Yang Tak Kau Sadari

4289 Kata
Sepanjang hari pikiran John terus terusik. Sejak bangun tidur perasaannya sudah tidak enak, tubuhnya terasa nyeri saking frustasinya, seakan ia remaja ingusan dengan hormon yang sedang bergolak. John sama sekali tidak bisa di bilang remaja lagi, tapi hormon nya benar benar menyiksa, Dan ia tahu persis kenapa. Ia tidak bisa tidur semalaman karena mengingat bagaimana rasanya tubuh Michelle dalam pelukannya, betapa manis bibir wanita itu, Serta betapa lembut tubuhnya. Dan Michelle juga menginginkannya; John sudah terlalu berpengalaman hingga tak mungkin salah dalam hal ini. Tapi ia terlalu memaksa;terdorong hasrat Yang tidak pernah bisa dipenuhinya selama sepuluh tahun, sehingga wanita itu mundur. Ia menempatkan Michelle untuk membayar utang dengan tubuhnya, Dan Michelle tidak menyukai hal itu. Wanita mana yang suka diperlakukan seperti itu? Bahkan wanita Yang bersedia melakukan itu pun pasti menginginkan kata kata yang lebih manis,padahal Michelle lebih angkuh Dari wanita pada umumnya. Tapi Michelle sama sekali tidak tampak angkuh sehari sebelum nya. Kerutan di kening John semakin dalam. Michelle mencoba bersikap angkuh, tapi keangkuhan yang dingin itu sudah lenyap. Wanita itu sudah bangkrut Dan tidak tahu lagi kemana harus meminta pertolongan. Mungkin Michelle ketakutan, bertanya tanya apa yang mungkin dilakukannya tanpa penyokong dana yang selama ini selalu melindungi nya. Bisa dibilang ia tak berdaya, tanpa keahlian atau Bakat apapun selain keluwesan dalam pergaulan, yang sama sekali tidak ada harganya dipasaran. Dan Michelle sendirian di peternakan itu tanpa bantuan pada pekerja. John menggeram Dan membalikkan kuda nya "aku akan segera kembali" katanya pada Nev sambil menghentakkan tumit sepatu botnya pada perut kuda. Nev menatap bosnya "selamat jalan " gumamnya. Apapun Yang mengganggu pikiran John telah membuat mood bosnya itu sangat buruk, yang terburuk Yang pernah dilihat Nev selama ini; akan jauh lebih baik bila bekerja tanpa John. Kuda John berderap ringan Dan mantap. Kuda itu besar, kuat Dan tinggi Serta cenderung keras kepala, tapi mereka sudah mengatasi hal itu lama sebelum nya. Sekarang binatang itu sudah tunduk pada tungkai tungkai berotot Dan tarikan tangan kuat sang penunggangnya. Kuda besar itu senang berpacu, Dan menikmanti ritme yang cepat Dan mulus saat melintasi padang rumput, kakinya yang berderap membuat debu beterbangan. Semakin memikirkannya, John semakin tidak menyukainya. Michelle berusaha mengelola peternakan itu sendirian. Hal itu tidak sesuai dengan Michelle Yang dikenalnya selama ini, tapi tangan wanita itu menunjukkan bekas bekas kerja keras. John membenci orang orang Yang menghindari pekerjaan jujur Dan berat, yang selalu mengharapkan orang lain akan melakukannya untuk mereka, tapi jauh dalam lubuk hatinya, John marah karena Michelle mencoba menangani pekerjaan ekstra berat di peternakan itu sendirian. Sialan, kenapa wanita itu tidak meminta bantuan? Bekerja memang penting, tapi tidak ada Yang mengharapkan Michelle menjadi pekerjaan kasar. Michelle tidak cukup kuat untuk itu; John sudah merasakan tubuh wanita itu dalam pelukannya,merasakan kerapuhan Dan kelembutan tubuh langsing itu. Ia tidak perlu mengurusi ternak, sama seperti hewan ras murni yang mahal tidak perlu membajak ladang. Michelle bisa terluka, Dan mungkin baru ditemukan orang berhari hari kemudian. John selalu muak dengan cara Langley memanjakan Dan melindungi putrinya, maupun cara Michelle Yang hanya duduk menerima semua itu sebagai haknya, tapi tiba tiba saja John memahami perasaan Langley. John mendengus marah pada dirinya sendiri, membuat kuda nya menggerak gerak kan kupingnya ingin tahu. Kenyataan nya, John sama sekali tidak suka membayangkan Michelle mencoba menangani peternakan. Itu pekerjaan lelaki, Dan bukan cuma satu orang. Well, ia akan mengurus semuanya untuk Michelle, tidak peduli apakah wanita itu menyukainya atau tidak. John tahu Michelle tak akan suka, tapi wanita itu akan berubah pikiran. Michelle sudah terlalu terbiasa dilindungi Dan dirawat orang lain, Dan seperti Yang telah dikatakannya John kepada Michelle, sekarang gilirannya untuk merawat wanita itu. Peristiwa kemarin telah berubah semuanya. John sudah merasakan response Michelle kepada nya, merasakan bagaimana bibir wanita itu melembut Dan menyambutnya. Michelle juga menginginkannya, Dan hal itu semakin membulatkan tekad John untuk memiliki wanita itu. Michelle berusaha menutupi perasaan nya; kata kata pedas wanita itu tentu akan membuat John marah andai tidak melihat sekilas keraguan dimata wanita itu. Rasanya begitu asing hingga John nyaris ingin mengembalikan keangkuhan Michelle Yang membuat nya begitu kesal selama ini. Nyaris tapi tidak dilakukannya. Michelle sudah rapuh sekarang, rapuh terhadap nya. Michelle mungkin tidak suka, tapi ia membutuhkan nya. Suatu keuntungan Yang pasti akan dimanfaatkan John. Tidak ada orang Yang membukakan pintu ketika ia sampai di rumah peternakan Cabot, Dan Mobil pick up tua itu tidak ada di gudang, di tempat parkirnya Yang biasa. John berkacak pinggangnya Dan memandang sekelilingnya sambil mengerutkan kening. Mungkin Michelle telah pergi kekota, meskipun sulit bagi John membayangkan Michelle Cabot membiarkan dirinya dilihat orang dalam kendaraan semacam itu. Tapi truk itu satu satunya kendaraan Yang dimiliki wanita itu, jadi Michelle memang tak punya pilihan. Mungkin lebih baik begini; ia bisa berkeliling peternakan tanpa serangan kata kata pedas Dan sikap bermusuhan Michelle, Dan ia juga ingin melihat ternak di padang rumput sebelah selatan. Ia ingin tahu berapa Persisnya ternak yang harus ditangani Michelle, Dan bagaimana keadaan hewan hewan itu. Michelle tidak mungkin mampu menangani ternak dalam jumlah banyak seorang diri, tapi demi kepentingan Michelle, John berharap hewan hewan itu dalam keadaan baik sehingga wanita itu mendapatkan harga Yang layak at as kerja keras nya. John akan mengurus semuanya sendiri, memastikan Michelle tidak ditipu. Bisnis ternak bukan lah bisnis yang bisa ditanganinya pemula . John kembali melompat keatas kudanya. Pertama tama, ia melihat padang rumput sebelah Timur, Yang menurut Michelle pagarnya roboh. Seluruh pagar disana harus di ganti, Dan John mencatat dalam hati berapa banyak bahan pemagaran Yang dibutuhkan. Seluruh peternakan bisa di bilang butuh perbaikan, tapi pemagaran merupakan prioritas utama. Rumput hijau yang subur menutup seluruh padang timur; seharusnya ternak itu merumput disana sekarang. Padang selatan mungkin sudah gundul, Dan itu akan terlihat pada keadaan ternaknya, kecuali kawanan ternak itu berjumlah kecil hingga padang selatan sudah mencukupi kebutuhan semua ternak. Dibutuhkan waktu dua jam bagi John untuk mencapai padang selatan. John menghentikan kudanya dipuncak bukit Yang membuat nya bisa menikmati pemandangan sekitar. Keningnya berkerut lagi, lalu John mendorong topinya ke belakang. Kawanan ternak yang dilihatnya tersebar dipadang luas itu tidak bisa dibilang banyak, tapi jauh lebih banyak Dari Yang dibayangkannya semula. Padang itu sudah nyaris gundul, tapi gundukan jerami Yang tercecer disana sini menjadi saksi supaya Michelle untuk memberi makan ternaknya. Amarah perlahan lahan bergolak dalam diri John ketika membayangkan Michelle harus berkutat dengan bongkahan bongkahan jerami yang sangat berat; beberapa bongkahan itu mungkin melebihi berat badan wanita itu. Lalu ia melihat Michelle, Dan dalam sekejap amarah nya mendidih. Mobil pick up tua itu diparkir dibawah pepohonan rimbun -itulah sebabnya ia tidak langsung melihat nya tadi- Dan Michelle berada dibawah sana, berjuang keras memperbaiki salah satu sisi pagar. Memasang pagar adalah pekerjaan dua orang lelaki; satu orang tak akan mampu menahan kawat berduri itu cukup mantap, hingga kawat berdiri itu berisiko akan terpental balik kearah orang itu. Dasar bodoh!! Kalau kawat berduri itu menjerat tubuh Michelle, ia tidak mungkin membebaskan diri tanpa bantuan orang lain, Dan duri duri itu mampu mengoyak tubuh manusia. Membayangkan Michelle berbaring di tanah, terjerat Dan berdarah dalam lilitan kawat berduri membuat John mual sekaligus gusar. John menjaga kuda nya agar berderap pelan ketika menuruni bukit menuju tempat Michelle bekerja, supaya punya waktu untuk meredakan amarah. Michelle mendongak Dan melihat John. Bahkan Dari jarak sejauh itu pun, John bisa melihat tubuh Michelle menegang ketika melihat nya. Michelle kemudian kembali berkonsentrasi memasang paku berbentuk U ketiang pagar, gerakannya Yang kaku tidak bisa menyembunyikan ke tidak suka an wanita itu akan kehadirannya. John melompat Turun Dari kudanya dengan luwes Dan ringan, matanya terus menatap Michelle seraya mengikat tali kekang kuda nya ke dahan pohon yang dahannya rendah. Tanpa bicara John menarik kawat berduri itu ketiang berikutnya hingga kencang, sementara Michelle jua dalam diam, memasanh paku U untuk menahan kawat itu. Seperti John Michelle juga mengenakan sepasang sarung tangan kulit pendek untuk bekerja, tapi sarung yang dipakai Michelle adalah sarung tangan lelaki yang sudah usang. Benda itu terlalu besar, menyulitkan wanita itu untuk mengambil paku, sehingga Michelle melepaskan sarung tangannya Yang kiri. Dengan begitu ia memang bisa memungut paku dengan mudah, tapi duri kawat itu telah menggores tangan kirinya berkali kali. John melihat luka luka sayatan yang memerah; beberapa cukup dalam hingga mengucurkan cukup banyak darah, membuat John ingin mengguncang tubuh Michelle sampai Gigi Gigi wanita itu bergetar. "Apakah kau sudah gila hingga memutuskan memasang pagar kawat berduri sendirian?" Tanya John tajam sambil menarik kawat lain hingga kencang. Michelle memukul paku lagi , wajahnya datar "ini harus dipasang, Dan aku mengerjakan nya sekarang" "Tidak, kau tidak akan mengerjakan nya lagi" Pernyataan tegas itu membuat Michelle berdiri tegak, tangannya mencengkeram palu. "Kau ingin pembayaran dilakukan sesegera mungkin" sahutnya datar, matanya melirik ternaknya. Wajah Michelle sedikit pucat, Dan pipinya nampak tegang. "Kalau itu memang harus dilakukan" John merebut palu Dari tangan Michelle, lalu membungkuk Dan mengambil bungkusan berisi paku. Ia berjalan ke Mobil Michelle, lalu menjauhkan semua barang itu ke lantai Mobil. Setelah itu ia mengangkat gulungan kawat berduri Dan meletakkan nya di bak belakang truk "itu bisa ditunda sampai aku mengirim orang orang Ku kemari Dan mengerjakan nya dengan benar, ayo pergi." Untungnya John sudah mengambil palu itu Dari tangan Michelle. Kedua tangan Michelle terkepal erat. "Aku tidak mau orang orang mu kemari Dan mengerjakan nya dengan benar! Tanah ini milik Ku Dan aku tidak mau membayar harga Yang kau buat atas bantuan yang kau berikan" "Aku tidak memberimu pilihan" John memegang tangan Michelle, Dan sekeras apapun usaha Michelle, UA tidak bisa melepaskan diri Dari cengkeraman John Yang kuat. John menarik nya ke mobil, membukakan pintu, lalu mengangkat Dan mendudukan Michelle di kursi. Setelah itu baru lah John melepaskan Michelle. Dibantingnya pintu Mobil hingga tertutup Dan ia melangkah mundur. "Menyetirlah dengan hati hati, honey. Aku akan berada tepat dibelakangmu." Michelle memang harus hati hati; padang itu terlalu bergelombang untuk bisa ditempuh dengan kecepatan tinggi, bahkan seandainya Mobil antiknya itu bisa dipacu. Tanpa perlu melirik kaca spion pun Michelle sudah tahu John pasti menyusulnya dengan mudah. Ia tidak ingin melihat lelaki itu, tidak ingin membayangkan menjual ternaknya untuk membayar utang pada lelaki itu. Jika itu terjadi, tamatlah riwayat peternakan ini, karena uang penjualan ternak itulah Yang diandalkannya untuk mempertahankan kelangsungan peternakan ini. Michelle berharap John tidak datang hari ini, meskipun ia tahu harapannya itu sangat tipis. Setelah bicara dengan Roger tadi pagi, ia ingin menyendiri. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri, menyingkirkan kenangan kenangan buruk itu sekali lagi, tapi John tidak memberinya kesempatan untuk itu. John menginginkannya, Dan seperti predator pada umumnya, lelaki itu bisa merasakan kelemahan nya Dan akan memanfaatkan kesempatan itu. Michelle ingin terus membawa truknya berpacu, berbelok memasuki jalan raya, lalu melaju kencang. Ia tidak ingin berhenti Dan beerurusan dengan John, tidak sekarang. Dorongan untuk melarikan diri terasa begitu kuat hingga Michelle nyaris benar benar melakukannya. Namun setelah melihat sisa bensin, bibir Michelle mengerucut masam. Kalau ia ingin melarikan diri, ia harus berlari atau mencuri kuda John. Michelle memarkir truknya di gudang, Dan ketika meluncur Turin Dari kursinya, John menuntun masuk kuda nya, sedikit membungkuk menghindari kusen pintu, "aku akan mengikatkan kuda Ku Dan memberinya minum" katanya singkat "masuk lah ke rumah , aku akan menyusul mu sebentar lagi" Apakah penundaan penyampaian kabar buruk itu seharusnya membuat nya lebih baik? Alih alih langsung masuk ke rumah, Michelle berjalan ke sudut jalan masuk Mobil Dan mengambil Surat Surat Dari dalam kotak pos. Suatu waktu dulu kotak pos itu selalu dipenuhi segala macam majalah, katalog, Surat kabar, Dan Surat teman teman nya, Surat Surat bisnis, tapi sekarang isinya hanya Surat surat tak berguna Dan tagihan tagihan. Aneh, bagaimana Surat Surat Yang datang mencerminkan keadaan ekonomi pemiliknya, seakan tidak ada seorang pun di dunia ini yang mau berkomunikasi dengan orang orang Yang sudah bangkrut. Kecuali tagihan tagihan Yang sudah ke lewat tengat waktu, tentunya. Lalu komunikasi Yang terjadi berubah serius. Sebuah amplop Yang familiar menarik perhatian Michelle, Dan rasa takut meluap dalam dirinya sementara ia melangkah dengan cepat kerumahnya. Tagihan listrik sudah lewat tebgat waktu; ia sudah mendapatkan Surat peringatan sebelum nya, Dan sekarang muncul Surat peringatan lain, ia harus segera mendapatkan uang dalam waktu dekat, karena kalau tidak, listrik rumah nya akan diputus. Meskipun tahu persis apa isinya, Michelle tetap membuka amplop itu Dan membaca isinya sekilas. Ia masih lah punya waktu 10 hari untuk membayar tagihan itu. Michelle nemeriksa tinggal Surat itu. Tiga hari sudah berlalu sejak Surat itu ditulis, ia hanya punya waktu 7 hari lagi. Tapi untuk apa mencemaskan soal listrik kalau pada akhirnya ia akan kehilangan peternakan ini? Kelelahan meliputi Michelle saat memasuki rumah yang sejuk Dan remang remang itu. Ia berdiri disana beberapa saat lamanya, legal karena sudah bebas Dari matahari siang Yang panas terik. Ia memasukkan semua tagihan Dan Surat lain ke laci Yang sama, tempat ia menyimpan tagihan pertama Dan Surat peringatan sebelum nya; ia tidak perah melupakan Surat Surat itu, tapi paling tidak ia tidak perlu melihat nya. Michelle sedang minum segelas air didapur ketika mendengar suara pintu kasa dibanting, kemudian suara langkah kaki bersepatu bot dilantai kayu sepanjang koridor. Ia tetap minum, meskipun sangat menyadari langkah kaki itu menyusuri rumah nya. Lelaki itu sempat berhenti sebentar di ruang duduk. Kemudian ruang kerja. Langkah sepatu bot Yang perlahan Dan hati hati yang makin mendekat itu membuat tubuh Michelle bergetar. Ia bisa melihat John dengan mata hatinya; lelaki itu memiliki cara berjalan yang diimpikan semua koboi; ayunanvlambat tungkai tungkai jenjang yang bermuara pada pinggul ramping, p****t kencang berayun naik turun. Itu langkah pembuat onar Dan penakluk wanita, Dan John Rafferty merupakan keduanya. Michelle tahu persis kapan lelaki itu menasuki dapur, meskipun membelakangi pintu. Mendadak ia merinding, seakan udara diruangan itu mengalirkan listrik, Dan rumah itu tidak lagi terasa sejuk. "Coba kulihat tangan mu" John berdiri begitu dekat di belakang Michelle sehingga ia tidak mungkin berbalik tanpa menabrak tubuh lelaki itu, Karena nya Michelle tetap berdiri di tempat nya. John mengangkat tangan kiri Michelle "Ini hanya goresan" gumam Michelle Dan Michelle benar. Tapi mengakui hal itu tidak mampu memadamkan amarah John. Michelle seharusnya tidak perlu tergores sama sekali, seharusnya wanita itu tidak men coba memperbaiki pagar sendirian. Tangan Michelle terkulai di tangan John yang lebih besar Dan kuat, seperti seekor burung rapuh Yang pucat, terlalu lelah untuk terbang, Dan mendadak John merasa gambaran itu tepat sekali. Michelle memang lelah. John mengulurkan tangan kedepan tubuh Michelle Dan memutar keran air. Kemudian menyabubi Dan mencucu tangan wanita itu dengan seksama. Michelle buru buru meletakkan gelasnya sebelum merosot Dari jari jarinya yang gemetaran. Ia berdiri tanpa berani bergerak kepala nya tertunduk. John terasa begitu hangar dibelakangnya, Michelle merasa begitu terlindungi dalam rengkuhan tangan John sementara lelaki itu mencuci tangannya dengan lembut, seperti seorang Ibu yang membasuh tangan bayinya. Kelembutan itu membuat Michelle limbung sesaat, Dan ia tetap menunduk, karena ia tak ingin tanpa sadar menyandarkan kepala dibahu lelaki itu. Sabun sudah dibilas bersih Dari tangannya sekarang, tapi tangan John masih memegang tangan Michelle dibawah guyuran air keran, lelaki itu membelainya lembut. Michelle bergidik mencoba mengabaikan sensualitas belaian itu, lelaki itu hanya mencuci tanganku ! Pikir Michelle. Air Yang mengalir Dari keran itu terasa hangat, tapi tangan John lebih hangat, telapak tangan John yang kasar menghusap kulitnya dengan kelembutan seorang kekasih. Ibu jari John bergerak memutar di telapak tangannya yang sensitif, Dan Michelle merasakan sekujur tubuhnya menjadi tegang. "Jangan" katanya dengan suara tercekat, berusaha melepaskan diri namun sia sia. John mematikan keran dengan tangan kanannya, lalu meletakkan tangan itu diperut Michelle, merentangkannya, Dan menekan tubuh Michelle merapat ke tubuhnya. Tangan lelaki itu basah, Dan Michelle merasakan kelembaban tangan lelaki itu meresan kebagian depan blues nya, dengan tubuh kokoh lelaki itu di belakang tubuhnya. Baru kuda Dan aroma khas lelaki memancar Dari panas yang menggoda itu. Semua Yang ada pada diri lelaki ini benar benar menggoda, seakan mengundang setiap wanita untuk datang kepada nya. "Berbaliklah Dan cium aku" kata John, suaranya terdengar rendah menantang Michelle untuk melakukannya. Michelle menggeleng Dan tetap membisu, kepalanya tetap menunduk. John tidak memaksa, meskipun ia tahu kalau ia bersikeras, Michelle tidak akan mampu menolaknya. John malah mengeringkan tangan Michelle, lalu membimbing wanita itu ke kamar mandi lantai bawah, mendudukkannya di tutup closet, sementara ia membersihkan luka goresan tadi dengan antiseptik. Michelle bergeming karena luka nya terasa pedih; apalah artinya sedikit goresan, kalau ia akan kehilangan peternakan ini? Ia tidak punya rumah lain, tidak ada tempat lain untuk pulang. Setelah terpenjara dalam satu rumah mewah di Philadelphia, Michelle butuh merasakan kebebasan. Membayangkan harus tinggal dikota lagi membuat nya panik Dan tegang. Mau tak mau ia harus tinggal di satu kota Dan bekerja, karena bahkan ia tak punya Mobil untuk pulang pergi. Truk tua digudang itu tidak akan mampu menempuh perjalanan jauh setiap hari. John mengamati wajah Michelle lekat lekat, wanita itu sedang memikirkan sesuatu, karena bila tidak ia tak mungkin mengijinkan aku mengurus luka nya, pikir John. Sebenarnya Michelle bisa melakukannya sendiri tapi John melakukan itu supaya bisa terus menyentuhnya. Ia ingin tahu apa yang di pikiran Michelle, kenapa wanita itu begitu berkeras ingin mengelola peternakan ini padahal sudah jelas mengelola peternakan merupakan pekerjaan yang jauh lebih berat Dari pada apa Yang bisa di tanggung wanita itu. Itu sama sekali tidak cocok dengan karakter Michelle "Kapan kau mau aku membayar utang itu? " Tanya Michelle muram Dengan bibir terkatup rapat John berdiri Dan menarik Michelle agar ikut berdiri "bukan uang yang Ku ingin kan" jawabnya Mata Michelle berkilat kilat ketika menatap John "aku tidak akan pernah menjadi p*****r, untuk dirimu sekalipun! Kau pikir aku akan langsung menyambar kesempatan pertama untuk bisa tidur dengan mu? Reputasimu pasti sudah membuat otak mu terganggu.....stud" John tau orang orang menjulukinya begitu, tapi ketika Michelle Yang mengucapkannya, kata itu seperti penghinaan yang menyakitkan. Sejak dulu John membenci Nada bicara Michelle Yang begitu dingin Dan meremehkan, Dan sekarang Nada bicara itu membuat nya marah. Ia membungkukkan tubuh hingga wajahnya sejajar dengan wajah Michelle, hiding mereka nyaris bersentuhan, Dan mata John yang hitam kelam tampak menyala nyala. Michelle seakan bisa melihat percikan percikan api disana. "Saat kita tidur bersama, honey, kau boleh memutuskan sendiri soal reputasiku" "Aku tidak akan tidur dengan mu" desis Michelle di sela sela gertakan giginya. Ia mengucapkan kata perkataan untuk menegaskan maksudnya. "Kau pasti akan bercinta dengan Ku, tapi bukan demi peternakan sialan ini." Sambil menegakkan tubuhnya kembali, John mencengkeram tangan Michelle "mari kita selesai kan urusan itu sekarang juga, supaya kita bisa menyingkirkannya dan tau tak bisa terus terusan menggunakannya untuk menyerangku" "Kau sendiri Yang memulai semua ini". Sergah Michelle sengit sambil berjalan kembali ke dapur. John memasukkan beberapa es batu ke gelas kemudian mengisinya dengan air. Michelle mengamati leher John saat menenggak habis minumannya, Dan mendadak diliputi rasa menggelenyar. Ia langsung memalingkan muka, memarahi diri karena baru memandang lelaki itu saja tubuhnya merespons kuat. " aku salah" sahut John ketus sambil meletakkan gelasnya keras. "Uang tak ada kaitannya dengan semua ini. Kita berdua sudah saling tertarik sejak pertama Kali bertemu, saling mengamati Dan bertengkar layaknya kucing sedang birahi. Sudah waktunya kita melakukan sesuatu tentang hal itu. Mengenai utang mu, aku sudah memutuskan apa Yang Ku ingin kan. Berikan tanah yang sekiranya akan kau jual kepada Ku, maka utang mu akan kuanggap lunas". Seperti biasanya John memecahkan perhatian Michelle hingga ia tak tahu harus bereaksi atau mengatakan apa. Sebagian diri Michelle ingin meneriaki John karena begitu yakin ia mau tidur dengannya, tapi sebagian lagi merasa begitu lega Karena masalah utang itu terselesaikan dengan sangat mudah. John bisa saja menghancurkan nya dengan berikeras meminta pembayaran tunai, tapi lelaki itu tidak melakukannya. Tapi John juga sama sekali tidak rugi dengan kesepakatan itu; lelaki itu mendapatkan padang rumput yang subur, Dan John tau itu. Seakan mendapatkan penangguhan hukuman mati, satu hal yang sama sekali tak diduga Michelle, hingga ia tidak tahu bagaimana cara menaggapinya. Ia hanya duduk memandangi John. Lelaki itu menunggu tetapi ketika Michelle tak kunjung bicara, lelaki itu menyandarkan punggungnya, wajahnya yang keras tampak semakin tegas "tapi ada imbalannya" katanya lambat lambat Perasaan lega itu langsung menguap, digantikan dengan rasa muak Dan kecewa "kurasa aku tau apa itu" sergah Michelle pahit, mendorong kursinya ke belakang Dan berdiri. Ternyata akhirnya tetap sama. "Bibir John merengut masam " kau salah honey, imbalannya adalah kau membiarkan aku untuk membantumu. Mulai sekarang orang orang Ku akan mengerjakan segala pekerjaan berat di peternakan ini, Dan kalau aku sampai mendengar kau mencoba memperbaiki pagar itu sendiri, aku terpaksa mengurungmu di dalam kamar selama sebulan penuh." "Kalau orang orang mu mengerjakan pekerjaan Ku, berarti aku tetap berutang kepada mu'' " aku tidak menganggapnya sebagai hutang, aku menyebutnya sebagai membanttu tetangga" "Aku menyebutnya sebagai taktik untuk mengikat ku" "Sebut saja apa yang kau mau, tapi itulah kesepakatannya. Kau seorang wanita bukan sepuluh lelaki. kau tidak cukup kuat untuk memelihara ternak Dan menjalankan peternakan ini, Dan kau tidak punya cukup uang untuk membayar pekerja.kau tidak punya banyak pilihan, jadi berhenti lah memprotes. Semua ini sebenarnya kesalahan mu juga. Lalu saja kau tidak begitu menyukai ski, kau takan berada dalam posisi ini." Michelle bergerak mundur, mata hijaunya memandang john tajam. Wajahnya pucat "apa maksudmu?" John berdiri, menatap Michelle dengan tatapan yang sudah di kenal Michelle, Yang menunjukkan betapa lelaki itu tidak menyukainya. "Maksudku, sebagian alasan ayahmu meminjam uang Dari Ku adalah untuk mengirim mu ke st.Moritz bersama teman teman mu tahun lalu. Keadaan keuangannya sudah kritis, tapi kau tidak peduli selama kau bisa tetap mempertahankan gaya hidup mu itu bukan?" Wajah Michelle sudah pucat sebelum nya, tapi sekarang ia benar benar pucat pasi. Michelle memandang John seakan lelaki itu baru saja menamparnya, Dan John melihat tatapan pilu dimata hijaunya. Dengan cepat John mengitari meja Dan mengulurkan tangan untuk meraih Michelle. Tapi wanita itu menjauh Dan meringkukkan tubuh mirip seperti binatang terluka. Betapa ironis,ia harus berjuang mati matian untuk membayar utang yang di buat ayahnya demi nembiayai perjalanan yang tidak pernah diinginkannya! Yang diinginkannya waktu itu hanya lah berada di tempat yang tenang, sendirian, mencari kesempatan untuk mengobati luka luka nya Dan menulihkan diri Dari traumanya akibat pernikahan brutal. Tapi almarhum ayahnya dulu menganggapnya kembali menjalani kehidupan yang penuh dengan acara jalan jalan dan belanja bersama teman teman nya akan membuat perasaan Michelle lebih baik, Dan Michelle mengiyakan karena ia tau hal itu akan membuat ayahnya bahagia. "Aku bahkan tidak ingin pergi" kata Michelle tak berdaya, Dan tanpa disangka sangka air mata mulai menggenang dipelupuk matanya. Ia tidak ingin menangis, ia sudah tidak pernah menangis selama bertahun tahun, kecuali saat ayahnya meninggal. Diatas segalanya Michelle tidak ingin menangis dihadapan John. Tapi ia merasa begitu lelah Dan goyah, gelisah gara gara telpon Roger Dan kata kata John barusan benar benar membuat nya luluh lantak. Air mata yang hangat mengalir di pipinya tanpa suara. "Ya tuhan jangan menangis" gumam John, ia merengkuh Dan memeluk Michelle erat erat, dibenamkannya wajah Michelle di d**a nya. Air mata itu membuat d**a John serasa ditikam, karena sejak pertama Kali mengenal Michelle, ia tidak pernah melihat wanita itu menangis. Michelle Cabot selalu menatap hidup dengan tawa atau sikap sinis, tapi tidak pernah dengan air mata. John menyadari seandainya ia bisa memilih, ia lebih suka mendengar kata kata pedas Michelle Dari pada melihat nya menangis tanpa suara seperti ini. Saat Michelle menangis di d**a John seperti ini, membiarkan lelaki itu menopangnya. Rasanya begitu menghanyutkan; ketika tangan John memeluknya, Michelle ingin melupakan semuanya Dan menutup diri Dari dunia luar. Kerinduan itu membuat Michelle takut, Dan tubuhnya menegang dalam pelukannya John, hingga akhirnya ia menjauhkan diri. Ia menghusap pipinya dengan punggungnya tangan, menyingkirkan bekas air mata dipipinya, Dan mengerjap ngerjap mantap untuk menghilangkan air mata Yang masih tersisa. Suara John terdengar muram "kukira kau tahu" Michelle melempar tatapan tidak percaya sebelum membuang muka, anggapan lelaki itu tentang dirinya sungguh luar biasanya! Michelle tidak keberatan John menganggapnya anak manja; ayahnya memang memanjakannya, tapi lebih karena ayahnya itu suka melakukannya. Jelas sekali bahwa John tidak hanya menganggapnya p*****r murahan, tapi p*****r murahan yang t***l. "Well aku tidak tahu. Dan andai aku tahu atau pun tidak hal itu tidak mengubah apapun. Aku masih tetap berutang kepada mu" "Kita akan menemui pengacaraku besok pagi Dan membuat perjanjian tertulis dengan demikian utang sialan itu akan beres. Aku akan tiba disini tepat pukul 9 pagi, jadi sebaiknya kau sudah siap. Beberapa pekerjaku akan datang kemari Dan memperbaiki pagar pagar itu serta mengeluarkan jerami untuk ternak ternak mu" John berkeras soal itu, Dan lelaki itu memang benar; pekerjaan pekerjaan itu terlalu banyak fan berat untuk Michelle, paling tidak untuk saat ini. Ia tidak bisa melakukan semua itu karena pekerjaan itu memang membutuhkan tenaga lebih Dari satu orang. Setelah berhasil menggemukkan ternaknya, Michelle bisa menjual nya Dan ia akan punya sedikit modal untuk dikembangkan. Mungkin ia malah bisa menggaji pekerja paruh waktu. "Baik lah tapi catat berapa utang ku pada mu. Begitu aku bisa menghidupkan kembali peternakan ini, Ku akan membayar setiap sen yang aku pinjam Dari mu" dagu Michelle terangkat tinggi saat memandang John, kedua mata hijaunya tampak asing Dan angkuh. Keputusan John tidak akan menyelesaikan masalah Michelle, tapi paling tidak, ternak Michelle akan tetap terawat. Michelle masih tetap harus mencari uang untuk membayar semua tagihan, tapi itu urusannya sendiri. "Apapun yang kau ingin kan honey" ujar John santai sambil memluk pinggang Michelle Michelle hanya punya waktu untuk menarik nafas tajam sebelum bibir lelaki itu melumat bibirnya, semangat Dan sekeras sebelum nya, Dan sama memabukkan seperti yang diingatnya. Kedua tangan lelaki itu memegang pinggang Michelle makin erat Dan memperdalam ciuman mereka, lidah John meluncur masuk ke mulut Michelle. Rasa mendamba langsung berkobar akibat sentuhan lelaki itu. Michelle selalu tahu, begitu John menyentuhnya, ia tidak akan pernah merasa puas akan lelaki itu. Sikap Michelle melunak, tubuhnya secara naluriah melebur dalam dekapan John, berusaha semakin dekat untuk merasakan rasa lapar Yang membara itu. Michelle selalu lemah terhadap John, sama seperti semua wanita lain. Dengan Michelle terangkat mengalungi leher John, Dan pada akhirnya John lah yang mengakhiri ciuman itu Dan dengan lembut menjauhkan Michelle darinya. "Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesai kan" geramnya, tapi matanya memancarkan hasrat, Dan menyimpan janji janji yang melenakan. "besok pagi kau harus sudah siap" "Ya" bisik Michelle.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN