BERTEMU PROFESOR

1002 Kata
'Pergilah ke rumah sakit swasta yang dekat dari sini, bilang kamu ada janji bertemu dengan profesor Hendra dan sebut saja nama kamu Bora.' Bora masih mengingat pesan yang diberikan dokter Donny. Setelah diskusi mengenai makalah yang akan diikutkan lomba, dokter Ditya memberikan sedikit saran dan juga perbaikan, besok hari terakhir dia mengumpulkan makalah. Jam sudah menunjukan lima sore dan sekarang Bora sudah berdiri di depan pintu masuk rumah sakit. Bora menyemangati diri sendiri dan masuk ke dalam. "Selamat sore, apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang perawat di lobby. "Saya ada janji dengan profesor Hendra." Perawat itu menatap curiga Bora. "Janji untuk?" Bora tahu tatapan curiga perawat tersebut. "Bora, bilang saja saya Bora." Perawat itu mendadak teringat sesuatu. "Ah, kamu kan..." Perawat itu tidak melanjutkan kalimatnya dan bergegas menghubungi seseorang. Bora mendengar percakapan orang-orang di sekitarnya. "Bukankah dia anak walikota?" "Ah, benar. Anak bermasalah itu." "Kenapa dia datang ke rumah sakit?" "Jangan-jangan masalah mental health?" "Sssttt." Bora bisa mendengar ejekan mereka dan tidak menanggapinya. "Ayo, ikuti saya." Perawat itu sudah berdiri berhadapan dengan Bora, yang hanya dipisahkan oleh meja resepsionis yang tingginya mencapai d**a Bora. Bora mengikuti perawat itu. *** Rina berjalan mondar mandir di dalam bilik asmara. Seorang pria memakai pakaian tahanan masuk dan terkejut melihat wanita yang dinikahinya ada di dalam. "Rina?" "Suamiku." Rina segera memeluk suaminya dengan wajah hampir menangis. "Aku merindukan kamu." Pria itu tetap diam dan tidak bergerak. "Apa yang kamu lakukan di tempat ini? Bilik asmara?" "Suamiku, aku hanya ingin merayakan hari jadi-" Belum selesai Rina bicara, pria itu mendorong tubuh istrinya untuk menjauh. "Beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi, aku bukan pria nafsu seperti yang kamu bayangkan sebelumnya." Rina yang putus asa melepas semua pakaiannya, yang tersisa hanya pakaian dalam. "Aku hanya merindukan kamu, sebagai seorang istri har-" Pria itu mencekik leher istrinya dengan kedua tangan. Rina berusaha melepaskan tangan sang suami dan menepuknya dengan susah payah. "Kamu kira aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di luar sana? Aku rela dipenjara supaya kamu tidak masuk penjara, tapi apa yang terjadi? Kamu bersenang-senang di luar?" Tanya pria itu di hadapan Rina. Wajah tampannya masih ada, namun tubuh kurus dan juga cambang yang menghiasi wajah menutupi semua. Dia melempar istrinya ke tembok hingga menimbulkan bunyi. Rina ketakutan dan berteriak minta tolong, dua petugas sipir masuk dan menangkap pria itu, hingga tangannya diborgol ke belakang. Rina menyentuh lehernya dengan ketakutan. Pria itu tersenyum sinis. "Jika kamu memang mencintaiku, seharusnya kamu berusaha keras menyelamatkan aku, bukan tidur dengan banyak pria. Rina menggeleng sedih. "Bukan, kamu salah. Aku hanya difitnah oleh orang tidak bertanggung jawab." Dua petugas sipir mengeluarkan pria itu dari bilik asmara sementara Rina berteriak marah, rencananya gagal total. *** Bora duduk berhadapan dengan profesor Hendra yang sedang menyelesaikan laporannya. "Saya dengar kamu, akan ikut lomba makalah besok." Bora mengangguk. "Boleh saya lihat?" Bora terlihat ragu sejenak lalu mengambil buku binder dan membuka bagian coretan dokter Ditya lalu diberikan ke profesor Hendra. Profesor Hendra baca coretan Bora dan Ditya lalu menambahkan sesuatu. "Topik yang kamu ajukan memang terlihat menarik, tapi ada kekurangannya dan kamu harus belajar hukum." Bora menjadi gelisah. "Tapi, saya tidak tahu mengenai hukum dan juga- saya hanya anak SMA." "Jangan sembunyi dari balik kata SMA, Bora." Bora terdiam. "Jika kamu mengenal orang yang paham dengan hukum serta undang-undang yang berlaku, makalah kamu akan menjadi menarik." "Tapi batas waktunya besok." "Besok?" Tanya Hendra lalu melihat handphone. "Oh, memang besok. Tapi tidak masalah, jika kamu mau bersungguh-sungguh selesaikan dalam waktu satu minggu." Kedua mata Bora terbelalak. "Satu minggu?" "Kurang dari satu minggu kalau bisa." "Saya harus pergi kemana? Apakah anda punya rekomendasi?" Tanya Bora sambil mengamati layar di atas kepala Hendra yang sibuk mengobati hewan. "Dokter, apakah saya datang kesini hanya untuk bahas masalah makalah? Bukan untuk balas dendam?" "Kamu ingin balas dendam?" Bora mengangguk. "Apakah Donny yang memberikan saran itu kepada kamu?" Bora mengangguk lagi." Hendra melepas kacamata dan bersandar di kursinya. "Jika kamu ingin balas dendam- bukan dengan cara terburu-buru, saya hanya bisa membantu kamu sebagian. Sisanya kamu yang lakukan." Bora menatap tidak mengerti Hendra. "Tapi-" "Semua orang meremehkan kamu karena kamu terlihat lemah, Bora. Kamu tidak akan bisa melindungi apa pun jika kamu masih lemah, satu-satunya cara adalah memanfaatkan apa yang kamu miliki. Aku dengar putraku sudah menjadi wali kamu." "Putra anda?" "Ditya adalah anakku." Bora terpana. "Saya baru tahu." Hendra tersenyum. "Saya tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam keluarga kamu, jika kamu ingin memanfaatkan saya untuk balas dendam, saya juga bisa melakukan hal yang sama." Bora menatap serius mata Hendra sambil menyembunyikan gemetar di tangannya. "Kamu harus saya jadikan pion." "Saya tidak ingin menjadi pion anda, tapi saya ingin kita kerja sama." Hendra menaikan salah satu alis. "Kerja sama?" "Saya punya hal yang tidak bisa anda miliki begitu juga sebaliknya, kita saling membutuhkan- kerja sama adalah jalan terbaik." "Kamu masih sekolah, bagaimana bisa kerja sama dengan saya?" "Saya adalah anak calon Presiden Indonesia di masa depan." "Apa kamu yakin?" "Ya, saya yakin papa akan menjadi Presiden. Sehingga saya bisa memenuhi keinginan anda dalam kerja sama." Hendra tertawa. "Bora, saya punya uang dan kedudukan. Buat apa saya kerja sama dengan anak dari seorang Presiden?" Bora melihat pertengkaran profesor dengan seorang pria, lalu tiba-tiba muncul layar informasi. Bora tidak baca informasi yang lain, dia hanya fokus dengan satu kata 'adik'. "Apakah anda punya adik di dalam penjara?" Tubuh Hendra menegang. "Sepertinya anda sangat menyayangi dia," kata Bora. "Saya akan membebaskan adik anda diam-diam." "Kamu tidak akan bisa?" "Bagaimana jika saya bisa melakukannya?" Hendra merenung. Bora menjadi tidak sabar. "Jika saya bisa membebaskan adik anda, apakah kita bisa kerja sama?" Hendra menghela napas. "Kita lihat nanti." "Saya ingin kepastian, profesor." Bora menyalakan handphone dan diletakan di atas meja. "Jika saya bisa membantu adik anda bebas, bagaimanapun caranya- anda harus kerja sama dengan saya untuk balas dendam dan-" Bora melirik buku binder yang dipegang Hendra. "Mengerjakan makalah lomba revisi milik saya." Hendra terkejut lalu tertawa dengan kelicikan Bora, dia suka anak yang tidak kenal takut itu. "Baik, sekarang anggap saja kita berteman terlebih dulu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN