Levin membersihkan luka di siku tangan Arum dengan pelan dan telaten, luka itu terus ditiup bersamaan dengan kapas yang terus meratakan Betadine. Hingga perih dirasakan Arum sambil menggigit bibir bawahnya, namun saat ini luka yang sedang diobati masih sakit luka hatinya.
Bibi Fatma memberikan kotak dan gunting, dan kotak P3K yang diberikan pada Levin. Setelah selesai membersihkan kuka Aum. Terakhir, Levin menempelkan kain kasa ke luka tangan Arum.
"Nah, sudah selesai. Ingat, Rum, membantu boleh asal nyawa kamu juga harus dipikirkan," ucap Levin seraya memotong gulungan plester perekat dengan gunting.
Arum trenyuh. Bos galaknya bisa bicara sebijak ini.
Bibi Fatma datang membawa dua gelas jus jeruk, untuk Arum juga Levin.
"Memangnya kenapa, Nak? Kenapa bisa lukanya dalam begitu?" tanya Bibi Fatma cemas.
"Sok jadi pahlwan sih, Bi. Masa nolongin anak kecil yang mau tertabrak mobil, ya jadinya gini dia sendiri kan, yang kena musibah." Adu Levi pada sang Bibi.
"Sudahlah pak Levin, jangan membesarkan masalah. Arum baik-baik saja 'kan!"
"Baik dari mana? Tuh luka itu, pasti nanti malam rasanya akan ngilu."
"Ya sudah sih Pak, coba kalau ga ketolong tuh anak kecil tadi. Bisa bersalah Arum seumur hidup," ucap Arum tak mau kalah.
"Sudah-sudah. Ayo diminum, juznya."
Terlihat senyum mengembang dari wajah Arum. "Iya, makasih, Bi."
Arum geli melihat Levin yang akhir-akhir ini jadi overprotective, lucu sekali namun saat ini hanya dia yang peduli dengannya juga sang Bibi.
Sekilas Arum menatap Levin tajam, lalu mengembuskan napas. Entah ... namun Arum yakin matanya itu bukan mata seseorang yang lagi jatuh cinta dengan dirinya. Namun, lebih ke menjaga seperti melindungi. Arum bertengkar dengan ilusinya, berharap jika ada keajaiban di hidupnya dan akan mendapatkan lelaki yang akan mencintainya demgan tulus.
"Oh, iya, Rum kerjakan ini ya? Untung yang sakit tangan kiri kamu, jadi bisa 'kan?"
Arum mengangguk. "Bisa, Pak besok pagi biar Arum bawa."
"Baiklah, besok harus jadi soalnya."
"Ini, mau yang seperti apa pak?" tanya Arum.
"Sesukamu, file nya ada disitu, kamu pelajari. Oh ya sudah aku belikan semua alat-alatnya," tunjuknya pada Arum.
Arum menggangguk. "Baik, Pak."
Levin tersenyum menatap ke arah Arum dan izin pulang. Karena hari sudah sore.
*
Desiran udara sore hari masih sama, semilir anginnya menembus kalbu, seketika memenuhi rongga d**a saat embusan anginnya menerpa badan Arum. Suasana begitu hening dan damai, di luar sana, cahaya matahari yang mulai redup sedang memberi energi pada dedaunan dan bunga di taman.
Mata Arum terlihat meredup, ia tersenyum kearah pencil dan mengulurkan tangan lalu jemarinya meraba alat pencil yang sudah lama ia lupakan. dengan lembut, ia membuat sketsa diatas kertas. Senyum tipis terkembang di bibirnya.
Arum menurunkan jemarinya, dengan senyum mengembang dari bibirnya.
Seolah begitu tulus menyanyangi seseorang.
Dengan imajinasinya Arum dengan cantik memainkan jemarinya diatas kertas putih itu. Wajah laki-laki tampan sudah tergambar jelas di atas kertas. Arum menutupi mulutnya, ia tidak tahu kenapa lukisan itu seperti nyata dan sedang tersenyum kearahnya. d**a Arum berdebar hebat, ia tak percaya jika wajah itu yang ia lukis.
"Kenapa sedih begitu, Rum?"
"Maaf, Bi," jawab Arum tak kuat menahan air mata.
Bibi Fatma mengambil gambar yang ada di tangan Arum. Bibi Fatma terlihat murung, menatap wajah dalam lukisan itu. Sedih tidak bisa memberi penjelasan pada anak kandungnya yang selama ini menderita.
"Kau merindukan, Elang?" tanya beliau pelan.
Arum mengangguk. "Kemana Arum harus mencarinya Bi, bahkan untuk sekedar minta maaf."
Bibi Fatma menggeleng pelan dan memegang tangan Arum. "Tenanglah, Rum, jika Allah berkehendak pasti kalian bertemu ya."
Arum memeluk tubuh wanita yang beda usia itu. Sama memiliki wajah yang cantik juga sama-sama memiki nasib yang kurang beruntung soal asmara. Begitulah hidup, kadang kita harus legowo menerima apapun yang Allah telah siapkan untuk takdir setiap manusia.
"Bagaimana dengan Levin? Apa kau menyukainya Rum?" tanya Bibi Fatma.
"Rum, belum mikir ke arah situ, Bi. Lagian kita beda kasta bukan? Pasti keluarganya tidak setuju. Rum kan hanya pegawainya saja."
"Yang penting kan, Levin suka sama kamu Rum, itu yang penting."
Arum tersenyum. "Itu tidak menjamin Bi, yang terpenting adalah keluarganya Bi, keluargalah yang utama. Jika salah satu keluarga tidak setuju. Itu juga akan mempengaruhi hubungan pernikahan juga 'kan! Dan Arum tidak mau itu."
Wanita paruh baya itu sadar, jika keadaannya pun sama. Ia mengerti posisi Arum saat ini.
"Ya sudah, terserah kamu asal kamu bahagia, Nak."
Arum melengkungkan senyum dan mengangguk. "Iya, Bik."
*
Damar berada di dalam mobil sekarang. Dan melaju membelah jalan raya menuju rumahnya. Menit berikutnya mobil yang kini terparkir di depan rumahnya, di mana rumah penuh kenagan tentang dirinya dan Arum. Tepatnya ia sudah berada di kamar, Damar melangkah memasuki kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air.
Selesai, Damar berjalan hanya memakai handuk yang melilit dipinggangnya. Sesaat ia terkejut melihat Hani yang sudah masuk kamarmya tanpa izin.
"Hani, apa yang kamu lakukan hah?" tanya Damar malas.
"Kangen lah, Mas, lama kan kita enggak bertemu," jawabnya sambil menggoda. Wanita itu memakai baju super seksi.
Sesak kembali memenuhi rongga d**a
Damar. "Bukan berarti, kamu sembarangan main masuk kamar orang tanpa izin."
Hani mendekat ke arah Damar yang hanya memakai handuk. Tangan Hani berusaha melingkar di pinggang Damar, deru nafasnya tersenggal, Hani berusaha merayu pria itu. Damar pun yang lelaki normal harus menahan nafsunya. Jika tidak Hani akan semakin menjadi dan memanfaatkannya.
"Awas, jauhkan tanganmu."
"Kenapa, bukankah kau juga menikmatinya."
"Pergilah keterlaluan kau." Damar berusaha menghindari rayuan Hani. Damar harus kuat, agar tak begitu saja menyerah pada hasrat yang mulai merambat pelan memenuhi aliran darahnya.
Sesaat wajah Arum terlintas dalam benak Damar, dengan cepat Damar mendorong tubuh Hani, hingga ia tersungkur diranjang king size milik Damar.
"Pergi...." usir Damar.
Seolah rongga d**a Damar tercekik, kepalanya seketika berputar seperti dihantam beberapa ton benda berat.
Rasa sakit yang setimpal dengan yang telah dilakukannya menghianati Arum kala itu.
"Mas, kenapa sih, masih menghapkan Arum. Jangan mimpi ya. Kau tahu kan talak tiga jika kalian rujuk harus ada sang muhalil dulu kan."
"Apapun akan ku lakukan, agar Arum kembali lagi padaku."
"Kau keterlaluan mas, apa aku tak berarti selama ini untukmu."
"Kau sudah dapat semuanya bukan?fasilitasnya, rumah, mobil mau apa lagi. Pergilah."
"Tidak adalah cara lain, aku juga inginkan hubungan kita, Mas."
"Lah, bukannya kamu sudah buat komitmen dari awal kita hanya akan bersenang-senang. Lalu apa ini kenapa jadi begini, Hani" ucap Damar tak percaya.
"Entahlah, yang jelas aku menyukaimu dan tak mau kehilanganmu."
Kadang, Damar lelah menanggapi rumitnya pikiran Hani, yang kadang berakhir dengan perang dingin berhari-hari. Masalahnya hanya satu, Hani menginginkannya. Itu hal sulit yang bisa Damar penuhi
"Pulanglah, lain kali kita bicarakan lagi."
Hani keluar dengan dendam membara dalam hatinya, ia tak pernah dihina seperti ini. Damar benar-benar keterlaluan.
Damar keluar kamar dan duduk di balkon, menghisap rokok dan berkali-kali lalu menghembuskannya. Matanya memerah menahan rasa sakit, Dadanya bergetar hebat merasakan sakit yang begitu menyiksa. Ia meremas rambutnya dengan kasar, setetes air mata jatuh di pipinya.
Apakah karma sudah melekat ditubuhnya, bahkan mungkin saja saat ini ia sudah menagis darah. Pertahannya akhirnya luruh juga saat melihat ada amplop cokelat berlogo dari pengadilan agama. berada di atas mejanya, meruntuhkan seluruh kepercayaan Damar.
Damar meremas rambut kasar. Apa kesalahannya sefatal itu hingga Arum benar-benar ingin berpisah? Pandangan Damar kosong. Sesaat tangannya terangkat, mengusap kasar rambutnya dan mengusap sudut matanya yang sudah berderai air mata. Bukan hal mudah saat harus berpisah raga dengan seseorang yang ia jadikan belahan jiwa.
Tapi dengan kejam ia menalak istrinya ... karena pada akhirnya, Arum pun telah sampai pada batas lelah atas semua perbuatannya.
*
"Tari, Mila, ko pengen makan baso ya. Kita beli di ujung jalan itu yuk, kayaknya enak deh. Rame terus soalnya." Ajak Arum pada sahabatnya.
"Aku juga lapar sih, tadi siang kan kita cuma makan roti saja," jawab Kamila cemberut.
"Sudah aku yang traktir deh, kayaknya lagi bokek kan'?"
Tari dan Mila tersenyum malu. "Kok tahu sih, habisnya banyak pengeluaran bulan ini, Rum."
Mereka tertawa.
"Sudah aku saja yang tratir." Seru Kamila.
"Ya baiklah, ayo, kita makan."
Saat mereka mau berangkat Levin datang menghalagi. "Maaf ya Rum, ga bisa nganterin kamu ada meeting soalnya."
Arum mengangguk. "Siap, Pak. Gapapa kok."
"Salam buat, Bibi ya!"
Arum mengamgguk. "Iya, Pak."
Mereka sudah sampai di depan warung baso yang sangat ramai. Banyak pengunjung, Arum pengen mampir kesini namun baru kali ini sempat mampir. Dua porsi baso jumbo dipesan Arum juga Tari. Pramusaji datang mengantarkannya. Mereka berdua sedang asyik memanjakan lidah mereka dengan rasa baso yang sangat lezat juga punya ciri khas. Kuahnya sangat kental dilidah.
Tak jauh dari kursi yang diduduki Arum dan Lestari ada sepasang mata yang melihat. Pria tampan dengan hidung mancung, memperhatikan wajah yang selama ini ia rindukan sedang asyik menikmati makanan di depannya. Degub jantung pria itu tak berhenti berdetak, merasakan debaran dalam dadanya yang tidak beraturan. Wajah cantik itu masih sama, bahkan semakin dewasa dan makin cantik.
Pria itu menunduk dan berusaha, menutupi wajahnya dengan majalah yang ia bawa. Tak pernah mengerti kenapa Tuhan memepertemukannya lagi dengannya. Sesasat pria itu terdiam melihat luka dilengan wanita itu. Benar adanya dialah yang menolong putrinya kemarin.
Pria itu berdiri, sambil membawa bungkusan yang ia pesan, namun Lestari curiga jika itu kakaknya Arum Elang.
"Rum ... itu ... itu." Lestari syok melihat Elang ada disini.
"Apaan sih ... itu ... itu apa?" tanya Arum menoleh ke kanan kiri tak mengerti.
"Mas Elang."
"Jangan bercanda, Tari." Jelas Kamila.
"Iya itu."
"Mana ... dimana?"
"Itu cepat kejar, yang keluar barusan pake baju abu-abu itu."
"Yakin...?"
"Iya ... cepat."
"Baiklah, ini uang basonya dan ada hang harus aku bicarakan sama mas, Elang."
"Iya, semangat ya."
Arum berlari ke arah laki-laki yang sangat ia rindukan selama ini. Dari belakang ia sangat mengenali tubuh laki-laki itu. Celana jeans, baju abu-abu. Arum berlari sampai menabrak salah satu pembeli.
"Hati-hati dong."
"Aduh maaf ... maaf, Bu."
Tepat Arum sudah berada di belakang lelaki itu.
"Mas Elang...." panggil Arum senang.
Tubuh Elang seakan beku, lututnya lemas. Bagaimana caranya ia menghadapai Arum.
Elang bergeming. 'Permainan apa lagi ini ya Robb. Kenapa engkau pertemukan aku lagi dengannya'
"Mas Arum rindu...." Dengan cepat Arum memeluk tubuh Elang dari belakang, embusan napas Arum yang tersengal karena habis berlari menerpa kulit leher Elang. Tangan Arum melingkar erat di pinggangnya, ramai orang, bukannya Arum melepaskan, namun pelukan itu justru terasa semakin mengencang di perut Elang.
"Apa salah, Arum. Mas? Kenapa meninggalkan Arum sendirian?"
Elang terdiam diselimuti keheningan. juga detak yang kian menggebu, yang dirasakan Elang dari balik punggungnya.