SURAT KUASA

1001 Kata
Bora berhasil mendapat tanda tangan surat kuasa dari sang papa, lalu diberikan ke dokter Ditya. Dokter Ditya menepuk kepala Bora. "Bagus." "Dokter, boleh aku bertanya?" "Apa itu?" "Kenapa dokter membantu aku sampai sejauh ini? Apakah ada sesuatu yang diinginkan dokter? Atau karena aku adalah anak walikota?" Ditya tersenyum. "Bukankah kita pernah membahas masalah ini?" "Itu-" Bora menundukkan kepala, masih penasaran dengan jalan pikiran dokter Ditya yang selalu menolongnya. "Bern yang minta bantuan kepada aku, jadi kamu jangan terlalu memikirkannya." Ditya mengacak rambut Bora. "Kamu sudah selesai membuat makalah?" Bora mengangguk. "Baru garis besar." Ditya mengangguk. "Bagus, tunggu aku di sini. Aku sedang ada operasi." Bora mengangguk lagi lalu duduk di meja kerja Ditya, dia memeriksa garis besar makalah yang akan ditulisnya lalu tidak lama handphone bergetar. "Mama?" Nama mama Bora muncul, Bora segera mengangkatnya. "Bora?" "Mama, aku-" "Bora, apakah kamu menjadi anak nakal di sana?" "Apa?" "Mama dengar kamu tidak sekolah selama satu tahun dan juga-" "Mama tidak khawatir tentang kondisi Bora?" "Tentu saja khawatir, tapi mama juga takut kamu bertengkar dengan papa kamu." "Mama-" "Bora, kamu harus tetap bertahan di rumah itu. Semua yang dimiliki papa kamu adalah milik kamu. Kamu tidak boleh kalah dengan pelakor dan anak-anaknya, mama menyerah demi dua anak laki-laki mama." Bora tertawa hambar, kenapa dia bisa lupa tentang perlakuan pilih kasih ibu kandungnya. "Mama juga dengar kamu bunuh diri, jangan pernah melakukan hal seperti itu, Bora. Harusnya kamu ingat Tuhan dan rajin ibadah." Kedua tangan Bora gemetar. "Bunuh diri?" "Ya, kamu minum banyak obat dan overdosis di malam satu tahun kematian Bern." Bora bangkit dari kursi lalu lari ke tempat dokter Ditya yang akan bersiap masuk ke ruang operasi. "Mama nangis begitu mendengar kabar tentang kamu yang bunuh diri, tapi mama juga tidak berani menghubungi untuk memberikan kamu waktu. Tidak mama sangka kamu-" Bora memutus sambungan telepon dan bertanya pada punggung Ditya. "Apakah dokter sudah mengetahuinya?" Ditya balik badan. "Apa yang sudah aku ketahui?" "Aku bunuh diri." Ditya menghela napas berat, seolah ada sesuatu yang menghimpitnya. "Ya." Setelah menjawab, Ditya masuk ke ruang operasi bersama perawat hewan lainnya. Kedua mata Bora bergetar. "Kenapa aku bisa melupakannya? Pantas saja semua orang bersikap seperti itu... hahahaha..." Hanya seekor anjing. Bagi orang lain, Bern hanyalah seekor anjing yang bisa digantikan dengan mudah. Tapi mereka semua tidak tahu, bagaimana usaha Bern untuk membangun kepercayaan pada dirinya. Tidak ada yang mau mendekati Bora kecuali Bern. Bora kembali ke kantor Ditya dan menangis. "Ditya, aku mau tunjukkan kamu soal rac-" Bima buka pintu Ditya tanpa mengetuk dan melihat seorang anak SMA menangis di mejanya, Bima celingukan bingung. "Ditya?" Bora menjawab tanpa angkat kepala. "Dokter Ditya lagi operasi pasien." Donny yang berada di belakang Bima, menepuk punggungnya. "Sudah ketemu?" Bima menggaruk kepalanya dengan canggung lalu menyingkir. "Belum, tapi-" Donny melihat Bora yang menangis di meja Ditya lalu masuk ke dalam ruangan. "Ketua." Donny angkat tangan tanpa menoleh. "Aku ingin bicara dengannya." Bima menutup pintu kantor dan berjaga di depan. Donny yang berada di dalam ruangan, duduk berhadapan dengan Bora lalu bertanya. "Hallo, Bora." Bora yang tadinya terisak, sontak diam. "Nama saya Donny, saya ketua tim kamp di Kalimantan." Bora tidak bergerak. "Ditya sempat cerita mengenai seekor anjing yang dibakar di depan pemilik, bukankah itu sangat kejam?" Bora angkat kepala, air mata dan ingus keluar bersamaan. Donny mengambil tisu dan mengelap wajah Bora. "Bagi kita yang dekat dengan hewan, hal itu merupakan peristiwa yang menyakitkan, terutama perasaan bersalah karena tidak bisa menolong. Kita tahu bagaimana perasaan sakit yang dia alami." "Aku- rasanya ingin memeluk Bern saat dia dibakar, aku sakit hati dokter. Semua orang bilang aku terlalu berlebihan... tapi..." Bora tidak bisa melanjutkan perkataannya dan terisak. "Apakah kamu sudah tahu kalau kamu bunuh diri?" Bora mengangguk. "Kenapa aku tidak ingat sama sekali?" "Yang menangani kamu waktu itu adalah profesor Hendra." "Profesor Hendra?" "Kamu tidak mengenalnya, tapi kami tahu beliau. Beliau cerita pada saya, pada saat berkunjung ke rumah walikota, mendengar jeritan menyakitkan dari dalam kamar, saat didobrak-" Donny menghela napas. "Kamu sudah tidak sadarkan diri-" Bora berusaha meraba ingatannya lalu menggeleng sedih. "Aku tidak ingat sama sekali." "Saya belum selesai," senyum Donny. Bora menatap Donny dengan bingung. "Saat itu profesor melihat bayangan seekor anjing yang khawatir di samping kamu." Bora terkejut. "Melihat banyaknya foto anjing golden di kamar kamu, profesor menjadi yakin bahwa itu adalah Bern. Namun, profesor tidak mengatakannya kepada siapa pun, termasuk walikota." Bora terdiam. "Mungkin Bern datang dan menghapus ingatan kamu, sebagai gantinya supaya hidup kamu tidak hambar- dia memberikan bayangan atau sistem untukmu." "Dokter percaya dengan semua ceritaku? Kenapa kalian semua dengan mudahnya percaya?" "Bora, aku dan Ditya adalah dokter hewan. Kami sering masuk pedalaman dan kadang kala melihat sesuatu di luar nalar manusia. Jadi, jangan terlalu heran dengan cara berpikir kami." "Dokter." "Hm?" "Pantas saja tiba-tiba Bern muncul di dalam mimpi dan selalu menghibur aku, ternyata dia-" "Bern pasti merasakan rasa sakit hati yang sama dengan kamu, Bora. Jika kamu meninggal demi dia, mungkin dia akan sedih dan menyalahkan dirinya. Di sisi lain, kamu akan dianggap gila karena terlalu mencintai seekor anjing." Bora menghapus air mata dengan punggung tangan. "Semua orang tidak tahu bagaimana perasaanku terhadap Bern, mereka tidak tahu kehidupan apa yang aku jalani bersama Bern, sekuat apa aku hingga menjadi sekarang berkat Bern." Donny bertanya dengan hati-hati pada Bora. "Kamu- ingin balas dendam?" "Balas dendam?" "Yah, membalas kematian Bern dan juga orang-orang yang sudah menyakiti kamu. Sangat disayangkan sekali jika kamu tidak menggunakannya dengan baik." Bora terdiam. "Ah, maaf. Anak seusia kamu, masih belum tertata mentalnya, jadi lupakan saja." Donny bangkit dari kursi. "Bagaimana caranya?" Tanya Bora sambil memegang erat lengan baju Donny. "Supaya aku bisa membalas orang-orang yang sudah menyakiti aku?" Donny tersenyum, tebakan profesor Hendra memang tepat. Anak remaja seusia Bora yang menghadapi pelecehan dan juga diskriminasi pasti di sudut hati terdalam ingin membalas perbuatan orang-orang yang menyakitinya. "Apakah kamu yakin?" Tanya Donny. Bora mengangguk yakin. "Aku ingin membalas semuanya dan juga ingin tahu, kenapa mereka semua melakukan itu kepadaku." "Mungkin di masa depan kamu akan menyesal." "Aku akan lebih menyesal jika hanya diam."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN