SISTEM MILIK BORA

1028 Kata
Bora yang sudah berganti pakaian bersih dan mandi, disuruh makan oleh pemilik rumah. Dua anak pemilik rumah yang masih kecil, menatap Bora dengan kagum. Mereka kenal Bora di media sosial namun tidak menyangka bisa melihat sosok aslinya. "Aku selalu melihat media sosial kakak saat bersama Bern. Sayang sekali Bern meninggal karena sakit." Itu adalah alasan yang dibuat papa Bora ke media sosial, kejadian aslinya hanya diketahui oleh orang terdekat. Bora tersenyum dan makan dengan lahap. Ibu pemilik Husky meletakan air di samping piringnya. "Makan pelan-pelan." Bora mengangguk kecil. "Terima kasih." Ibu pemilik Husky memperkenalkan dirinya. "Nama saya Ratih, yang besar Juno dan yang kecil Justin." Juno dan Justin menyapa Bora bersamaan. "Hallo, kakak." Ratih sudah membaca media sosial Bora. "Saya dulu pengikut media sosial kamu, interaksi dengan Bern sangat bagus terutama saat kamu mendapat serangan panik. Apakah sekarang kamu sudah tidak butuh anjing pendamping lagi?" Bora menghela napas lalu menggeleng. "Ibu tiri di rumah tidak suka saya membawa anjing, sebenarnya Bern sudah ikut saya lama tapi saat pindah sekolah- saya menjadi panik dan akhirnya Bern dibawa ke tempat saya. Saya menyesal sudah membawa Bern." "Dia meninggal karen sakit, setidaknya dia-" Bora menggeleng. "Bern dibakar." "Apa?" Bora menghapus air mata. "Bern dibakar saudara tiri saya karena menggigit salah satu tamu, padahal Bern sedang bertugas menjaga saya. Saya tidak mau ada penjaga lain selain Bern." Suasana di sekitar menjadi hening. Ratih menyuruh kedua anaknya masuk ke dalam kamar. Juno dan Justin menolaknya. Ratih mengancam lalu mereka berdua terpaksa masuk ke dalam kamar. Setelah kedua anaknya masuk ke dalam kamar, Ratih mendorong dompet ke Bora. "Ini adalah uang hadiah karena kamu menemukan puppy saya, terima kasih. Lalu ada kartu nama saya di dalam dompet." Bora menghapus air mata. "Terima kasih." "Saya terkejut membaca media sosial adek hari ini, masalah Bern saya tidak tahu. Tapi yang pasti, Bern tidak akan menyalahkan adek." Bora tahu itu, setiap malam setelah satu tahun kematian, Bern selalu datang ke dalam mimpi dan menghiburnya lalu memberikan cheat yang berguna. "Oh, ya. Saya juga lihat di media sosial ada brosur tentang lomba makalah, apa adek akan ikut?" Bora mengangguk. "Ya, saya akan pindah sekolah dan untuk masuk ke sana harus berprestasi untuk mendapat beasiswa penuh." "Sekolah mana?" Bora menyebut nama sekolah yang diberikan dokter Ditya. "Bukankah itu sekolah mahal dan kaya? Kenapa pilih sekolah itu?" Dokter Ditya menyuruh dia masuk sekolah itu dengan mendapatkan beasiswa jalur prestasi lalu ikut paket C, tidak masuk sekolah tidak masalah asal bisa ikut ujian dan nilai sekolah aman. Bora harus masuk universitas di bulan september, berkas harus masuk di bulan Agustus, dan sekarang sudah bulan Juni. Bora berburu waktu. Bora melihat layar di atas kepala bu Ratih, tidak ada tanda hujatan atau merendahkan dirinya, ibu itu murni ingin menolongnya. Bora bicara jujur. "Saya ingin masuk universitas bulan ini." "Apa? Bukankah kamu belum lulus sekolah?" "Saya bisa ikut ujian paket C. Tahun ini saya tidak lulus karena trauma dan tidak masuk sekolah, namun saya tetap ikut ujian sekolah di rumah tapi tetap tidak lulus." "Karena penilaian masa kamu masuk sekolah?" "Ya, sebenarnya saya juara satu di sekolah dan ujiannya pun baru sebatas ujian sekolah. Saya tidak diizinkan ikut ujian negara karena tidak masuk sekolah satu tahun dan dianggap tidak adil untuk para murid yang rajin masuk." "Saya bisa mengerti itu." "Karena itu, saya ingin ikut paket C dan mengulang kelas di sekolah yang berbeda lalu masuk universitas tahun ini." "Kamu yakin, Bora?" "Saya yakin, bu." "Jika kamu yakin, saya akan membantu kamu. Kebetulan saya adalah dosen di universitas yang kamu sebut." Bora terkejut. "Cara ini bisa dibilang curang tapi juga tidak adil untuk anak yang mendapatkan trauma, kebanyakan sekolah biasa, gurunya tidak fokus pada murid karena terlalu banyak murid di kelas." Bora mengangguk setuju. "Bora, jika saya membantu kamu- kamu harus menunjukan kesungguhan niat kamu untuk masuk universitas." Bora mengangguk paham. "Bagus. Lalu setelah ini kamu mau kemana? Pulang ke rumah atau kembali ke sekolah?" "Saya ingin pergi ke kantor papa, tapi sepertinya saya berubah pikiran." "Berubah pikiran?" "Saat ini papa menjadi wali dan saya ingin lepas dari beliau, tapi sepertinya susah." "Ah, benar. Hak asuh dan wali kamu jatuh ke tangan papa kamu. Sulit juga ya." "Tadinya saya ingin minta surat tanda tangan perwakilan wali ke papa, tapi sepertinya akan sulit." "Saya bisa memahami itu, apalagi walikota sudah dicalonkan menjadi presiden, pemilu satu bulan lagi sehingga pasti akan menahan kamu supaya tidak membuat ulah." Bora menggigit bibir. "Bora, jika kamu mau- kamu bisa bicara empat mata dengan papa kamu." "Bicara empat mata?" "Saya akan mengajarkan kamu." Bora mencatat sekaligus mendengarkan sampai paham. *** "Apa ini?" Dua jam kemudian, Bora memutuskan nekat pergi ke tempat kerja sang ayah dan menyodorkan surat kuasa wali, setelah diajarkan bu Ratih. Papa Bora terkejut melihat putrinya nekat datang ke kantor. "Siapa Ditya?" "Dia- kerabat mama." Bohong Bora. "Kamu sudah punya papa, kenapa kamu menyuruh papa tanda tangan surat kuasa?" "Di masa depan, papa pasti akan sibuk. Dokter Ditya mau membantu aku." "Dia seorang dokter?" "Ya." "Masalah di media sosial-" "Aku memang mendapat perundungan sejak awal pindah," potong Bora. "Kenapa kamu tidak bilang dari awal?" Bora takut masa lalu saat sang papa memukulnya, terjadi lagi. "Papa tidak pernah bertanya." "Apakah harus menunggu bertanya dulu, baru kamu mau cerita?" Papa Bora memukul meja dengan keras. Bora tetap pasang wajah datar. Papa Bora tiba-tiba teringat dengan masa lalu, saat emosionalnya memuncak dan tanpa sengaja memukul Bora. "Bora... jangan-jangan... kamu..." Bora tidak menjawab, dia fokus melihat banyak layar yang tiba-tiba muncul. Ada kucing hilang yang muncul di sekitar kantor walikota dengan hadiah lima ratus ribu rupiah. Bora kembali fokus menatap papanya. "Masa lalu sudah berlalu, tidak perlu dibahas. Bora akan masuk sekolah asrama sesuai keinginan papa dan tidak mengganggu kehidupan baru papa." Papa Bora bangkit dari kursi, dia tidak bisa kehilangan anaknya. "Tidak... Bora..." "Aku tidak akan mengadu kepada siapa pun tentang hal ini, papa cukup tanda tangan surat kuasa." "Bora-" "Papa, bukankah menjadi presiden sudah di depan mata?" Papa Bora duduk di kursi dan tertawa sedih. "Apakah papa sudah gagal menjadi orang tua?" Bora tidak membantah dan juga tidak menjawab, biar bagaimanapun dia masih menyayangi pria itu sebagai salah satu orang tuanya dan juga berusaha mengubah kematian di masa depan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN