Kehilangan

1411 Kata
Levin mengangkat tubuh Arum yang masih tak sadarkan diri. Rasa panik menghantuinya, entah, sepertinya ia sudah mengenal Arum begitu lama wanita ini. Jika terjadi sesuatu padanya apa yang harus dilakukan. "Maaf permisi keluarga dari pasien yang mana?" tanya salah satu perawat. "Sebentar lagi, Sus," jawab Lestari dan Kamila cemas karena mereka sudah menghubungi Bibinya Arum yang masih dalam perjalanan. "Aduh ... pasien harus segera ditangani pendarahannya cukup banyak." "Apa yang dibutuhkan Sus, saya kakak dari pasien." Bohong Levin pada sang suster. "Baiklah, ikut saya, Bapak harus tanda tangan, segera akan dilakukan kuret karena janinnya tak bisa terselematkan." Jelas sang suster pada Levin. "Apa... jadi dia hamil Sus?" tanya penasaran Lestari. "Iya, Mbak. Mari ikut saya, Pak." Jantung Levin naik turun, ia gemeteran wanita itu begitu menderita. Bagaimana bisa lelaki itu menyakiti wanita sebaik Arum. Ia segera menandatanganinya karena ia tidak ingin melihat Arum kehilangan nyawa dan tak bisa selamat. "Maaf, apa Arum di rawat disini?" tanya Bibi Fatma pada Levin dan juga Lestari. Sesaat Levin menoleh ke arah wanita paruh baya yang begitu lembut juga sangat cantik. Entah d**a Levin menghangat tatkala melihat wanita paruh baya itu. "Iya, Arum dirawat disini," jawab Levin juga Lestari. "Apa yang terjadi? kenapa Arum? Kenapa berada diruang operasi?" "Arum pendarahan, Bi, dan sekarang lagi menjalani kuret." "Apa ... astaga semoga kau kuat, Arum." tangis wanita paruh baya itu pecah. Ia duduk di kursi tunggu ruang operasi. Berharap agar ia tak kehilangan anak kandungnya lagi. Levin mendekat dan memeluk tubuh wanita paruh baya itu. Berusaha menenangkan beliau. Namun, dirinya malah larut dalam perasaannya sendiri. Hangat pelukan wanita paruh baya itu, Levin tidak pernah merasakan kehangatan yang ia rasakan selama ini. Penuh kasih sayang dan sepertinya, luka yang wanita paruh baya itu pun dirasakan oleh Levin. Tangannya memegang baju Levin, Bibi Fatma menangis histeris. Entah kenapa Arum tidak jujur, apa memang ia tak tahu soal kehamilamnya. - Arum membuka matanya perlahan, kepalanya luar biasa sakit dan berdenyut-denyut parah. Seolah ia baru mengalami mimpi yang tak pernah ia rasakan. Sesaat kepalanya melayang-layang. Dan kembali terlelap, lalu bangun lagi dengan kepala yang begitu berat. Beberapa bagian tubuhnya, bahkan sulit untuk bisa digerakkan. Cahaya terang menerangi matanya. sepertinya hanya ada beberapa lubang angin yang bisa ia lihat. Membuat Arum kesulitan untuk melihat ruangan lebih jauh. Seperti saat ini ia sedang berbaring lemah. Ada sesuatu yang menyelimuti tubuhnya. Ia ingin bicara namun tak bisa, karena efek dari obat bius masih bekerja. Arum mendengar suara tanangisan dan memegang tangannya. Ia berusaha sedikit membuka mata dan cahaya terang terlihat, suara Bibi terdengar oleh pendengaran Arum. Tenggorokannya terasa kering. Arum mencoba bersuara dengan pelan. "Rum, sudah bangun, Nak?" sebuah suara meraih pendengaran Arum, ia berusaha menggerakkan kepala mencoba mencari asal suara. Dan benar wajah Bibi terlihat samar. "Bi minum....!" "Tunggu ya, satu jam lagi, baru boleh minum, Nak." Arum mengangguk pelan. "Apa yang terjadi, Bi?" tanya Arum penasaran. Terakhir ia melihat begitu banyak darah di kakinya. "Kau pendarahan, Rum, janinnya harus di kuret, karena, kata dokter janin kamu tidak berkembang." Jelas Bibi Fatma pelan. "Jadi, Arum hamil, Bi?" Bibi Fatma mengangguk. "Iya, Nak. Bibi sudah menyuruh orang menguburkannya di dekat makam Budhe kamu." "Sudah besar kah, Bi?" tanya Arum penasaran. "Masih berbentuk gumpalan darah, Rum." "Jika Arum tahu, Arum tidak akan se ceroboh ini, Bi." Bibi Fatma mengangguk. "Iya. Sabar ya Nak." Setelah itu Bibi Fatma memberikan air yang cukup membuat kondisi Arum mulai membaik. Walaupun perut masih terasa sedikit panas. Wanita paruh baya itu kemudian menyuapi Arum dengan semangkuk bubur ayam, sebelum akhirnya membantu Arum untuk duduk bersandar. Keadaannya sudah jauh lebih baik. Arum ingin sekali menjerit. Bahkan darah dagingnya bersama Damar tidak mau ikut dengannya. Ia sudah duluan pergi. Tak ingin lahir ke dunia ini. Ia mencoba memeriksa kondisi tubuhnya. selain kepala yang masih berdenyut-denyut dan lengan yang masih dibantu alat infus. Bibi Fatma mengusap kening Arum, "Istirahatlah. Setelah kondisimu lebih baik, kau boleh pulang." Arum menunduk, mencoba menyembunyikan air mata yang sedari tadi ia tahan. Bibi Fatma meremas tangan Arum seakan menguatkan. Bibi mendekap tubuh Arum kuat, seolah ingin menutupi raganya dari siapa pun. Arum terisak dalam pelukan sang Bibi. Rasanya ... ingin seperti ini terus. Menangis dan bersembunyi dalam dekapan Bibi serasa Ibu. ''Maafin, Arum. Bi! Jika Arum tahu soal kehamilan ini.'' Bibi Fatma mengusap pucuk kepala Arum, lalu beliau duduk di sampingnya. ''Kamu enggak sendiri, Rum. Ada Bibi disini.'' Arum mengangguk. Lalu, memeluk bibi Fatma. ''Inget! Apa pun masalahnya, kita hadapi sama-sama.'' Bibi Fatma melanjutkan ucapannya. "Hu um, Bi." - Damar berlari saat mengetahui jika Arum pun dirawat di tempat yang sama. Saat ia menjenguk Ibunya, ia melihat Bibi Fatma membelikan bubur untuk Arum. Dan saat Damar mengikuti ternyata benar Arum yang sakit. Rasa penasaran Damar kian tersulut, sakit apa sebenarnya Arum? "Pak Levin, ada apa dengan Arum?" tanya Damar sambil berusaha mengatur nafasnya yang habis berlari. Levin memanas, rahangnya mengeras, selama ini dia memang mengenal banyak gadis namun saat melihat air mata Arum hatinya begitu terluka, seolah diri nya ikut merasakan sakit yang Arum rasakan. "Pak, Aku mohon, beritahu ada apa dengan Arum?" tanyanya lagi sambil memohon. Levin tak bisa mengendalikan emosinya. Tangannya mengepal sejurus kemudian melayang menghantam ke wajah Damar dengan sangat keras. "Bughh...." Darah segar mengalir dari sudut bibir Damar. "Aghh, ada apa ini pak Levin." "Coba kau tidak melukainya, Mungkin kandungannya akan baik-baik saja. Lihatlah karena dia stres janinnya tidak bisa berkembang. Suami macam apa engkau ini, 'hah!" Damar melotot kaget seketika tubuhnya lemas dan tersungkur dilantai. Tangannya gemetar mendengar ucapan dari Levin. Kedua tangannya meremas rambut diatas kepalanya. Kenyataan ini membuatnya semakin tak berdaya. "Apa ... anakku, astaga,Arum maafkan aku." "Lihatlah, pergilah sebelum kesabaranku habis. Kau tidak pantas untuknya." Masih di situ, tampak Damar tengah bersandar pada tembok rumah sakit. sambil memijit pelipisnya dengan mata terpejam. Dan menahan. Perih bibirnya yang nyeri. Namun masih sakit hati nya yang kini hancur berkeping-keping. Levin, menatap pria yang terlihat sedikit kalut. Timbul pertanyaan dalam benak levin, kenapa pria itu seolah begitu berat melepas Arum, bukankah ia sudah menalak tiga. Apa pria itu tidak punya hati membuat istrinya terluka dan menghianatinya. "Izinkan saya bicara, Pak, meskipun hanya sepuluh menit saja." Levin menatap ke arah Bibi Fatma dan beliau mengangguk. "Pergilah waktu sepuluh menitmu akan segera habis. "Trimakasih." - "Rum...." Panggil Damar. Arum terdiam. Melihatnya ... hanya untuk merasakan sakit. "Maaf, Rum, karena aku kita kehilangan calon bayi kita," sejuta sesal mungkin hinggap dihati Damar. "Maaf, untuk apa?" Arum tak kuat menahan air mata yang akhirnya tumpah juga. "Aku menyesal, Rum." "Rum, sudah lelah, tapi apa kau pernah berpikir apa imbas dari talakmu itu? aku juga takut menyandang gelar janda di usia muda. Apa kau memikirkan tentang semuanya ini? Dan kehilangan bayi yang aku tak pernah tahu karena sibuk menata sakit hatiku." Arum meraup wajah, guna menghapus titik bening yang sedari tadi mengalir. "Iya hukum aku, Rum, pukulah aku jika itu bisa mengurangi rasa sakitmu." Arum tak menjawab pertanyaan Damar. Ia terperangah saat mendengar kalimat itu. Seketika menoleh ke arah pintu. Lalu menerawang jauh disana melihat daun yang berjatuhan tertiup angin. "Rum, kesalahanku mungkin tak termaafkan. Namun, kali ini saja lihatlah aku." Samar Arum melihat, Damar terlihat menyesal. Kumpulan air di pelupuk mata, telah sukses menutupi pandangan Arum. Sesak di dadanya mendengar kalimat Damar. "Semuanya sudah terlambat, hidupku telah hancur. Apa kau puas?" "Akupun menyesal, Rum, aku salah ternyata aku begitu mencintaimu." Hati Arum bagai teriris pisau mendengar kalimat yang dilontarkan Damar. "Aku minta maaf." Arum mengelap air matanya. "Pergilah, biarkan aku sendiri." "Rum please...." "Ketika kau berdusta menjadi kebiasaanmu, kebohongan kau buat untuk bersiasat. Terkadang kau bersilat lidah untuk meneguhkan maksiat. Sadarkah kau saat itulah kau membuka lebar jalan-jalan yang sesat. Hampir dua tahun kau mengacuhkanku bukan? beri aku satu alasan. Kenapa kau lakukan ini padaku Mas?" Damar terdiam, bibirnya seakan beku, pertanyaan Arum bagai skakmat untuknya. "Pergilah carilah wanita yang membuatmu bahagia, itu yang kau inginkan bukan?" lagi Arum berbicara dengan nada tinggi. Damar hanya diam dan menunduk, tak mampu menjawab pertanyaan Arum. Emosi Arum kian meledak, Damar memilih diam dan mendengarkan. Bagaimana pun juga ia yang telah bersalah. Hampir lima belas menit mereka terdiam. Dalam pikiran masing-masing. Luka itu semakin mengangga dihati keduanya, sesaat Hani sahabat Arum datang membawa buah yang tertata rapi dalam sebuah wadah. "Hay, Arum. Maaf ya baru tahu, yang sabar ya! Arum tersenyum. " Iya Terima kasih telah datang Hani. Deg ... jantung Damar berdetak kencang mendengar kata Hani. "Lo ... mas Damar! Kenapa ada di sini Rum?" Untuk berapa saat, Arum melihat wajah cemas dari Damar terlihat dengan jelas dimata Arum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN