Dia

1600 Kata
"Dia yang memberikan aku talak tiga. Hani, demi kekasihnya yang beberapa tahun akhir-akhir ini muncul di hidupnya." Tukas Arum menceritakan semua pada sahabatnya itu. Terlihat Hani begitu syok. Ia tak tahu jika Damar kekasihnya adalah suami sahabatnya terbaiknya Arum. "Oh. Su ... suami kamu, Rum?" tanya Hani tak percaya. Arum masih mengusap sudut matanya yang basah, dan mengangguk. "Iya." "Demi Tuhan, aku minta maaf, Rum." Lagi-lagi Damar memohon. "Maksud Mas Damar?" tanya Arum tidak mengerti. Arum telah sadar, apakah wanita itu Hani? Ya, dia ingat betul vidio yang diberikan oleh Lestari. Wajahnya seperti tidak asing saat itu. Kekecewaan yang teramat dalam membuat bibir wanita itu seakan kelu. "Katakan sesuatu, Mas Damar? dan kamu Hani plis? Apa kalian ada hubungan?" tanya Arum lagi kepada keduanya. Damar masih diam layaknya patung. Hanya bibirnya yang kemudian bergetar, menahan sesak yang merelungi hatinya. "Rum, maaf...." "Aku lelah, benar-benar tak percaya, Mas, jadi Hani sahabatku ini wanita itu. Wanita yang membuatmu tega membuangku, astaga betapa bodohnya aku," ucap Arum diriingi getaran pada suaranya. "Aku bisa jelasin. Plis dengerin aku. Rum?" jelas Damar lagi dan lagi. Arum menarik napas pelan, merasai sakit yang membelit dadanya. Lalu, kaca-kaca yang sejak tadi ia tahan, akhirnya luruh juga. Damar terdiam bibirnya beku. Ia tak sanggup lagi berkata apa-apa. "Jadi, dia?" Hani tersenyum tipis "Ya. Aku wanita itu, Rum." Hani dengan tenang mengatakan itu. Arum kembali memalingkan wajahnya, ia baru saja kehilangan janinnya dan mendapati kenyataan bahwa, wanita itu adalah sahabatnya sendiri. bersama rasa sakit yang kian menembus dadanya. Ia mengusap kasar air mata yang kembali mengalir deras membasahi wajah. "Tinggalkan tempat ini... pergi." Arum teriak, suara keras Arum yang membuat Damar semakin merasa bersalah. "Kenapa kau tega, lakukan ini, Hani?" tanya Arum dengan suara serak. "Jujur aku tidak tahu jika, Mas Damar adalah suamimu Rum. Namun aku nyaman berada di sampingnya, ya maaf jika aku salah. Tapi satu hal aku tidak akan menyerah." Arum menutup mulutnya, kepalanya begitu berat, sahabat yang dulu begitu baik sekarang berubah menjadi seperti ini dalam sekejap. Astaga dosa apa Arum hingga dikhianati oleh dua orang yang sama-sama menduduki hatinya. "Kau tega Hani, ambillah. Namun suatu saat nanti kau akan merasakan sakit yang aku alami." Lirih Arum. "Begitulah, Rum, itulah aku." Arum Sudah tidak tahan lagi, toh Damar Sudah bukan miliknya lagi. "Bibi ...." Panggil keras Arum. "Iya sayang." Sang Bibi berlari kearah Arum. "Usir mereka, Bi, kumohon!" Pinta Arum histeris. "Tenanglah, Bibi ada disini kan!" sang Bibi berusaha menenagkan Arum Dan memeluknya erat. Beliau takut jika Arum depresi. Suara tawa Hani terasa meruntuhkan harga diri Levin. Wanita itu hendak mengucapkan sesuatu, tapi urung begitu melihat Levin berada di depannya. "Pergi atau aku panggil satpam!" Ancam Levin. "Iya, iya. Ich. Aku akan merebut Damar darimu Arum." Levin menyuruh mereka keluar kamar, dadanya begitu sesak melihat Arum menagis tanpa henti. Damar terdiam, tenggorokannya seakan tercekat kering. Keringat dingin itu menyergapnya dari segala penjuru, membuatnya menggigil tanpa sebab. Hani menatapnya sekilas lalu berjalan keluar. Ia puas telah membongkar kedok lelaki yang hampir memutuskan hubungan dengannya. Ia tahu tidak akan membiarkan Damar lepas begitu saja dari tangannya. Degup jantung Damar lebih cepat serasa habis lari puluhan meter, ia tidak menyangka jika hatinya sesakit ini. Kejadian ini membuatnya begitu hancur. Saat melangkah meninggalkan ruangan itu. - Malam berselimut semilir angin syahdu. Langit gelap namun masih ada bintang kecil menghias di atas sana, menemani malam yang semakin sunyi. Hati Arum begitu terluka, entah takdir apa yang menyapanya. Indah, dan cantik. Itulah kata-kata yang cocok untuk menggambarkan suasana malam ini. Namun, tidak untuk hati Arum. Arum menatap dari balkon, kamar rumah sang Bibi, sore tadi ia sudah diperbolehkan pulang, sambil menatap langit. Sorot mata sendu namun teduh, terlihat lembab karena rasa pilu yang membelenggu. Kebenaran skandal itu yang baru ia tahu sungguh menggerus hati kecil hingga ke relung kalbu. Haruskah semua kenyataan ini Arum bisa kuat untuk menjalaninya. Entahlah, Arum sedang bergundah gulana saat ini. Mas Elang ... dimana? Entah ia sedang berada di mana dan melakukan apa? "Mas Elang," lirihnya, tiba-tiba muka tampan Elang membayangi pikirannya. Arum kembali mendongak ke arah langit. Menyaksikan indahnya cahaya bintang. "Rum, sarapannya sudah siap, ayo makan?" "Ayolah, Mas, beliin baju itu? Arum suka." "Cepatlah, Rum, lelet nanti kamu telat ke sekolah." Siapa lagi yang bisa mendengarkan keluh kesahnya selain Bibi. Juga Elang yang biasanya menenagkannya sekarang sudah pergi. Tarikan napas Arum ikut tertahan di d**a. Mendengar suara lembut tengah berbicara dengannya. "Rum, waktunya minum obat sayang, ini ada air juga pisang. Ayo diminum ya." Arum tersenyum dengan mata sembab. "Iya makasih, Bi." Arum memimum obat, lalu Bibi menuntunnya ke ranjang, "Ayo tidur sudah larut malam Nak, nanti kamu sakit lo, Bibi temani tidur sisini ya?" Arum mengangguk pelan. "Iya, Bi terima kasih sudah sayang sama, Rum." "Iya, Nak." Arum menahan gejolak jiwa. Ia meremas selimut di d**a bersamaan kelopak mata yang memejam. Menampik segala pikiran negatif agar tidak membawanya terlalu jauh dalam prasangka hitam tentang jalan hidupnya. - Sementara hari berganti hari, dan bulan berganti bulan. Arum sedang diapotik membeli obat pesanan Bibi Fatma, ia mengantre setelah namanya dipanggil ia kedepan dan menebus obatnya. Selesai ia berjalan menunggu taksi lewat, kebetulan hari ini ia tidak membawa kendaraan. Arum berjalan mendekati jalan utama dan duduk sambil menunggu, sesaat ia melihat ada gadis kecil mau berlari kearah jalan raya. Sementara ada mobil yang berjalan cepat kearahnya. Arum kaget dan langsung berlari menarik tangan gadis kecil itu, hingga ia tersungkur jatuh di tepi jalanan. "Aghh.... " Teriak Arum kesakitan tangannya berdarah. "Maaf, Tante tidak apa-apa?" tanya gadis kecil itu. "Iya, Tante baik-baik saja Nak." "Aduh maaf ya mbak, terima kasih banyak ya, sudah menolong non Naura. Jika tidak ada mbak. Mugkin Bibi bisa dipecat." "Sama-sama Bi. Lain kali jagainnya hati-hati ya." "Baik, Mbak." Selang beberapa menit Levin datang menghampiri, dan meraih tangannya berusaha membangunkan Arum. "Ada-ada saja kamu ini Rum. Ayo bangun. Sok jadi malaikat, tuh kan kami terluka." "Iya pak. Lo, Pak Levin disini?" tanya Arum curiga. "Iyalah aku tahu kejadiannya, tuh mobilku disitu." "Baiklah, terima kasih ya? kami permisi dulu mbak." "Tante, terima kasih ya!" "Sama-sama sayang lain kali hati-hati ya. Dilihat dulu kalau mau menyeberang." "Siap. Oh ya nama, Tante siapa?" tanyanya. "Arum, dek." "Oh, saya Naura." Levin fokus menyetir dan berusaha mensterilkan detak jantungnya yang tak beraturan. Saat menatap Arum berada di sampingnya. Senyuman yang ikhlas dari hati Arum membuat levin sangat bersyukur. Rasa takut menghantui Levin, kelewatan, Arum tidak memikirkan keselamatannya sendiri. "Jangan diulangi lagi, Rum, kau