Karena sudah tak memiliki kesibukan lain selain kuliah dan menjadi asisten dosen, bianca akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktunya di perpustakaan fakultas. Dia berencana mengerjakan tugas kuliahnya sambil mengecek email tugas yang masuk. Setidaknya ada sesuatu pekerjaan yang bermanfaat. Dia tak akan menghabiskan waktu berharga untuk berdiam diri dirumah dan memikirkan semua kejadian yang terjadi akhir - akhir ini.
Tadi bianca sudah mengambil beberapa buku referensi untuk tugasnya. Setelah itu, dia mulai menyalakan laptopnya. Sayangnya, saat menekan tombol power tak ada yang terjadi dengan laptop bianca.
Laptopnya tidak menyala atau pun mengeluarkan tanda - tanda apapun. Sejenak kedua alis bianca saling bertautan. Dia akhirnya mengingat kejadian terakhir kali itu sempat membuat laptopnya terjatuh dengan keras. Mungkin ini adalah penyebabnya.
Bianca mulai mencari kerusakan yang mungkin berada di luar laptopnya. Dia membolak - balikkan laptopnya sambil terus berusaha mencari mungkin ada bagian yang terlepas. Dan sayangnya bianca tak menemukan apapun.
“Nih…” tiba - tiba terdengar suara seseorang yang datang dan meletakkan laptop di hadapan bianca.
“...” tapi bianca hanya diam sambil mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang asing di depannya ini.
“Pake aja, kebetulan gue udah selesai.” kata pria bertubuh tinggi, berbadan tegap, dan berwajah tampan itu.
“Nggak usah, makasih.” kata bianca sopan sambil mendorong laptop itu kembali ke pemiliknya.
“Kenalin gue fareta.” kata pria itu sambil mengulurkan tangannya ke arah bianca.
“...” lagi - lagi bianca hanya bisa menatap datar ke arah pria bernama fareta itu. Dia rasa fareta tak begitu asing. Mungkin bianca pernah melihatnya, tapi entah dimana.
“...” karena tak mendapatkan balasan dari bianca, fareta akhirnya menarik kembali tangannya dan memasukkan ke saku celananya.
“Gue tau lo asisten dosen pengganti mata kuliah keuangan waktu itu. Kebetulan gue mau konsultasi masalah tugas kemarin, bisa ?” tiba - tiba saja fareta berubah menjadi sangat to the point.
“Konsultasi tugas ?” fareta mengangguk.
“Lo yang ngasih tugas ini, kan ?” tanya fareta sambil menyodorkan kertas berisikan tugas waktu itu.
“Bener. Terus ?”
“Gue mau tanya - tanya soal tugas ini.” ulang fareta.
“...” bianca hanya memandangi fareta sebentar, sebelum pada akhirnya dia mengambil tumpukkan buku di sampingnya.
Setelah itu, bianca mengulurkan sebuah buku ke arah fareta. “Maaf, gue nggak bisa kasih konsultasi masalah tugas. Lagipula semua bahan untuk tugas itu ada dibuku ini.” katanya sambil berdiri dan bersiap meninggalkan fareta.
“Tapi, bi…” bianca pun berbalik saat fareta memanggil namanya seakan mereka sudah akrab.
“Nama lo bianca kan ? Jadi gue boleh panggil lo dengan panggilan itu ?” fareta langsung terdiam ketika bianca berbalik dan maju satu langkah ke hadapannya.
“Lo tau nama gue, seharusnya lo juga tau kalo gue nggak pernah basa - basi ataupun bersikap baik pada orang lain!!” kata bianca dengan penuh ketegasan tapi wajahnya tetap datar. Walaupun sikap dingin dan angkuh bianca, wajah gadis itu tetap saja terlihat cantik dan menarik hati fareta.
“O-oke.” kata fareta dengan sedikit terbata.
Lalu bianca meninggalkan fareta begitu saja. Pria itu masih terdiam sambil berdiri dan mematung setelah mendapatkan sebuah penolakan secara tegas untuk pertama kali dalam hidupnya.
Fareta ini tidak berbeda jauh dari tyaga. Dia pria yang tampan dan juga kaya raya tentunya. Banyak sekali wanita yang mendekati dan ingin menjadi kekasihnya. Perbedaan yang ada pada fareta dan tyaga adalah sikap mereka. Fareta lebih tenang dan sangat ramah pada siapa saja.
Sedangkan tyaga tentu saja tak jauh berbeda dengan bianca. Mereka hanya berbeda dari segi status sosial saja. Selebihnya mereka lebih cocok bersama, karena tyaga adalah cerminan bianca. Begitupun sebaliknya.
Setelah bianca pergi, fareta hanya tersenyum sambil mengambil buku yang tadi gadis itu berikan padanya. Ya… walaupun tidak benar - benar memberikan langsung, setidaknya bianca masih meresponnya.
Fareta keluar dari perpustakaan dengan wajah yang berbinar, hingga vero yang melihatnya merasa ngeri sendiri.
“Lo kenapa ?” tanya vero.
“Nggak, nggak papa.”
“Kok muka lo beda sih ?”
“Makin ganteng ?”
“Cuih!! Makin jelek far!” kata vero sambil menunjukkan wajah jijik.
“Tyaga mana ?”
“Entahlah.” vero menjawab sambil mengangkat bahunya.
Sejak kelas mereka selesai tadi, vero dan fareta ditinggal begitu saja oleh tyaga. Pria itu langsung pergi tanpa mengatakan apapun. Kedua sahabatnya merasa aneh, tapi percuma saja bertanya pada tyaga.
Disisi lain, setelah pergi meninggalkan perpustakaan bianca memutuskan mengerjakan tugasnya di ruang baca. Selain memiliki perpustakaan kecil, disana juga menyediakan tempat yang nyaman untuk menyendiri dan mengerjakan tugas.
Bianca memilih duduk di kursi paling ujung dekat jendela. Dari sana dia bisa melihat suasana kampus dari lantai lima. Selain bisa melihat area kampus di sekitaran fakultasnya, bianca juga bisa melihat beberapa bangunan dekat kampusnya. Pemandangan yang cukup untuk mengurangi rasa bosan.
Setelah beberapa menit menghabiskan waktu untuk melihat - lihat ke sekitar, bianca kembali mengambil laptopnya. Dia masih berharap bahwa laptopnya tak rusak. Dan mungkin hanya ada bagian yang terlepas sehingga tak bisa menyala.
Sayangnya, usaha bianca kembali sia - sia. Laptopnya tak bisa menyala. Dia menghembuskan nafasnya. Kejadian akhir - akhir ini cukup berat bagi bianca. Dia kehilangan pekerjaan dan sekarang laptop hasil jerih payahnya yang menjadi saksi perjuangannya juga menyerah pada keadaan.
Bianca melihat ke rekeningnya untuk memastikan apakah dia memiliki uang lebih untuk memperbaiki laptopnya. Karena jika tidak ada, bianca benar - benar menemui jalan buntu.
Jika dia mengambil uang yang lain, mungkin untuk menyangga kehidupannya pun akan terancam. Lagi pula gaji sebagai asisten dosen juga tak keluar tepat waktu. Terkadang malah terlambat.
Mau tak mau akhirnya bianca berdiri dan mencari komputer yang disediakan di ruang baca kali ini. Dia benar - benar membutuhkan akses internet untuk membuka email dan juga beberapa laporan yang untungnya sudah dia cadangkan di google document. Meskipun bisa dibuka melalui ponsel, tapi itu sangat merepotkan menurut bianca.
Beberapa rekapan nilai mahasiswa pada mata kuliah yang dia pegang ada disana, jika sampai salah menginput bisa - bisa akan terjadi masalah saat penerimaan kartu hasil studi nanti. Dan lebih parahnya bianca mungkin saja kehilangan pekerjaan ini juga.
Tidak, ini tak boleh terjadi!
Kenyataan pahit kembali bianca terima. Dari sepuluh komputer yang disediakan, tak ada satupun yang tersisa. Semuanya terisi dengan mahasiswa lain.
Akhirnya bianca kembali ke mejanya. Dia memutuskan untuk mengerjakan tugasnya dengan menulis beberapa bagian inti, nanti sisanya akan dia ketik saat menemukan warnet terdekat.
Ditengah - tengah keseriusan bianca mengerjakan tugas, tiba - tiba ada seseorang berdiri di samping mejanya.
BRAK!
“Pake ini, bi!!” katanya penuh dengan nada perintah.
“...” mendengar suara yang sangat dikenal dengan panggilan yang seolah - olah mereka sangat akrab, bianca pun mengangkat kepalanya untuk melihat.
Dan benar saja, tyaga lagi - lagi datang dengan sikap seenaknya.
“Makasi.” tolak bianca halus sambil mendorong laptop tyaga menjauh dari hadapannya.
“Lo tuh udah kesusahan masih aja nolak kalo dibantuin orang lain!!” maki tyaga dengan wajah tak suka karena penolakan bianca.
“Gue nggak minta lo nolongin gue.” jawab bianca datar.
BRAK!!
Terdengar gebrakan kedua yang tyaga lakukan saat meletakkan buku tebalnya di meja dengan sedikit dibanting.
“Gue nggak mau nolong lo lagi, bi!! Gue mau lo kerjain kewajiban lo sebagai tutor gue!”
“Sejak kapan gue setuju ?”
“Sejak lo bilang sama oma. Bahkan setelah oma pecat lo, saat itu juga lo resmi jadi tutor gue.”
“...”
“Kalo lo nggak kasih tutor ke gue, nanti gue tinggal bilang ke oma buat nggak kasih lo gaji. Dan juga lo gak boleh balik lagi ke toko kue oma!!” ancam tyaga.
‘b******k!’ batin bianca. Dia benar - benar tidak menyukai tipikal manusia seperti tyaga ini. Pria yang sukanya mengancam, suka memerintah seenaknya, bahkan perlakuannya kepada orang lain juga sangat buruk. Seakan - akan orang lain ini lebih rendah darinya.
“Terserah lo aja!!” kata bianca dengan wajah cuek.
“Lo nantangin gue ?”
“...” bianca tak memperdulikan tyaga.
Setelah itu tyaga mengambil ponsel miliknya dan melakukan panggilan kepada sang oma tercinta.
‘Halo, oma.’
‘Ada apa sayang ?’
‘Aga lagi sama bianca nih. Katanya dia nggak mau kerja lagi toko kue milik oma deh.’
‘KENAPA???’
‘Iya, dia bilang nggak butuh. Ini aja aga juga nggak ditutorin.’
‘Ga, bisa oma bicara sama bianca ?’
‘Oma bicara aja, kebetulan aga loudspeaker panggilannya.’
Seketika bianca melotot setelah melihat dan mendengar sendiri betapa liciknya pria didepannya ini. Dengan perasaan kesal, bianca berusaha bertahan dengan wajah datarnya.
‘Biii…. Ini oma sayang.’
‘I-iya, oma.’
‘Ada apa, bi ?’
‘Nggak kok, oma. Nggak ada apa - apa.’
‘Jangan bohong, bi.’
‘Beneran kok oma.’
Tiba - tiba…
‘Bianca bohong oma, beberapa hari lalu beasiswanya hampir dicabut. Tapi masih sok tegar aja dia!’
Tyaga menyela pembicaraan oma dengan bianca.
‘Bener kayak gitu, bi ?’ tanya oma.
Bianca langsung melayangkan kepalnya ke arah tyaga dengan wajah galak. Dia sudah tak bisa menahan lagi menghadapi kelicikan tyaga.
‘Bi ? Kamu dengar oma kan, sayang ?’
‘I-iya oma.’
‘Bi, untuk urusan beasiswa biar aga yang bantu ya sayang.’
‘Ng-nggak usah, oma. Bianca nggak papa kok.’
‘Tuh oma danger sendiri kan ? Masih aja dia sok tegar. Padahal aga udah nawarin bantuan.’ lagi - lagi tyaga menyela. Tyaga ini benar - benar kompor meleduk.
‘Bi, jangan tolak bantuan oma sama aga ya sayang.’
‘Ta…pi oma…’
‘Jangan pernah berpikir untuk berhutang budi sama oma, bi! Oma ikhlas.’
‘...’
‘Bantuan kecil kamu aja yang oma butuhin. Anggap aja bentuk rasa terima kasih kamu pada oma dan aga.’
‘...’
‘Kamu bisa kan bi bantuin tyaga di mata kuliah yang kamu pegang itu ?’
‘...’
‘Bi…’
‘I-iya oma, bianca usahain ya oma.’
‘Kamu tenang aja, oma akan urus beasiswa kamu. Jangan takut juga masalah gaji dan lainnya oma akan tepati janji.’
‘Iya, oma.’
‘Kalo ada apa - apa bilang sama aga aja ya, bi. Jangan disimpan sendiri. Kamu bisa anggep oma seperti oma kamu sendiri.’
‘I-iya, oma.’
‘Yaudah, kalo gitu oma bicara sama aga dulu ya bi.’
Setelah itu tyaga mematikan loudspeakernya dan pergi menjauh dari mejanya. Dia terlihat berbicara dengan sang oma dengan wajah serius.
Sedangkan bianca baru saja menghapus setetes air mata yang membasahi pipinya setelah mendengar betapa hangat dan penuh kasih sayang serta semua perhatian oma lisa padanya. Bahkan lagi - lagi bianca mendengar oma lisa mengatakan untuk menganggapnya seperti omanya sendiri.
Bianca lemah untuk yang satu ini.
Dia begitu menyayangi sang nenek. Dan selama bertahun - tahun posisi itu kosong.
Tiba - tiba saja oma lisa datang dan menawarkan perasaan hangat itu lagi.
Air mata kembali menetes dari pelupuk mata bianca. Dia langsung menghapusnya ketika melihat tyaga tiba - tiba kembali ke arah mejanya.
Pria itu memasukkan ponselnya ke kantong jaket jeansnya, lalu memperhatikan bianca untuk sejenak.
“Gue udah lakuin janji yang gue bilang, bi. Sekarang giliran lo.” kata tyaga dengan nada bicara yang lebih enak didengar daripada biasanya.
“Pake laptop ini, gue nggak mau nilai gue jelek gara - gara kerja lo nggak maksimal pas kasih tutor gue.” lanjut tyaga sambil mendorong laptop miliknya ke depan bianca.
“...” bianca hanya diam sambil memandang kosong meja didepannya.
“Lo nggak mau kan ngecewain oma ?”
“...”
“Gue tau lo nggak akan berbuat sesuatu yang akan membuat orang lain kecewa sama lo. Lagian juga gue nawarin pekerjaan, bi. Lo dibayar karena lo melakukan sesuatu yang gue butuhkan. Lo bukan minta - minta.”
“...” bianca masih betah mendengarkan tyaga sambil terus diam.
“Bawa laptop ini, bi. Kasih gue jawaban secepatnya. Lo tau gue nggak suka nunggu.” kata tyaga untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya kembali pergi meninggalkan bianca sendirian.
Setelah beberapa waktu lamanya bianca sudah sendiri, dia masih tak menyentuh laptop tyaga sama sekali. Bahkan bianca hanya menatap kosong.
Entah kenapa rasanya sulit sekali menerima kebaikan orang lain. Apapun alasan tyaga melakukan ini, tapi bagi bianca ini adalah bantuan yang datang saat dibutuhkan. Sekecil apapun bantuan itu, dia tetap berharap bisa membalasnya. Dia tak ingin memiliki hutang budi pada siapapun.
Tapi disisi lain dia juga tak bisa begitu saja percaya bahwa ini adalah sebuah pertolongan.
Bianca terus dilanda dilema antara mendengarkan hatinya atau mengikuti logikanya. Kadang - kadang menjadi seperti ini juga lelah. Tapi bianca harus memikirkannya baik - baik, lalu mengambil keputusan terbijak agar nanti kedepannya dia tak akan menyesal.
Sedangkan dari kejauhan bukannya pergi, tyaga malah diam - diam memperhatikan bianca. Dia menggelengkan kepala saat melihat betapa batunya gadis taruhannya itu.
Tadinya tyaga kira mendapatkan bianca akan semudah membalikkan telapak tangan. Tapi nyatanya harga diri gadis itu pun sulit diruntuhkan olehnya.
***