Malam itu pengap, udara terasa lembab, ditambah lilin Dan lampu minyak, udara makin panas hingga Michelle tak tahan berada didalam rumah. Meskipun sudah mandi air dingin yang ditimbanya Dari sumur. Dalam waktu sekejap tubuhnya sudah terasa lengket lagi. Karena masih terlalu sore Dan terlalu panas untuk tidur, akhirnya Michelle keluar ke teras untuk mencari udara Segar.
Ia duduk meringkuk dikursi rotan yang berbantal empuk, merasa lega ketika merasakan embusan angin menerpa wajahnya. Suara jangkrik Dan katak melingkupi Michelle dengan lagu Nina bobo yang menghipnotis, Dan dalam waktu singkat kedua matanya terkatup. Ia tidak benar benar terlelap, tapi hanya menikmati waktu bermalas malasan yang damai ketika waktu berlalu tanpa disadarinya. Sekitar satu atau setengah jam kemudian, Michelle terganggu suara mesin Dan ban yang menggilas tanah berkerikil; sinar lampu menyilaukannya ketika Michelle membuka mata, membuat nya tersentak Dan memalingkan wajah Dari cahaya yang membutakan itu. Kemudian lampu dimatikan, begitu juga mesinnya. Michelle duduk tegak, jantungnya mulai berdegup kencang ketika sosok figur lelaki jangkung Dan berbahu bidang keluar Dari truck Dan membanting pintu nya hingga tertutup. Sinar bintang malam itu tidak terlalu terang; tapi Michelle tidak membutuhkan sinar untuk mengenali siapa lelaki itu, tatkala setiap sel tubuhnya terjaga.
Meskipun memakai sepatu bot, langkah kaki john sama sekali tidak terdengar ketika mulai menaiki anak tangga teras. "John", gumam Michelle, suaranya hanya berupa bisikan, tapi john merasakan getaran suaranya dan melangkah ke kursi rotan tempat Michelle duduk.
Michelle sudah sepenuhnya terjaga sekarang, Dan mulai gusar "kenapa kau tidak menelpon? Aku menunggu kabar Dari mu...."
"Aku tidak suka telepon" human John sambil terus mendekat, itu bukan alasan yang sesungguhnya. Berbicara dengan Michelle lewat telpon hanya akan membuat nya semakin merindukan wanita itu, padahal malam malam nya yang jauh Dari wanita itu sudah terasa bagai neraka.
"Itu bukan alasan"
"Kurasa itu cukup," ujar john. "Apa yang kau lakukan di luar? Rumahmu sangat gelap, Ku pikir kau sudah tidur"
Yang pasti itu tak akan mencegah john untuk membangunkan ku, pikir Michelle masam. "Terlalu panas untuk tidur"
John mengiyakan, ia membungkuk Dan menyelipkan lengan ke bawah paha Dan bahu Michelle. Terkejut, Michelle segera merail leher john dengan kedua lengan ketika lelaki itu mengangkat tubuhnya kemudian duduk di kursi rotan Dan mendudukan Michelle di pangkuannya. Rasa lega yang nyaris menyakitkan memenuhi diri Michelle ketika kedekatan lelaki itu mengendurkan ketegangan yang bahkan tidak disadarinya ada. Michelle diliputi kekuatan Dan kehangatan lelaki itu, Dan aroma tubuh maskulin nya yang Samar mempertegas Michelle akan rasa pulang ke rumah, begitu tepat. dengan lemas Michelle merapatkan diri Dan mendongak untuk mencum John.
Ciuman itu begitu lama Dan panas, bibir lelaki itu nyaris membuat bibir Michelle bengkak karena hasrat nya. Tapi Michelle tidak keberatan, karena hasrat nya sendiri tak kalah besar. Tangan john mulai merayap di balik gaun tidur Michelle, mendapati tubuh lembut wanita itu telanjang, Dan getaran hebat mengguncang tubuh john.
John menyumpah perlahan, "sweet hell, Michelle, kau duduk diluar sini nyaris telanjang."
"Tidak ada yang bisa melihat Ku." Michelle mengucapkan kata kata itu dileher john, bibirnya bergerak menyusuri kulit leher john yang keras dan menemukan lekukan tempat nadi lelaki itu berdenyut.
Panas Dan gairah menyelimuti mereka berdua, begitu manis Dan memabukkan. Sejak pertama Kali john menyentuh Michelle, satu satunya yang diinginkan Michelle hanyalah berbaring bersama lelaki itu Dan tenggelam dalam berjuta sensasi yang menggetarkan. Ia menggeliat dalam pelukan john, mencoba menekan payudaranya ke d**a lelaki itu Dan merintih memprotes karena john menahan nya supaya tidak bergerak.
"Ini tidak akan berhasil," kata john, mempererat pelukannya di tubuh Michelle, lalu berdiri. "Sebaiknya kita menemukan tempat tidur, karena kursi itu tidak akan mampu menahan kita"
John membopong Michelle ke dalam rumah, seperti yang pernah dilakukannya. Ia menekan saklar untuk menyala kan lampu depan, supaya bisa melihat anak tangga menuju lantai atas. John menghentikan langkahnya ketika lampu tidak menyala. "Bohlam mu mati."
Ketegangan kembali melanda tubuh Michelle "listriknya mati"
John tertawa singkat. "Sial. Kau punya senter? Aku tidak ingin tersandung di tangga Dan membuat leher kita berdua patah."
"Ada lampu minyak di meja." Michelle bergerak gelisah dalam pelukan john, sehingga lelaki itu akhirnya menurunkan Michelle, meskipun enggan. Michelle meraba raba mencari korek api Dan menyalakannya, cahaya korek api menjadi penerang sementara Michelle mengangkat tabung kaca lampu minyak Dan menyalakan sumbu. Sumbu itu langsung menyala Dan cahaya lampu membesar ketika Michelle menutup kembali tabung kacanya.
John mengambil lampu minyak itu di tangan kirinya, memeluk Michelle erat erat disampingnya saat mereka mulai menaiki tangga. "Kau sudah menelpon perusahaan listrik Dan melaporkan hal ini?"
Michelle tak bisa menahan tawa. "Mereka sudah tahu."
"Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyalakannya kembali?"
Well, sekalian saja john mengetahuinya. Sambil mendesah, Michelle mengaku. "Listrik nya diputus. Aku tidak mampu membayar tagihannya."
Langkah john berhenti mendadak, keningnya berkerut marah ketika ia menoleh ke arah Michelle. "b******k! Sudah berapa lama listrik nya diputus?"
"Sejak kemarin pagi"
John menghembuskan nafas dengan Gigi terkatup rapat, menimbulkan suara mendesis. "Kau berada disini tanpa air Dan cahaya selama satu setengah hari? Dasar wanita keras kepala... Kenapa kau tidak memberikan tagihannya kepada Ku saja?" John meneriakkan kata kata terahir, matanya yang berwarna gelap berkilat kilat ganas dalam cahaya kuning lampu minyak itu.
"Aku tidak ingin kau membayar tagihan tagihan Ku!'' Sergah Michelle sambil menjauhkan diri Dari john
" well, itu sulit dilakukan?" Sambil menyumpah keras, john meraih tangan Michelle Dan menarik nya menaiki tangga, lalu masuk ke kamar tidur. John meletakkan lampu minyak diatas nakas Dan melangkah kelemari pakaian, membuka pintu pintu nya, Dan mengeluarkan koper koper Michelle Dari rak paling atas.
"Apa yang kau lakukan?" jerit Michelle, berusaha merenggut koper koper itu Dari tangan john
John menarik satu koper lagi ke bawah. "Mengemasi barang mu" jawabnya pendek. "Kalau kau tidak mau membantu, duduk saja di tempat tidur Dan jangan halangi aku."
"Hentikan!" Michelle berusaha mencegah john mengambil setumpuk pakaian Dari dalam lemari, tapi lelaki itu dengan mudah mendorongnya kesamping Dan melempar pakaian pakaian itu ke tempat tidur, lalu mengambil setumpuk pakaian lagi Dari lemari.
"Kau akan ikut bersama Ku," kata john, suaranya dingin. "Sekarang hari sabtu; hari senin aku bisa mengurus tagihan tagihan itu. Dan aku tidak akan meninggalkan mu sendirian di sini. Demi tuhan, kau bahkan tidak punya air!".
Michelle menyingkat rambut yang terurai di matanya " aku punya air, aku menimbanya Dari sumur tua."
John menyumpah nyumpah lagi Dan beralih Dari lemari pakaian ke rak rak rias. Sebelum Michelle sempat mengatakan apa apa, pakaian dalammya sudah ditambahkan pada tumpukan pakaian yang terus menunggu di tempat tidur. "Aku tidak bisa tinggal bersama mu," katanya putus asa, tahu Persis semuanya sudah diluar kendalinya. "Kau tahu seperti apa kelihatannya nanti! Aku masih bisa bertahan dua hari lagi...."
"Aku tidak peduli seperti apa kelihatannya nanti!" Sergah john. "Dan supaya kau mengerti, aku akan menjelaskannya kepada mu dengan bahasa yang gampang dimengerti. Kau akan pulang ke rumah Ku sekarang, Dan kau tidak akan kembali lagi kemari. Ini bukan kunjungan dua hari. Aku sudah capek terus menerus menghawatirkan mu sendirian disini. Ini puncak nya, kau terlalu angkuh untuk mengatakan kepadaku kau butuh bantuan, karena itu aku akan mengambil alih dan menangani semuanya. Seperti yang seharusnya sudah Ku lakukan sejak dulu."
Michelle menggigil, di pandanganya John dengan tatapan nanar. Ia memang akan terganggu dengan gossip yang sudah pasti menyebar keseluruh wilayah ini seperti api yang membakar Padang rumput kering, tapi itu bukan alasan utama keengganannya. Hidup bersama john akan membuatnya kehilangan pertahanan terahir yang dimilikinya terhadap pengaruh Dan kekuatan lelaki itu atas dirinya dalam segala hal. Ia tidak akan mampu lagi mempertahankan jarak emotional sebagai langkah pengamanan diri, Dan ia juga tak akan mampu menjaga jarak secara fisik. Ia akan berada dirumah john, di tempat tidur lelaki itu, melahap makanan nya, sepenuhnya tergantung pada lelaki itu.
Bayangan itu membuat Michelle ketakutan, hingga ia bergerak mundur Dan menjauhi lelaki itu. Seakan dengan menambah jarak di antara mereka, ia bisa mengurangi kekuatan Dan amarah lelaki itu. "Aku sudah bertahan selama ini tanpa dirimu," bisiknya
"Inikah yang kau bilang bertahan?" Teriak john, menumpahkan Isi rak lain ke tempat tidur. "Kau bekerja membanting tulang mati matian,masih untung kau tidak terluka sama sekali setelah mencoba pekerjaan dua lelaki sendirian! Kau tidak punya uang. Kau tidak punya mobil yang aman untuk bepergian. Kau bahkan mungkin tidak punya cukup makanan, Dan sekarang kau tidak punya listrik."
"Aku tahu apa Yang tidak Ku punyai !"
"Well, aku kan memberi tahu mu satu lagi yang tidak kau punya sekarang, pilihan. Kau ikut bersama Ku. Sekarang, cepat berpakaian."
Michelle berdiri merapat ke dinding, sejauh mungkin Dari John, tidak berani bergerak Dan tegak. Ketika Michelle tidak juga bergerak, john mendongak tidak sabar, tapi sesuatu dalam diri Michelle membuat bibir john melembut. Michelle kelihatan keras kepala Dan angkuh, tapi matanya bersinar ketakutan, Dan ia tampak begitu lemah hingga john merasa perut nya telah di tonjok keras Dan membuat nya terhuyung.
Dengan langkah sigap john menyebrangi ruangan Dan memeluk Michelle, begitu erat seakan ia sudah tidak tahan lagi untuk menyentuh Dan membelai wanita itu. John membenamkan wajah di rambut wanita itu, ingin rasanya ia membopong Michelle Dan menjaga nya supaya ia tidak takut lagi. "Aku tidak akan membiarkan mu melakukan itu," gumam john parau. "Kau selalu mencoba menjaga jarak terhadap Ku, Dan aku tak akan membiarkan hal itu. Apakah sangat mengganggumu kalau orang orang tahu tentang kita berdua? Apakah kau malu Karena aku bukan anggota kaum jetset mu itu?"
Michelle tertawa dengan suara yang bergetar, jemarinya mencengkeram kuat punggung john. "Tentu saja tidak. Aku bukan salah satu Dari mereka." Bagaimana mungkin ada wanita yang malu pada lelaki seperti john?
Bibir john membelai dahi Michelle lembut, meninggalkan jejak hangat disana. "Kalau begitu apa yang membuat mu ragu?"
Michelle menggigit bibir, pikirannya berputar putar, dipenuhi bayangan masa lalu Dan ketakutan nya akan masa depan. "Musim panas ketika aku 19 tahun... Kau pernah menyebutku parasite" Michelle tidak pernah melupakan kata kata itu maupun rasa sakit yang ditimbulkannya, Dan suaranya bergema ketika berkata lagi, "kau benar"
"Salah," bisik john, jemarinya melilit rambut Michelle yang keemasan. "Parasite tidak bisa memberi apa apa,hanya bisa mengambil. Waktu itu aku tidak mengerti, atau mungkin cemburu karena aku menginginkan semuanya. Sekarang aku sudah mendapatkan semuanya, Dan aku tak akan melepaskan nya. Aku sudah menunggu mu selama sepuluh tahun, sayang, aku tidak akan puas sebelum memiliki semuanya."
John mendongak kan kepala Michelle Dan langsung mencium bibir wanita itu dengan hangat, penuh hasrat, membungkam protest lebih lanjut Dari bibir wanita itu. Sambil mendesah perlahan, Michelle menyerah, berjinjit, Dan merapatkan diri ke tubuh john.
Penyesalan bisa menunggu; jika hanya ini surga yang bisa ia dapatkan, ia akan meraihnya dengan kedua tangan. John mungkin berfikir ia akhirnya menyerah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih mudah, tapi mungkin itu lebih aman Dari pada lelaki itu tahu aKu jatuh cinta setengah mati pada nya.
Michelle melepaskan diri Dari pelukan john Dan tanpa suara mengenakan celana jins Dan blues sutera yang sederhana, kemudian merapikan pakaian nya yang berantakan karena ulah john tadi. Karen sering bepergian, Michelle jadi pengemas pakaian Dan barang yang cepat Dan efisien. Begitu Michelle selesai mengemasi semua barang nya, john membawa nya ke truck. Akhirnya tinggal alat kosmetik Dan amat mandi yang belum terbawa.
"Kita akan kembali besok untuk mengambil barang barang lain yang kau butuh kan" kata john, membawa lampu minyak itu untuk perjalanan terahir kalinya ke lantai bawah. Ketika Michelle melangkah keluar, John mematikan Dan menaruhnya di meja, kemudian mengikuti Michelle keluar Dan mengunci pintu rumah.
"Apa yang akan dikatakan mengurus rumah tangga mu nanti?" Ujar Michelle tergagap saat masuk ke Mobil john. Menyakitkan rasanya saat harus meninggalkan rumah sendiri. Michelle sudah menyembunyikan diri disini, menanamkan jejaknya begitu dalam di peternakan. Dan dalam pekerjaan yang berat itu lah Michelle menemukan kedamaian Dan ketenangan.
"Dia akan bilang seharusnya aku menelponnya dlu Dan bilang aku sudah pulang" kata john , tertawa lepas dalam luapan rasa bahagia. "Aku langsung kemari Dari bandara. Tas Ku masih dibagasi belakang bersama koper mu" john sudah tidak sabar lagi ingin segera sampai dirumah, melihat pakaian Michelle digantung disamping pakaian nya sendiri didalam kemari, melihat alat mandi Michelle di kamar mandinya, Dan tidur bersama Michelle di tempat tidur nya setiap malam. John tidak pernah ingin tinggal bersama wanita lain, tapi dengan Michelle, ia merasa itu perlu. Ia tidak mungkin puas sebelum bisa menerima semua yang bisa diberikan Michelle pada nya.