia tak bisa menunjukkan rasa takutnya itu, bianca menahan diri dengan menjauhkan diri dari tyaga dan kucing itu tanpa banyak bicara.
Jika dipikir lagi, darimana tyaga tahu bahwa dirinya tak berani dengan hewan bernama kucing ?
Setelah mereka sudah berdiri dengan jarak yang cukup jauh, tyaga kembali memandang wajah bianca yang tak ramah lingkungan sama sekali. Gadis itu sangat mirip dengan dirinya, keras kepala, terkadang angkuh, dan juga memiliki harga diri yang tinggi.
“Bi…” panggil tyaga.
“Apa ?”
“Gue kasih gaji dua kali lipat buat kerjaan ini. Lo pikirin baik - baik.” Lanjut tyaga.
“…”
“Gue tau lo pinter. Dan gue yakin lo juga bukan tipe yang bakal sia - siain kesempatan. Semua akibat gara - gara angeline gue siap bantu ditambah gaji dua kali lipat.”
“…” bianca masih diam dan mendengarkan tyaga.
“Gue kasih waktu lo tiga hari, bi.” Kata tyaga sebelum pada akhirnya pergi meninggalkan bianca sendiri bersama kucing tadi berdiri diantara mereka.
Sebenarnya tawaran tyaga sangat menggiurkan, apalagi disaat sulit dan krisis seperti ini. Bohong jika bianca tak terpengaruh tawaran tyaga. Tapi di sisi lain dia juga tak bisa sepenuhnya percaya begitu saja pada pria itu.
Baginya semua pria itu sama saja. Mereka hanya bisa memberikan luka tanpa bisa mengobatinya. Janji mereka pun semua seperti pasir dalam genggaman, dimana semakin kuat menggenggamnya maka akan semakin terlepas. Sejak kejadian di masa lalu, bianca tak pernah berekspektasi pada orang lain lagi.
Dia hanya terus berusaha dan mengandalkan dirinya. Baginya memiliki pikiran bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama dengannya hanyalah sebuah ilusi. Kebaikan tak selalu dibalas kebaikan. Terkadang kebaikan justru dibalas dengan luka.
Luka yang dalam.
Luka yang menyebabkan rasa percaya juga hilang.
Luka yang membuatnya menjadi sosok seperti sekarang.
Bianca ini benar - benar seperti filosofi kaktus. Dia bisa bertahan dari ancaman luar dengan duri - durinya. Sama seperti bianca yang pada akhirnya memilih menjaga jarak dengan menunjukkan sikap tak bersahabatnya.
Kaktus juga bisa bertahan di tempat bersuhu panas dan juga tanpa perhatian khusus seperti air. Sama seperti bianca yang memilih hidup sendiri dan bertahan dengan kemampuan dirinya. Tanpa dukungan dari siapapun.
Kaktus juga nampak percaya diri dengan bentuk dari penampilan fisiknya. Walaupun berduri tapi kaktus masih banyak digemari sebagai tanaman hias. Sama seperti bianca walaupun dia sering terlihat sederhana dan tak ramah, tapi dengan kecantikan tersembunyi dan kepintarannya dia masih berhasil menarik perhatian siapapun yang melihatnya.
Kaktus juga terkenal sabar. Dia bisa bertahan selama bertahun - tahun hingga bisa menampilkan bunganya. Bianca pun begitu. Dia terus bersabar dan berusaha untuk terus bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Karena dia sadar tak selamanya wajah cantik akan memberikan sepiring nasi untuknya. Kecantikan bisa pudar kapan saja, harta pun hanyalah titipan, tapi ilmu yang bermanfaat akan bisa merubah nasib siapa saja bahkan bisa menjadi bekal di alam kekal nanti.
Itulah seorang bianca. Prinsip hidupnya berubah setelah sebuah kesalahan telah diperbuat oleh sang papa. Kesalahan yang baginya sulit dimaafkan.
Selama ini bianca tak pernah meminta haknya. Dia selalu berusaha mendapatkan sesuatu dengan hasil jerih payahnya sendiri. Dia tak akan merusak apa yang sudah rusak, bianca memilih pergi dan melupakan bahwa dia pernah terluka teramat dalam.
***