tahu kau membuat aliran darahku seketika berhenti tadi?" "Ia maaf, Pak ... tapi kalau tidak ditolong, gadis kecil itu pasti sudah tertabrak 'kan...?" "Iya juga sih. kasihan, juga! Tapi ya bukan kamu juga, yang harus menolong anak itu." Levin begitu cemas. Arum mengangguk. "Iya, maaf." "Aku tak mau kehilanganmu, Rum. " Arum kebingungan saat ada anak kebingungan menyeberang di jalan. Dan Ada sebuah mobil melaju dengan kencang karena kebingungan Dan panik akhirnya Arum berlari menyelamatkan gadis kecil itu. "Jika tidak diselematkan bagaimana nasibnya." Gerutu Arum. "Iya juga, Rum, tapi nyawamu taruhannya kan!" "Arum gapapa, Pak." Senyuman Arum terlihat sangat manis dan sederhana, tapi tidak semua orang bisa memberikan senyuman tulus seperti ini. Untuk itu, Levin rela menerima kenyataan hidup dengan lapang d**a. Entah perasaannya kepada Arum begitu dalam semacam ada magnet, yang menariknya. Levin sadar bahwa Arum ini, wanita yang sangat baik. Ia tidak peduli nyawanya jadi taruhannya. Jiwa sosialitasnya begitu tinggi. Levin tersenyum dan kembali fokus menyetir. - "Papa...." gadis kecil itu berlari dalam gendongan sang Papa. Pria itu menggendong putrinya, ia tahu jika putrinya baru ada masalah, bajunya kotor. Ada apa ini? "Naura, apa kata Papa, jika kita tidak boleh bohong 'kan! apa yang terjadi saat Papa masuk ke dalam tadi?" "Eem, ini Pa, itu." Naura takut kepada sang Papa. Pria itu tahu jika anaknya sedang berbohong. "Apa, naura?" "Tadi, Naura berlari karena melihat ada badut, Naura takut. Saat berlari, hampir saja Naura tertabrak mobil, Pa." "Apa...." "Alhamdulillah, ada yang menolong, Pa." "Syukurlah, siapa yang menolong?" Naura tersenyum, memeluk tubuh lelaki yang bergelar sebagai ayah kandungnya. Dan berusaha menenagkan kecemasan sang papa. "Tante Arum." Deg ... pria itu menarik napas dalam, tubuhnya seketika seperti batu. Tak bisa digerakkan. Nama itu nama yang selalu ada dalam hatinya setiap menit setiap detik. Bahkan setiap embusan napasnya. Pria itu menepuk punggung anak kesayangannya. Ia pun tahu jika kehidupannya telah melalui berbagai cobaan yang begitu menyakitkan. "Papa, Tante Arum cantik sekali, entah bagaimana nasib Naura tadi. Jika tak ada Tante Arum." "Oh, bagaiman keadaannya?" tanya Pria itu cemas. "Tangannya terluka, Pak," jawab sang Bibi. "Baiklah, ayo pulang." * Angin berembus masuk melalui celah ventilasi cendela. pria itu mengerjap, beberapa kali ia memeluk guling dan merasa malas sambil menutup mata yang terkena sinar cahaya lampu terang. Perlahan pria itu membuka mata dengan sempurna. Pria itu turun dari tempat tidur, menuruni tangga rumahnya. Terdengar suara anak kecil menangis, ia tahu jika itu Naura. Ia beranjak berjalan menuju kamar putrinya. Dengan pelan ia masuk ke kamar putrinya, dan melihat gadis kecil itu menagis di bawah ranjang tempat tidurnya. "Hey ... ada apa sayang, apa yang kamu pikirkan, " ucap pria itu, mengusap rambut anaknya. "Papa, Naura rindu mama." Naura bicara dengan nada terbata-bata. Tangan pria itu terulur ke pipi Naura, lalu mengusap air mata yang masih menggenangi pipinya. Lalu memeluknya dengan erat. "Pa, apa wajah, Mama sama kayak wajah Tante Arum? Cantik juga penolong?" Deg Jantung pria itu serasa mau copot. "Sudah malam, tidur ya. Besok terlambat sekolahnya." "Tapi janji ya, Pa, kita akan cari, Tante Arum." Pria itu mengangguk pelan. "Iya" Wajah pria itu, terlihat sangat pucat dan penuh kekecewaan. Jika ia boleh meminta ia tak ingin lagi bertemu dengan Arum. Karenanya luka di dalam tubuhnya akan semakin bertambah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN