Sepanas Bara

2869 Kata
Akhirnya mereka baru meninggalkan Tampa malam hari. Pertemuan bisnis john memakan waktu lebih lama Dari Yang diperkirakan, tapi Michelle tidak bosan karena john tidak membuat nya duduk menunggu di ruang tamu, john mengajak Michelle masuk ke ruang rapat bersama nya, Dan rapat itu begitu menarik hingga Michelle tidak ingat waktu. Sudah hampir pukul enam ketika pertemuan itu berahir, Dan saat itu john sudah lapar lagi, baru dua jam berikutnya mereka berdua berkendara pulang. Michelle duduk disamping John, merasa santai Dan agak mengantuk. John meminum kopi karena harus menyetir tapi Michelle menghabiskan dua gelas anggur saat makan malam, Dan tulang tulangnya terasa lemas. Keadaan didalam Mobil gelap, hanya diterangi lampu dasbor yang membuat wajah keras john menjadi lebih menyeramkan. Lalu lintas lumayan sepi, Michelle bersandar nyaman dikursinya, berkomentar hanya ketika john mengatakan sesuatu Yang butuh jawaban. Beberapa waktu kemudian hujan mulai Turun, Dan gerakan wiper yang teratur membuat Michelle makin mengantuk. Kaca Mobil mulai berkabut, karena itu john menurunkan suhu ac Mobil. Michelle duduk tegak, memeluk diri karena embusan angin dingin mengusir kantuknya. Gaun sutra nya tidak cukup menghangatkan. John melirik sekilas, lalu menepikan Mobil dipinggir jalan. "Kenapa berhenti?" "Karena kau kedinginan". John melepaskan jasnya Dan menyampirkannya di tubuh Michelle, menyelimuti wanita itu dengan kehangatan Dan aroma tubuhnya. " kita masih dua jam Dari rumah, jadi bagaimana kalau kau tidur saja? Anggur itu benar benar membuat mu mengantuk y?" "Hmmmm" suara tanda setuju itu terdengar sangat mengantuk. John menyentuh lembut pipi Michelle, memandangi kelopak mata wanita itu terkatup perlahan, seakan buku buku mata itu terlalu berat hingga Michelle tak mampu menahan nya terbuka lebih lama lagi. Biar kan ia tidur, pikir john. Efek anggur itu akan hilang sesampainya mereka di rumah. Tubuhnya bereaksi. Ia menginginkan Michelle dalam keadaan sadar sepenuhnya Dan responsif saat ia membawa wanita itu ke tempat tidur. Ia tidak akan tidur sendirian malam ini. Sepanjang hari ia berjuang keras melawan keinginan untuk Michelle, merasakan tubuh wanita itu berbaring bersama nya. Selama sepuluh tahun Michelle mengisi pikirannya, Dan ia menginginkan wanita itu. Meskipun Michelle sangat keras kepala Dan manja, john tetap menginginkannya. Sekarang ia bisa mengerti kenapa lelaki cenderung ingin memanjakan Michelle, bahkan semenjak wanita itu masih dalam buaian. John baru saja menjadi salah satu Dari pada lelaki itu, Dan sebagai imbalannya, ia akan memiliki Michelle di tempat tidur nya. Tubuh langsing Dan mulus wanita itu akan menjadi miliknya. John tau Michelle juga menginginkannya, wanita itu terus menolaknya karena alasan yang tidak bisa dipahaminya, mungkin karena semata mata keraguan naluriah wanita. Biasanya Michelle tak bisa tidur nyenyak. Tidur nya seringkali diganggu mimpi mimpi, ia bahkan tak bisa tidur sejenak sekali pun ayahnya lah yang tidur bersama nya. Dalam bawah sadar nya menolak rileks bilang ada lelaki didekatnya. Roger pernah menyerangnya di tengah malam ketika Michelle sedang tidur nyenyak, Dan trauma akibat dipaksa terjaga dari tidur lelap Dan menenangkan dalam beberapa hal terasa lebih buruk Dari pada sakit fisik yang dialaminya. Itulah sebabnya ia masih terus mengalami mimpi buruk penuh kekerasan itu. Sekarang tepat sebelum jatuh tertidur, Michelle sedikit kaget mendapati keresahan itu tidak dirasakannya malam ini. Mungkin waktu juga lah yang menyembuhkan luka itu, atau mungkin karena Michelle merasa begitu akan bersama john. Jas lelaki itu menghangatkan nya, kedekatan lelaki itu menyelimutinya. Lelaki itu pernah menyentuh nya dalam hasrat maupun amarah, tapi sentuhannya tidak pernah membawa rasa sakit. John mengendalikan kekuatan nya yang besar untuk menangani kelembutan seorang wanita, Dan Michelle pun tertidur, karena secara naluriah ia tahu bahwa ia aman. Suara john yang berat Dan dalam membangunkannya "kita sudah sampai, honey. Lingkarkan lenganmu dileher Ku" Michelle membukanya mata Dan melihat lelaki itu membungkuk Dari pintu yang terbuka Dan Michelle tersenyum lemah "aku tertidur sepanjang jalan ya?" "Seperti bayi" john mengusap bibir Michelle dengan bibirnya, sentuhan sayang yang hangat Dan singkat. Lengannya kemudian meluncur dibawah leher Dan paha Michelle. Napas Michelle tersentak ketika John membopongnya, lalu cepat cepat merengkuh leher john seperti apa yang diperintahkannya. Hujan masih Turun tapi jas john melindungi tubuh Michelle sementara lelaki itu menutup pintu Mobil Dan berlari dengan cepat membawa Michelle menembus kegelapan Dan hujan. "Aku sudah bangun sekarang, aku bisa berjalan sendiri" protes Michelle, jantungnya mulai berdegup lambat Dan berat sebagai reaksi atas kedekatan nya dengan lelaki itu. John membopong tubuh Michelle dengan mudah, menaiki tangga teras seakan tubuh Michelle seringan anak kecil. "Aku tahu" guman john, diangkatnya tubuh Michelle sedikit lebih tinggi, supaya ia bisa membenamkan wajah di lekuk leher wanita itu. Dengan lembut john menggesekkan hidungnya ke rahang Michelle, menghirup aroma manis Dan hangat yang terpancar Dari kulit wanita itu. "Hmmm kau harum sekali. Apa kau sudah lepas Dari pengaruh anggur tadi?" Sentuhan itu begitu lembut hingga tidak membuat Michelle terkejut. Sebaliknya ia malah merasa begitu dilindungi, Dan rasa aman yang dirasakannya tidak hilang. John menggeser tubuh Michelle supaya bisa membuka pintu, kemudian memiringkan tubuhnya Dan membopong Michelle melewati ambang pintu. Apakah john mengira ia mabuk? "Aku hanya mengantuk, bukan mabuk" sahut Michelle "Bagus", bisik john, mendorong pintu hingga tertutup Dan meredam suara hujan melingkupi mereka berdua dalam kegelapan bisu rumah itu. Michelle tidak bisa melihat apapun tapi hal itu tak jadi masalah selama kehangatan Dan kekokohan tubuh john masih menopangnya. Kemudian bibir lelaki itu melumat bibirnya, begitu rakus Dan menuntut, meyakinkan bibir Michelle untuk terbuka Dan menyambut hujaman lidah nya. John mencium Michelle dengan hasrat lelaki yang menyala nyala, seakan ingin menarik semua rasa manis Dan nafas wanita itu Dan memiliki semuanya sendiri, seakan rasa mendamba itu menguasainya dengan begitu liar hingga tidak ingin menyisakan celah sedikit pun di antara mereka. Dan Michelle merespons keinginan lelaki itu, merengkuh Dan membalas ciuman lelaki itu dengan keliaran yang tiba tiba melanda, karena rasa mendamba john yang begitu kuat memanggil setiap sel dalam tubuhnya Dan mengobarkan api hasrat nya sendiri. John menekan saklar lampu dengan siku, menerangi ruangan depan Dan anak tangga menuju lantai atas. John mengangkat bibir nya sejenak, Dan Michelle mendongak menatap wajah lelaki itu dalam cahaya remang, segenap indranya seakan terlonjak melihat ekspresi keras Dan tegas di wajah john, bagaimana pipi lelaki itu tampak tegang "aku akan menginap malam ini" guman john dengan napas memburu, mulai menapaki anak tangga dengan Michelle masih dalam pelukannya. "Ini semua sudah terlalu lama tertunda" John tidak akan berhenti, Michelle bisa melihat tekad di wajah lelaki itu. Michelle tidak ingin lelaki itu berhenti. Setiap pori pori dalam tubuhnya menjerit mendambakan john, menenggelamkan suara kecil yang memperingatkannya supaya tidak terlibat dengan si penakluk hati seperti john Rafferty. Seandainya pun ingin menolak usahanya itu akan sia sia saja. Lidah api hasrat yang kini berkobar tak terkendali itu sudah ada diantara mereka selama ini. Bibir john sekali lagi mengulum bibir Michelle saat lelaki itu membopongnya menaiki tangga, lengannya yang berotot menahan tubuhnya dengan mudah. Michelle menyerah dibawah ciuman itu, menenggelamkan diri dalam pelukan lelaki itu. Darah nya berdesir cepat dalam pembuluhnya, membuat tubuhnya panas, Dan payudaranya menegang mendambakan sentuhan john. Rasa kosong yang menyakitkan membuat Michelle merintih perlahan, karena kekosongan itu hanya bisa diisi oleh john. John sudah sering mengunjungi rumah itu tahun tahun terahir ini, jadi ia tahu persis letak kamar tidur Michelle. Ia membawa Michelle masuk Dan membaringkannya di tempat tidur, lalu ikut berbaring, menindih tubuh wanita itu dengan tubuhnya. Michelle nyaris menjerit keras merasakan kenikmatan kental yang melandanya ketika tubuh john menindihnya. Lengan john terulur melewati kepala Michelle, menyalakan salah satu lampu tidur. John menatap nya lekat lekat, kedua mata hitam nya dipenuhi kepuasan maskulin ketika melihat kilatan hasrat dalam mata Michelle yang setengah mengantuk Dan bibir Michelle yang bengkak oleh ciumannya bergetar. Perlahan lahan dengan pasti john merentangkan tungkai Michelle dengan lututnya. Nafas Michelle tersentak ketika merasakan tubuh maskulin lelaki itu menekannya, hanya beberapa lapis pakaian yang memisahkannya. Mata mereka bertemu, Dan Michelle tahu bahkan sebelum hari itu di mulai, lelaki itu yakin bahwa akan mengakhirinya di tempat tidur Michelle. John sudah lelah menunggu, Dan lelaki itu bertekad untuk memiliki nya. John sudah bersabar sepanjang hari ini, begitu lembut membiarkan Michelle terbiasa dengan kehadirannya. Tapi sekarang kesabarannya sudah habis, Dan john tahu Michelle tak akan bisa melawan nya lagi. Satu satunya yang dimiliki wanita itu sekarang adalah rasa mendamba. "You are mine" john mengungkapkan kepemilikannya tanpa basa basi, suaranya terdengar kasar. Ia menopang tubuh dengan satu siku, lalu tangannya yang lain mulai membuka kedua kancing gaun di pinggang Michelle. Ia membuka gaun itu dengan perlahan, bagai lelaki yang sedang membuka hadiah Yang sudah diidam idamkannya sejak lama. Kain sutra itu tersangkut di pinggul Michelle, tertindih tubuh john sendiri. John mengangkat pinggulnya Dan menyisihkan gaun itu hingga sepenuhnya terbuka, memperlihatkan tungkai Michelle, lalu kembali mendapatkan diri di atas tubuh wanita itu. John merasa seakan tubuhnya meledak ketika memandangi Michelle. Wanita itu tidak mengenakan bra atau pun celana dalam. Gaun sutra itu memiliki lapisan halus didalamnya, berhasil menyembunyikan kenyataan bahwa sepanjang hari itu satu satunya yang dipakai Michelle dibalik balutan gaun sutra itu hanya lah stoking tipis Dan sepotong renda sebagai celana dalam nya. Seandainya tahu bahwa payudaya Michelle telanjang d balik gaun itu, john takan mampu menahan diri untuk tidak menyingkap kelepak itu Dan menyentuh serta mencicipi, apa lagi sekarang. Payudaranya begitu kencang Dan penuh, kulit nya halus, puncaknya yang me merah sudah tegak menantang. Sambil mengerang keras, john menunduk Dan mengulum puncak p******a Michelle dengan kuat, menikmati kehalusan kulit wanita itu. John merangkum p******a yang lain dengan tangannya, membelai Dan menghusap lembut puncak nya dengan ibu jari. Michelle menjerit tertahan, tubuhnya melengkung, tangannya mencengkeram rambut john Dan menekan kepala lelaki itu ke dadanya. p******a Michelle yang semakin mengencang, hampir keras, membuat john semakin berhasrat. John harus mencicipi p******a yang satunya, menyelimuti diri dengan aroma kulit Michelle yang memabukkan. Perlahan lahan tubuh Michelle mulai menggeliat dibawah nya, tangannya menarik kemeja john karena ingin menyingkirkan kain yang memisahkan mereka. Ia butuh merasakan panas Dan kekuatan tubuh john di tangannya, di tubuhnya, tapi bibir john yang masih mengulum nya menenggelamkan Michelle dalam kenikmatan menggila, Dan ia tidak bisa mengerahkan kekuatan nya untuk meninggalkan kemeja itu. Setiap belaian lidah lelaki itu manyalakan api liar yang menjalari syaraf syaraf di sekujur tubuhnya, Dan Michelle tidak berdaya untuk melakukan apapun selain menikmati sensasi itu. John lalu menjauh, berlutut untuk melepaskan kemeja Dan melemparkannya sembarang disusul sepatu, kasus kaki, celana panjang Dan pakaian dalam yang dilembar serampangan ke bawah tempat tidur. Setelah itu john pun mulai menanggalkan pakaian Michelle Yang tersisa. Untuk pertama kalinya Michelle merasa takut. Rasanya sudah begitu lama, Dan s*x tak pernah terasa nikmat sepanjang hidup nya. John membungkuk diatasnya, Dan Michelle merasakan desakan tubuh lelaki itu untuk pertama kalinya. John begitu besar, tubuhnya Yang berotot mendominasi tubuh Michelle yang lebih mungil Dan lembut. Berdasarkan pengalaman nya yang kelam, Michelle tahu betapa tidak berdaya nya seorang wanita dihadapan kekuatan lelaki yang jauh lebih besar darinya. John lebih kuat Dan besar Dari sebagian besar lelaki, Dan lelaki itu sudah bertekad akan memilikinya. John merupakan contoh sempurna Dari kaum adam, hasil perpaduan agresi Dan sensualitas maskulin. Rasa panik meluap dalam diri Michelle, Dan tangannya yang langsing Dan lembut menekan d**a john, jemarinya meluncur di antara buku ikal di d**a lelaki itu, ketakutan yang kelam mulai mengemuka. Suaranya terdengar begitu lemah, memohon kepastian. "John? Jangan sakiti aku. Please." John terpaku, menahan diri sekuat tenaga untuk mempersatukan tubuh mereka. Tubuh Michelle yang hangat Dan manis mengundangnya, siap menyambutnya, tapi mata wanita itu bersinar memohon. Apakah wanita ini mengira akan disakiti? Ya tuhan siapa yang tega menyakitinya? Benih Benih amarah mulai tumbuh dalam benak john, namun saat ini tersingkir oleh dorongan kuat hasrat tubuhnya. Saat ini ia harus memiliki Michelle. "Tidak sayang" katanya lembut, suaranya yang berat begitu hangat Dan penuh kelembutan sehingga ketakutan dimata Michelle memudar "aku, tidak akan menyakitimu". John menyelipkan sebelah lengannya dibawah tubuh Michelle, membungkuk Dan membawa tubuh Michelle merapat kedadanya. Sekali lagi john mendengar nafas Michelle tersentak, lalu pekik kenikmatan terucap tanpa sadar. Mereka bertatapan, mata Michelle tampak lembut Dan berkabut, sedangkan mata john tampak seperti bara api kelam hitam, saat lelaki itu dengan perlahan, sangat perlahan, mulai memasuki Michelle. Tubuh Michelle bergetar hebat tatkala gelombang kenikmatan besar menghamtamnya, tungkainya terangkat Dan merengkuh pinggul john. Pekikan lembut Dan liar mendesak keluar Dari tenggorokannya, Dan Michelle buru buru menutup mulut untuk meredam suara itu. Tapi mata hitam itu terus menatap nya penuh bara. "Tidak" bisik john "lepaskan tangan mu. Aku ingin mendengar suara mu, sayang. Biar kan aku mendengar betapa nikmatnya hal ini bagi mu." Tubuh Michelle bergetar hebat saat berusaha menerima lelaki itu memasukinya lagi. Rasa panik kembali meliputinya. "Stop!. John please, jangan! Kau... Aku tidak bisa.." "Sttttt, stttt" bujuk john, dikecupnya bibir Dan mata wanita itu, Dan digigitnya cuping telinga Michelle lembut. "Tidak apa apa honey, jangan cemas. Aku tidak akan menyakiti mu." John terus membujuk Dan menenangkan Michelle dengan ciuman Dan bisikan lembut, Dan meskipun semua naluri dalam dirinya meneriak kan hasrat untuk membenamkan diri sepenuhnya, john menekan dorongan itu dengan kontrol diri yang kuat. Ia tidak mau melukai Michelle, tidak saat ketakutan mewarnai mata hijau itu. Michelle terasa begitu lembut Dan halus. John memejamkan mata saat kenikmatan murni mulai menggetarkan sekujur tubuhnya. Michelle sudah terangsang, tapi belum cukup. John mulai membangkitkan hasrat Michelle dengan semua keahlian sensual yang dimilikinya, melumat bibir Michelle dengan ciuman ciuman panjang, sementara kedua tangannya membelai tubuh Michelle dengan lembut. Setelah itu ia mulai menggerakkan tubuhnya perlahan dalam tubuh Michelle. John menahan diri agar tidak terburu buru, agar setiap gerakan nya membawa kenikmatan baru yang terasa makin mendesak. John ingin Michelle hanyut dalam hasrat hingga melupakan segala nya. Michelle merasakan kontrol dirinya makin lemah Dan ia tidak peduli. Kontrol diri tidak lagi penting, tidak ada lagi Yang penting kecuali panas nya bara yang terus melahap tubuh Dan pikirannya, semakin besar hingga semua kesadaran sirna Dan ia tidak lebih hanya sekedar tubuh wanita, menggeliat Dan bergerak bagai riak di bawah d******i tubuh maskulin yang sangat kuat. Ketegangan besar mencengkeram Michelle, berpadu dengan panas nya hasrat yang melanda Dan menenggelamkan nya tak kenal ampun. Michelle seakan terbakar hidup hidup, menggelinjang tak berdaya, rintihan kecil yang liar meluap dan meluncur keluar. John menelan rintihannya, menyelipkan tangannya, Dan mulai membelai Michelle. Sejenak Michelle bergetar dipuncak ombak besar, kemudian tenggelam dihantam badai sensasi yang meledak ledak. John memeluk Michelle erat erat, tubuh Michelle yang melengkung terkunci dalam rengkuhan john sementara lelaki itu terus memberikan kenikmatan yang mampu diberikannya. Ketika semuanya telah berlalu, tubuh Michelle terkulai lemas Dan terisak, tubuhnya basah kuyup oleh keringat. "Aku tidak tahu" katanya lemah, air mata mulai mengalir di wajahnya. John bergumam Dan memeluk Michelle erat erat selama beberapa saat, tapi ia sudah tak mampu lagi menahan diri. Menyelipkan kedua tangannya dibawah pinggul Michelle, john mengangkat tubuh wanita itu untuk mempersatukan tubuh mereka semakin dalam. Sekarang, Michelle lah yang merengkuh tubuh john, menopang tubuh lelaki itu dengan tubuhnya, memeluk john erat erat. John berteriak keras, suaranya dalam Dan parau, buta Dan lumpuh terhadap segala sesuatu kecuali gelombang besar kenikmatan yang melandanya saat itu. Hening selama beberapa saat setelah itu. John berbaring lemas diatas tubuh Michelle begitu puas dan rileks hingga tidak ingin bergerak dan memisahkan tubuhnya Dari tubuh Michelle. Setelah Michelle bergerak gerak, Dan mengap mengap mencari udara, baru lah john mengangkat tubuhnya, menopangnya dengan kedua siku Dan memandang wajah wanita itu. Kepuasan kental berpadu dengan kelembutan Dan keangkuhan maskulin terbaca jelas diwajah lelaki itu saat menunduk memandang Michelle. John membelai rambut Michelle yang berantakan di wajahnya, membelai pipi wanita itu dengan jemarinya. Michelle tampak pucat Dan lelah, tapi itu ekspresi kelelahan wanita yang sepenuhnya terpuaskan oleh kekasihnya. John menelusuri tulang pipi Michelle yang anggun dengan bibirnya, lidahnya ikut mencicipi, Dan hal itu membangkitkan riak riak hasrat yang kembali menjalari sekujur tubuhnya. John mendongak kembali, keingintahuan menyala nyala di matanya. "Kau tidak pernah menikmati seks ya?." Mendadak pipi Michelle memerah, Dan ia memalingkan muka ke bantal, menatap tajam lampu di sisi ranjang. "Itu pasti membuat ego mu melambung". Wanita itu mulai menarik diri lagi, Dan itu sama sekali bukan yang diinginkan John. Ia memutuskan untuk tidak membahasnya saat ini, meski masih banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Sekarang Michelle berada dalam pelukannya, hangat Dan lemas akibat percintaan mereka, Dan ia bertekad untuk membuat Michelle terus begitu hingga wanita itu terbiasa dengan sikap posesif nya Dan menerima kenyataan itu. Michelle sudah menjadi miliknya sekarang. Ia akan merawat wanita itu, bahkan memanjakannya. Kenapa tidak? Michelle Cabot terahir untuk dimanjakan Dan disanjung, paling tidak hingga batas tertentu. Wanita itu sudah berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan peternakan ini, Dan walau pun john menyukai keberaniannya, Michelle tidak pantas melakukan pekerjaan kasar seperti itu. Begitu menyadari ia tidak perlu melawan lagi, bahwa john akan merawatnya, Michelle akan tenang Dan menerima semua ini sebagai sesuatu Yang wajar. John tidak punya uang untuk di buang buang dalam perjalanan mewah, atau menghujani Michelle dengan berlian Dan permata, tapi Uang bisa menjaga wanita tetap dalam keadaan aman Dan nyaman. Bukan hanya itu, john akan menjamin seprai tempat tidur mereka akan tetap hangat. Bahkan saat ini,tak lama setelah mempersatukan tubuh mereka, john kembali dilanda rasa mendamba Dan kerinduan untuk kembali menjadi kan Michelle miliknya. Tanpa bicara lagi, john kembali beraksi. Menarik Dan membawa Michelle kedalam pusaran hasrat Dan kepuasan yang kelam. Kedua mata Michelle kembali terpejam perlahan, tubuhnya melengkung menyambut lelaki itu dalam pelukannya. Dalam alam bawah sadar nya Michelle tahu, bahkan sejak bertahun tahun lalu, rasanya akan seperti ini. Bahwa identitasnya akan tenggelam dalam kekuatan hasrat lelaki itu. Dalam pelukan lelaki itu, Michelle seakan lenyap Dan sepenuhnya menjadi wanita milik lelaki itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN